Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 87 Kamu Makin Ganteng


__ADS_3

Yolanda yang cantik dan sangat ramah menurut penduduk kampung, sudah menjadi daya tarik tersendiri.


Orang orang kini malah bergerombol di dekatnya, sambil bekerja mereka bercerita kesana kemari hingga tak terasa sudah mau adzan dhuhur.


"Waah...sudah adzan dhuhur nak Yola, kita pulang dulu..ibu mau nyiapin makan siang buat bapak dan suamimu..," kata Bu Romlah sedikit keras agar para tetangga juga mendengarnya.


"Iya..Bu..," sahut Yola segera beranjak berdiri dan berpamitan dengan ibu ibu yang lain.


"Mari ibu ibu...Yola pamit dulu."


"Oh...iya..non..," balas ibu ibu disana.


Kemudian Bu Romlah dan Yola berpamitan dengan Bu Kohar.


"Terimakasih Bu Romlah..Non..," kata Bu Kohar.


"Sama sama Bu Kohar," kata Bu Romlah dan Yolanda hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Makasih Non Yola..," kata Tatik.


"Sama sama mbak..," balas Yolanda.


Setelah berpamitan Bu Romlah dan Yolanda pun pulang ke rumah.


Sepeninggalan Bu Romlah dan Yolanda masih saja ada perbincangan tentang mereka, namun kali ini sudah tak berkomentar negatif.


"Waah.. sudah orangnya cantik, ramah... terus kayaknya anak orang kaya...," kata Ibu A.


"Iya..kaya..banget..kelihatannya.. soalnya... dengar dengar tanahnya Mbah Wongso... yang membeli juga si Non tadi..," kata Ibu B.


"Haah...yang bener..?," seru Ibu yang lainnya lagi.


"He'em.."


"Waah... beruntung ya pak Darmais dan Bu Romlah punya menantu Si Non tadi ," kata ibu yang lain pula memberi pujian.


**


Sampai di rumah, Bu Romlah langsung ke dapur.


Yolanda berniat mau ke kamar.


"Kaka..! kak..Yola..! ," teriak Misye sambil memperlihatkan foto pernikahan Bara dan Yolanda yang sudah di cetak dan di pigura hingga makin cantik.


Yolanda tersenyum melihat nya.


"Mau di pasang di mana emangnya dek..?," tanya Yolanda.


"Di ruang keluarga, biar kami bisa selalu memandang nya bila kangen kak Bara dan kak Yola," jawab Misye dengan mimik serius.


"Ya..terserah kamu..aja," kata Yolanda sambil tersenyum dan berjalan menuju kamarnya.


Sampai di kamar Yolanda tak menemukan suaminya.


"Loh..mas Bara kemana..?," tanya Yolanda yang balik ke ruang tengah.


"Kak Bara sama bapak baru ke kebun..kak, katanya mau menancapkan tonggak tonggak batas tanah bersama pak Sentot anak Mbah Wongso," sahut Misye yang masih memasang pigura di dinding yang sudah ada paku nya di bantu Della.


"Ooh.."


Tak berapa lama Bara dan pak Darmais pun pulang dari kebun.


"Tadi aku nyari mas Bara..kirain kemana..?," kata Yolanda.


"Emangnya mau kemana mas Bara..? kalau enggak sama kamu.?."


"Entahlah....siapa tahu pergi sama Jasmine..," kata Yolanda sambil cemberut.


Bara tertawa kecil kemudian menggandeng lengan istrinya di ajak ke kamarnya.


"Enggak mungkin lah..mas ngelakuin perbuatan busuk kayak gitu," kata Bara yang membuat Yolanda senang dan memeluk lengan kekar suaminya.


"Ngapain aja tadi di kumpulan ibu ibu," tanya Bara sambil baring seenaknya.


"Yaa..cerita cerita .. pokoknya... seru..aja, ternyata ibu ibunya enak di ajak ngobrol.."


"He.he. namanya juga di kampung," sahut Bara.


**


Di galery, Om Jhon sudah mulai menata beberapa lukisan yang sudah finishing..artinya sudah di pasangi pigura dengan ukiran kayu yang mewah.


"Cck... Cck... hebat juga karya anak itu," puji Om Jhon sambil memandang lukisan lukisan yang sudah di tempel ke tembok.


"Waah...makin bagus tuan..," kata tukang kayu yang membuat pigura.


"Iya....luar biasa..," sahut Om Jhon tak henti hentinya memuji karya Bara.


Tiba -tiba ponsel Om Jhon berbunyi.


Dilihat nya nama Erik, dan Om Jhon tersenyum.


"Halo..tumben kamu ingat Dady mu..," seloroh Om Jhon.


Ternyata Erik anak pertama Om Jhon yang tinggal di Eropa.


"Aah..Dady kenapa ngomong begitu..," sungut Erik anak pertama Om Jhon.


"He.he..just kidding...," seru Om Jhon.


"Bagaimana kabar Dady..?, apa Dady tidak ingin tinggal bersama kami..?," terdengar Erik membujuk ayahnya agar mau ikut tinggal di Eropa.

__ADS_1


"He..he...Dady masih ingin di sini dulu, coba lihat ini...," kata Om Jhon sambil mengitarkan sudut pandang ponsel tersebut agar bisa terlihat seluruh isi gedung tersebut.


"Haah..?, Dady ada di mana..?," tanya Erik melihat Ayahnya di kelilingi puluhan hampir ratusan lukisan yang indah indah.


"Dady ada di galery milik Dady..cuma lukisannya punya seniman muda yang sangat bertalenta."


"Kita kerja sama..jadi bisa...dikata ini galery kita berdua..," sahut Om Jhon dengan semangat.


"Waah... lukisan yang sangat bagus Dad..," seru Erik.


"Kamu juga bisa menawarkan nya..nanti dari sini kita patok harga dan kamu mencari keuntungan sendiri," sahut Om Jhon kepada anaknya tersebut.


"Ok.. Dady.. kapan kapan aku kabari lagi untuk urusan lukisan."


"Dady ..sehat sehat saja kan..?," tanya Erik.


"Syukurlah..Dady baik baik saja," sahut Om Jhon sebelum menutup telponnya setelah sebelumnya bercakap cakap sejenak.


**


Hari sudah malam, setelah makan malam rencananya Bara akan ikut bapaknya kumpul kumpul warga di malam hajatan cucu pak Kohar.


"Sayaang nanti mas bara ikut kumpulan bapak bapak di tempat pak Kohar," kata Bara berpamitan kepada Yolanda.


Yolanda menganggukan kepalanya.


"Emang sampai jam berapa mas biasanya..?," tanya Yolanda.


Bara tertawa kecil.


"Biasanya sampai pagi.." kata Bara.


"Haah..??!!."


"Tapi mas Bara jam berapa nanti sudah pulang..biar bapak aja yang sampai pagi," sahut Bara mengetahui kekhawatiran istrinya.


"Aku takut sendirian..," rengek Yolanda.


"Kakak..enggak perlu takut..nanti aku temani," sahut Misye.


"He'em..," sahut Della.


Yolanda tersenyum senang mendengar kesanggupan adik adiknya menemani nya.


"Ya..udah pokoknya mas Bara jangan malam malam..ya..," kata Yolanda.


Bara hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian mengikuti bapaknya yang sudah menunggu di teras depan.


Bara dan pak Darmais sudah sampai di tempat pak Kohar.


Ternyata di sana sudah banyak bapak bapak yang berkumpul untuk menyemarakkan hajatan, bahkan nampak pula pak Lurah di sana.


Sejenak Bara ragu untuk melangkah, bagaimana pun juga tetap ada rasa tak enak di benaknya.


Bara menghampiri semua orang dan menyalami nya, termasuk juga dengan pak lurah.


"Selamat malam pak lurah," sapa Bara sambil mengambil tangan dan menciumnya seperti orang tuanya.


Ceess..


Hati pak lurah yang sedikit ada rasa jengkel dan panas seakan luruh dan adem melihat kesopanan dan rasa hormat Bara.


"Malam..Bara..," sahut pak lurah sambil tersenyum.


"Kapan..pulang..?."


"Kemaren malam..pak.," sahut Bara.


"Ooh..mobil yang parkir di depan rumah bapakmu itu mobil mu to..?," tanya pak lurah sedikit kagum.


Bara tersenyum dan mengangguk.


"Waah.. sudah sukses rupanya.., soalnya barusan bapak dengar dengar kamu juga baru saja membayar tanah Mbah Wongso yang berharga milyaran..," kata Pak lurah lagi makin kagum.


Bara hanya tersenyum saja dan sedikit mengangguk.


Akhirnya rasa sungkan yang tadi menghampiri hati keduanya kini lebur sudah seiring obrolan keduanya.


Pak lurah kini jadi segan setelah berbincang dengan Bara yang tenyata berwawasan luas dan kini sudah sukses melebihi semua pemuda seangkatan di kampungnya.


**


Tak sampai terlalu malam Bara sudah kembali pulang ke rumah.


"Lho..kok sudah pulang..? belum juga jam sepuluh...," kata Bu Romlah yang membukakan pintu.


"Iya..nggak pa pa Bu yang penting sudah setor muka ," kata Bara sambil tersenyum.


"Lagian besok pagi mau ada acara reuni di sekolah, takutnya ngantuk," kata Bara lagi.


"Reuni..?," tanya Bu Romlah.


"Iya..Bu teman SMP."


"Berangkat sendiri apa sama nak Yola..?."


"Berdua Bu.."


"Ya..udah..sana istirahat..tuh nak Yola masih di temani adikmu," kata Bu Romlah sambil kembali menutup dan mengunci pintu depan karena biasanya pak Darmais membawa kunci cadangan.


**

__ADS_1


Pagi Hari setelah makan pagi, Bara dan Yolanda nampak sudah berdandan.


Bara memakai celana dengan warna yang agak terang dengan baju warna gelap, membuat penampilan nya makin tampan dan gagah.


Begitupun dengan Yolanda yang memakai gaun mewah warna sedikit gelap membuat kulitnya yang putih bersih nampak semakin bersinar..dan menakjubkan.


"Kakak..mau kemana..? kok dandan cantik banget..?," tanya Misye yang kebetulan berpapasan.


"Mau ikut mas Bara reuni sama teman SMP."


"Oh..kirain mau menghadiri hajatan sunatan."


"Nanti habis dari reunian baru ke hajatan..kasih kado anak yang di sunat,....eh jauh nggak sih SMP mas Bara..?."


"Dekat..kok Kaka, sebelah.. mall saat kita belanja itu loh kak, paling seperempat jam dari sini," sahut Della yang juga ikut merubung kak Yola yang makin cantik.


"Sayaang...kita berangkat yuukk..," teriak Bara dari luar rumah.


"Adik adik..Kaka berangkat dulu ..ya..," kata Yolanda sambil melambaikan tangan.


"Iya..kak, hati hati," sahut kedua adiknya.


**


Mobil yang di kendarai Bara sudah melaju di jalan daerah yang lumayan lengang itu.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di sekolahan SMP Bara.


"Aduuh..mas, tas ku ketinggalan di rumah..," keluh Yolanda yang tadi langsung saja berlari keluar saat suaminya memanggilnya.


"Trus..gimana..?, mau putar balik..?," tanya Bara.


"Enggak usah..mas Bara masuk aja ke tempat reuni, aku akan balik sebentar ambil tasku..paling sebentar kok," sahut Yolanda sambil tersenyum.


"Beneran..? Bisa..? enggak kesasar..?." goda Bara.


"Iya..lah.., jalan cuma ada satu mana mungkin kesasar," sahut Yolanda.


"Ok..mas Bara turun kalau begitu," kata Bara menepikan mobilnya dan turun dari kursi pengemudi.


Tanpa keluar Yolanda hanya bergeser dari kursi sebelah ke kursi pengemudi, kemudian memutar mobilnya ke arah rumah.


Bara berjalan memasuki lokasi bekas sekolahnya yang kini sudah terpasang tenda dan sudah hadir beberapa orang.


**


Revan, Dimas dan Vivi serta panitia reuni yang lain nampak sangat sibuk.


Menyambut para tamu undangan yaitu teman teman semasa SMP.


Sebagian masih bisa di hafal wajahnya namun ada juga yang sudah nampak berubah..ada yang tambah tua..tambah buluk..namun ada juga yang masih sama.


Seperti Vivi gadis yang masih kuliah di salah satu universitas itu masih terlihat cantik.. meskipun jika di bandingkan teman teman Bara penampilan Vivi...biasa.


"Eeh..siapa..tuh..?," kata Dimas sambil memandang seseorang yang nampak berjalan memasuki tempat reunian.


Revan dan Vivi sontak menoleh ke arah seseorang yang masih tolah toleh.


Ya..Bara sudah merasa asing di tempat itu, semua sudah banyak berubah.


Tak satupun yang di kenalnya.


"Baraa..!!.," teriak seseorang.


"Eeh.. Tarjo, Tatik..sini..," teriak Bara lega merasa ada yang sudah di kenalnya.


Setelah Tarjo dan Tatik mendekat, ketiga teman SMP yang menjadi panitia itu menghampiri.


"Eh..masnya ..siapa..ya..?," tanya Dimas.


Bara menatap laki laki itu.


"Dimas..ya..?," kata Bara.


"Lho..ini Bara..? kamu..Bara kan..?," kata Dimas sambil mendongak memandang Bara yang kini tingginya sangat menjulang.


Mereka bersalaman erat.


Vivi yang sejak awal sudah terpesona dengan penampilan lelaki itu kini makin senang ternyata lelaki itu Bara.


"Masih ingat..sama aku enggak..?," kata Vivi dengan sedikit kemayu menggoda.


Bara tersenyum.


"Masihlah...Vivi..kan..," kata Bara mengulurkan tangannya.


Bara memandang Vivi dengan seksama dan tersenyum.


"Ya.. Allah..gadis yang dulu ..pernah menarik hatiku..ternyata hanya seperti ini..biasa banget.. dasar.. cinta monyet..menyesatkan..," batin Bara sambil senyum senyum geli dengan kebodohannya waktu itu.


Vivi memandang Bara tak berkedip sedikit pun dan masih terus menggenggam tangan nya tanpa di sadari nya.


"Syukurlah..kalau masih mengenalku..," kata Vivi menanggapi sapaan Bara.


"Kamu sekarang beda banget," sahut Vivi..yang makin mendongak melihat Bara dari dekat.


"Hehe..apanya yang beda..," kata Bara sambil tersenyum yang membuat Vivi makin terpesona dengan ketampanan nya, hingga lupa dengan tugasnya menyambut teman yang lain.


"Beda aja...makin ganteng," ucap Vivi keceplosan.


"Uups..," kata Vivi saat kesadaran nya kembali dan menutup mulutnya.

__ADS_1


____________


Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....


__ADS_2