Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 104 Bertemu Leon Lagi


__ADS_3

Om Jhon masih berbincang dengan Yolanda di kursi yang ada di depan bekas kamar nya, kemudian Bara duduk di samping istrinya.


"Masih ngobrolin apa sih Om..seru amat..?," tanya Bara.


"Masih bertukar pikiran dengan nak Yola tentang pengelolaan keuangan di galeri ini."


"Oh.., lha.. memangnya ada masalah..dengan keuangan..di galeri ini..?."


"Justru itu...karena sekarang perkembangan galeri ini sudah makin luar biasa....Om perlu adanya pengelolaan keuangan yang lebih rapi, makanya om Jhon konsultasikan hal itu...kepada ahlinya..," sahut Om Jhon sambil menatap Bara dengan tersenyum.


Bara hanya mengangguk anggukan kepala nya.


"Eh..ngomong omong siapa anak yang bersamamu itu..?," tanya Om Jhon sambil menunjuk Tarjo yang masih di dalam bekas kamar Bara dan Yolanda dengan dagunya.


"Oh....Dia..itu teman dari kampung Om..namanya Tarjo..."


"Tadi ketemu pas waktu di jalan..... anaknya jujur...., rajin....terus giat bekerja......cuma ini pas gak punya kerjaan..."


"Makanya.... aku...ajak kemari..kasihan Om..," sahut Bara.


Om Jhon mengangguk mendengar penjelasan dari Bara.


"Apa boleh jika temanku itu kerja disini Om..?, biar ikut bersih bersih tempat ini."


"Memang anaknya mau..?."


"Kayaknya mau lah Om..tadi aja masih nyari nyari kerja...," sahut Yolanda menegaskan.


"Boleh saja kalau memang mau...kebetulan kemarin ada anak buah Karmin yang pulang kampung....untuk mengolah sawahnya..di sana....," jawab Om Jhon.


Tarjo membawa beberapa minuman yang sudah di buatnya dengan nampan yang ada di dapur bekas kamar Bara, kemudian menaruhnya di meja di samping pisang penyet kesukaan Om Jhon.


"Min...karmiin...," teriak Om Jhon.


"Ya...tuan Jhonson..," sahut pak Karmin sambil mendekat.


"Sini sebentar.."


"Ya tuan .."


Setelah pak Karmin mendekat Om Jhon bertanya kepada Tarjo.


"Namamu siapa ..?."


"Saya Tarjo tuan.."


"Bener kamu mau kerja di sini..?, di tempat usaha aku dan Bara...ini.?," tanya Om Jhon menegaskan.


"Kalau ada lowongan saya mau tuan," sahut Tarjo dengan sopan.


"Kalau begitu kamu ikuti Karmin... apa saja nanti tugasmu...nanti Karmin yang akan membaginya..," kata Om Jhon sambil menikmati pisang penyet.


Tarjo mengangguk..bergegas mengikuti pak Karmin.


"Pisangnya ini terlalu manis.... karena kebanyakan gula, tak seperti yang kamu bawa manis alami," kata Om Jhon sambil mengunyah pisangnya.


"Hehehe...ngomong omong pisang.. dulu itu hasil panennya si Tarjo tadi om, makanya mateng alami..," sahut Bara tersenyum.


"Beneran..??."


"Iya..Om.."


"Kapan kapan biar di bawakan lagi oleh si Tarjo.."


Om Jhon hanya mengangguk saja sambil tersenyum senang.


**


"Papa..apa sudah mendapatkan kabar berita tentang Yola..?," tanya Nursanti.


Tuan Hendrawan hanya menggeleng.


"Apa mungkin di ajak ke desa anak kampung itu..?."


Tuan Hendrawan hanya diam saja, padahal tuan Hendrawan pernah ke tempat kampung Bara tanpa sepengetahuan istrinya dan tak menemukan mereka di sana.


"Dasar anak kampung ..berani beraninya membawa anak orang..!," terdengar nyonya Nursanti masih menggerutu kesal.


Tuan Hendrawan masih terdiam mendengar istrinya marah marah.

__ADS_1


"Nanti Papa akan berusaha mencarinya lagi Ma.."


"Karena Papa..kira mereka ... mungkin masih ada di kota ini," sahut tuan Hendrawan penuh keyakinan.


Mereka terdiam sejenak dengan pemikiran masing masing.


"Pa.."


"Hemm.."


"Papa..!," teriak nyonya Nursanti sedikit keras.


"Ada apa sih Ma..?," tuan Hendrawan menoleh ke arah istrinya tersebut.


"Papa ini di ajak ngomong dari tadi malah diam saja..," sahut nyonya Nursanti.


"Ngomong apa lagi sih Ma..?."


"Si Leon..Pa...sekarang sudah jadi anak baik, kemarin aja waktu mama telpon masih di panti kasih sumbangan," kata Nursanti dengan bangga.


Tuan Hendrawan tak lagi merespon.


"Memang anak yang di didik baik... mudah menyadari kesalahannya, bahkan kini malah sering berbagi dengan sesama..," kata Nursanti pelan.


"Ciih..berbagi lendir...!!.," batin tuan Hendrawan melengos.


**


Bara sudah meninggalkan galeri setelah memasrahkan Tarjo agar bekerja di sana, kepada Om Jhon.


Flash back on


"Jo..kamu sudah kerja di sini, sabaiknya kamu pindah ke sini saja tak usah lagi kontrak bareng teman teman proyekmu..," kata Bara kepada Tarjo.


"Masih ada banyak kamar kosong di sana..tuh.," tunjuk Bara ke arah kamar kamar yang di tempati pak Karmin dan pekerja lainnya.


Tarjo mengangguk.


"Sekalian kau ajak Tatik kesini aja, memangnya kamu senang hidup pisah pisahan terus," sahut Bara yang juga di angguki om Jhon.


"Memang boleh..tuan mengajak istri saya kesini..?," tanya Tarjo ragu sambil memandang Om Jhon.


Murtopo adalah salah satu petugas keamanan yang tinggal di sana bersama istri dan satu anaknya.


"Baik tuan saya sangat senang sekali jika tuan Jhonson ijin kan saya mengajak istri ke sini..," sahut Tarjo kesenangan.


"Aku juga senang jika tempat ini jadi semarak seperti sekarang..," sahut Om Jhon yang jadi teringat akan mendiang istrinya (Om Jhon non muslim).


"Baik tuan.."


Flash back Off.


Bara dan Yolanda masih bersama di sebuah Mall untuk mencari perlengkapan melukis yang akan di bawa ke mansion utama.


"Mas..aku mau eskrim...," rengek Yolanda sambil memeluk manja lengan suaminya dan menghentikan langkah nya.


"Lho..nanti kalau pilek gimana..? bisa bahaya kalau pilek dan minum obat sembarangan," sahut Bara yang kini sangat overprotektif terhadap istrinya.


"Sedikit aja mas..memangnya mas Bara mau anaknya nanti ileran kalau enggak boleh makan eskrim..," sungut Yolanda mengancam.


Bara terdiam sesaat.


"Ya.. boleh tapi jangan banyak banyak ya sayang..entar pilek," sahut Bara.


Yolanda mengangguk senang karena keinginannya akan terpenuhi.


Keduanya berjalan di tempat outlet eskrim dengan bermacam rasa tersebut.


**


Es krim yang memang enak itu cukup menarik para penggemar nya untuk mengantri, termasuk Bara dan Yolanda.


Rasa apa Nona ..?," tanya penjual es krim tersebut kepada Yolanda.


"Rasa ini...dan ini...juga ini..., pakai cup.. dua ya...," pesan Yolanda.


"Kok banyak sekali sayang..?."


"Nanti kan mas Bara yang ngabisin..," kata Yolanda dengan manja di samping sang suami.

__ADS_1


"iish..kok malah mas Bara yang ngabisin.."


Penjual sudah mengulurkan dua cup besar es krim.


"Ini pesanannya Nona.."


Setelah membayarnya... keduanya berjalan di kursi kursi yang tersedia di sana.


"Duduk di sana saja mas..," tunjuk Yolanda di sebuah kursi yang nampak nyaman.


Bara menggandeng lengan istrinya yang masih memegang dua cup besar es krim.


"Eeh....Yola cantik..."


Sebuah sapaan yang membuat Yolanda langsung eneg karena tahu pasti itu suara siapa.


Bara menghentikan langkahnya, namun langsung di teriaki istrinya.


"Ayuk mas..," sedikit keras Yolanda mengajak suaminya.


"Eeh...mau kemana buru buru..kalian masih di cari cari loh..setelah kabur," kata Leon dengan sinis.


"Apa perduli kak Leon..itu urusanku..," sahut Yolanda sewot.


"Urusanmu juga urusan ku," kata Leon mencoba meraih tangan Yolanda.


Plaak..!!


Tangan Leon di tepis Bara.


"Jangan berani berani menyentuh istri ku bila tak ingin tanganmu patah..!," bentak Bara dengan garang.


"Weiiss..galaknya sudah kayak anjing penjaga aja, memang berani kamu mematahkan tanganku..?," tantang Leon sambil maju .


Bara juga maju ke depan, membuat Yolanda ketakutan melihat keduanya nampak mau baku hantam.


"Ngapain tidak berani...menghajar orang yang sudah kurang ajar dengan istriku itu sudah kewajiban ku..," sahut Bara lagi.


Leon sedikit terkejut, karena kini Bara sudah tak seperti dulu yang nampak takut takut.


"Cuma suami bohongan aja belagu..," ejek Leon.


"Apa katamu..? bohongan ..? ini di perut istri ku sudah ada bayiku..masih kau anggap bohongan..?," kata Bara mendekap istrinya dan mencium ujung kepalanya.


Mendengar hal tersebut Leon langsung terlihat marah, mencoba meraih Yolanda yang berada di dekapan Bara.


"Dia tunanganku...! ," teriak Leon mencoba meraih tangan Yolanda.


"Tunanganmu..??," sahut Bara.


"Lelaki bajingan tak akan mungkin mendapatkan bidadari..tapi yang tepat jalang macam...Sisil ,"kembali Bara berteriak.


Leon terkejut mendengar perkataan Bara barusan, sambil meneruskan niat nya meraih lengan Yolanda.


Plaak...!!


Bara menepis kembali tangan Leon yang mencoba menjamah tangan istrinya.


Boouggh...! sebuah pukulan mendarat di perut Leon.


"Itu untuk kekurang ajaranmu berani mengganggu istriku..," bentak Bara.


Pukulan ke arah perut mendarat telak membuat Leon meringis kesakitan.


"Bajingaan..kau..!!," teriak Leon.


"Harusnya aku yang ucapin kata itu..," kata Bara sedikit meledek.


"Sudah..mas... ayo kita pergi aja..," tarik Yolanda pada lengan Bara.


"Awaas kau.!!.," ancam Leon kepada Bara.


Keduanya meninggalkan tempat tersebut, sementara Leon masih sedikit merunduk kesakitan sambil mengusap perutnya, karena pukulan keras Bara yang tak mampu di tangkisnya tadi.


Beberapa pasang mata nampak melihat kejadian tersebut dan mengabadikannya lewat sebuah telepon seluler.


___________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...

__ADS_1


Happy reading**...


__ADS_2