
Opa masih terdiam melihat anak dan menantunya belum juga menjawab pertanyaannya.
Sambil duduk dan menyilangkan kakinya opa Santosa menatap tajamnya keduanya.
"Dimana Bara dan Yolanda..?," tanya Opa kembali kepada Hendrawan dan Nursanti yang makin kecut.
"K..kkami juga tak tahu ..papi..," kata Hendrawan dengan terbata bata.
"Apa.. maksudmu..?," tanya Opa sedikit meninggikan suaranya.
"Eem..ee..mm anak itu.. sudah pergi dari apartemen dan k..kemarin Yolanda juga pergi dari rumah...," kata Nursanti menunduk ketakutan.
Seketika Opa jadi meradang berdiri dari duduknya dan menatap ke dua orang di depannya dengan pandangan garang.
"Pergi dari apartemen..?, memangnya siapa yang mengusirnya ..?," teriak Opa Santosa yang tak bisa lagi menahan marahnya.
"Jawaaabb...!!," bentak Opa kepada anak dan menantunya.
"Kalau kalian tak mau menjawab... aku akan bekukan aset ku... di perusahaan dan akan aku embargo semua usaha mu..!!," kata Opa Santosa lagi dengan tegas.
Hendrawan seketika gemetar, kalau aset Opa Santosa yang limapuluh persen di bekukan dan aset Yolanda juga di bekukan otomatis hanya tinggal dua puluh lima persen sisanya itu sama saja dengan kolaps di semua bidang usahanya.
"Aku yang telah mengusirnya Papi..," jawab Hendrawan sambil tertunduk dengan jawaban pelan.
"Apa yang membuat kau begitu kuasa mengusirnya..?, itu apartemen ku..lagian apa kesalahan anak itu..?."
"Dia ..sudah berani macam macam Papi..., bahkan ..mulai menggerogoti.. Yolanda, seenaknya saja meminta di belikan mobil kepada Yolanda..," jawab Hendrawan berkilah.
"Mobil yang mana..?," tanya Opa kebingungan.
"Mobil Putih mewah produksi jerman yang di bawanya itu.., bukankah itu yang beli Yolanda.. Papi.., mana mungkin anak miskin itu mampu membelinya..," kata Hendrawan kembali mengeluarkan alasan.
"Apa...? kau pikir mobil itu yang beli Yolanda..?."
"Kamu itu goblok...apa pura pura goblok..? coba kau lihat faktur pembeliannya siapa yang bertanda tangan di sana..," bentak Opa Santosa.
Deg..
Hendrawan langsung terdiam.
"Bodoh nya aku...?," batin Hendrawan.
"Itu Papi yang beli untuk hadiah pernikahan cucu cucuku.. built up langsung dari Jerman..," sahut opa Santosa sudah sedikit menurunkan suaranya.
"Tapi dia juga sudah bertindak tak bermoral papi," sahut Nursanti.
"Maksudnya apa..?," Opa Santosa menatap menantunya.
Nursanti mengangsurkan ponsel nya diserahkan kepada Opa Santosa.
__ADS_1
"Papi lihat ini, kelakuan anak itu berani memasukkan perempuan enggak bener selama Yolanda tak di sana," sahut Nursanti.
Opa kemudian melihat hasil rekaman tersebut, kemudian memanggil asisten dan pengawalnya.
"Bawa rekaman CCTV apartemen," perintah Opa Santosa karena memang apartemen tersebut di pasang CCTV di ruang tamu.
Hendrawan dan Nursanti makin terlihat pucat dengan adanya bukti bukti yang di utarakan papi Santosa.
**
Di galeri, Om Jhon masih melihat perkembangan yang pesat dari usaha bersama nya dengan Bara.
Dari hari ke hari arah perkembangan galery makin menunjukkan nilai positif.
Bahkan beberapa waktu yang lalu ada serombongan dari pemerintah yang ingin mengajak kerja sama agar galeri tersebut bisa di jadikan salah satu percontohan usaha mandiri, dan juga di jadikan salah satu paket dari rentetan objek wisata unggulan kota tersebut.
"Bagaimana Bara...? menurutmu..? tentang tawaran pemerintah..," tanya Om Jhon.
Bara masih terdiam menimbang.
"Kalau aku sih setuju..karena dengan bekerja sama dengan pemerintah maka akan makin luas jangkauan promosinya bisa bisa sampai mancanegara," sahut Yolanda.
"Benar apa katamu nak Yola..," sahut Om Jhon sambil tersenyum.
"Kita bisa kerjasama yang saling menguntungkan dengan pemerintah."
Bara mengangguk anggukan kepala nya.
"Asal karya ku makin laku dengan harga makin oke aja..aku setuju Om," kata Bara sambil bergurau.
"Itu pasti lah..," balas Om Jhon.
"Om Jhon urus saja semuanya... tapi yang penting aku tidak ingin terikat..dalam artian aku tak mau jika di atur atur oleh pemerintah.. apa yang ada..itu yang kita tampilkan," kata Bara sambil menikmati kopinya.
"Setujuuu...," kata Om Jhon sambil mengacungkan jempolnya.
**
Di rumah utama tuan Hendrawan dan nyonya Nursanti makin pucat setelah hasil rekaman dari CCTV berhasil di perlihatkan.
Dalam rekaman itu nampak perempuan penggoda itu hanya di suruh masuk, bahkan ada dua pria teman Bara yang menemui dan tak lama kemudian Yolanda nampak datang ke sana.
Sayangnya CCTV tersebut tak ada suaranya, jadi orang orang tak tahu apa yang di bicarakan mereka semua.
Dengan bukti tersebut maka Opa kembali berkata.
"Kalian boleh menganggap apapun kepada anak itu, tapi bagi Papi pemuda itu anak yang baik.... mungkin saja jika dia sudah mahir memimpin perusahaan, Papi akan kasih salah satu perusahaan kepadanya," kata Opa Santosa yang kini tak lagi di bantah oleh Hendrawan dan Nursanti.
"Sekarang cari cucu dan cucu menantu..kalau dalam satu bulan tak juga kau temukan mereka Papi benar benar akan membekukan saham Papi," ancam Opa Santosa.
__ADS_1
Hendrawan mengangguk dengan lemas, semua yang sudah dituduhkannya selama ini semua salah.
Dahulu dia pikir Bara mendekati Yolanda bener bener karena gila harta, namun ternyata itu semua tak benar.
Namun di hati tuan Hendrawan masih belum rela dan belum bisa menerima Bara sebagai menantu yang sesungguhnya, apalagi nyonya Nursanti...tak akan Sudi menerima pemuda kampung itu menjadi menantunya.
**
Di kampung pak Darmais masih membangun sebuah arena bermain seperti yang sudah di rancang Bara.
Semacam arena edupark yang menggabungkan antara permainan, rekreasi dan juga kewirausahaan.
Nantinya sesuai rencana dari bara tempat tersebut akan ada kolam renang nya untuk rekreasi, ada kolam ikan yang bisa di panen.
Ada taman bermain nya namun ada juga perkebunan dan peternakan kecil kecilan.
Sumber air dari mata air pegunungan yang melimpah ruah nantinya akan jadi sumber pengairan di kolam ikannya, sedangkan untuk kolam renang nanti akan ada proses penyaringan kembali.
Pak Darmais masih mengawasi pengerjaan kolam renang tersebut, sedangkan kolam ikannya sudah ada beberapa yang bahkan sudah di taburi benih ikan.
Misye dan Della yang baru pulang dari sekolah nampak datang, membawa makanan kecil dan minuman untuk para pekerja jatah sore.
"Sudah taruh di sana saja..," kata pak Darmais.
"Iya pak..," sahut Misye yang membawa nampan makanan dikuti Della yang membawa poci dan gelas.
"Waah sudah terlihat indah ya pak..?," kata Misye pelan.
"Iya...pohon bunga nya juga sudah mulai tumbuh...tampak indah banget," sahut Della.
"Kakak emang hebat..,"gumam Della kembali.
"Kakak siapa..?." tanya Misye
"Kakak Kakak kita lah...kak Bara dan kak Yola," sahut Della.
"Sudah sana bantu ibu lagi...malah ngerumpi di sini..," usir pak Darmais kepada kedua anak gadisnya.
Misye dan Della tersenyum.
"Habisnya kalau disini sekarang seperti di tempat taman bermain pak..jadi kerasan," sahut Misye sambil meninggalkan tempat tersebut takutnya di cari cari Bu Romlah ibunya.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....
Baca juga karya lainku....
Happy reading**...
__ADS_1