
Beberapa bulan kemudian.
"Pak..tu pak Sugeng sudah di depan," sahut Bu Romlah kepada pak Darmais suaminya.
Pak Sugeng adalah sopir yang akan di ajak ke kota oleh pak Darmais karena dalam minggu minggu ini menantunya sudah akan melahirkan.
"Masuk dulu pak Sugeng..," sapa pak Darmais kepada pak Sugeng yang masih duduk di luar gerbang rumah pak Darmais.
"Iya..pak, saya pangling dengan rumah pak Darmais..," sahut pak Sugeng tersenyum ramah.
Pak Sugeng adalah sopir langganan orang kelurahan, dan dulu mobilnya pernah di sewa pak Darmais saat mengantar Bara kuliah ke kota pertama kali...beberapa tahun yang lalu.
"Sekarang sudah kayak istana," kata pak Sugeng lagi, dengan rasa kagum yang tak bisa di tutup tutupi nya sambil tolah toleh melihat sekeliling.
"Aah...pak Sugeng bisa aja."
Pak Darmais berkata sambil mempersilahkan pak Sugeng untuk masuk ke beranda depan.
"Duduk dulu pak.."
Pak Sugeng duduk di beranda depan sambil menunggu sang tuan rumah bersiap.
"Maaf pak, mobilnya di mana ya pak..biar saya panasi dulu mesinnya," kata Pak Sugeng yang biasa menyupiri mobil sejuta umat.
"Oh iya pak di garasi samping, mari pak...," ajak pak Darmais kepada pak Sugeng yang langsung membawa tas gantinya.
"Itu..pak..mobilnya dan ini kuncinya," kata pak Darmais, menyerahkan kunci mobilnya.
"Waah..mobil baru juga ya pak..?."
Tanya pak Sugeng sambil mengelus mobil tersebut.
"Enggak kok pak..," jawab pak Darmais sambil tersenyum.
Mobil yang baru berusia beberapa bulan tersebut memang masih berkilau membuat kagum yang memandang.
"Nanti kita mampir bandara dulu pak, soalnya anak saya mau naik pesawat..," kata pak Darmais kepada pak Sugeng.
"Loh berarti kita sampai di kota sana, cuma bertiga pak..?," tanya pak Sugeng.
"Enggak pak, sama pak Kohar dan Bu Kohar yang rumahnya dekat masjid itu," terang pak Darmais kepada pak Sugeng.
Pak Darmais memang mengajak pak Kohar dan Bu Kohar ke kota karena mereka juga ingin menengok Tarjo dan Tatik.
**
"Emm...duh..," nampak Yolanda meringis mengelus perutnya yang terasa di tendang baby twins.
"Kenapa sayang..?, sudah mulai kenceng..?," sahut Bara dengan cemas pagi itu.
Yolanda menggeleng,"Baby twins nendang mas..," sahut Yolanda sambil masih mengelus perutnya.
__ADS_1
Bara langsung mengelus perut Istrinya.
"Sayang..jangan nakal ya.. bunda kesakitan nih..," kata Bara di depan perut istrinya sambil mengusapnya lembut.
Seakan tau baby twins menjadi anteng dengan usapan tersebut.
"Hari ini bapak sama ibu jadi kesini kan mas..?."
"He'em, semalam sih bilangnya pagi jam sembilan dari sana, mampir ke bandara karena Misye sama Della mau naik pesawat."
Kata Bara masih mengelus perut istrinya yang kini sudah anteng baby twins nya.
"Paling sampai sini sore, sekalian mau ngajak pak Kohar dan Bu Kohar," sahut Bara lagi.
Yolanda mengangguk, merasa nyaman dengan belaian suaminya membuat baby twins anteng.
**
Di galeri yang makin kian ramai tersebut Tarjo masih berbenah, beberapa tempat yang di rasa perlu di benahi dan di rapikan maka akan dia benahi nya.
"Jo..!."
"Iya..tuan..," sahut Tarjo sambil menghentikan kegiatannya.
"Kok malah megang itu, katanya bapak ibumu mau kemari, beresin aja kamar yang di sana itu, biar nyaman nanti orang tua mu," seru Om Jhon kepada Tarjo.
"Iya..tuan," sahut Tarjo sambil bergegas ke arah yang di tuju.
"Mas Tarjo mau kemana..?," tanya Tatik kepada suaminya saat berpapasan.
"Mau beresin kamar yang di sana, buat bapak ibu nanti menginap," sahut Tarjo kepada istrinya.
"Aku bantu ya mas.."
"Memangnya sudah selesai pekerjaan mu..?," tanya Tarjo kepada istrinya tersebut.
"Sudah kok mas."
"Ya udah kalau begitu..Ayuk biar cepetan selesai," ajak Tarjo kepada istrinya tersebut.
**
"Assalamualaikum..," pak Kohar yang mau ikut ke kota mengucap salam kepada pak Darmais yang masih berbincang dengan pak Sugeng.
"Waalaikumssalam..mari pak Kohar Bu Kohar ..masuk dulu," balas pak Darmais dengan ramah sambil tersenyum.
Pak Kohar duduk di beranda, sementara Bu Kohar langsung masuk mencari Bu Romlah.
"Sudah datang rupanya bu Kohar..?." sapa Bu Romlah.
"Iya Bu..," kata bu Kohar duduk di sebelah bu Romlah sambil membantu mengikat beberapa kardus yang akan di bawa.
__ADS_1
Mobil yang di kemudikan oleh pak Sugeng sudah sampai di Bandara untuk mengantar Misye dan Della yang akan naik pesawat terbang.
"Hati hati ya..jangan lupa berdoa kalau pesawat mau naik," kata pak Darmais kepada Misye dan Della yang kini sudah berani bepergian dengan naik pesawat berdua.
"Iya pak ," kata keduanya sambil menyalimi tangan bapak dan ibunya.
"Jangan lupa kirim pesan kepada kakakmu jika pesawat sudah mau terbang, biar nanti yang jemput punya persiapan ," pesan pak Darmais lagi kepada kedua putrinya.
"Iya pak..," sahut Misye dan Della bersamaan, lalu keduanya masuk ke dalam ruang tunggu dan pak Darmais kembali ke mobilnya untuk melanjutkan perjalanan lewat jalur darat.
**
"Sayang ini barusan Misye sama Della sudah take off pesawat nya."
Kata Bara mengeringkan rambut nya sehabis mandi karena olah raga, sambil menatap layar ponselnya.
Setiap sabtu seperti ini pasti Bara menyempatkan olahraga di ruang gym keluarga.
Semenjak pindah dari Mansion Opa Santosa ke rumah utama, memang di rumah utama Bara membuat arena olahraga yang letaknya dekat taman belakang.
Opa pun kini bertempat tinggal di rumah utama karena mengikuti kedua cucunya.
"Semoga mereka lancar ya mas," sahut Yolanda menoleh ke arah suaminya
"Perintahkan saja pak Asep apa pak Bandi bersiap menjemput di Bandara nanti," kata Yolanda yang masih mempelajari aneka kerajinan dari dunia Maya tersebut.
Bara mengangguk sambil menatap istrinya yang kembali serius melihat sesuatu di layar tabletnya.
"Lagi lihat apa sih sayang..hmm," tanya Bara sambil mendekat duduk memeluk istrinya.
"Ini..," Yolanda menunjukkan tutorial membuat baju bayi rajutan kepada suaminya.
Bara tersenyum melihat istrinya yang kini makin menunjukkan ketertarikan kepada hal hal seperti itu, jika mengingat dulu istrinya yang tak bisa melakukan apapun termasuk menghidupkan kompor.
"Kok mas Bara senyum senyum..?," kata Yolanda manja merebahkan kepalanya ke dada suaminya.
"Sekarang istri mas Bara hebat banget, jika mengingat dahulu hidupin kompor aja enggak bisa," goda Bara sambil mengeratkan pelukannya mencium pipi istrinya yang makin bulat karena kehamilannya.
"Ya..kan pingin jadi istri Sholehah," kata Yolanda sambil menatap manja suaminya.
"Aamiin," sahut Bara mengamini perkataan istrinya.
Keduanya makin mengeratkan pelukannya.
"Loh udah hubungi supir belum mas..?, entar malah kelupaan.."
"Oh iya.. memang beneran hampir lupa, habisnya tergoda memeluk istri mas," sahut Bara sambil melepas pelukannya dan beranjak mengambil ponselnya lalu menghubungi pak Bandi.
______________
Selamat ****membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya****....
__ADS_1