Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 144 Keputusan


__ADS_3

Keluarga Tony Wijaya meminta maaf kepada papa Hendrawan dan mama Nursanti secara langsung, mereka mau menyisihkan harga dirinya sudah merupakan suatu sikap yang patut di acungi jempol toh sebenarnya mereka juga tak melakukan apapun.


Itulah yang mendasari papa Hedrawan memaafkan keluarga itu, karena sebenarnya yang kebangetan juga Rio yang tak bisa mengendalikan dirinya.


"Om..apakah saya boleh masuk ke dalam menemui mereka..?.," tanya Clarissa karena memang saat itu semua menunggu di luar ruangan.


Papa Hedrawan menoleh ke arah yang lain lalu mengangguk setelah yang lain mengangguk.


"Terima kasih Om..," kata Clarissa lalu memasuki ruangan dimana Bara berada bersama dengan istrinya.


**


Bara yang tengah berbaring dengan Yolanda di samping nya, tengah mengobrol dan bercanda sedikit.


Lebam lebam di wajah Bara sudah sedikit menghilang dengan beberapa obat dan salep, cuma bibirnya saja yang yang pecah terhantam masih sedikit kelihatan tapi tak mengurangi ketampanan wajah nya, malah makin terlihat jantan seakan gladiator habis bertarung.


"Auuh..pelan pelan dong sayang..," sahut Bara saat istrinya mengoleskan sedikit salep di wajahnya.


"Iya...ini udah pelan..biar cepet ilangnya lebam ini," sahut Yolanda sambil serius menatap tajam wajah istrinya.


Sebenarnya Bara tak kesakitan hanya gaya gayaan saja sambil menatap wajah cantik istrinya yang tampak serius menatap luka di wajahnya.


Bahkan Bara dengan jahilnya melingkar kan tangannya ke pinggang istrinya memeluknya di tempat tidur tersebut tanpa malu malu.


"Ish..mas..nanti kalau ada yang masuk loh..di kira kita ngapa ngapa..," kata Yolanda menepis tangan suaminya, meskipun sebenarnya senang di peluk begitu.


"Alaa...paling siapa yang masuk.. keluarga kita kan..?.," goda Bara sambil tersenyum ke arah istrinya sambil makin mengeratkan pelukannya.


Mereka bercanda sampai tak mendengar ketukan pintu yang tadi di lakukan Clarissa.


Cekleek..!


Clarissa membuka pintu saat Bara memeluk Yolanda di atas dadanya karena posisinya setengah baring.


Bara dan Yolanda pun melihat ke arah Clarissa yang kaget masuk di saat yang tidak tepat.


"Uups...maaf," kata Clarissa dengan wajah memerah.


"Clarissa...??."


Bara dan Yolanda berteriak berbarengan.


Yolanda melepaskan diri dari pelukan suaminya, begitu Clarissa makin mendekat.


"A.aku minta maaf pada kalian..," kata Clarissa sambil berdiri di dekat tempat tidur.


"Kamu enggak salah kok..yang salah anak itu..," kata Bara sambil mencoba duduk dengan tegak di sandaran tempat tidur.

__ADS_1


"Tidak aku bersalah kepada Yola..," kata Clarissa sambil tertunduk.


Yolanda yang tahu arah pembicaraan Clarissa hanya terdiam.


"Sekarang kamu tahu mas Bara suami ku..apakah kamu masih menyukai nya..?."


Clarissa terdiam menatap Yolanda dan Bara bergantian.


"Aku akan mencoba melupakanmu.. meskipun itu tak mudah," kata Clarissa sambil berkaca kaca.


"Terlalu naif jika aku langsung mengiyakan permintaanmu karena itu tak mudah bagiku..," kata Clarissa lagi sambil menatap Yolanda, bahkan kini Clarissa sudah meneteskan air matanya.


"Tapi jangan khawatir, aku tak akan merebut suamimu..aku bukan perempuan seperti itu, namun aku tak bisa berjanji untuk bisa cepat melupakan mu Bara," kata Clarissa lagi sambil menatap Yolanda dan Bara bergantian.


Yolanda juga menatap Clarissa dengan tajam.


"Aku tak bisa memaksa hati orang untuk mencintai atau membenci karena hati itu bukan milikku tapi milikmu, tapi yang pasti aku akan mempertahankan suami ku untuk selamanya di sisiku..," sahut Yolanda menanggapi perkataan Clarissa tersebut.


Clarissa mengangguk sambil menitikkan air mata nya dan mencoba tersenyum getir," Semoga kalian bahagia..sekali lagi maafkan aku."


Perbincangan mereka terhenti saat para orang tua memasuki kamar tersebut.


Clarissa mengusap air mata nya, mencoba menyembunyikan kesedihan hatinya sebelum mundur dari tempat tidur dan duduk di kursi ruang tersebut.


Tony Wijaya dan Dewinta menyalami Bara yang masih berbaring di tempat tidur.


"Ternyata anak ini lebih tampan dan lebih berkharisma daripada anakku Leon, selama ini aku telah salah menduga mengiranya anak kampung yang udik dan jelek..pantas saja Clarissa tertarik padanya."


Batin Tony Wijaya sambil menyalami Bara.


"Terima kasih pak Tony dan Ibu.. bersedia mengunjungi kami," kata Bara sambil mencoba menegakkan duduknya.


Tony Wijaya dan Dewinta hanya mengangguk tersenyum.


"Sekarang megang perusahaan yang mana menantumu ini..?," tanya Tony Wijaya kepada papa Hendrawan, sambil duduk di kursi setelah bersalaman dengan Bara.


"Di Sant Otomotif.. Papi yang memintanya, aku malah enggak tahu hal itu..awalnya..he he..," sahut papa Hendrawan sedikit tersenyum.


"Aku hanya tahu ada peningkatan omset di sana..dalam beberapa bulan ini, tak tahunya menantuku yang megang di sana," kata papa Hedrawan lagi dengan bangga.


"Lho kok bisa..?," sahut Tony Wijaya menutupi kekagetan nya, soalnya Sant Otomotif itu perusahaan tertinggi di Santosa Group setingkat di bawah kantor pusat.


"Lah..kan mereka selama ini tinggal di mansioan menemani Papi," kilah papa Hendrawan beralasan.


"Ooh..waah hebat dong..," sela nyonya Dewinta yang tak bisa menutupi kekagumannya.


"Ohh pantas selama ini aku tak pernah melihatnya di kantor Santosa Propertindo." Batin Clarissa sambil tetap menatap Bara meskipun berkali kali dia mencoba mengalihkan pandangannya yang bagai tertarik magnet ke arah Bara.

__ADS_1


"Saya masih banyak belajar Pak ..Bu," kata Bara menanggapi obrolan itu.


"Lah..dulu..pernah kerja di mana..?, kok langsung bisa hebat megang perusahaan besar..?," tanya Tony Wijaya.


"Jadi asistenku ..," kata papa Hedrawan sebelum Bara menjawab pertanyaan itu.


"Oo..pantas sudah pengalaman toh..," sahut Dewinta menimpali.


Hari itu merupakan hari pertama dua keluarga itu bertemu setelah kegagalan perjodohan anak-anak keduanya.


Keluarga Tony menyaksikan sendiri betapa sayangnya Yolanda kepada suaminya yang mereka anggap dahulu hanya pernikahan pura pura menutupi aib.


Meskipun ada rasa perih di dadanya, Clarissa mencoba mengiklaskannya.


**


Malam itu semua kembali berada di rumah sakit tersebut, berkumpul dan mengobrol.


"Bagaimana keadaanmu mas..?," tanya mama Nursanti.


"Sudah baikan mah...tak ada keluhan, semenjak tadi siang infusnya di lepas malah lebih enak dan bebas," kata Bara kepada mama Nursanti.


"Aku juga enggak ada keluhan," kata Yolanda yang ada di samping suaminya.


"Kalau begitu kita bisa meneruskan rencana kita," sahut papa Hendrawan.


"Refreshing ke desa pak Darmais..," kata papa Hedrawan lagi sambil menatap pak Darmais yang juga mengangguk angguk.


"Iya..pah..," sahut Bara.


"Kapan kita berangkat enaknya..?," tanya Opa dengan antusias.


Semua saling pandang tak bisa memutuskan.


"Bagaimana jika besok sore, paginya kita bisa bersiap siap dahulu..,"sahut Opa Santosa lagi karena pada diam.


"Nanti kita naik jet pribadi, sedangkan para sopir dan pengawal berangkat lewat darat," sahut Opa Santosa.


Semua mengangguk setuju atas putusan Opa tersebut.


____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....


Baca juga karya lainku dengan mengklik profil ku.....


Happy reading... terimakasih**....

__ADS_1


__ADS_2