
"Cepat putar arah....ikuti motor tadi..," teriak Opa Santosa kepada sopir dan juga pengawalnya tersebut.
Segera mobil berputar dan mulai mengejar mengikuti Bara yang masih santai mengendarai motornya.
Dua mobil sudah nampak mengikuti Bara, yaitu mobil yang di naiki Opa serta asisten juga mobil khusus pengawal.
Belokan pertama Bara masih belum menyadari ada yang menguntitnya, belokan kedua Bara sudah mulai curiga.
"Eeh...kayaknya mobil di belakang nampak mengikuti ku..?."
Untuk memastikannya sengaja Bara berbelok ke arah yang tak di sangka sangka.
"Yaah..beneran..deh dua mobil di belakang mengikuti ku...sejak kapan Ya...?? gawat ni kalau enggak tancap gas..."
Di sebuah belokan berikut nya dengan cepat Bara berbelok dan langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi.
Reeeeennng...!!!
Si Neneng melesat dengan cepat, meliuk liuk menghindari kendaraan di depannya hingga akhirnya menghilang.
"Aah...gagal kita..," gumam Opa sambil memukul kursi di depannya.
"Mungkin dikiranya kita rombongan tuan Hendrawan..tuan Besar..," sahut sang asisten yang paham betul permasalahan keluarga itu.
"Mungkin..," sahut Opa Santosa dengan tersenyum getir.
Karena kehilangan jejak Bara akhirnya Opa Santosa memerintahkan balik lagi ke apartemen.
"Ayoo kita kembali ke apartemen..," perintah Opa Santosa, dan mobil pun berbalik arah kembali menuju ke apartemen.
**
Tuan Hendrawan yang merasa sudah mencari kesana kemari tak ada hasil masih duduk terdiam di rumahnya.
Kekhawatiran akan anak semata wayangnya membuat dirinya makin gelisah.
"Panggil Bandi kemari..?," perintah tuan Hendrawan.
Tak berapa lama pak Bandi sopir pribadi Yolanda nampak menghampiri tuan Hendrawan.
"Ada apa tuan Hendrawan manggil saya..?," tanya pak Bandi mendekat ke arah tuan Hendrawan.
"Coba ceritakan apa yang kamu ketahui tentang kepergian nona muda mu..," perintah tuan Hendrawan.
Pak Bandi kemudian bercerita bagaimana Yolanda minta di carikan kabar berita tentang Bara.
"Terus kau temukan di mana dia..?," tanya tuan Hendrawan.
"Saya tidak menemukan m..mas Bara..," kata pak Bandi yang bingung mau manggil Bara dengan panggilan apa, cukup Bara..atau.. mas Bara..atau tuan muda Bara...
"Tak..menemukan..??," tanya tuan Hendrawan makin cemas kepada anaknya.
"Iya...tuan...saya cari...dimana mana mas Bara tak ketemu," kata pak Bandi dengan lemas dan terlihat jujur.
Tuan Hendrawan terdiam dan berfikir sejenak.
"Apa mungkin dia balik ke kampung nya..ya. ?," gumam gumam tuan Hendrawan.
"Bisa jadi ..tuan ," sahut pak Bandi mendengar gumaman tuan nya.
"Kalau begitu ayoo antar aku ke kampung nya..," perintah tuan Hendrawan.
**
Opa Santosa sudah balik lagi ke apartemen, turun dari mobilnya dan melihat lihat situasi.
Kemudian Opa berjalan menuju lift ke tempat apartemennya berada.
Setelah sampai di lantai apartemen nya Opa langsung memasuki apartemen miliknya tersebut mencoba mencari titik terang keberadaan cucu cucunya...tapi tak ada satu petunjuk apapun.
"Tuan besar...nampaknya tuan muda menyukai lukisan..," kata asisten dan juga pengawal kepercayaan Opa Santosa yang bernama pak Jo.
"Pandanganmu tak salah Jo..coba lihat meskipun lukisan ini belum jadi tapi sudah menampakkan keindahan yang luar biasa," sahut Opa sambil memandang beberapa lukisan yang di tinggalkan karena tak sempat di bawa oleh Bara.
"Pintar ngelukis anak itu..," gumam Opa sambil menikmati indahnya lukisan yang belum jadi tersebut.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini, aku sudah punya gambaran dimana kemungkinan anak itu," sahut Opa kembali.
**
__ADS_1
Opa Santosa keluar dari apartemen nya kemudian menunggu antrian lift yang yang akan turun ke bawah.
Om Jhon juga kebetulan akan turun ke bawah.
Keduanya saling menatap sesaat...mengingat sesuatu.
"Johnson..?," kata Opa Santosa.
"Santosa..?," sahut Om Jhon, keduanya lalu tos beradu tangan dan tersenyum bahagia.
"Kamu sekarang tinggal di sini...?," tanya Opa tertawa lebar bertemu dengan sahabat nya tersebut.
Om Jhon mengangguk membalas sahabatnya.. tersenyum.
Sejak Muda saat SMA hingga kuliah keduanya adalah sahabat akrab dan selalu bersama.
Keduanya sama sama penyuka olahraga sepak bola dan keduanya sama sama berposisi sebagai striker atau penyerang, zaman muda dahulu keganasan keduanya dalam bermain sepak bola menyerang lawan sangat terkenal hingga kerap di juluki JOSAN singkatan dari Jonshon dan Santosa
Pasangan striker JOSAN sudah sangat terkenal kala itu hingga mewakili negara dalam pertandingan antar mahasiswa tingkat dunia...tak main main kan.
"Sudah lama tinggal di sini..?," sahut Opa Santosa sambil merangkul pundak Om Jhon.
"Baru tiga...empat bulanan kurang lebih," sahut Om Jhon.
"Kok kita enggak pernah ketemu ya..padahal ...aku juga punya apartemen di sini."
"Iyaa..ya..," sahut Om Jhon.
"Wah..kebetulan dong kita jadi bisa ngumpul lagi sekarang," kata Om Jhon lalu keduanya masuk ke lift karena lift antrinya sudah tiba.
Mereka kini tiba di lantai satu.
Ting..
Pintu lift sudah terbuka.
"Ayo..kita ngobrol dulu..lama nih tak ketemu," sahut Om Jhon.
"Hehehe..pasti lah..kemana...?."
"Cafe apartemen aja ..nggak usah jauh jauh, kita ngobrol ngobrolnya..," sahut Om Jhon lagi.
Keduanya sudah duduk satu meja, sedangkan para pengawal di meja yang lain.
"Ya...biasa lah..masih memonitor perusahaan dari jauh....Eh.. tapi kini aku punya kegiatan kecil kecilan bersama teman membuka galery ," sahut Om Jhon menerangkan kegiatan terkininya.
"Kalau kamu....pastilah masih aktif.. kan pengusaha sukses..," kata Om Jhon lagi sedikit menyanjung Opa Santosa.
Opa Santosa terkekeh mendengar sanjungan sahabat karibnya tersebut.
"Aah..bisa aja kamu .......Jhon, Oh iya...aku kira kamu masih di luar negeri lho..," kata Opa Santosa.
Om Jhon lalu menarik nafas. panjang dengan muka sedikit sedih.
"Ya...aku kemarin kemarin memang sering tinggal di luar negeri, tapi semenjak istrinya meninggal aku balik ke tanah air...karena bagiku lebih mendekatkan aku dengan semua kenangan tentang Mira istriku," kata Om Jhon menjelaskan keadaanya.
"Aku juga ikut bersedih..maaf aku telah menyinggung kisah sedih mu," sahut Opa Santosa.
"Hehehe...tak apa."
"Bagaimana dengan kamu..?," tanya Balik om Jhon.
"Citra istriku juga sudah tiada..makanya aku sedikit mencari hiburan lagi dengan bekerja," jawab Opa Santosa Santosa dengan muram.
"Sudah..sudah .," kata Om Jhon sambil menepuk pundak sahabat nya tersebut.
Keduanya lalu ngobrol kesana kemari membicarakan banyak topik yang terjadi akhir akhir ini.
"Kamu juga tinggal di sini..?," tanya Om Jhon kepada Opa yang melihat sedikit keanehan..karena selama ini tak pernah ketemu.
"Enggak sih... apartemen ku aku suruh nempatin cucuku dan suami nya...," sahut Opa.
"Tapi...," Opa berhenti berkata.
"Tapi kenapa...?," tanya Om Jhon .
"Tapi kini mereka telah pergi...gara gara orang tuanya..ya..anakku sendiri yang telah mengusirnya."
"Jujur aku bingung mencari keberadaan mereka cucu cucuku," sahut Opa Santosa pelan.
__ADS_1
"Sebentar...siapa nama cucumu kali aja aku kenal..," pancing Om Jhon.
Opa terkekeh..
"Mana mungkin kau yang tua kenal anak muda...," sahut Opa Santosa.
"Cck..katakan saja...sahabatmu ini mungkin bisa membantu..," dengan muka serius om Jhon berkata.
"Yolanda dan Bara suaminya..," sahut Opa pelan.
Om Jhon hanya mengangguk mendengar nama yang sudah di duganya itu.
"Apakah kamu sibuk hari ini..?," tanya Om Jhon.
Opa menggelengkan kepalanya.
"Maukah kau melihat galeri ku dengan temanku..?."
Opa mengangguk.
"Ayo..kita berangkat sekarang ," ajak Om Jhon, lalu keduanya berdiri dan bergegas menuju parkiran setelah sang asisten menyelesaikan pembayaran apa yang mereka makan dan minum.
**
"Waah..gila..kau Jhon..," sahut Opa yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya akan lukisan yang terpampang di sana.
"Amazing.."
"Lihat ini...lukisan ini menggambarkan sang pelukis saat tengah terbakar hatinya, antara gelora dan juga amarah tertuang di goresan lukisan tersebut..," kata Om Jhon seakan guide tour menerangkan.
"Dan ini tentang perjuangan hidupnya.."
"Lha ..ini adalah goresan hatinya saat kembali bertemu dengan pujaan hati nya," sahut Om Jhon lagi.
"Keren...kereeen...," sahut Opa Santosa mengagumi hasil karya lukisan itu.
"Seniman dari negara mana yang lukisannya kau koleksi..ini...?," tanya Opa akhirnya.
Om Jhon terkekeh lagi.
"Mau ketemu..?," goda Om Jhon.
"He.he..he.. emang bisa..?."
"Ayo...ikut..aku...," ajak Om Jhon kepada Opa Santosa.
Opa memberi isyarat kepada pengawalnya untuk jangan ikut, keduanya lalu masuk ke belakang gedung tersebut dari pintu khusus.
Opa hanya mengikuti saja langkah kaki sahabat nya tersebut.
keduanya berhenti di depan sebuah ruangan semacam kamar yang terlihat biasa saja, tak bersih juga tak terlalu kotor.
Tok..tok..tok...
Om Jhon mengetuk kamar yang selalu di tutup tersebut.
Tak berapa lama terdengar suara pintu terbuka dari dalam.
Cekleek..
"Haaah...???."
"Opaaa..???."
"Bara...Yola...??."
Opa langsung menitikkan air matanya..melihat tempat hunian kedua cucu dan cucu menantu nya.
Bagi orang biasa mungkin tempat tersebut sudah sangat layak..tapi bagi seorang sultan... tempat tersebut ....jauh dari kata layak.
Yolanda langsung memeluk Opa begitu pun opa Santosa, langsung memeluk cucunya.
Keduanya bertangisan, Bara hanya terdiam melihat itu.
Kemudian menyambut tangan Opa dan menciumnya.
"Maaf Opa ...Bara belum bisa memberikan tempat yang layak bagi istri ku... tapi aku berjanji pasti akan memberikan yang terbaik..," sahut Bara di sela mencium tangan Opa Santosa.
____________
__ADS_1
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Happy reading**....