
Siang itu Bara dan Yolanda sudah kembali berada di apartemen.
"Mas..dua hari lagi kita akan ke desa," kata Yolanda saat keduanya tengah duduk di ruang TV menikmati acara.
"He'em," sahut Bara sambil memeluk istrinya menyandarkan ke pundaknya.
"Nanti sore aku akan pulang, bagaimanapun Papa dan Mama pasti menghawatirkan aku."
Bara mengerti dan mengangguk.
"Untuk pembayaran tanah Mbah Wongso sudah aku transfer ke rekening mas Bara."
"Lho kok malah ke rekening mas Bara..?," sahut Bara yang kebingungan.
"Enggak pa pa..toh uang aku uang mas Bara juga."
Bara hanya terdiam setelah nya, tak mampu berkata apa-apa, karena bila mengingat hubungan keduanya yang tak seperti pernikahan pada umumnya membuatnya sedikit gamang.
Hatinya tak meragukan soal ketulusan perasaan istrinya, apalagi tentang perasaannya sendiri...namun masih banyak yang perlu di perjuangkan untuk menjadi "pasangan" yang sebenarnya.
"Mau pulang jam berapa...?sayang..," sahut Bara sambil sudah menciumi rambut Istrinya.
"Mungkin habis sholat ashar mas."
"Bagaimana kalau kita mengisi "Daya Kekuatan" kita terlebih dahulu...?," kata Bara yang tangannya sudah masuk ke dalam baju istrinya.
Yolanda menoleh ke arah suaminya.
"Maksud mas Bara...?."
Bara membisikkan sesuatu ke telinga Yolanda yang membuat nya tersipu.
"Ikh...mas Bara...pakai istilah..daya kekuatan segalaaahhh..," kata Yolanda sedikit mendesah dan kegelian karena tangan Bara sudah bermain main di area yang sensitif.
"Kan..dua hari nanti kita enggak ketemu sayang..biar mas Bara kuat ngejalani nya...," rajuk Bara yang sudah mengangkat dan mendudukkan Yolanda di pangkuannya.
"Sudah pintar ngegombal yahh ..sekaranghh...," desah Yolanda yang kini sudah duduk berhadap hadapan di pengakuan Bara sambil melingkarkan tangannya di dua pundak suaminya yang ganteng tersebut.
Bara tak menjawabnya...hanya mulai m*l*m*t bibir kenyal Yolanda yang kini makin jadi candu baginya.
"Mass...pintuhh depanhh sudahh dihh... kuncihh..," kata Yolanda pelan dan mendesah...takutnya ada yang masuk entah.. opa .. atau.. papa nya.
"Sudah...mass..Bara kunci dan Grendel..," sahut Bara yang kian beringas.
Mendengar itu mereka langsung bergerak lebih liar lagi.
"Ke.. kamar...yuk...," kata Yolanda berbisik di telinga sang suami.
Bara langsung berdiri..mengangkat tubuh istrinya yang ramping namun padat berisi tersebut.
menggendongnya tanpa melepas..l*m*t*n Bibirnya menuju ke kamar yang nampak nyaman.
Keduanya hanyut dalam permainan mereka hingga terlelap di sana.
**
Di desa Bara di rumah pak Darmais.
__ADS_1
Mbah Wongso dan pak Sentot nampak Sedang berkunjung ke rumah pak Darmais.
Mereka tengah berbincang masalah pembelian pekarangan yang sebentar lagi akan di lakukan pembayaran tersebut.
"Berarti Kapan rencana kepulangan Nak Bara pak ..?," tanya mbah Wongso.
"Menurut informasi nya sih Jumat malam sudah sampai di sini Mbah..," sahut pak Darmais.
"Apakah semua perlengkapan sudah di kumpulkan pak..?," tanya pak Darmais kepada pak Sentot anak pertama mbah Wongso.
"Sudah pak..ini setumpuk fotokopi KK dan KTP dari adik adik," sahut pak Sentot.
"Sekalian nanti di siapkan rekening yang akan di jadikan nomer tujuan transfer pak," sahut pak Darmais lagi.
"Soalnya pesen nya Bara seperti itu," Kembali pak Darmais berkata lagi.
"Iya pak sudah ada ..," sahut pak Sentot kembali.
Setelah perbincangan di rasa cukup Mbah Wongso dan pak Sentot undur diri dari rumah pak Darmais.
"Kami permisi dulu pak Darmais," kata mbah Wongso sambil berdiri .
"Iya ..Mbah, besok lusa kalau Bara datang kita akan langsung ke tempat mbah Wongso," kata pak Darmais kepada bapak dan anak tersebut.
*
Setelah kepergian mbah Wongso Bu Romlah dan anak anaknya menghampiri suaminya dan ayah nya.
"Bagaimana pak..?."
"Apanya Bu..?."
"Ya..menanyakan kapan kepulangan Bara."
"Terus bapak jawab saja ...Jumat malam biasanya sudah sampai di sini," kata pak Darmais.
"Memang beneran kak Bara mau beli tanah mbah Wongso..? .. Pak..?," tanya Misye.
"Bukan kakakmu...tapi nak Yola," sahut pak Darmais.
"Kaka Yola..?," kata Misye sambil tersenyum dan melihat Della.
"Waah...kak Yola..memang bener bener hebat ya..," sahut Della.
"Sudah cantik..," kata kata Della.
"Banget..," sahut Misye.
"Kaya raya lagi..," kata Della menyambung perkataan nya tadi.
"He'em," sahut Misye.
"Tapi yang lebih hebat lagi kak Bara.. karena bisa menjadikan kak Yola istrinya...," kata Misye.
"Ho'oh."
"Kalian ini ngomong apa..sih..," sahut Bu Romlah menghentikan ocehan dua anak gadisnya.
__ADS_1
"Iya...kan bener Bu ..kak Bara hebat bisa jadiin kak Yola istrinya.."
"Cantik banget, baik banget..dan kaya..banget..nget.. nget..," sahut Della memuji Kaka ipar nya tersebut.
"Dari mana kau tahu kaya..?," pancing Bu Romlah.
"Lha.. kemarin aja pas belanja dompetnya penuh uang Bu..," sahut Della lagi ngeyel.
"Kalau enggak kaya mana bisa beli tanah seluas itu Bu..," sahut Misye membela adik nya.
"Ho'oh."
"Sudah.. sudah..kalian jaga toko sana..," sahut Bu Romlah akhirnya.
"iih..ibu..aku kan seneng kalau cerita cerita tentang kakak Yolanda Bu," sahut Della sedikit cemberut sambil berjalan ke arah warung kelontong yang ada di depan.
"Kak..memangnya ...kapan sih kak Bara sama kak Yola balik lagi kesini..?," tanya Della kepada Misye kakaknya.
"Kan kemarin katanya satu minggu lagi pulang, jadi ya mungkin sabtu ," sahut Misye sekenanya.
**
Sementara itu teman teman Bara semasa SMP yang di tunjuk sebagai panitia sudah mulai di sibukkan dengan acara pelaksanaan reuni.
Dimas, Revan dan juga Vivi sendiri sebagai panitia sudah mulai menghubungi beberapa teman teman nya.
"Gimana teman teman..?," kira kira berapa orang yang sudah bersedia menghadiri acara reunian minggu besok..?," tanya Revan sebagian ketua panitia.
"Dari seratus delapan puluhan anak seangkatan sudah sekitar seratus limapuluhan yang memastikan hadir," sahut Dimas sambil membaca kertas laporan.
"Hanya tinggal beberapa yang masih belum pasti..kayak si Bara.. bilangnya sih mau di usahain, tapi transfernya sih sudah..malah ngasih lebih..," kata Dimas lagi.
"Mungkin masih teringat kejadian dahulu..,jadi enggan untuk hadir.."
Vivi sudah mulai cemberut mendengar godaan Dimas.
"Lha..memang ada kejadian apaan sih..?," tanya Revan yang enggak satu kelas dengan Dimas, Vivi maupun Bara.
Dimas tertawa, "tanya aja si Vivi.."
"Lho..kok malah aku...sih..???," sungut Vivi.
Dimas tergelak.
"Si pungguk merindukan bulan.." kata Vivi pelan sambil tersenyum kecut.
"Ha.ha..ha.. ," Dimas jadi tergelak mendengar perkataan Vivi barusan.
Sebenarnya jauh di dalam hati Vivi sebenarnya juga ada rasa tertarik kepada Bara waktu itu, hanya saja saat itu Bara yang anak orang pas pasan selalu di remehkan, meskipun tak ada yang berani langsung mengejeknya karena dari dulu Bara bukan lelaki lemah.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku
* Sang Pengacau
__ADS_1
* Jagoanku ternyata CEO**