
Bara sudah sampai di galeri, pikiran nya masih sangat kacau dan tak menghiraukan apapun.
Makanya Om Jhon tak tega jika Bara naik motornya tadi...bisa bisa berbahaya di jalanan.
Hingga kini motor Bara masih di tinggal kan di apartemen.
"Nah..Bara sekarang tinggallah di sini..tenangkan pikiran dan ambil hikmah yang baik dari semua peristiwa ini," kata Om Jhon menenangkan Bara.
Bara hanya mengangguk, sebagai manusia biasa...pasti ada rasa sakit, dendam bahkan... marah.
Ingin rasanya memberontak terhadap dirinya sendiri yang terlalu santun dan penuh etika saat tadi berhadapan dengan tuan dan nyonya Hendrawan.
Ingin rasanya bertingkah seenaknya yang liar dan tak mengikuti aturan.. tapi Kembali hati kecilnya mengingatkan....jangan.
"Kamu muslim kan..?," tanya Om Jhon.
Kembali Bara mengangguk.
"Sholat lah..pasti di agama mu mengajarkan bagaimana melampiaskan kemarahan menuju hal yang positif kan..," kata Om Jhon lagi.
Bara bagai di lecut cambuk segera berdiri dan berjalan mencari kamar mandi untuk memgambil air wudhu karena saat ini sudah hampir jam sembilan malam.
Selesai mendapatkan air wudhu di kamar mandi yang di pakai bersama sama, Bara kembali ke tempat yang akan menjadi kamarnya dan melakukan sholat di sana meskipun sedikit berdebu.
Pikirannya kini sedikit tenang setelah melakukan sholat.
"Maaf Om Jhon...pisangnya saya tinggalkan di mobil...," kata Bara sambil tersenyum kecut.
Om Jhon sedikit tertawa mendengar ucapan anak muda di depannya, meskipun baru ada masalah...masih juga memikirkan kebutuhan orang lain.
"Biarkan saja..nanti kita beli di sini," kata Om Jhon akhirnya.
"Oh..ya..maaf tempatnya..mungkin tak layak..nanti akan Om kirim kasur yang Baru," kata Om Jhon.
"Santai aja Om.., laki laki mah biasa tinggal seperti ini," sahut Bara.
Om Jhon lalu memanggil pak Karmin yang sementara ini tinggal di sana bersama beberapa tukang kayu dan tukang bangunan yang lain.
"Ada apa tuan Jhonson...?," kata pak Karmin yang datang tergopoh-gopoh.
"Tolong perintahkan orang untuk mengepel dan membersihkan tempat ini," kata Om Jhon sambil menunjuk ruangan yang akan di tempati Bara.
"Baik tuan...," sahut pak Karmin lalu meninggalkan tempat tersebut.
Tak berapa lama datang dua orang dengan berbagai peralatan dan mulai membersihkan tempat yang akan menjadi tempat tinggal bagi Bara tersebut.
Di bangunan galeri ini, memang terdapat beberapa ruang yang masih kosong dan bisa di gunakan untuk tempat tinggal seperti yang saat ini sedang di bersihkan.
Dan ruangan yang rencana nya mau di tempati Bara adalah yang terbesar di banding yang di tempati oleh para tukang kayu dan tukang bangunan, hanya saja untuk ke kamar mandi umum sedikit lebih jauh melewati tempat para tukang kayu dan tukang bangunan.
Tapi semua itu bukan masalah bagi Bara.
"Sudah beres tuan ..," kata pak Karmin kepada Om Jhon.
"Oh..ya..min..kenalkan ini..pelukis kita namanya...," Om Jhon sengaja menggantung agar Bara mengenalkan sendiri namanya.
"Arjuna Satya Sambara..," kata Bara.
"Saya Karmin mas Arjun..," kata pak Karmin sambil menjabat tangan Bara.
"Silahkan mas Arjun menata barang barang nya....di dalam sudah bersih kok," kata pak Karmin.
"Terimakasih pak..," sahut Bara.
Bara pun memasuki kamar tersebut dan mulai menata barang barang bawaan nya.
Di ruang tersebut sudah ada satu lemari dan kasur serta meja dan kursi.
Ruangan yang cukup lebar jika di anggap kamar tersebut, terasa sangat longgar hanya dengan beberapa perkakas yang ada.
__ADS_1
"Tempat ini dulu di pakai keluarga pengelola tempat ini," terang Om Jhon yang ikut masuk di ruangan tersebut.
"Memangnya dulu ini tempat usaha apa Om..?," tanya Bara.
"Sebelum Om beli beberapa tahun yang lalu ini adalah mall atau super market kecil, tapi mengalami kebangkrutan dan akhirnya Om beli saat itu istri Om masih ada..., rencananya mau mendirikan restoran, tapi Tuhan berkata lain," sahut Om Jhon sedikit sedih.
"maaf...aku jadi mengingatkan Om Jhon dengan istri Om," kata Bara.
"He.he.. tak apa.. Om Jhon memang tak akan melupakan istri Om..meski sekarang sudah berpulang," kata Om Jhon mencoba tegar sambil mengawasi Bara yang sedang menata barang barang nya.
"Sudah beres..," gumam Bara yang dari tadi menata barang barang bawaan nya.
"Menurut mu apa yang kurang dari tempat ini..?," tanya Om Jhon.
"Maksud Om Jhon..?."
"Besok mau Om kirim perabot," kata Om Jhon.
"Eeh..nggak usah Om.., aku hanya tinggal sendiri di sini tak perlu apa apa.," sahut Bara.
"Ish..kamu ini," kata Om Jhon.
Mulai malam itu Bara tinggal di gedung galeri bagian belakang dari bangunan itu.
Saat Om Jhon sudah pulang ke apartemen, pikiran Bara kembali teringat akan istrinya Yolanda yang tadi menangis di pelukan nya tak mau di tinggalkan nya.
Tak terasa air bening mengalir di matanya... bagaimana pun, mereka sudah bersama dalam beberapa bulan ini...dan sudah saling terikat.
**
Sesampai nya di rumah tuan Hendrawan masih saja murka.
"Mulai besok kamu tidak perlu kerja lagi, karena kamu pasti akan menemui anak kampung itu," bentak tuan Hendrawan.
"Mana ponselmu..papa akan menyitanya," kemudian tuan Hendrawan mengambil ponsel dari Yolanda.
"Dan kamu tidak boleh keluar dari rumah ini, jika tidak bersama papa atau mama," kata Nyonya Nursanti yang juga ikut memarahi anakknya tersebut.
Semua kebahagiaan yang baru saja di alaminya seakan bagai mimpi baginya.
Hampir tiga hari ini bersama suaminya bagai kan sebuah kenangan yang mungkin tak akan pernah terulang kembali.
Dengan diantar salah satu pekerja wanita di rumah itu dan juga pak Man Yolanda naik ke kamarnya.
Pekerja wanita itulah yang akan mengawasi dan menjaga Yolanda dari hal hal yang tak diinginkan.
Bahkan pekerja wanita itu juga akan tidur di kamar Yolanda.
Seorang pekerja wanita lainya masuk ke kamar Yolanda sambil membawakan makanan, karena semua tahu bahwa Yolanda baru pulang dari perjalanan yang jauh pasti makan terakhir siang tadi.
"Silahkan makan dulu nona..," kata wanita pekerja yang menjaga Yolanda.
Namun Yolanda tak bergeming dari tempatnya tidur, bahkan menjawab pun tidak.
Yang di pikirannya hanya ada sosok mas Bara.. mas Bara ..dan ...mas Bara.
Bagaimana sekarang keadaan mas Bara suaminya, dan ada di mana kini...?
Perasaan nya ikut sakit saat suaminya tadi di tampar oleh Papa nya, hatinya ikut perih saat suaminya tadi di kata katai oleh Mama nya.
"Tapi akubisa apa..? mereka berdua orang tua ku," begitu batin Yolanda.
Hingga akhirnya malamlah yang menaklukan Yolanda terlelap dalam tidurnya, meski tidurnya juga gelisah tak nyenyak balik sana balik sini.
**
Pagi sudah datang, dengan cahaya matahari yang mulai menyinari semesta, membawa hari baru dan mungkin harapan baru.
Yolanda masih berada di kamar nya, sejak semalam perutnya tak terisi apapun.
__ADS_1
Nyonya Hendrawan yang melihat pelayan membawa turun makanan yang semalam di bawa naik masih utuh tak tersentuh mulai khawatir.
makanan pagi pun juga kembali di bawa turun dengan utuh tak tersentuh, membuat sang nyonya makin khawatir.
"Huh..anak itu mau memberontak rupanya," gumam dari nyonya Hendrawan yang egonya masih juga tinggi.
Hari sudah siang, sejak kemarin perut Yolanda tak terisi apapun, dia hanya berbaring di kasurnya tak menghiraukan apapun.
Bahkan saat pagi tadi Nyonya Hendrawan masuk ke kamar tersebut Yolanda tak menghiraukannya.
"Non Yola...makan ya..," pelan mbok Mar berkata sambil mengusap dan memijat lembut kakinya.
Mbok Mar yang merawat Yolanda sejak kecil dan sangat tahu persis bagaimana sifat Yolanda itu mencoba menghibur Yolanda.
Dia merasa sangat kasihan dengan nasib nona muda Santosa itu.
Beberapa bulan yang lalu dia juga yang membujuk agar nona muda tersebut mau menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya yang katanya hanya sandiwara, namun setelah nona muda itu bisa menerima malah di pisahkan dengan cara yang seperti ini.
Yolanda hanya menangis setelah tahu mbok Mar yang datang ke kamarnya.
Mbok Mar adalah pengasuh nya sejak masih bayi, yang sudah seperti orang tuanya sendiri.
Sangat tahu sekali dengan semua yang diinginkan nya.
"Makan ya..Non, mbok Mar suapi..ya.."
Yolanda menggeleng.
"Jangan seperti ini non... nanti tuan muda yang di sana malah khawatir kalau non Yola..begini..," bujuk mbok Mar.
Seketika Yolanda sedikit bersemangat mendengar perkataan mbok Mar, kemudian bangun dari tidurannya.
"Makan ya.. Non.."
"Aku mau mandi dulu mbok..," kata Yolanda pelan.
Setelah mandi dan sedikit merasa segar, Yolanda makan sedikit makanan yang di bawakan mbok Mar.
Itu sudah membuat mbok Mar senang.
"Nah..gitu Non..kalau non Yola sakit..nanti tidak bisa ketemu tuan muda..," kembali mbok Mar menyemangati nona muda nya sebisa yang dia mampu.
Mendengar perkataan sederhana mbok Mar membuat Yolanda sedikit bersemangat.
**
Sementara itu di galeri tempat Bara tinggal, nampak Bara yang di terpa kesepian melampiaskan dengan membuat lukisan.
Sejak semalam Bara membuat lukisan yang mungkin berasal dari gejolak jiwanya.
Lukisan sebuah perapian dengan nyala Api yang berkobar beserta sisa kayu dan bara apinya.
Lukisan yang sudah terlihat indah meskipun belum jadi seutuhnya, dan seakan memiliki daya magis bagi yang melihatnya.
Sedikit siang Om Jhon sudah datang kembali ke galeri sambil membawa beberapa perkakas, bahkan ada seperangkat alat masak dan kulkas kecil.
"Bagaimana...semalam di sini..?," tanya Om Jhon.
Bara hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Om Jhon.
Setelah memanggil pak Karmin untuk membantu menurunkan barang barang bawaan om Jhon dan menatanya di kediaman Bara, Keduanya sudah duduk sambil menikmati makanan yang di bawa om Jhon.
"Makanlah..jangan biarkan badanmu lemah...kita harus berkarya untuk menunjukkan pada dunia sebagus apa potensi mu...," kata kata Om Jhon yang membuat Bara terlecut semangatnya kembali.
__________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku....
__ADS_1
*Jagoan ku ternyata CEO
*Sang Pengacau**