Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 134 Ngidam makanan dari desa


__ADS_3

Sabtu pagi di rumah utama nampak Bara bersama Opa tengah berada di halaman belakang sehabis sholat subuh.


Segarnya udara pagi menggoda keduanya yang memang menyukai kebugaran jasmani tersebut untuk berolahraga.


"Udah kamu lari saja keliling halaman ini, kalau Opa tak jalan saja," kata Opa Santosa sambil tersenyum kepada cucu menantu nya tersebut.


"Baik.. Opa," kata Bara sambil bersiap untuk lari, namun saat mau berlari di lihatnya Yolanda berjalan ke halaman belakang.


"Eeh.. dek Yola malah kesini Opa."


Bara berkata sambil melihat ke arah istrinya yang berjalan sedikit cepat kearah dirinya dan Opa.


Opa juga menoleh dan tersenyum.


"Sayaang hati hati.. jangan tergesa begitu dong..," seru Bara khawatir lalu berlari menghampiri istrinya.


"Eeh..iya lupa mas.." Yolanda tersenyum lalu menghentikan lari kecilnya.


"Kok nyusul..?"


"Mau ikut olahraga..," sahut Yolanda yang memakai pakaian tebal.


"Ya udah kamu jalan sama Opa aja, jangan tergesa-gesa ..sayaang...."


**


Semua sudah berada di meja makan.


Bara juga telah mandi dan kini tengah duduk di meja makan bersama istri, Opa dan kedua mertuanya.


"Lho kok sudah rapi ini kan libur..?."


"Iya Pa mau ke galeri."


"Oh.."


"Memang istrimu enggak ikut..?."


Tanya mama Nursanti yang melihat Yolanda masih dengan pakaian rumahan.


"Enggak mah..hari ini mas Bara rapat, terus memilih berbagai kesenian kriya yang di ajukan ke galeri dan juga merekrut karyawan baru, entar aku malah bosen .. mending di rumah aja." sahut Yolanda sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Papi enggak ikut..?." tanya tuan Hendrawan kepada Opa Santosa.


"Enggak lah..semalam barusan ke sana.., terus Jhonson juga paling sibuk ikut rapat," sahut Opa Santosa sambil menyuapkan makanan yang ada di piringnya.


Papa Hendrawan tampak tersenyum ke arah Bara, setelah mendengar perkataan Papinya.


"Bagaimana jika papa ikut..ke galeri..?.," kata papa Hendrawan masih tersenyum dan memandang Bara.


Bara yang terlalu kaget tak bisa berkata apapun dalam sesaat.


"Bagaimana..?."


"Boleh pah..," sahut Bara akhirnya masih dengan kekagetannya.


**


Di desa pak Darmais dan keluarga nya masih berkemas sedikit sedikit karena besok akan di jemput sopir untuk ke kota.


Rencana nya keluarga tersebut akan di kota selama satu minggu.


Pakaian yang akan di bawa sudah di masukkan ke dalam tas masing-masing.


"Kayaknya sudah semua pak..," kata Bu Romlah yang juga selalu meneliti kira kira apa kebutuhan nya nanti.


Pak Darmais mengangguk, sambil duduk di tempat tidur sehabis menata pakaian yang sudah Bu Romlah masukkan ke dalam tas nya.


"Cuma Bapak masih bingung oleh oleh apa yang pantas ya.. Bu?, masak kita enggak bawa apa apa..sih Bu..?."


"Iya ya pak..?., Ibu juga bingung.."


Mereka masih berbincang di dalam kamar dengan penuh kebingungan.


**


Bara bersama tuan Hendrawan sudah berada di galeri.


Om Jhon yang melihat kedatangan mereka tersenyum menyambut.


"Pagi Om Jhon.."


"Pagi Bara.." Kata Om Jhon tersenyum kepada nya dan juga kepada papa Hendrawan.


"Pagi Pak.." sapa papa Hendrawan.


"Jangan panggil pak..mas Hendra, panggil saja Om Jhon, saya sahabat Papimu..kok.." Kata Om Jhon dengan ramah agar papa Hendrawan tak kikuk.


Papa Hedrawan mengangguk dan sedikit demi sedikit kecanggungan itu hilang seiring percakapan mereka.

__ADS_1


Disaat Bara mengadakan rapat papa Hendrawan berkeliling dan melihat lihat isi galeri yang membuatnya takjub.


**


"Bener inikan tempat nya..Rom..?."


"Iya..kan nama jalannya sudah bener..tadi.."


Sahut Romi yang ada di depan menaiki motornya sedikit cemberut dengan kecerewetan sahabatnya itu.


Romi masih melajukan motor miliknya yang biasa buat kuliah.


"Berhenti.. berhenti...Rom..!." tiba -tiba Rudi berteriak sambil menepuk pundak Romi.


"Apaan sih..?," sahut Romi yang pandangannya masih ke depan.


"Itu lihat...kita kelewatan."


Tunjuk Rudi ke arah bangunan megah yang halamannya luas.


Lalu Romi memutar motornya berbalik lalu masuk ke halaman gedung galeri tersebut.


"Ayo sini mas..... parkir motor di sini," teriak Tarjo kepada dua orang yang baru datang dengan motornya.


"Iya..mas.."


Romi dan Rudi lalu parkir di tempat yang di tunjuk Tarjo.


"Mas numpang tanya kantornya dimana ya..saya mau menemui teman kami."


"Memangnya temannya kerja di sini..?."


"Iya mas..namanya Bara..."


"Oh..Bosque.."


"Haah..? Bosque..?."


"Iya..dia teman sekampung ku kini jadi bos disini..," kata Tarjo dengan Bangga.


"Langsung masuk ke sana itu loh mas.. bila mau ketemu..ni barusan orangnya datang tadi."


Romi dan Rudi langsung masuk ke arah yang di tunjukkan Tarjo.


**


Janeta anak pak Musri yang juga menjadi rekanan dalam pemasaran dari Arts Museum juga hadir disana.


Dia juga yang mempromosikan Arts museum untuk kalangan wisatawan dalam negeri.


"Yang ini bisa masuk dan di pajang di sini," kata Bara sambil menunjuk beberapa produk.


"Tapi yang itu..saya rasa masih belum bisa karena pengerjaannya masih kasar."


Perwakilan dari perkumpulan seniman kriya menganggukan kepalanya mengerti.


"Bagaimana Om ..?."


Bara bertanya kepada Om Jhon sambil menatap yang lainnya seperti pak Bambang dan pak Poernomo serta Janeta yang masih mengawasi aneka produk kriya tersebut.


"Ya..Om terserah padamu.."


"Kita memang butuh orang yang bisa mengontrol produk yang masuk ke sini ," kata Om Jhon lagi.


"Ya...saya setuju..," kata Bara sambil memandang Janeta yang memang sudah berpengalaman.


"Bagaimana denganmu..mbak Tata..?."


"Emm..aku sih bisa bisa saja cuma waktuku saat ini belum bisa.."


"Kecuali ..aku tak harus masuk tiap hari mungkin bisa," sahut Janeta lagi.


"Ok..kalau begitu kamu tak harus masuk tiap hari, lagian barang barang kan tak datang tiap hari, bagaimana jika hanya Jumat Sabtu untuk bagian mu..?," kata Om Jhon memutuskan.


Janeta terdiam sesaat," Baik pak Jhon..aku sanggup Jumat ..Sabtu adalah saat penerimaan barang."


Akhirnya rapat pagi itu diputuskan dengan pengangkatan Janeta sebagai bagian penerimaan barang yang otomatis menyeleksi kelayakannya.


Semua mengangguk setuju.


"ini hasil penjualan minggu ini," kata pak Bambang kepada perwakilan perkumpulan seniman kriya menyerahkan daftar barang yang terjual beserta nominal uang nya.


"Selanjutnya nanti satu bulan sekali kita akan melaporkannya hasil penjualan barang seni tersebut."


Perwakilan perkumpulan seniman itu nampak tersenyum senang dan mengangguk setuju.


Perbincangan sudah kembali santai karena hanya membahas masalah yang sepele.


Ponsel Bara yang ada di sakunya nampak berbunyi tanda ada pesan masuk .

__ADS_1


Diambil dan di bukanya pesan dari Romi.


'Aku dan Rudi sudah di museum' Romi.


'Sebelah mana..?'


Bara membalasnya dengan cepat.


Ting.


'Di dalam museum' Romi.


'Tunggu sebentar'.Bara.


Bara lalu menyimpan ponselnya dan berkata kepada Om Jhon," Om tenaga pemasaran yang Bara janjikan sudah menunggu di dalam museum."


"Baik nanti Om yang wawancarai..," sahut Om Jhon.


**


"Mas.."


"Hmm."


"Besok bapak dan ibu sampai sini jam berapa..?," tanya Yolanda malam itu kepada Bara sambil merebahkan kepala nya di dada bidang sang suami.


"Paling sore, pak Bandi jemputnya habis subuh kan..?."


"Iya...mas.."


"memang nya kenapa sayang," sahut Bara sambil mengelus rambut istrinya yang masih tiduran di dadanya.


"Aku pingin guramai bakar yang ikannya dari desa, terus mangga muda yang di belakang rumah itu sama lumpia asli dari sana..mas..," kata Yolanda dengan serius sambil memainkan jari telunjuk nya menusuk nusuk perut sixpack suaminya.


"Kamu ngidam makanan itu..?."


Kata Bara sambil tersenyum masih mengusap rambut istrinya.


"Enggak... cuma pingin aja...."


"Itu namanya ngidam sayang." kata Bara lalu mengambil ponselnya ingin menghubungi bapaknya di kampung.


"Tapi ngrepotin enggak ya mas..?."


Masih dengan ragu Yolanda berkata sambil mengangkat kepalanya melihat sang suami yang mulai memencet nomor bapak nya.


"Mas Bara rasa enggak ."


**


Drrt..drrt..


"Eh..pak ponselnya bunyi tuh..kok malah bengong,'' kata Bu Romlah kepada suaminya yang masih nampak berfikir.


"Ooh.. iya..," pak Darmais tergagap karena masih berfikir kira kira mau bawa oleh oleh apa ke kota, mengambil ponselnya lalu mengangkat nya tanpa melihat layarnya.


"Assalamualaikum.."


".."


"Bara..?..Ada apa..?."


".."


"Iya..bapak sudah berkemas.."


".."


"Haah..?? bisa .. bisa..besok biar pak Karman ambilkan..biar fresh..," kata Pak Darmais sebelum akhirnya percakapan itu berhenti dan telpon di tutup.


"Ada apa ya pak..?," tanya Bu Darmais yang nampak penasaran.


"Kata Bara..... nak Yola pingin ikan gurami asli dari desa maksud nya dari kolam kita, juga mangga muda belakang rumah serta lumpia Bu..?," sahut pak Darmais penuh tanya.


"Haah..apa kita mau punya cucu pak..?"


"Maksudnya Bu..?."


"Nak Yola ngidam pak..!."


Kata Bu Romlah sedikit keras, hingga Misye dan Della yang masih menonton TV ikut kaget.


"Kak Yola ngidam.?.kita mau punya keponakan..?.yeeeiii...!."


Teriak keduanya sambil berpelukan senang


____________


Happy reading....

__ADS_1


__ADS_2