Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 135 Kedatangan Besan


__ADS_3

Pagi pagi pak Darmais sudah memerintahkan pak Sarman untuk memanen sebagian ikan gurame.


"Yang besar aja pak, sekira satu ekornya berbobot satu kilo ke atas," perintah pak Darmais kepada pak Sarman yang sudah masuk ke kolam bersama Tomo pemuda kampung yang di pekerjakan di tempat pak Darmais.


"Ya pak ..," sahut pak Sarman yang sudah menebar jaringnya.


"Kira kira ambil berapa kilo pak..?.," tanya pak Sarman kepada pak Darmais yang tampak mengawasi dari pinggiran.


"Sekitar tiga puluh atau tiga lima kilo, terus nanti habis ini ambilkan udang windu yang di kolam sana ya pak..," perintah pak Darmais lagi.


"Baik pak..."


Setelah di rasa cukup ikan gurame yang di ambil, pak Sarman beralih ke kolam Udang Windu, yang udangnya cukup besar besar tak kalah dengan lobster tersebut.


"Pak udangya sudah dapat sekitar tiga puluh kiloan," kata pak Sarman laporan kepada pak Darmais.


"Langsung masukan ke Cool box aja pak, dan sudah cukup saya rasa pak..," sahut pak Darmais yang masih mengawasi Tomo manjat pohon mangga untuk memetik mangga muda.


"Memangnya istri mas Bara sudah hamil ya pak..?," tanya pak Sarman yang menyadari oleh olehnya mangga muda.


"Iya pak.. Alhamdulillah..," kata pak Darmais.


"Alhamdulillah.. semoga lancar semuanya..," sahut pak Sarman.


**


"Ibu sudah pulang..?."


"Sudah pak...ini ibu belikan lumpia yang belum di goreng dan yang sudah di goreng," sahut Bu Romlah sambil menenteng tumpukan kardus lumpia, dan menunjukkan kepada suaminya.


"Baguslah Bu.."


Pak Darmais nampak lega dengan adanya beberapa oleh oleh yang nanti di bawa meski hanya seperti itu.


**


"Pak Bandi sudah berangkat jemput bapak dan ibu di kampung kan pah...?." tanya Yolanda kepada papa nya.


"Sudah.."


"Memang kenapa ..?," tanya mama Nursanti saat semua sedang sarapan pagi itu.


"Yola sejak tadi malam kepingin makan gurame bakar yang ambil dari empang sendiri, terus mangga muda dan juga lumpia mah..," rengek Yolanda kepada mama nya.


"Waduh..kok nggak bilang dari tadi pagi..sebelum pak Bandi berangkat?," kata mama Nursanti sedikit panik soalnya jaman dahulu sewaktu dirinya mengandung Yolanda juga mengidam makanan dari desanya dan saat itu masih ada kedua orang tua nya yang mengantarkan.


"Tadi malam Bara sudah telpon bapak kok mah.., semoga semua yang di inginkan dek Yola bisa kesampaian..," sahut Bara agar kecemasan mama Nursanti bisa berkurang.


"Aah.. syukurlah mas Bara, dahulu mama juga pernah mengidam seperti itu, sampai papamu kebingungan..," kata mama Nursanti sambil melihat kearah papa Hendrawan yang masih menikmati makanan nya.


"Semoga semua yang diinginkan bisa kesampaian..jadi cucu buyut ku enggak ileran..," kata Opa menyela pembicaraan di meja makan tersebut sambil tersenyum menggoda Yolanda.


Yolanda hanya tersenyum senang.


"Memangnya jemputnya pakai mobil apaan..?.," tanya Opa lagi sambil menatap papa Hendrawan.


Mobil xxxxxxx yang muat banyak Pi," sahut papa Hedrawan yang masih asyik memakan makanannya.


Mobil mewah xxxxxxx memang muat banyak juga sangat nyaman untuk di kendarai jarak jauh.


"Ya..sudah kalau mobil itu yang di pakai pasti nyaman perjalanan nya."


"Iya Pi.."


Semua kembali meneruskan makannya sambil bercakap ringan berbagai hal.


**


Jam 10.an pagi pak Bandi sudah sampai di rumah pak Darmais.


Ternyata pak Bandi bersama pak Asep, takutnya kalau kelelahan di jalan biar bisa gantian.


Mobil bongsor mewah yang memasuki desa itu menarik perhatian warga lainnya, hingga akhirnya mobil itu berhenti di halaman rumah pak Darmais.


"Mobil siapa itu...?."


"Enggak tahu..mungkin pejabat atau artis mewah banget..," sahut lainnya.


Semua akhirnya tahu, karena mobil tersebut berhenti di rumah pak Darmais.


Semua yang melintas di depan rumah itu pasti menoleh ke arah rumah pak Darmais.

__ADS_1


Pak Bandi dan pak Asep sudah turun dari mobil yang di kendarai.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam .. mari pak..," kata pak Darmais kepada pak Bandi dan pak Asep.


Pak Bandi yang pernah kesana beberapa kali itu sedikit kaget dengan perubahan rumah yang kini sudah di rehap tersebut, sedangkan pak Asep yang baru pertama hanya tersenyum saja.


Di halaman depan kini ada mini market yang lumayan besar untuk ukuran kampung, sedangkan rumah utama sudah terlihat lebih bagus.


Di sebelah kiri rumah ada jalan dengan portal dan gerbang yang menuju ke arah taman yang sudah terlihat dari luar nampak indah tersebut.


Dan sedikit jauh di atas bukit ada mansion yang terlihat mewah dengan disertai pagar yang memisahkannya dengan taman wisata.


"Mari masuk pak Bandi.., ajak pak Darmais yang sudah mengenalnya.." sambil tersenyum kearah pak Asep yang baru pertama kali ke sana.


"Iya...pak..," sahut pak Bandi sedikit membungkuk sangat sopan.


Sesaat mereka mengobrol di ruang tamu dengan minuman hangat yang sudah tersedia di sana.


Bu Romlah yang tengah menyiapkan makanan di meja menghampiri tamunya.


"Pak..mari silahkan makan dulu, tadi dari sana kan habis subuh..?," kata Bu Romlah menawarkan.


Nampak pak Bandi dan pak Asep ragu-ragu tersenyum kikuk.


"Ayook pak..biar tenaganya pulih kembali makan dulu, habis itu kita bersiap," kata pak Darmais sedikit memaksa.


Akhirnya kedua supir tersebut berjalan ke arah meja makan di mana sudah di sediakan makanan di atasnya.


**


Mobil bongsor itu sudah melaju dengan cepat.


Namun yang di dalamnya nampak nyaman tanpa banyak terguncang.


"Dell..enak banget ya mobilnya.. enggak kayak naik angkot, bisa di stel tiduran lagi kursinya," kata Misye kepada adiknya Della.


"Iya..kak..baru kali ini naik mobil seenak ini mana ada minumannya lagi ," kata Della, yang memang di tiap tiap tempat duduk selalu di sediakan minuman di sana.


Begitupun dengan pak Darmais dan Bu Romlah yang nampak terkantuk-kantuk saking nyamannya mobil tersebut.


"Sekitar jam empat apa lima pak," sahut pak Bandi.


"Kan kita tadi berangkat nya habis dhuhur pak." kata pak Bandi lagi.


Pak Darmais mengangguk angguk.


Misye dan Della yang duduk di kursi baris ketiga nampak masih memperhatikan keindahan di sepanjang jalan.


Keduanya nampak senang sekali karena tak pernah pergi sejauh ini, naik mobil pribadi lagi.


"Kak..bagi permen nya dong," sahut Della kepada kakaknya yang masih enak enak mengupas permen jahe yang di bawa dari rumah.


"Ni...satu aja ," goda Misye kepada adiknya tersebut.


"Ish..pelit.."


"Hehe..


Mereka masih bergurau di kursi belakang hingga akhirnya kelelahan dan tertidur.


**


"Mereka kok belum sampai ya mas..?."


"Masih di perjalanan kali."


"Tadi pas mau berangkat bapak telpon mas Bara enggak..? maksud aku berangkat jam berapa dari sana..?."


"Mas Bara telpon nya pagi tadi sekitar jam sebelas, kata bapak sih mau berangkat habis sholat dhuhur."


"Ooh.."


Bara dan Yolanda yang memang menunggu orang tuanya dari desa nampak duduk duduk di beranda rumah mewah tersebut.


Tak lama mobil yang di supiri pak Bandi bergantian dengan pak Asep sudah tiba di halaman rumah utama.


**


"Pak kita sudah sampai di kediaman tuan Hendrawan..," kata pak Bandi menerangkan.

__ADS_1


Misye dan Della yang duduk di belakang hingga ternganga melihat kewenangan dan kemegahan rumah tersebut.


Begitupun dengan pak Darmais dan Bu Romlah yang langsung mencelos perasaannya.


"I..iiya..pak.." sahut pak Darmais tergagap menjawab pak Bandi.


"Sstt...kak rumah kak Yola kayak istana...ya....," bisik Della pelan.


"Iya...ya...padahal dulu waktu di rumah kita kak Yola seperti biasa saja.. enggak jaim, ternyata rumahnya semewah ini.."


Kata keduanya yang kini juga nampak minder melihat kemewahan rumah itu.


Mobil sudah berhenti dan menepi di lobi rumah mewah itu.


"Pak sudah sampai..," kata pak Bandi lagi.


Pak Darmais dan Bu Romlah nampak ragu saat turun dari mobil tersebut, untung nya Bara sudah menyambut di sana bersama dengan Yolanda.


"Pak..Bu.. assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam."


Keduanya Salim kepada pak Darmais dan Bu Romlah.


"Kakaaakk...!!."


Sementara adik adik Bara langsung memeluk kak Yola yang juga nampak sangat gembira ketemu dengan adik adik suaminya.


"Bagaimana perjalananya..?."


"Jauh banget kak.."


Yolanda tersenyum..


"Ayuk masuk dulu...Pak... Bu..," ajak Yola mengandeng Bu Romlah yang masih kikuk.


"Eeh..iya nak.."


Pak Darmais yang akan membawa tas bawaanya malah bengong karena semua bawaan sudah di bawa para pekerja yang entah kapan datangnya.


Begitu mereka memasuki ruang tamu tampak papa Hedrawan dan mama Nursanti keluar dari ruang tengah karena di beritahu seorang pekerja jika keluarga besan mereka sudah datang.


"Selamat datang pak Darmais..," sapa Papa Hendrawan sambil tersenyum ramah.


"Iya pak terima kasih, kami jadi malah....merepotkan," kata pak Darmais yang nampak kikuk dan sungkan.


"Merepotkan apanya..kita kan keluarga..pak.."


"Oh..iya..ini mamanya Yola," kata papa Hendrawan mengenalkan istrinya.


Pak Darmais dan Bu Romlah menyalami mama Nursanti.


"Saya Nursanti mama Yola.."


"Iya..Bu..eeh..Ma..," sahut Bu Romlah bingung.


"Panggil saja mama Santi..., Bu Romlah," kata mama Nursanti ramah kepada Bu Romlah.


Pak Darmais dan Bu Romlah nampak sangat bersyukur, kedua mertuanya sangat ramah meskipun kaya raya.


"Ini.. siapa..ya..?," kata mama Nursanti kepada Misye dan Della yang masih memeluk Yolanda kakak iparnya.


"S.ssaya Misye..nyonya.."


"Lho..kok nyonya..manggilnya...? mama Santi ya..," kata mama Nursanti sambil menerima salim dari kedua adik Bara.


"I.iiya..mmama Santi," sahut kedua adik Bara.


Mereka sesaat bercekerama di sana.


"Loh..kok malah pada di situ..?, langsung ke dalam saja.. kalian bukan tamu..," sahut Opa Santosa yang tiba tiba datang ke ruang tamu sambil tersenyum.


Membuat semua kaget sesaat.


"Ini Opa Santosa pak..," kata Bara kepada kedua orang tua nya, memperkenalkan sang Opa.


Lalu pak Darmais, Bu Romlah serta dua adik Bara bersalaman dengan Opa Santosa.


_____________


Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...

__ADS_1


__ADS_2