Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 127 Rencana kedatangan keluarga menghadiri wisuda


__ADS_3

"Mau enggak..?."


Tanya Bara sambil melihat kedua teman satu kosan dulu yang sedang makan kayak orang kesetanan.


"Jeyas...mau....yaah.," kata Rudi tak jelas, karena mulutnya penuh nasi goreng menyahut sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


Romi pun ikut menganggukkan kepalanya sambil menyantap makanan di piringnya dengan tak kalah sadis.


Bara geleng geleng kepala melihat ulah kedua teman temannya tersebut.


"Memang kalian pagi gak sarapan..?."


Keduanya menggeleng.


"Mau nambah lagi..?."


Keduanya mengangguk sambil menyantap makanan yang kini tinggal separuh dengan tergesa gesa.


Bara melambai ke arah pelayan kantin yang sedang membersihkan meja sebelah.


"Mang..nambah lagi nasi goreng dua porsi ya.."


Pelayan lelaki paruh baya itu mengangguk.


"Cepetan ya mang..entar ni anak keburu hilang nafsu makannya."


Kata Bara Kembali ke arah mamang pelayan kantin itu sambil tersenyum.


''Siaap...juragan..!."


Tak berapa lama makanan pesanan sesion kedua datang dan kembali di sikat oleh keduanya yang masih saja rakus..


Bara masih setia menemani keduanya hingga selesai makan, Romi dan Rudi adalah sahabat nya dari tingkat pertama dan selalu satu kos dengannya.


"Ahh..terima kasih Bosque..kami bisa makan dengan puas di tanggal tua kayak gini..," kata Rudi sambil mengelap mulutnya dengan tisu, setelah menghabiskan minuman nya.


Romi pun begitu, terlihat bersandar di kursi nya sambil mengusap perut kayak orang hamil saja.


"Kalau kalian mau..sabtu depan datang ke jalan XX di Arts Museum," sahut Bara sambil menyerahkan dua lembar uang warna merah agar Rudi membayarnya ke kasir kantin tersebut.


"Siap..kami pasti datang karena butuh pekerjaan.."


"Tapi aku tak menjanjikan kalian langsung di terima loh ya..soalnya ada orang yang akan menyeleksi kalian nantinya," sahut Bara begitu Rudi sudah selesai membayar di kasir kantin.


Keduanya mengangguk mendengar penjelasan tersebut.


"Kembaliannya..," Rudi mengangsurkan sisa uang pembayaran makanan kepada Bara.


"Ambillah.."


Rudi tersenyum seketika, untuk anak sekolah yang jauh dari orangtuanya dan hanya mengandalkan kiriman mendapat tambahan uang saku pasti senang kan.


Ketiganya kini berjalan beriringan menuju ke tempat parkir di samping kantin tersebut.


"Aku duluan..jangan lupa sabtu datang ke tempat yang aku minta, jangan sampai keduluan orang lain," pesan Bara kemudian berjalan ke arah yang beda karena sudah sampai ketempat dimana mobilnya di parkirkan.


"Ck..ck..," kedua temannya berdecak kagum melihat mobil yang di bawa Bara begitu mewah.


"Waah..mewahnya mobilnya.."


Bara memasuki mobilnya kemudian meninggalkan halaman parkir kampus tersebut sambil melambai kearah dua temannya, dengan diiringi tatapan marah dari seseorang.


"Oh..pantas ... Clarissa mengejarnya..dia kaya juga," gumam pemuda itu yang juga meninggalkan parkir kampus dengan mobilnya.


**


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam, Eh.. Bara..," seru pak Darmais yang sangat senang saat di telpon Bara anaknya.


"Bagaimana pak kabar di sana..?."


"Alhamdulillah..semua baik baik saja Bara, bapak juga baru mau telpon ke kamu malah kamu sudah telpon duluan."

__ADS_1


Bara tersenyum mendengar kabar keluarga baik baik saja di desa.


"Bara mau mbemberitahu Bapak dan Ibu di kampung kalau Bara sudah lulus kuliah pak dan rencana dua minggu lagi akan wisuda."


"Alhamdulillah...syukurlah Bara, bapak senang sekali mendengarnya nak.."


"Nanti Bapak bersiap saja dua minggu lagi tanggal xx nanti ada yang jemput bapak ibu serta adik adik."


"Loh..bukan kamu sendiri yang jemput ke sini Bara..?."


"Maaf Pak..agenda pekerjaan Bara pas sibuk jadi tak bisa menjemput bapak ke kampung langsung," sahut Bara yang juga kurang enak karena tak bisa menjemput sendiri kedua orang tua nya serta adik adiknya.


"Ohh..ya sudah..., bapak ngerti kok Bara.., kamu sibuk...."


"Oh..iya..bapak juga mau bilang ke kamu kalau semua proyek kamu sudah selesai, dan kelebihan uang yang di berikan oleh tuan Hendrawan bapak belikan sisa tanah milik Mbah Wongso."


"Jadi sekarang obyek wisata gagasan mu makin luas areanya," kata pak Darmais melaporkan kegiatan proyek di kampung nya.


"Alhamdulillah pak..."


"Sekarang malah sudah ada pengunjung sedikit sedikit," kembali pak Darmais berkata.


"Lah..memangnya ijinnya sudah ada pak..?."


"Berkat bantuan pak lurah ijinnya makin lancar.."


"Pak lurah..??," Bara kaget mendengar nya, karena selama ini mereka pernah berseteru kecil sebab perjodohan yang gagal dulu.


"Iya..pak lurah."


"Pak lurah malah senang sekali karena kini ada obyek wisata di kampung kita yang juga bisa menjadi pemasukan kas desa serta mengurangi pengangguran nantinya."


Bara tersenyum lega kini hubungan orang tuanya dengan pak lurah sudah membaik.


"Tapi nanti pembukaannya nunggu kamu, jadi sekarang masih bapak gratis kan, lagian juga belum ada yang kelola tempat nya," kata pak Darmais dengan telponnya.


"Ya..sudah pak, ni..Bara juga telpon Bapak sambil nyetir, nanti kapan kapan Bara hubungi lagi, pokonya jangan lupa tanggal itu semua siap siap, nanti sopir sampai sana mungkin sore jadi bapak sudah pulang dari kantor kelurahan."


"Ya Bara...bapak nanti akan ngomong hal ini ke ibumu," kata Pak Darmais sebelum obrolan kedua nya berhenti.


"waalaikumssalam."


tuuuut...tuuut..


Panggilan telpon terhenti, Bara sudah memasuki halaman rumah utama keluarga Santosa.


Para penjaga rumah utama membungkuk menyambut kedatangan tuan muda menantu keluarga Santosa tersebut.


"Selamat siang tuan muda.."


"Siang ..," balas Bara begitu keluar dari mobilnya membalas sapaan para penjaga rumah itu sambil tersenyum ramah.


"Assalamualaikum...," Bara mengucap salam begitu memasuki rumah mewah itu.


"Waalaikumssalam..," mama Nursanti yang ada di ruang depan menjawab salam Bara.


"Sudah pulang kamu..nak..?."


"Sudah Mah..," jawab Bara sambil mengambil tangan mama mertua nya yang kini sudah menerima keberadaan nya... untuk salim.


"Loh..enggak bareng papa tadi..?."


"Enggak mah..soalnya Bara tadi mampir ke kampus setelah meeting di kantor.."


"Memang ada masalah di kampus..?.," tanya mama Nursanti dengan wajah khawatir.


"Enggak mah..cuma ambil undangan Wisuda.. untuk orang tua," sahut Bara sedikit ragu berkata.


Mama Nursanti yang mendengar itu malah terlihat antusias.


"Berarti besan mama mau kesini..?."


Bara mengangguk sedikit tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kapan itu..?."


"Dua minggu lagi mah," sahut Bara dengan cepat.


Mama Nursanti nampak senang dan itu terlihat dari ketulusan di wajahnya.


"Mama bertanya karena kan mama harus siapkan kamar untuk mereka," kata Nursanti yang melihat kebingungan di wajah menantu nya tersebut.


"Ooh," Bara hanya membulatkan mata dan mulut nya.


"Kita hanya orang desa mah.., kamar depan aja sudah cukup," kata Bara kepada mama Nursanti.


"Ish...kamu ini, itu buat tamu biasa..kalau besan ya lain tempat nya bukan di sana," sahut mama Nursanti yang malah menasehati Bara.


Bara hanya mengangguk dan tersenyum ke arah mama mertua nya, sebelum akhirnya pamit mau menemui istri dan berganti baju.


"Ya..sana ganti baju dulu, tuh..istrimu masih sibuk belajar memasak di dapur," kata mama Nursanti sambil tersenyum ke arah Bara.


**


"Uuh...segarnya..," gumam Bara pelan setelah selesai mandi.


"Kok mas Bara enggak ngabari aku kalau sudah pulang..," suara istrinya mengagetkan Bara yang masih berbalut handuk di walk in closed.


"Sayaang...!, bikin mas Bara kaget saja," seru Bara yang memang benar benar kaget.


Yolanda malah tersenyum kecil.


"Habisnya mas Bara jahat perginya lama banget, pulang pulang enggak ngabari langsung ke kamar aja."


"Loh..kan mas Bara habis bepergian harus mandi dulu sebelum ketemu Bunda baby twins," kata Bara pelan sambil mendekati istrinya mengusap perutnya.


Yolanda juga mendekati suaminya minta di cium pipinya.


Cuup.


"Tadi pas mas Bara pulang mama kasih tahu kalau kamu sedang belajar memasak..emang masak apa..?."


Bara berganti baju di depan istrinya yang masih saja tersipu jika memandangnya.


"Mas Bara porno.."


Yolanda tersipu melihat aksi sang suami tanpa malu malu melepas handuknya sebelum berganti pakaian.


Bara hanya terkekeh, bahkan sedikit menggoda istrinya dengan gerakan tubuhnya.


"Ish..," Yolanda makin tersipu.


"Makanya kalau ada orang ganti baju jangan di lihatin terus.."


Kata Bara karena entah sadar atau tidak Yolanda memandang tubuh suaminya yang sesaat tadi terlihat polos.


Bara kini sudah berpakaian lengkap, mendekati istrinya yang masih tersipu sipu.


"Kamu masak apa sayang..?."


Sambil memeluk istrinya Bara bertanya.


"Kesukaan mas Bara.."


"Haah..apaan itu emang.."


"Ada deeeh....," kata Yolanda mencoba melepaskan diri dari pelukan sang suami yang tangannya makin jahil kemana mana.


"Sayaang..emm."


"Enggak mau.....bentar lagi makan siang...," sahut Yolanda, sambil menahan tangan suaminya yang traveling kemana mana.


___________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku...

__ADS_1


* Sang Pengacau


* Jagoanku ternyata CEO**


__ADS_2