
Om Jhon yang merasa kesepian sangat senang saat ada telpon yang menyatakan sahabat nya akan datang berkunjung ke galeri.
"Jo..bilang sama istri mu nanti mau ada tamu, buatkan minuman ya.."
"Siap tuan.."
"Tamunya siapa tuan..? tumben malam malam.."
Tarjo bertanya sambil mengerutkan keningnya tanda heran atau penasaran mungkin.
"Sahabat ku..," kata Om Jhon sambil tertawa tawa senang sambil duduk di kursi yang ada di depan kamarnya tersebut.
Tarjo kemudian mengangguk lalu berlalu dari sana untuk mencari istrinya.
Di kamarnya tampak Tatik sedang bertelponan dengan ibunya.
"Bu..sudah sampai belum kirimanku..?."
"Iya..nduk sudah, terima kasih.. sampaikan ke suamimu, barusan tadi ibu ambil uangnya di kantor pos sama Manto adikmu," sahut bu kohar dari seberang sana.
Tatik memang mengirimkan uang kepada ibunya di desa lewat kantor pos karena itu yang kini lebih nyaman menurutnya, juga cukup simpel pengambilannya dan prosesnya cepat, cukup menunjukkan KTP sama PIN saja.
"Alhamdulillah..kalau sudah sampai..," sahut Tatik tersenyum senang, begitupun ibunya di desa sana yang nampak senang dengan kiriman uang dari anaknya.
"Alhamdulillah..nduk..kamu yang baru ke kota malah sudah kirim uang ke Ibu."
Sahut Bu Kohar dalam percakapan telpon itu.
"Iya Bu...Alhamdulillah mas Tarjo di kasih rezeki lumayan lancar."
Balas Tatik sambil melihat suaminya yang barusan masuk ke kamar mereka.
Teja duduk di samping istrinya yang masih bertelponan dengan ibunya.
"Ya..sudah dulu ya Bu..nanti kapan kapan Tatik telpon lagi."
"Iya..nduk..baik baik di sana, yang rukun sama suami, nurut sama suami mu.." pesan Bu Kohar kepada Tatik anaknya agar menjadi istri yang Solehah.
"Njeh Bu.. assalamualaikum."
"Waalaikumssalam.."
Tatik menutup telponnya ketika ibunya sudah mengucap salam.
"Alhamdulillah...mas, kiriman mas Tarjo sudah sampai," kata Tatik sambil tersenyum memandang suaminya.
"Alhamdulillah..," sahut Tarjo yang nampak senang tersenyum lega.
Tarjo sudah yatim piatu, dan baginya Bu Kohar adalah orang tuanya karena menyayanginya sama seperti anaknya sendiri.
"Terimakasih.., mas Tarjo suamiku memang paling baik," kata Tatik memeluk lengan suaminya yang kekar karena banyak bekerja keras.
Tarjo tersenyum senang sambil mengusap lembut rambut Istrinya.
"Oh iya..malah jadi lupa, nanti mau ada tamu tuan Johnson tolong di buatkan minuman ya, takutnya mas Tarjo pas tugas di depan ( jaga parkir ).."
"Iya..mas, siapa memang bertamu malam malam..?."
"Teman tuan Johnson."
"Ooh..," kata Tatik sambil tersenyum mengangguk.
**
Makan malam dengan duta besar telah usai, bahkan sang duta sudah pamit meninggalkan restoran tersebut.
Sementara papa Hedrawan dan mama Nursanti juga Bara dan Yolanda masih berbincang.
"Bagaimana dengan permintaan sang Duta tadi..?"
Papa Hendrawan bertanya kepada Bara, tentang rencana kerjasama bilateral antara dua galeri kesenian lintas negara tersebut.
"Nanti akan Bara bicarakan dengan Om Jhon dulu Pah.., soalnya beliaunya yang lebih mengurusi semua yang berhubungan dengan masalah perijinan expor impor barang seni di galeri," sahut Bara yang masih menikmati minumannya.
"Oh..iya mas..rencana mau jemput besan mama kapan..?, mama sudah menyiapkan kamarnya loh," kata mama Nursanti sambil tersenyum, mama Nursanti jadi ikut ikutan Yolanda dengan panggilan "mas" kepada Bara.
"Kapan pah..enaknya..?," tanya Bara sambil mengalihkan pandangannya kepada papa Hedrawan.
"Memang wisudanya kapan..?."
"Hari Sabtu pah.."
__ADS_1
"Kalau sabtu wisuda.. ya paling enggak rabu sudah di sini..jadi nanti bisa santai santai dulu mempersiapkan nya..."
Kata papa Hendrawan memberikan usulan nya.
"Apa coba Bara tanya dulu sama bapak kira kira bisa enggak ijin lama di kantor kelurahan ya pah.."
"Ya gitu juga lebih bagus..," mama Nursanti menyahut seakan tak sabar bertemu besannya.
Bara mengambil ponselnya mencoba menghubungi bapaknya.
**
Pak Darmais masih bersantai di beranda depan rumah nya yang kini sudah di pugar makin bagus.
Uang kiriman Bara yang semula mau di gunakan membangun tempat wisata kini di gunakan untuk membangun rumah pak Darmais termasuk memperlebar warung kelontong nya menjadi semacam mini market, semua itu atas arahan Bara.
Meskipun belum resmi di buka obyek wisata tersebut, namun sudah banyak pengunjung yang berdatangan.. untuk itu pak Darmais sudah mempekerjakan beberapa orang, sebelum nanti resmi di buka.
"Bu kopi bapak mana..?."
Pak Darmais yang masih duduk di beranda bertanya kepada istrinya.
"Sebentar dong pak...itu masih di bikin sama Della," sahut Bu Romlah yang barusan dari mini market dimana Misye ada di sana, menghampiri sang suami dan duduk di samping nya.
Drrt..drrt..
"Tuh..ponsel bapak bunyi.." kata Bu Romlah mengingatkan suaminya yang masih asyik membaca majalah Trubus "cara mengelola penangkaran ikan gurame."
"Oh..iya.."
Pak Darmais bergegas mengambil ponsel di mejanya.
"Eh..Bara..??."
Pak Darmais langsung menggeser tombol hijau di ponselnya mengangkat panggilan anaknya.
"Halo assalamualaikum..?."
"Waalaikumssalam pak.."
Mereka lalu bercakap saling menanyakan kabar dari keduanya.
Kata Bara setelah menanyakan kabar keluarga nya.
"Iya..terus..?."
"Terus seumpama Bapak cuti satu minggu dari pekerjaan apa bisa..?."
"Ya bisa," sahut pak Darmais dengan cepat.
"Lah kemarin pak Mirdad saja habis cuti dua Minggu malah."
"Oh..jadi bisa ya pak.."
"Bisa Banget..," sahut pak Darmais.
"Sebentar ini papa Hedrawan mau bicara sama bapak.."
Pak Darmais sedikit kaget dan menegakkan duduknya seakan besannya tersebut ada di depannya, kan enggak sopan duduk leyeh leyeh sambil berbicara.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumssalam pak..," sahut pak Darmais dengan sopan.
"Katanya bisa cuti lama ya pak..?."
"Iya pak bisa malah kemarin teman kantor cuti dua minggu pak," sahut pak Darmais yang belum mengetahui arah pembicaraan tersebut.
"Kalau begitu nanti sopir saya mau jemput pak Darmais hari minggu sore, nanti bapak sekeluarga liburan di kota.."
"Minggu sore pak..?."
Kembali pak Darmais mengulang ucapan papa Hendrawan.
"Iya.. minggu sore ..bisa kan pak...?."
Pak Darmais berfikir sejenak.
"Oh..iya bisa pak..," sahut pak Darmais akhirnya.
"Ya sudah itu dulu yang mau saya bicarakan pak," sahut papa Hendrawan kemudian menyerahkan ponselnya kepada Bara lagi.
__ADS_1
"Iya itu dulu ya pak..minggu sore nanti sopir papa akan sampai di sana," kata Bara menegaskan kembali.
"E.eeh..sebentar Bara..," kata Pak Darmais saat bara mau menutup telponnya.
"Ada apa pak..?."
"Apa yang mesti bapak bawa..?, maksud bapak oleh oleh apa yang mesti kita bawa.. Bara..?," tanya pak Darmais yang merasa tak enak masak tak membawa apapun dari desa.
Bara tersenyum kecut, membuat Yolanda istrinya mengerutkan keningnya juga Papa Hendrawan sama Mama Nursanti.
"Terserah bapak saja... asal asli dari desa," kata Bara akhirnya sebelum akhirnya sambungan telepon itu terputus setelah mengucapkan salam.
Bu Romlah yang berada di samping suaminya nampak memandang penasaran suaminya yang masih berpikir masalah oleh oleh.
"Ada berita apa ya pak kok ibu jadi berdebar..."
Pak Darmais lalu tersenyum menyadari kekhawatiran istrinya.
"Enggak kok Bu, ini tadi Bara dan pak Hendrawan menanyakan kepada bapak," sahut pak Darmais lalu menceritakan pembicaraan nya tadi.
"Ooh jadi hari minggu kita mau di jemput..?.," kata Bu Romlah yang nampak senang sekali.
"Iya..Bu.."
Della yang membawa kan kopi pak Darmais dan mendengar sekilas langsung bersorak kegirangan.
"Yeiii...kita akan liburan di kota..!," teriak Della kegirangan lalu berlari ke arah kakanya Misye yang masih berjaga di mini market.
Terlihat dari luar keduanya melonjak lonjak kesenangan kayak anak kecil.
**
Opa Santosa sudah berada di galeri duduk bersama dengan Om Jhon, keduanya masih tertawa dan bercanda dengan riang.
"Sant..mau makan receh tapi enggak recehan..?," tanya Om Jhon.
"Apaan tuh.. Jhon.."
"Tuh..mie rebus gerobak.. rasanya gini..," sahut Om Jhon sambil mengacungkan jempol nya.
"Yang bener..?."
"Iya...jadi ingat jaman kita kuliah ngekos dulu," sahut Om Jhon.
"Rasa mie godok nya mengingatkan ku akan moment saat itu," sahut Om Jhon sambil tersenyum menerawang ke jaman saat muda.
"Boleh lah..," sahut Opa Santosa kemudian.
Om Jhon lalu memanggil Tarjo yang sedang melintas di dekat keduanya bercengkerama menikmati suasana malam itu.
"Jo..sini..bentar..!."
"Iya tuan.."
"Pesenkan mie godok di gerobak depan.."
"Iya..tuan.."
"Eeh..jangan keliru... gerobaknya Slamet yang kurasa paling enak, jangan gerobaknya si Untung rasanya hambar ," perintah Om Jhon lagi.
"Siap tuan.."
Tarjo mengangguk sambil tersenyum kemudian berlalu menuju ke deretan penjual yang kian banyak saja kini.
"Met..pesen mie godok loro (dua).."
Kata Tarjo mengunakan bahasa Jawa.
"Loh..kanggo sopo ( buat siapa) Bos Tarjo..?.," sahut si Slamet penjual gerobak dorong tersebut serius.
"Nggo Bos besar pemilik galeri lah..seng enak yen ora enak ngesok ojo mangkal nang kene maneh (yang enak kalau tak enak besok jangan mangkal di sini lagi)," kata Tarjo bercanda.
"Ish..bos Tarjo...galak amat," sahut Slamet juga bercanda.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku dengan mengklik profil ku
Terima kasih**....
__ADS_1