Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 55 Rezeki...lagi


__ADS_3

Bara belum menyadari perubahan sikap teman temannya.


Bahkan ketiga gadis temannya yang biasa genit kini sedikit sopan.


"Pagi ..pak Bara...," sapa Jesika dan kedua temannya.


Yaa...meskipun masih ada juga yang sedikit genit siih.. seperti Nikita.


"Eeh...pak..Bara..pagi pagi udah keramas...," kata Nikita yang biasa vulgar.


"Ish...keramas apaan..sih...sok tahu."


"Nagapain...sih..pada beda..? pakai panggilan.. pak..pak.. segala...," tanya Bara akhirnya menyadari keanehan itu.


Bara kembali berkutat dengan pekerjaannya sebelum manager pemasaran datang ke kantor.


"Selamat pagi.. semuanya..," Tiba tiba Bu Ratna sudah datang di ruang tersebut yang biasanya sedikit agak siangan.


"Selamat pagi Bu...," balas semuanya termasuk Bara.


Bu Ratna ternyum kepada semuanya, dan juga kepada Bara.


"Pak Bara ada sesuatu yang ingin saya bicarakan..habis briefing.," kata Bu Ratna sedikit kagok dan tersenyum.


"Baik Bu.."


Kemudian seperti biasa pagi itu Bu Ratna memberikan briefing dan yel yel "semangat pagi"...biar bekerjanya lebih semangat lagi.


Dari briefing itu di ketahui bahwa perusahaan tempat pak Musri bekerja, akhirnya memborong properti yang tawarkan.


"Yeiii...."


"Yees...Yees...yeeeees....!!," teriak gembira semua orang bagian pemasaran itu.


Mereka semua gembira karena berarti akan ada bonus... mengucur.


Setelah acara briefing selesai semua kembali ke ruang masing masing.


Seperti permintaan Bu Ratna sehabis briefing Bara menuju ruangan kerja atasannya tersebut.


Tok..tok..tok...


"Masuuk.."


Cekeek..


Bara membuka pintu kemudian menutupnya lagi dan memasuki ruangan tersebut.


"Pagi.. Bu..," kata Bara dengan sopan.


"Pagi...," kata Ratna tersenyum.


"Silahkan duduk pak Bara...." kata Bu Ratna masih ...dengan sedikit kaku.


"Ada apa ya..Bu..." tanya Bara dengan sopan dan hormat.


"Kenapa pak Bara tidak bilang kepada saya...?," kata Bu Ratna dengan sedikit sedih.


"Maksud..nya...Ibu...??."

__ADS_1


"Kalau pak Bara sudah berkeluarga... dengan pemilik Santosa lagi..," kata Bu Ratna lagi.


"Maaf...Bu..," hanya itu yang bisa di ucapkan Bara dengan pelan.


"Tapi..saya harap ibu tak memperlakukan saya dengan beda..termasuk dengan memanggil saya "pak"...karena saya belum setua itu dan saya juga bukan atasan di sini," kata Bara sambil tersenyum sungkan.


Ratna tersenyum mendengar permintaan Bara..memang benar sih..panggilan itu sedikit membuat jarak di antara mereka.


"Kalau begitu..dik Bara juga jangan panggil saya ibu,....kan umur kita tak terlalu jauh berbeda...paling aku dua tiga tahun lebih tua dikit..," kata Ratna.


"Baiklah...aku akan manggil 'mbak Ratna' bila di luar acara resmi," kata Bara.


Ratna tersenyum sambil mengulurkan tangannya menjabat Bara.


Bara yang kebingungan masih belum menyambut tangan itu.


"Ayoo..kita deal..," kata Ratna.


Bara baru "sadar" akan hal itu lalu menyambut uluran tangan perempuan tersebut.


"Deaal," kata keduanya lalu tertawa.


"Kapan..kalian menikah..dik.?," tanya Ratna.


"Mm..sekitar dua ..mau tiga bulan," sahut Bara.


"Waah..masih lumayan baru...masih anget anget nya ...dong,..semoga kalian bahagia dan langgeng..ya..," kata Ratna dengan sedikit sedih.


"Jangan sampai seperti aku, sudah bercerai saat pernikahan masih baru satu tahun."


"Eeh...kok malah curhat..." Bara sedikit kaget mendengar curhatan Ratna.


"Karena keegoisan kami berdua akhirnya kami berpisah," kata Ratna pelan.


Ratna yang di puji cantik... seketika blussing pipinya..


"Beneran aku ..cantik...?," goda Ratna sambil tersenyum.


Bara mengangguk kan kepalanya.


"Cuma sayaang...aku sudah janda anak satu lagi..," keluh Ratna dengan sedih.


"Mbak Ratna jangan bersedih...suatu saat pasti ada orang baik yang akan menjadi suami mbak..," hibur Bara.


"Sayangnya.. orang baik itu sudah jadi milik orang lain..," kata Ratna keceplosan...sambil menutup mulutnya saat menyadari nya.


"memang apa yang membuat mbak Ratna bisa berpisah dengan suami mbak..?," tanya Bara lagi mengalihkan perkataan Ratna barusan.


"Mungkin karena kesalah pahaman awalnya..namun kami terlalu egois sehingga masalah menjadi membesar dan kami memutuskan berpisah."


Keduanya kemudian terdiam sesaat.


"Oh...maaf dik..aku jadi lupa niatan manggil kamu ke sini.."


"Ya..ada apa ya mbak..?."


"Kemarin pak Musri kan sudah deal dengan perusahaan ini mau ambil dua blok dari perumahan kita."


"Lha cuma syaratnya... mereka minta di beri hiasan dinding seperti lukisan dik Bara kemarin."

__ADS_1


"Semua sudah saya ajukan ke pak Jauhari selaku direktur pelaksana di Santosa Propertindo dan beliau setuju untuk mengucurkan dana guna membeli lukisan tersebut."


"Sekarang saya tanya sama dik Bara..kira kira berapa harga satu lukisan..?," tanya Bu Ratna.


Bara nampak kebingungan karena sebuah karya seni apalagi lukisan itu untuk menilai harga nya kadang kadang susah, apalagi bagi orang yang tak menyukai seni akan terkesan mahal, namun bagi pecinta seni akan terkesan murah sekali.


"Dik Bara tak usah bingung, karena nanti lukisan itu juga di hargai tersendiri oleh perusahaan."


"Misalnya harga rumah 1M dengan lukisan tertentu jadi Satu koma sekian..," begitu terang Bu Ratna.


"Mm..kalau selama ini harga lukisan saya berkisar lima hingga ada yang puluhan juta," sahut Bara pelan.


"Oh...masih wajar itu dik," kata Bu Ratna.


"Properti kita kan harganya 5 M hingga puluhan M, kalau cuma nambah segitu pasti murah bagi orang orang ini," kata Ratna lagi.


"Atau gini aja dik Bara....kita lakukan kerja sama konsinyasi..dik Bara bawa semau lukisan nya terus pembeli di persilahkan memilih nya, yang terjual di bara mendapatkan bayaran yang belum terjual nanti kembali lagi...Bagaimana...?." kata Ratna antusias.


"Waah...boleh...mbak...nanti kalau banyak terjual mbak Ratna aku traktir deh...," kata Bara kegirangan.


Kembali Ratna mengulurkan tangannya.


Kali ini Bara langsung menyambut tangan itu dan menggenggam nya.


"DEAALL.."


"Besok akan ku buat MoU nya, karena ini di luar dari acara pekerjaan, harus ada perjanjian nya," kata Ratna.


"Alhamdulillah...ya.. Allah..rezeki itu memang kadang datang dari hal yang tak di sangka sangka."


Bara keluar dari ruangan Bu Ratna dengan wajah berseri-seri dan penuh kebahagiaan.


"Sstt..si..babang Bara kenapa..keluar keluar dari ruangan Bu manager... nampak puas banget," bisik Nikita yang selalu berpikir kotor.


"Issh...kamu piktor mulu...,"tonyor Tantri ke kening Nikita.


"Coba tuuh..lihat si babang membetulkan sabuk celananya," kata Nikita masih ngeyel, padahal Bara cuma menaikkan celananya yang sedikit melorot.


"Woii... sadaar....!!," kata Jesika sedikit berteriak.


"Dia udah punya bini...kalau butuh kan tinggal nyuruh bininya..bininya aja cantik pake buanggeet....iiih kamu ini Nik..jorok mulu di otakmu," bisik Jesika.


"Habisnya lama banget mereka berduaan di dalam, mana pintu di tutup lagi..kan bisa aja kan...mereka main main di meja," masih juga ngeyel si Nikita.


"Masih..mikir jorok..gue getok..loh pala lu dengan sepatu ku..," goda Tantri sambil nyengir.


Akhirnya ketiganya ngakak bareng.


"Wkwkwk...."


Bara yang menghampiri ketiganya keheranan.


"Pada ngapain sih...kayak..seneng banget...," kata Bara.


"Ini...Nikita...akhirnya... datang bulan setelah cemas....takut telat," kata Jesika asal.


"Issh...sembarangan aja...aku masih..gadis..ting..ting....sista..," kata Nikita cemberut.


___________

__ADS_1


**Masih...stay..kan...pokonya dukung karya aku...


jangan lupa tinggalkan jejaknya**...


__ADS_2