Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 84 Masuk Nominasi


__ADS_3

"Ayo kita bawa lukisan lukisan ini ke tempat Om Jhon," seru Om Jhon.


Bara bergegas segera bangkit dari duduknya.


Sore itu terlihat Bara sangat sibuk melansir beberapa tumpuk lukisan yang sudah di ikat nya.


"Lha besok yang bantuin siapa Om membawanya ke galeri..?," tanya Bara karena merasa dirinya akan pulang kampung dengan agenda urusannya sendiri.


"Gampang lah urusan itu, kamu pulanglah ke kampung, jangan lupa Om Jhon di bawakan pisang..ya...dari kampung ke.he..he..," sahut Om Jhon sambil tertawa.


"Soalnya pisang yang asli dari kampung biasanya tua dan lebih enak...dari pisang yang di jual di sini..yang seperti di paksa kan matang," sahut Om Jhon kembali.


"Ok, siap Om..," jawab Bara sambil menghormat.


"Tinggal satu kali lansiran Om lukisannya sudah beres."


Om Jhon menganggukkan kepalanya.


Bara bergegas balik kembali ke apartemen nya untuk kembali mengambil setumpuk lagi lukisan.


Drrt... drrt...


Di tengah perjalanan antara apartemen Om Jhon dan apartemen nya, telpon Bara berbunyi.


Di ambilnya ponsel itu dan di dilihat siapa yang menelpon.


"Eeh..Tata ..anak pak Musri...," batin Bara.


"Halo mbak...?," Sapa Bara.


"Sudah dapat kabar dari papa belum mas..?," tanya Janeta yang biasa di panggil Tata itu yang nampak kegirangan.


"Mm..kabar apa ya..mbak...?."


"Lukisan mas Bara masuk nominasi pendatang baru terfavorit..," teriak Tata di ujung sana.


"Apaaa...? beneran ...mbak..?," kembali Bara bertanya tak percaya.


"Iyaa...bener.."


"Cihuii....yeiii...!!," Bara berteriak dan berjingkrak jingkrak kesenangan, membuat orang orang yang melintas di lantai itu sontak menoleh ke arahnya.


"Menang lotre kali tuh orang..," mungkin begitu batin orang orang yang melihatnya.


"Bodo amaat..!!," batin Bara yang masih meloncat loncat sambil berbicara di telepon.


"Kita harus ...rayakan keberhasilan ini.. lho..," goda Tata yang minta di traktir, karena otamatis lukisan yang memenangkan kontes tersebut pastinya akan di hargai mahal meskipun masih kategori pendatang baru.


"Boleh .. siapa takut..," sahut Bara sambil masih tertawa senang.


"Beneran mau traktir...??."


"Yaa..iya..lah.. tapi aku mau nunggu berita resmi dari papa mbak Tata..dulu..,"kata Bara seakan minta kepastian.


"Ok...semoga papa lekas kasih berita," jawab Tata sebelum menutup telponnya.


Bara masih tersenyum senang sambil membawa ikatan lukisan terakhir ke apartemen Om Jhon.


Melihat Bara yang senyum senyum sendiri membuat Om Jhon jadi bertanya tanya.


"Ada apaan...?, girang banget," tanya Om Jhon.

__ADS_1


Bara terkekeh..


"Kelihatan ya Om..," sahut Bara.


"Ya.. iya..lah..., kayak nemu durian runtuh kelihatannya." kata Om Jhon.


"He.he.he.. bener Om, memang aku merasa seperti mendapat durian runtuh."


"Pertama Om Jhon membantu aku memberikan fasilitas tempat pameran yang luar biasa."


"Trus barusan rekanan aku yang lain mengabarkan jika lukisanku di terima dan masuk kategori lukisan yang akan di pamerkan di pameran tingkat nasional bahkan biasanya pengunjung nya malah kebanyakan dari luar negeri," terang Bara berturut turut.


"Waah...moment yang pas dan tepat sekali..,"sahut Om Jhon.


"Sehabis pameran besar itu kita bisa langsung membuka galeri kita."


"Kita jual namamu sebagai pendatang baru terfavorit, pasti makin membuat para pecinta lukisan akan berdatangan," kata Om Jhon sambil mengarahkan Bara di mana menaruh lukisan lukisannya itu.


Bara mengangguk angguk mendengar rencana dari Om Jhon tersebut.


**


Pagi hari Bara seperti biasa sudah bangun pagi pagi sekali, lalu melakukan kewajiban sebagaimana seorang muslim.


Semalaman dia sudah menata tas bepergian nya dengan baju baju, setelah menyelesaikan urusan dengan Om Jhon.


Ya..nanti sore sehabis kerja dia berniat akan langsung pulang ke kampung halamannya.


Bara mengambil ponselnya kemudian mengirim beberapa pesan ke Istrinya.


'Assalamualaikum.. bidadari ku..'


'Sore nanti jadi ikut mas Bara..? pulang ke desa..?.'


Sehabis mengirim pesan tersebut Bara pun melakukan aktivitas nya, memasak makanan instan dan minuman.


Seperti biasa makanan instan baginya adalah telur ceplok atau omelette serta segelas minuman, karena itu yang menurutnya paling cepat.


Disaat Bara sedang menikmati makanannya ponselnya berdering.


Drrt.. drrt...


"Assalamualaikum..," sapa Bara setelah tahu yang menghubunginya Yolanda istrinya.


"Waalaikumssalam..," balas Yolanda di ujung sana.


"Mas nanti aku di jemput di kantor aja ya...mas Bara nunggu di parkiran dulu bila sudah tiba, aku hubungi bila pekerjaan sudah kelar," kata Yolanda.


"Iya..sayang..," sahut Bara.


**


Sementara itu Om Jhon di apartemen nya sedang menghubungi pekerjanya.


"Yaa...halo.."


"Datang ke apartemen ya..,ambil barang barang properti soalnya ini masih perlu di finishing," sahut Om Jhon.


Finishing di sini maksud nya di pasang pigura biar makin terlihat cantik, ibarat makanan biasa yang di plating dengan piring terbaik membuat terkesan makin mewah.


"Ya..tuan... saya akan ke apartemen mengambil barang properti," kata seseorang di ujung yang lain.

__ADS_1


**


Setelah berdandan rapi Bara bergegas segera berangkat ke kantor.


Bekal dan lain lainnya sudah di siapkan sejak dari tadi.


"Yaap..semua sudah beres..mari kita bekerja..," gumam Bara memompa semangat nya.


Meskipun jalanan tak semacet hari biasanya, namun karena menggunakan mobil, tetap saja Bara tak bisa melaju cepat.


"Uuh...sial..lampunya pas..merah terus," gerutu Bara sambil melirik jam tangannya.


Meskipun belum telat tapi bagi Bara pagi itu sudah merasa sepeti terlambat, apalagi kemarin habis ijin tak masuk kerja.


Akhirnya mobil Bara sampai juga di kantor nya.


Tampak kelegaan di wajah Bara begitu melihat halaman parkir masih sepi, itu menandakan dirinya masih termasuk awal.


Bara turun dari mobilnya dan berjalan menuju kantornya.


"Bara..!."


Suara panggilan seseorang menghentikan langkahnya.


"Eeh..mbak Clarissa...," sahut Bara sopan.


"Rajin amat jam segini sudah datang..?," kata Clarissa setelah dekat.


"Iya... mbak..namanya juga pekerja, kalau malas malasan entar di pecat," sahut Bara sambil tersenyum.


Clarissa hanya terpana melihat senyum Bara hingga lupa tujuannya memanggilnya.


"Mbak...mbak.. Clarissa..?," kata Bara sambil menggoyangkan tangan di depan wajah gadis tersebut.


"Eeh..," Clarissa tergagap.


"Ada apa ya...manggil saya..?," tanya Bara sambil terus berjalan menuju ke arah lift.


Ting


Pintu lift terbuka, keduanya memasukinya.


"Kuliah di kampus X juga ya..?," tanya Clarissa yang merasa tak ada obrolan.


"Iya mbak..," sahut Bara.


"Semester Berapa..?."


"Akhir mbak," sahut Bara.


Ting..


Pintu lift sudah terbuka di lantai yang Bara bekerja.


"Aku duluan mbak..," pamit Bara berlalu dari sana.


"Uhh..selalu saja tak pernah ada waktu nyaman mengobrol," batin Clarissa dengan sedikit jengkel.


Padahal hari ini dirinya sengaja datang awal karena ingin bertemu dengan pemuda yang kini mengusik hatinya, sebenarnya dia sudah datang sejak pagi dan menunggu di lobi itu untuk bisa mengobrol dengan pemuda yang mulai mencuri perhatian nya tersebut.


____________

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya..


__ADS_2