
Semua sudah di tata Bara dengan baik, dan menurut bu Ratna sudah sesuai dengan seleranya.
sekitar Jam 14.00 para rekanan investor yang akan membeli properti tersebut sudah datang.
Mereka langsung di ajak berkeliling melihat lihat rumah yang di jadikan percontohan.
Rombongan itu tiba di ruang tengah yang lebih luas dari yang lain.
Semua orang yang ikut berkeliling itu malah pandangannya terfokus kepada sebuah lukisan yang nampak terlalu indah di sana.
"Maaf...apakah lukisan itu menjadi bagian dari harga properti di sini," tanya salah satu dari investor itu.
"Maksudnya pak..?," tanya bu Ratna sedikit minta kejelasan.
"Apakah...lukisan itu bagian dari properti, maksudnya bila saya ambil rumah ini maka lukisan itu otomatis milik saya..?," tanya bapak investor tersebut menjelaskan.
Bara yang ingin menjawab, sudah keduluan bu Ratna.
"Ooh...itu hasil karya dari pak Bara ini...pak," jawab bu Ratna sambil menepuk nepuk lengan kekar Bara sedikit mengelusnya.....wuiihh kesempatan bagi Ratna bisa mengelus lengan kekar Bara.
Bara nampak tersenyum kaku dan sedikit geli di elus elus janda kembang tersebut.
"Ooh..jadi ini karya pak Bara..?," tanya rekanan investor tersebut sedikit tak percaya.
Bara menganggukkan kepalanya.
"Ok..ok...nanti kita akan bicarakan masalah itu sendiri," kata bapak itu lagi kepada Bara.
Kemudian mereka berbincang masalah properti kembali hingga beberapa saat.
Bara hanya mendampingi bu Ratna dan pak Jupri, sedangkan yang banyak bicara tentu saja bu Ratna dengan di timpali pak Jupri.
"Baiklah Bu..,saya rasa kunjungan saya sudah cukup, saya sudah memastikan lokasi, model rumah maupun material bangunannya dan kerapian pengerjaan nya, akan saya kabari paling lambat dalam satu minggu ini," kata salah satu rekanan investor itu.
"Ooh ..ya ..pak Bara...bagaimana kalau kita ketemuan membahas soal lukisan," kata bapak tersebut setelah selesai berbicara dengan bu Ratna.
"B.bbisa...pak," sahut Bara sedikit tergagap karena benar benar tak menyangka bapak itu kembali membahas masalah lukisan.
"Bagaimana kalau malam ini..?," tanya bapak itu.
"Boleh pak..," jawab Bara dengan cepat karena memang besoknya libur.
"Pak Bara tinggalnya di mana..?," tanya bapak itu lagi.
"Di daerah xx pak," jawab Bara.
"Ok.. kalau begitu kita ketemu di cafe www dekat daerah pak Bara," kata bapak itu lagi sambil berjalan keluar menuju parkiran.
"Oh..ya pak Bara ini kartu namaku," kata bapak itu yang bernama Musri sambil menyodorkan kartu namanya.
"Baik pak Musri, kita ketemu di cafe www," kata Bara setelah membaca kartu nama tersebut.
__ADS_1
Kemudian Bara juga memberikan kartu namanya kepada pak Musri.
Bu Ratna dan pak Jupri tak mempermasalahkan obrolan Bara dengan pak Musri karena sudah bukan urusan kantor lagi.
Akhirnya rombongan rekanan itu meninggalkan tempat tersebut lebih dahulu.
"Dik Bara saya sama pak Jupri pulang dahulu ya, mungkin dik Bara masih butuh waktu kalau mau mengemasi lukisan yang sudah jadi dagangan itu," kata bu Ratna sambil tersenyum.
Bara tersenyum dan mengangguk sopan.
"Terima kasih Bu, atas pengertiannya," kata Bara.
Mobil Kepala divisinya perlahan meninggalkan tempat tersebut.
Bara kembali masuk ke rumah itu dan mengambil lukisannya, setelah itu Bara pamit sama kepala proyek di sana.
"Pak...saya pulang dahulu, tolong perabot yang di pasang di kembalikan pada tempatnya ya," kata Bara.
"Baik pak," sahut kepala proyek di sana kemudian memerintahkan orang orangnya mengemasi barang-barang yang di maksud.
**
Bara tiba di apartemen sebelum Maghrib, setelah mandi dan berganti pakaian kemudian berniat menyiapkan bahan bahan masakan.
"Teng..teng..teng...masak....masak." gumam Bara menirukan iklan salah satu bumbu masak di layar kaca.
"Duuh.. ternyata sudah banyak bahan masakan yang habis nih..," gumam Bara lagi dengan pelan.
"Ya udah... nanti order makanan online aja deh..."
Sambil menanti adzan maghrib Bara bersantai di depan TV, pikirannya sejenak melantur teringat kepada Yolanda.
"Bukankah ini hari Jum'at..., kemaren kemaren non Yola jika weekend kayak gini selalu main kesini, tapi hari ini kok tak ada kabar..ya..? apa mungkin ...tidak kesini .?, karena di larang nyonya Hendrawan..?."
Bara menjadi gelisah sendiri, mondar mandir tak tenang.
"Benar juga kata Dylan rindu itu berat...aku tak sanggup," gumam Bara pelan, teringat dengan dialog di sebuah film Nasional.
Bara kembali duduk di sofa sambil menatap ke arah TV meski pikiran nya entah kemana.
"Aku...sudah.. bilang , jaga hati...jaga hati..., tuh kan sekarang kamu yang sakit....ngaca..Bara..!!."
Gejolak hatinya saling bersahutan antara mendukung dan menyalahkan kelemahannya yang sedikit membuka hati.
Adzan Maghrib terdengar sayup sayup dari kampung yang ada di sekitar apartemen itu.
Bara mengambil air wudhu kemudian berjalan kearah dapur yang luas, di sebelah sisi yang lain dari dapur itu terdapat ruangan kosong sebelum ke balkon dan oleh Bara di fungsikan sebagai mushola di apartemen itu.
Bara pun sholat Maghrib di sana dengan menggunakan sarung karena saat itu dia hanya menggunakan celana kolor selutut.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu."
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam tanda selesai sholat Bara berdiri berniat melepas sarungnya.
Namun betapa kagetnya dia tiba -tiba Yolanda muncul di sana dan langsung menghambur memeluk nya.
Keduanya nampak berpelukan dengan mesra.
"Aku kangeen....," kata Yolanda pelan.
Bara hanya mengangguk, padahal hatinya juga demikian tapi.. takut terlalu berharap.
"kok..diam..?, memangnya kamu enggak kangen aku..?," Yolanda berkata sambil sedikit cemberut.
"Kangen...," jawab Bara pelan, dengan sedikit malu sebenarnya.
Keduanya masih berpelukan, bahkan keduanya sudah mulai berc*uman entah siapa yang memulai duluan.
Bara yang juga kangen berat hampir kehilangan kontrol, hingga dia melepaskan gadis itu dengan nafas terengah dan dada berdebar.
"Sudah sholat belum..?," kata Bara dengan suara sedikit bergetar karena menahan gejolaknya.
Yolanda menggeleng pelan sambil tersipu.
"Aku libur..," katanya pelan malu malu, kemudian melepaskan diri dari pelukan Bara dan menggandeng tangan Bara menuju ruang tengah.
Bara berjalan mengikuti gadis itu masih dengan saling bergandengan tangan.
"Sudah makan..?."
"Belum Non..," Bara jujur.
"Aku tadi beli makanan kesukaanmu...," kata Yolanda penuh perhatian.
"Kesukaanku..?."
"Memangnya non Yola tahu makanan kesukaan ku..?, apa coba ..?," Bara penasaran.
Yolanda duduk di kursi kemudian dengan pelan mulai membuka makanan yang tadi di bawanya.
"Haah..??," Bara kaget...ternyata benar itu makanan kesukaan nya.
Yaa ...sate kambing dan nasi kebuli adalah makanan kesukaannya.
"Ayo..duduk sini,..kita makan ..," kata Yolanda tersenyum, karena melihat Bara masih berdiri seakan tak percaya dirinya tahu masakan kesukaan Bara.
"Non Yola makin cantik deh, kalau kayak gini," goda Bara menghilangkan keterkejutan nya.
"Aku kan harus tahu ..makanan kesukaan suami aku," jawab Yolanda menggoda, dengan mengedip ngedipkan mata hingga tampak menggemaskan.
Bara makin gemes ngelihatnya.
__________
__ADS_1
**Masih...baca..kan... readers...?
tinggalkan jejak dong**...?