Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 58 Kedatangan Yolanda


__ADS_3

Pagi hari tetangga tetangga langsung heboh, pasalnya Bara pulang dengan mobil yang menurut para tetangga sangat mewah.


Sebagian orang kagum akan keberhasilan Bara.


Namun ada juga yang nyinyir, "alah...paling paling mobil pinjaman."


Atau ada juga yang bilang, " itu mobil bosnya...di pinjam buat gaya gaya di kampung."


Bahkan yang lebih ekstrim....


mengatakan itu hasil kejahatan.


Uuh..dasar ....mulut lemess..semua, suka urusi urusan orang lain, melihat kekurangan orang lain padahal dirinya juga masih banyak kekurangan.


Pagi itu Bara masih bersantai dengan di temani bapaknya, karena lima hari kerja sehingga pak Darmais libur Sabtu itu.


Baik pak Darmais maupun bu Romlah belum berani menyinggung masalah perjodohan nya, karena melihat Bara yang masih cuek saja.


Saat itu Bu Romlah masih membuka warung kelontong nya di bantu Misye dan Della.


Sambil menata dagangan Bu Romlah selalu memandang mobil dan juga Bara anaknya.


"Eeh.. Misye..apakah kakakmu bertanya tanya tentang Jasmine..?," tanya Bu Romlah.


"Enggak tuh Bu...," sahut Misye.


"Berarti kakakmu enggak ada perhatian dan enggak menyukai si Jasmine," kata Bu Romlah lagi.


"Kayaknya iya..Bu..buktinya tiap pulang kampung kakak enggak pernah nyamperin kak Jasmine, itu kan menandakan kakak enggak ada rasa sama...kak Jasmine," sahut Misye lagi.


"Iyaa..ya.. benar juga kamu" kata Bu Romlah lagi.


Mereka masih bercakap cakap pelan takut ketahuan Bara yang masih berbincang dengan pak Darmais di teras rumah.


"Kapan kamu kembali ke kota....Bara.?," tanya Bapak.


"Minggu malam pak...soalnya pagi nya sudah harus kerja," kata Bara sambil meminum kopi buatan ibunya.


"Bagaimana dengan kuliahmu..?."


"Alhamdulillah..lancar pak...bentar lagi wisuda, nanti bapak dan ibu serta adik adik aku jemput jika mau wisuda," kata Bara.


"Alhamdulillah.. syukurlah..bila baik baik saja."


Mereka berbincang cukup lama, namun terkesan ada sesuatu yang ingin di bahas tapi masih merasa belum pas.


Bapak ingin membahas perjodohan, dan Bara ingin membahas perihal pernikahan nya.


Namun keduanya masih menahan diri untuk memulainya.


**


POV Yolanda


Setelah mas Bara berpamitan kepada ku entah mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang dari ku.


Semalaman ini aku gelisah, .. jujur aku tak bisa tidur, hanya guling sana guling sini... apalagi mas Bara..tak mengabari ku..sudah sampai apa..belum.... aku makin kepikiran dirinya.


Biasanya week end seperti ini aku menginap di apartemen melepas rasa rindu ku kepada suamiku.


Bila mengingat itu...aku makin gelisah, makin kangen.


Kangen dengan sikap lembutnya padaku, kangen dengan rasa sayangnya.. kangen dengan dekapannya....bahkan kangen dengan ciuman ..mas Bara.

__ADS_1


Bila aku nggak bisa tidur seperti ini pasti....aku di pijat pijat, di elus elus nya sampai aku terlelap.


Aku makin tambah gelisah... akhirnya aku bangun kembali dan mencari pak Bandi.


Aku cari biasanya dia di mana.


Aku berjalan ke pos depan dan bertanya ke pada penjaga keamanan disana.


"Apakah ada yang tahu dimana pak Bandi..?," kataku.


Semua penjaga keamanan hanya menggeleng kan kepalanya.


"Maaf nona muda...di telpon saja mungkin masih ada di luar," kata salah satu penjaga keamanan itu.


"Oh..iyaa...bodohnya aku...," batinku.


Karena terlalu gelisah hingga melupakan alat teknologi yang bahkan tak pernah lepas dari tanganku tersebut.


Segera ku hubungi nomer sopir pribadi ku itu, ya..pak Bandi adalah sopir pribadi ku, sedangkan pak Asep sopir pribadi mama, dan papa ada sopir lain lagi.


"Halo..pak....ada dimana..?."


"Masih isi bensin non, ada apa ya non..?,'' tanya pak Bandi.


"Besok habis subuh antar aku ke desa Mas Bara," kataku.


"Baik..non..akan saya siapkan mobilnya malam ini ," jawab pak Bandi dengan cepat.


Entah mengapa kini rasa gelisahku berkurang dengan aku berencana menyusul mas Bara ke kampung halaman nya.


Aku segera berkemas hanya menyiapkan beberapa stel pakaian saja, tak lebih dari dua pasang baju ganti, aku pikir gampang lah beli di sana bila memang di butuhkan.


Akhirnya malam itu aku bisa tidur, tak lupa ku stel alarm pukul empat pagi biar bisa mandi bersiap dan sholat subuh karena tamu bulanan ku sudah pergi.


Entah mengapa aku sangat bersemangat mungkin karena rasa kangen ku pada mas Bara.


Sehabis mandi dan sholat subuh, ku hubungi pak Bandi.. ternyata sudah siap di garasi mobil.


Aku berangkat menyusul mas Bara tanpa berpamitan kepada kedua orang tua ku.


Akhirnya dengan di antar pak Bandi aku berangkat ke kampung halaman suamiku tercinta...


**


Bara masih berbincang dengan bapaknya ketika tiba -tiba Jasmine berkunjung ke rumah pak Darmais.


Gadis yang seusia dengan Bara itu kini makin terlihat dewasa.


Bahkan kini Jasmine sudah pandai bersolek.


Namun bagi Bara nampak terlalu menor.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumssalam... ," jawab semua orang di sana.


"Eeh... Jasmine...," kata pak Darmais.


"Mari mari...silahkan..duduk," kata pak Darmais mempersilahkan anak pak lurah itu.


Jasmine pun duduk di sebelah pak Darmais, begitu juga dengan ibu.


"Bara..," sapa Jasmine dengan tersenyum manis.

__ADS_1


"Apa kabar...," balas Bara tersenyum membuat hati Jasmine makin berdebar kencang.


Belum sempat mereka berbincang banyak, tiba tiba datang mobil lebih mewah dari yang dipakai Bara, memasuki halaman rumah pak Darmais.


Bara kaget dan bertanya tanya.


"kayak..mobil keluarga tuan Hendrawan..?."


Setelah Yolanda turun Bara makin kaget, antara senang banget..sama bingung mau bilang apa kepada kedua orang tuanya.


"Haah.???."


Bara makin kaget ketika mobil yang di sopiri pak Bandi putar balik dan meninggalkan tempat tersebut.


Semua yang ada di sana kaget memandang semua kejadian tersebut, termasuk pak Darmais dan Bu Romlah.


Seorang gadis cantik.....sangat cantik.....malahan, datang ke rumah mereka dengan mobil mewah lagi.


Bara bangkit dari duduknya dan menghampiri dengan masih kebingungan.


"Mas Bara..," teriak Yolanda ketika melihat Bara masih ragu dan kaget.


Bara mendekat kemudian berkata lirih.


"S.ss..sayaaang..," kata Bara pelan dengan tergagap.


"Mas Bara enggak seneng ya.... aku....nyusul..?," tanya Yolanda sedikit cemberut.


"S..ssenang..sayang, tapi mas Bara belum bercerita tentang kita kepada orang tua ku," kata Bara berbisik bisik pelan.


"Tak apa..., nanti aku yang akan berbicara kepada mereka," kata Yolanda tenang ...sambil berjalan menuju beranda.


"Pagi pak.....Bu.....," sapa Yolanda sopan, sedangkan Bara berdiri di belakang istrinya tersebut.


"Pak..Bu..ini..Noon..ii... Yolanda," kata Bara tergagap.


"Oh.....Non.....juragan nya....Bara ya ..mari..mari non silahkan masuk ," kata Bu Romlah dengan sopan mempersilahkan Yolanda duduk di kursi kayu.


Bara segera berlari masuk kedalam ruang tamu mencari bantal kursi untuk tempat duduk istrinya.


Biar istrinya merasa nyaman karena kursinya kayu keras.


Melihat ada gadis cantik....., eh....sangat cantik datang ke sana sejenak Jasmine cemberut.


Tapi begitu Bu Romlah bilang juragan Bara, Jasmine nampak tersenyum Kembali.


Sebelum duduk Yolanda menyalami semua orang termasuk Jasmine.


"Yolanda.."


"Jasmine...calon istri Bara," kata Jasmine dengan PD nya.


Yolanda hanya mendengus kecil.


''Huh.."


Bara makin kikuk dan itu tertangkap oleh pak Darmais dan Bu Romlah.


Bapak dan ibu Bara saling berpandangan melihat kegugupan anaknya.


____________


Dukung terus ya....

__ADS_1


Pokoknya...tinggalkan jejaknya...


__ADS_2