
"Jalannya bener ini ya pak..?," kata pak Sugeng bertanya kepada pak Darmais yang ada di sampingnya.
"Ya..bener pak..," sahut pak Darmais sambil menghubungi Bara jika sudah sampai wilayah X.
Untungnya pak Sugeng sudah pengalaman di kota tersebut, karena tidak satu kali dua kali dia di Carter pelanggan ke kota tersebut.
"Waalaikumssalam Bara bapak sudah sampai di wilayah X," kata pak Darmais setelah bertanya ke pak Sugeng.
"..."
"Ini maju terus..?, sampai ada perempatan belok kiri..?."
"..."
"Nanti ada jalan xxxx masuk..?."
"...."
"Ya nanti bapak hubungi lagi kalau masih bingung..," sahut pak Darmais sebelum menutup telponnya.
Pak Sugeng yang juga mendengar percakapan tersebut langsung melajukan mobilnya hingga ke perempatan lampu merah yang tadi di sebutkan.
"Perempatan belok kiri ya pak..?," tanya pak Sugeng sambil menoleh pak Darmais.
"Ya begitu pak kata anak saya," jawab pak Darmais sambil tolah toleh mencari nama jalan xxxx.
"Nah...itu pak jalannya, saya sudah ingat sekarang..," sahut pak Darmais sambil tersenyum senang.
"Ini pak jalannya..?," tanya pak Sugeng dengan sedikit kaget, karena pak Sugeng tau jalan itu adalah jalan rumah para konglomerat.
"Iya.. kenapa pak..?," tanya pak Darmais yang melihat pak Sugeng nampak kaget.
"Aah..enggak pak.," sahut pak Sugeng menyadari kekeliruannya, sudah meragukan anak pak Darmais.
"Iya pak... ibu juga ingat ..pas di ajak nak Yola juga lewat jalan ini, tuh..ada penjual itu."
Bu Romlah menyahut dari kursi belakang dimana dia duduk bersebelahan dengan Bu Kohar, sedangkan pak Kohar duduk di kursi belakang sendiri.
Pak Sugeng kembali mengangguk setelah mendapat kepastian dari Bu Romlah.
Mobil berhenti karena ada sebuah portal yang di jaga beberapa petugas keamanan.
"Maaf pak mau kemana ya..," tanya penjaga keamanan dengan sopan.
"Saya mau berkunjung ke rumah pak Hendrawan Santosa, saya pak Darmais besannya," kata pak Darmais membuat para penjaga keamanan disana langsung menunduk hormat.
"Silahkan pak, tadi tuan muda Bara sudah memberitahukan kepada kami," kata penjaga keamanan tersebut.
Pak Sugeng kembali terkejut melihat sikap para penjaga keamanan tersebut.
Pak Kohar dan Bu Kohar tak lagi terkejut dengan semua itu, mereka tahu siapa besan dari pak Darmais itu.
"Naah..itu..tu.pak..rumah besan saya," kata pak Darmais begitu sampai di sebuah gerbang yang paling besar di kawasan tersebut.
Kembali pak Sugeng tercengang melihat kemegahan rumah dari besan pak Darmais.
Mobil pun memasuki halaman rumah yang sangat megah dan mewah tersebut, dimana Bara dan Yolanda serta Misye dan Della sudah menunggu di halaman.
**
Pak Sugeng tak bisa menutupi kekagumannya demikian juga dengan pak Kohar dan Bu Kohar.
__ADS_1
Karena hari sudah sore, maka rencananya pak Sugeng menginap semalam di sana sebelum besok pagi kembali ke desa karena pak Darmais akan beberapa hari di rumah besan nya.
Papa Hedrawan dan mama Nursanti menyambut tamunya sesaat, sebelum mempersilahkan semua istirahat.
Pak Darmais dan Bu Romlah menempati kamar yang dulu di pakainya di sebelah Misye dan Della.
Sedangkan pak Sugeng di kamar belakang bersama para pekerja yang lainnya.
"Pak Kohar dan Bu Kohar kamar kalian di sini," tunjuk Yolanda kepada keduanya.
"Makasih non Yola.. ,tapi bapak sama ibu nanti mau di jemput Tarjo," kata Bu Kohar kepada Yolanda sambil tersenyum dengan sungkan melihat keramahan keluarga kaya raya tersebut.
"Memangnya pak Kohar sudah mengabari Tarjo jika sudah sampai..?," tanya Bara kepada bapaknya Tatik tersebut.
"Belum mas.."
Sahut pak Kohar sambil tersenyum kecut.
"Ya sudah nanti Bara antar, habis makan malam," sahut Bara kepada keduanya.
"Eh..nggak usah mas Bara nanti malah merepotkan, biar bapak telpon saja Tarjo," kata pak Kohar yang merasa tak enak merepotkan, apalagi pak Kohar tahu siapa Bara sekarang ini, selain bos dari anak dan menantunya juga tuan muda di rumah ini.
"Sebenarnya di antar mas Bara juga enggak apa apa kok," sahut Yolanda sambil memegang lengan suaminya.
"Enggak usah non..," sahut Bu Kohar tersenyum mengangguk.
**
"Mas.. Misye sama Della mana..?," tanya Yolanda kepada suaminya.
"Ada apa sayang..hmm..?."
"Biar mas pijitin..ya.."
"Enggak mau.. pinginnya di pijit aunty."
"Mas Bara panggil kan dulu ya.."
Yolanda mengangguk senang begitu suaminya mau memanggilkan kedua adik iparnya.
Bara beranjak mau keluar kamar.
"Eeh..mas Bara mau kemana..?."
"Kan mau manggil Misye dan Della, makanya mas mau turun."
Kata Bara yang sudah mau melangkah tersebut berhenti dan berbalik badan.
"Cck..kan ada ponsel..ngapain turun..?."
Sungut Yolanda," kan mas Bara bisa ngelus elus perut aku..soalnya baby twins anteng jika mas yang elus," katanya lagi.
Bara tersenyum menyadari kebodohannya," He..iya ya..mas Bara sampai lupa sayang."
Bara mengambil ponselnya dan meminta kedua adiknya ke kamarnya.
Tok tok tok..
"Masuk..!."
"Ada apa kak..??."
__ADS_1
Tampak kedua adiknya masuk dengan cemas, apalagi melihat kaka iparnya hanya baring di kasur.
"Kaka sakit..?," tanya Misye sambil mendekat.
Yolanda menggeleng," Pingin di pijit aunty..," rengek Yolanda dengan suara menirukan anak kecil.
Misye dan Della tersenyum dan mengelus dadanya.
"Kirain Kaka kenapa kenapa," kata Misye sambil langsung naik ke kasur dan mulai memijat pelan kaki kaka iparnya, demikian pula dengan Della.
**
Bu Kohar dan pak Kohar sudah di jemput oleh Tarjo dan Tatik.
Kedua nya kini sudah berada di galeri.
"Wah..ramai banget Le ( panggilan anak lelaki kependekan dari Thole)," kata Pak Kohar kepada menantunya sambil ikut duduk duduk di kursi tempat menunggu parkir motor.
"Iya pak kayak gini tiap malamnya," balas Tarjo yang duduk di sebelah bapak mertua nya tersebut.
Tak lama Bu Kohar dan Tatik menghampiri dan ikut duduk di sana.
"Waah ramainya kayak ada pasar malam ya.."
Bu Kohar juga terpana dengan suasana malam di galeri.
"Makanya kami kerasan di sini Bu," sahut Tatik sambil menggeser duduknya mendekati suaminya.
"Aku dapat gaji, mas Tarjo dapat gaji..jika malam masih ada pemasukan," kata Tatik lagi sambil tersenyum senang.
"Alhamdulillah..semua tak lepas dari peran Bos Bara," sahut Tarjo menimpali perkataan istrinya.
"Iya...mas Bara dan keluarganya memang baik, mana keluarga tuan Hendrawan juga baik sekali kepada bapak ibu tadi," sahut Bu Kohar teringat kebaikan keluarga besan pak Darmais tersebut.
"Iya Bu..mereka sangat kaya sekali, tapi baik.."
Sahut Tatik menimpali perkataan ibunya.
Tarjo berdiri begitu nampak sebuah gerobak datang mendekat setelah masuk pintu gerbang.
"Naah..itu..penjual langganan kita," sahut Tarjo sambil tersenyum melihat salah satu gerobak yang baru datang.
"Bapak mau apa..?, ibu mau apa..?," tanya Tarjo menawari kedua mertuanya.
"Ada apa saja to...Le..?."
"Ada nasi goreng dan aneka olahan mie serta ada sate ayamnya sebagai pelengkap selain kerupuk," kata Tarjo menerangkan.
"Mie rebus aja bapak Le...," sahut pak Kohar tersenyum.
"Ibu juga Le.."
Mereka masih ingin bersantai sambil makan makanan yang ada di sana, padahal tadi sudah makan malam di rumah tuan Hendrawan.
Mereka nampak bahagia mensyukuri nikmat yang ada.
___________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku dengan mengklik profil ku**..
__ADS_1