
Yolanda mulai gelisah karena memikirkan cara bagaimana agar bisa keluar dari rumah utama tersebut tanpa membuat banyak masalah.
Namun semua di buatnya setenang mungkin.
Dia masih pura pura menonton TV di kamar nya dengan santai sambil rebahan padahal otaknya masih memikirkan bagaimana cara agar bisa keluar tanpa kegaduhan.
Sebenarnya bisa sih nekat.. langsung keluar, tapi nanti orang lain yang akan terimbas akan tindakannya tersebut, bisa bisa di pecat dari pekerjaan nya.
Tanpa sadar Yolanda tersenyum, padahal tayangan di TV lagi ada kejadian bencana alam.
"Hehehehe.."
Pelayan wanita yang selalu bersama nya hingga geleng geleng kepala melihat tingkah nona muda nya.
Yolanda tersenyum karena sudah menemukan ide untuk meloloskan diri dari tempat tersebut.
"Mbak aku mau minta di buatkan jus alpukat..," kata Yolanda kepada pelayan wanita tersebut.
"Baik nona..," sahut pelayan wanita tersebut bergegas keluar dari kamar mewah nya.
Segera Yolanda mengambil barang berharga yang bisa di bawanya tanpa kecurigaan..terutama dompet dan isinya seperti kartu debit dan tanda pengenal nya.
Cekleek...
"Ini non jus alpukat nya..," kata pelayan tersebut.
"Makasih..," sahut Yolanda sambil mengambil dan mencecap sedikit minuman tersebut kemudian menaruhnya.
Yolanda mengambil buku buku sedikit banyak, kemudian tanpa cakap langsung keluar dari kamar nya.
Pelayan wanita itu hanya mengikuti nya.
"Bawakan buku ku.., dan juga minumanku..," kata Yolanda disengaja agar pelayan wanita tersebut sedikit kerepotan.
Begitu pelayan wanita tersebut kembali ke kamar mengambil buku dan minuman dengan cepat Yolanda berjalan ke arah dimana kunci pintu gerbang belakang di simpan dan di ambilnya.
"Aku mau ke gazebo taman belakang," kata Yolanda begitu pelayan wanita yang menjaga nya sudah kembali berada di belakang nya.
"Baik nona..," sahut pelayan wanita tersebut tanpa menaruh curiga apapun.
Mereka menuju taman belakang rumah di mana di sana terdapat gazebo yang biasa buat santai keluarga Hendrawan.
**
Leon masih berada di tempat kesukaannya, ya...apalagi kalau bukan Bar tempat dia biasa minum dan nongkrongnya bersama teman temannya.
Mereka masih bercanda ria dengan sesamanya, merayakan keberhasilan rencana memisahkan Yolanda dari suami palsu nya...menurut Leon.
Beberapa wanita sudah ada di sana ikut menikmati beberapa makanan dan minuman yang di sajikan.
"Tumben si Sisil tak kelihatan batang hidungnya..," tanya Leon kepada semua yang ada di sana.
"Kali aja baru dapat ikan kakap..bos.," sahut seorang gadis di sana.
Semua tertawa mendengar perkataan gadis itu.
"Benar juga...," sahut Leon.
Saat mereka masih barcanda canda ponsel Leon berbunyi.
Drrt... drrt...
Di lihatnya layar ponselnya, nomer panggilan dari siapa itu.
Leon memberi isyarat kepada teman temannya, untuk diam sesaat dengan jari telunjuk yang di tempel kan di bibirnya.
"Halo Tante...?," sapa Leon kepada seseorang di ujung sana yang tak lain adalah Nursanti.
"Bagaimana kabarnya Tante..?.," Kembali Leon menyapa dengan sopan, sambil masih memberi isyarat kepada teman temannya agar tetap diam.
"Tante baik..saja, bagaimana dengan mu nak..? ini dimana..? kok rame suaranya..?."
"Leon juga baik Tante ...ini masih di panti...mau nyumbangin sedikit rejeki ..," kata Leon sambil menahan tawanya.
"Syukurlah...kamu memang anak yang baik, apakah kamu sudah mendengar berita tentang Yolanda..?," tanya Nursanti.
"Ada apa ya Tante...?," tanya Leon berpura pura.
"Anak kampung itu sudah kami usir..dan saat ini Yolanda sudah berpisah dengan nya," kata Nursanti menerangkan.
__ADS_1
"Tante harap kita bisa dekat lagi seperti dahulu."
"Saya juga berharap seperti itu tante," balas Leon yang kegirangan hatinya.
"Kapan kapan akan tante atur agar kita bisa bertemu kembali."
"Baik..Tante ...ini Leon mohon ijin..mau menyerahkan sumbangan dulu tante...," kata Leon yang sudah tak bisa menahan tawanya untuk mengakhiri percakapan tersebut.
"Oh...ya..Tante tutup ya ..," kata Nursanti sebelum menutup panggilan telepon nya.
Leon kemudian terbahak bahak setelah menutup telponnya.
Diiringi dengan tawa teman temannya.
**
Bara masih tiduran santai di kursi malas nya, setelah merampungkan beberapa lukisan...meskipun lukisan itu nanti juga masih akan di sempurna kan lagi jika di anggap masih ada yang kurang.
Membuat sebuah lukisan itu memang tak langsung bisa jadi, karena selain membutuhkan keterampilan dan ketelitian juga butuh waktu untuk mencampur cat maupun menumpuk cat minyak tersebut di lukisan...di butuhkan ketepatan perhitungan kapan cat minyak tersebut bisa di campur dan di tumpuk maupun di oleskan.
Belum lagi jika mood kurang bagus seperti saat ini, maka hanya akan sia sia saja karena karya itu malah tak jadi bagus namun malah jadi kacau nantinya.
Pikirannya masih galau memikirkan kehidupan nya, sudah lebih dari satu minggu dirinya tak bertemu dengan Yolanda istrinya.
Jangankan bertemu sekedar menanyakan kabar saja tidak pernah.
Pernah Bara mencoba sekali mengirim pesan, jangankan di baca pesan tersebut sampai kini masih centang satu.
Bara makin sakit menyadari hal itu, Yolanda istri nya ternyata sudah melupakan dirinya.
Namun dalam hati kecil Bara tak sedikit pun menyalah kan sang istri, Bara sadar penuh siapa dirinya..hanya remahan yang tak berharga di mata keluarga Santosa.
Tak pantas memang jika di sandingkan dengan nona muda keluarga Santosa tersebut.
Pak Karmin yang menemani Bara di gedung bagian belakang galeri itu hanya geleng geleng kepala jika sudah melihat sang pelukis sudah dalam posisi seperti itu.
Memang pak Karmin tidak tahu ada permasalahan apa, namun sebagai orang yang sudah tua pak Karmin tahu ada yang tidak beres dengan anak muda itu.
"Mas Arjun mau bapak buatkan minuman..?, biar tak gabut dan bosan..?," tanya pak Karmin hati hati.
Bara menoleh ke arah pak Karmin yang ternyata memperhatikan nya dari tadi.
Sejak galeri itu di buka memang Bara jarang menampakkan diri di depan galeri, semua sudah di tangani oleh para pekerja yang Om Jhon bentuk.
Sebenarnya om Jhon sudah menawari Bara, agar menjadi manager galery tersebut dan mengelolanya, namun Bara menolak alasannya pikiran nya masih kacau belum bisa berkonsentrasi, takutnya malah mandek .....nanti galeri nya tak berkembang.
"Mas kopinya bapak taruh di sini ya..," kata pak Karmin sambil meletakkan kopi dan makanan kecil di meja dekat Bara yang masih menatapi hasil karyanya.
"Makasih pak," sahut Bara singkat sambil mengoleskan cat di sebuah lukisan yang dirasa kurang.
Meskipun galeri tersebut masih di bilang baru, namun entah dari mana datangnya orang orang sudah banyak yang berkunjung bahkan membeli produk yang memang di jual di sana.
Om Jhon yang seorang pebisnis handal memang hebat dalam mengelola tempat tersebut.
Terkesan mewah dengan gaya seperti gelery atau museum kelas dunia.
Mulai dari petugas keamanan sampai bagian lain nampak bekerja dengan baik dalam arahan Om Jhon.
**
Yolanda masih membaca buku buku tersebut di gazebo taman belakang rumah.
Angin yang semilir membuat kesejukan di tempat tersebut dan membuat kenyamanan tersendiri.
Pelayan wanita yang menemani Yolanda nampak sedikit mengantuk, apalagi semalam tidak nyenyak tidurnya karena sebentar sebentar Yolanda bangun membuat pelayan wanita itu juga terbangun...mungkin takut Yolanda kabur.
"Mbak..rebahan aja tak apa...aku masih lama kok bacanya," kata Yolanda.
Pelayan wanita tersebut yang semula duduk di gazebo itu lalu merebahkan diri, sesuai perintah sang majikan meskipun awalnya sungkan tapi rasa kantuknya tak bisa di ajak kompromi lagi.
Sedetik dua detik..semenit dua menit..Yolanda yang pura pura membaca mulai melihat ada celah di mana pelayan wanita tersebut mulai tertidur dengan nyenyak.
Dengan pelan Yolanda meninggalkan gazebo tersebut dan berjalan ke arah gerbang belakang lalu membuka nya kemudian meninggalkan tempat tersebut dengan tenang, setelah menguncinya kembali.
Yolanda merasa sangat senang sekali sudah satu minggu lebih tak bisa keluar dari rumah utama tersebut.
Lebih senang lagi karena harapan nya bertemu dengan pujaan hatinya akan segera terwujud.
Berjalan sedikit cepat karena takut ketahuan kemudian mencari taksi yang lewat di sekitarnya.
__ADS_1
**
Galeri sudah mulai di tutup, selama bulan ini memang galeri itu hanya buka delapan jam, mulai jam sembilan pagi sampai jam lima sore.
Seorang satpam sudah mulai mengunci pintu pintu di sana.
Hanya tinggal gebang utama yang masih terbuka saat sebuah taksi memasuki halaman galeri tersebut.
"Maaf nona tempat ini sudah tutup," kata Satpam itu dengan sopan.
"Saya ingin bertemu dengan Om Jhon..," kata wanita tersebut yang tak lain adalah Yolanda.
"Maaf Jhon siapa ya...?," tanya petugas keamanan di sana.
Yolanda kebingungan karena tak tahu sama sekali nama lengkap orang yang mau di carinya.
"Maaf nona sekali lagi kami sudah tutup ..jangan mengadakan ada dan membuat masalah di sini..," kata petugas keamanan tersebut dengan tegas karena melihat Yolanda terdiam.
"Bagaimana kalau pelukis di sini bernama Bara..?," kata Yolanda.
Kedua petugas keamanan itu kembali saling pandang.
"Maaf nona...kami tegaskan sekali lagi...jangan membuat masalah di sini, atau kami panggilan kan pihak yang berwajib jika masih mau membuat masalah..," ancam salah satu petugas keamanan itu.
"Sebentar.. pak...tolong saya harus ketemu dengan pelukis itu..paling tidak bapak memberi alamat dimana dia tinggal ," kata Yolanda sedikit memelas.
"Maaf nona sekali lagi..ya..disini pelukis yang mensuport galeri ini tidak bernama Bara..tapi tuan Arjun," kata salah satu petugas keamanan itu makin galak.
"Arjun...," gumam Yolanda.
"Arjuna Satya Sambara..kan pak..??," seru Yolanda kegirangan.
Kini kedua satpam itu yang gantian terkejut.
"Nona kenal tuan Arjun..?," kata petugas itu yang jadi pucat.
"Iya..itu suami ku..," kata Yolanda sambil meneteskan air mata.
Kedua petugas keamanan itu makin terkejut.
"Mari.. mari..Nyonya saya antar..," kata Kedua penjaga keamanan tersebut sambil mengarahkan Yolanda menuju ke samping galeri lalu memutari galeri menuju ke gedung belakang.
**
Bara masih..kembali malas malasan di kursi tersebut, jujur gairah hidupnya ..sudah sedikit padam.
Nyala api..semangat di dada nya sudah sedikit padam.
Tiba -tiba terdengar suara langkah kaki beberapa orang menghampiri temannya tiduran.
Tampak seorang wanita sedikit tirus di kawal dua petugas keamanan galeri menghampiri bara yang kini rambutnya awutan karena sudah sedikit panjang.
"Mas Bara...," teriak wanita itu yang sontak membuat Bara yang masih cuek itu terlonjak.. kaget.
Bara langsung berdiri dan memandang wanita itu seksama.
"Sayaang..," kata Bara tertahan.
Yolanda langsung berlari menghambur ke pelukan suaminya.
Keduanya berpelukan sambil bertangisan.
Kedua petugas keamanan kemudian meninggalkan tempat tersebut setelah semua di pastikan benar.
Yolanda masih menangis di pelukan sang suami, kerinduan nya selama ini di curahkan nya.
Bara lalu menggandeng istrinya menuju ke ruangan di mana dirinya tinggal, kamar itu berada di sebelah tempat kerjanya.
Bara sangat senang sekali istri yang di anggap nya sudah melupakan nya tenyata kini ada di samping nya.
___________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku
* Sang Pengacau (silat)
* Jagoan ku ternyata CEO (roman**)
__ADS_1