Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 113 Kebahagiaan di Mansion


__ADS_3

Bara sampai di ruangannya, dirinya masih kaget dengan berita yang barusan di dapatnya.


Leon ketangkap polisi dengan kasus yang menurutnya sangat berat, hukumannya bisa seumur hidup bahkan bisa juga hukuman mati jika semua tuduhan yang di gembar gembor kan di TV benar adanya .


" Oh..iya...aku belum mengabari dek Yola..," gumam Bara lalu mengambil ponselnya yang ada di depannya.


Drrt... drrt...


"Halo assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam..ada apa mas..?, tumben telpon..? sudah sampai di kantor..?."


"Iya..sudah..sayang..," sahut Bara.


"Coba lihat di Chanel X ada berita penting, Leon ketangkep polisi..," kembali Bara berkata.


"Ketangkep polisi..? ya..sudah aku akan lihat di TV mas ," sahut Yolanda sebelum menutup sambungan telepon nya.


**


Yolanda yang masih bersama Opa sedikit kaget, karena tiba -tiba suaminya menelponnya saat baru saja berangkat kerja.


"Ada apa..?," tanya Opa yang juga kaget.


"Sebentar Opa..," kata Yolanda kemudian menghidupkan TV dan mencari saluran Chanel X seperti yang Bara sebutkan.


"Leon ketangkep polisi Opa..," kata Yolanda sambil berjalan kembali ke kursi samping Opa setelah menghidupkan TV nya, lalu memperhatikan siaran TV tersebut.


"Leon ketangkep polisi..?," gumam Opa Santosa.


Yolanda mengangguk, lalu keduanya memperhatikan siaran langsung ulasan kronologi penangkapan tersebut.


Disitu di ulas, di bahas bahkan di ceritakan rekontruksi mulai dari semua kegiatan leon hingga tertangkap nya Leon.


Yolanda menghela nafasnya.


"Alhamdulillah..ya Allah aku tak jadi di nikahkan dengan orang itu..," gumam Yolanda pelan.


"Syukurlah..kejadian waktu itu tenyata membuka keburukan anak itu di hadapan keluarga kita.. untung Hendrawan bertindak benar langsung membatalkan pertunangan kalian."


"Apa jadinya jika kalian jadi menikah, mau di taruh di mana muka Opa..?."


"Bukankah Opa juga sudah pernah bilang..tak ada suatu yang kebetulan di dunia ini, pernikahan kalian( Bara dan Yolanda) pasti sudah di aturNya," sahut Opa lagi.


Yolanda memeluk Opa Santosa.


"Terimakasih Opa sudah mendukung kami selama ini..," sahut Yolanda sambil memeluk Opanya.


"Iya..entah kenapa Opa juga langsung cocok saat pertama kali melihatnya, bahkan sebelum Opa menyelidiki siapa itu Bara..," kata Opa Santosa.


**


Tuan Hedrawan langsung pulang ke rumahnya begitu mendengar berita keberadaan Yolanda di mansion utama.


"Ma...mama...!," teriak tuan Hendrawan begitu sampai di rumah utama.


Nyonya Nursanti yang masih membaca artikel sebuah majalah sampai kaget mendengar teriakan teriakannya.


"Ada apa sih. Pa..? kok sampai teriak teriak segala..," sahut nyonya Nursanti.


"Cepetan ganti baju..mau ikut papa enggak..?."


"Kemana..?."


"Ke Mansion utama..mah.."


"Ada apa dengan Papi..?," sahut nyonya Nursanti dengan Cemas segera bangkit dari duduknya.


"Enggak ..papi enggak pa pa..."


"Lha ..terus kenapa tergesa gesa..?."


"Yolanda ada di sana..!," seru tuan Hendrawan.


"Apaa..Yolanda ada di Mansion..?," teriak nyonya Nursanti sampai tuan Hendrawan sendiri terkejut.


"Apaan ..sih..mama malah teriak teriak..," sungut tuan Hendrawan.


"Habis mama kaget Pa...senang banget anakmu sudah ketemu..," kata nyonya Hendrawan langsung bergegas masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian.


**


Bara sudah menyelesaikan penanda tanganan beberapa berkas, kemudian memanggil sekertaris nya.

__ADS_1


"Mbak berkasnya sudah selesai, sekarang bisa di ambil..," perintah Bara kepada Belinda sekertaris nya.


"Baik pak.."


Tok...tok..tok..


"Masuk.."


Belinda memasuki ruang direktur nya.


"Ini mbak...," kata Bara.


"Iya.. pak.."


"Untuk besok pagi apakah ada agenda acara yang penting..?," tanya Bara kepada Belinda.


"Sementara baru ada dua pak, jam sepuluh bertemu dengan rekanan dari Bina Usaha Makmur yang biasa mendistribusikan barang kita, selanjutnya bertemu dengan pemasok dari Jepang pak.. nona sizuka...," sahut Belinda.


"Oh iya..terima kasih mbak.."


"Sama sama pak," sahut Belinda sambil memberesi berkas berkas yang ada di meja direktur.


Hari sudah menunjukan pukul 15.30 saatnya bagi Bara bersiap untuk pulang.


Semua perlengkapan nya sudah di masukkan ke dalam tas kerjanya.


**


Di mansion utama Yolanda masih berbincang bersama dengan Opa tentang rencana ke depannya bangaimana.


"Kamu tinggal di sini saja.. selamanya, karena suamimu kan mengelola perusahaan Sant Otomotif," kata Opa.


"Iya..Opa..tapi Yola juga masih ingin bekerja biar tidak bosan di rumah terus," sahut Yolanda.


"Sekarang kamu sedang hamil.. kembar lagi...saran Opa kembali kerja jika sudah melahirkan, dari pada sekarang kerja malah akan memberat kan mu," kata Opa Santosa lagi.


"Iya..Opa.."


Saat mereka tengah berbincang nampak sebuah mobil mewah memasuki halaman mansion Opa.


Deru mesin mobil terdengar sayup hingga di ruang tengah di mana opa Santosa sedang berbincang dengan cucunya.


"Siapa Opa..?," tanya Yolanda kepada Opa yang juga penasaran.


"Papi....Pii...," terdengar Hendrawan teriak teriak.


Yolanda yang mendengar suara papa nya menjadi pucat pasi.


"Opa..??." Yolanda menggenggam erat tangan Opa Santosa takut jika kembali di paksa pulang ke rumah utama.


Opa juga sedikit tegang.


"Tenang jika macam macam Opa yang akan menghadapinya..," kata Opa Santosa pelan sambil mengusap usap lengan cucunya untuk menenangkan.


Suara langkah kaki terdengar mendekat.


"Lho...Papi disini toh.., Hendra panggil panggil dari depan kok diam saja..?," kata Hendrawan sambil mengambil tangan papinya kemudian menciumnya.


Yolanda masih saja terdiam...sedikit ketakutan.


"Yola..kamu tidak senang bertemu papa..?," tanya tuan Hendrawan kepada Yolanda yang masih saja terdiam mematung.


Nursanti yang baru tiba karena tertinggal langkahnya oleh tuan Hendrawan langsung memeluk Yolanda.


"Sayaang...mamah kangen kamu," kata nyonya Nursanti sambil terisak menangis.


Melihat mama nya menangis Yolanda juga ikut menangis di pelukan mama nya.


Opa Santosa masih menatap tajam anak dan menantunya.


"Ada apa kalian kemari..??!!," bentak Opa Santosa.


"Apa mau menjemput Yolanda..?!! jangan harap kalian bisa melakukan itu...selagi ada aku...!," kembali Opa Santosa berkata dengan pedas.


Tuan Hendrawan dan nyonya Nursanti sedikit pias melihat kemarahan Opa.


"Tidak Pi..kami sudah sadar kesalahan kami..," kata Nursanti masih sambil terisak memeluk anaknya.


"Iya..Pi..kami memang salah dengan tindakan kami," sahut Hendrawan meminta maaf kepada Opa.


"Bukan kepada ku kalian meminta maaf," masih dengan ketus Opa menjawab.


Tiba -tiba.

__ADS_1


"Assalamualaikum..."


Disaat mereka masih bertangisan Bara yang baru datang dari kantor sedikit kaget, ternyata di dalam sudah ada tuan Hendrawan dan nyonya Nursanti yang masih memeluk Yolanda sambil bertangisan.


"Waalaikumssalam..," jawab semua yang ada di dalam.


"T.ttuan Hendrawan..," sapa Bara meskipun terkejut, sambil tetap menyambut tangan tuan Hendrawan dan menciumnya.


Selesai tangannya di cium Bara tuan Hendrawan malah memeluk Bara.


"Bara papa minta maaf kepadamu..," kata tuan Hendrawan sambil sedikit tercekat suaranya.


Bara yang kaget dengan perkataan dan perlakuan tuan Hendrawan jadi sedikit terisak terharu.


"Bara juga minta maaf tuan.."


Perkataan Bara di potong oleh tuan Hendrawan.


"Mulai sekarang jangan panggil tuan, panggil Papa seperti Yolanda memanggil ku," kata tuan Hendrawan dengan suara parau menahan haru melepas pelukannya.


"Iya..P..Pa..," kata Bara sedikit kaku.


Bara mengambil tangan nyonya Nursanti menciumnya.


"Nyonya..," sapa Bara.


Nursanti juga langsung memeluk Bara.


"Maafkan mama Bara...," kata nyonya Nursanti masih sambil terisak menangis karena menyesal atas sikapnya selama ini.


"Jangan kau panggil nyonya lagi kepada Mama..," kata Nursanti masih memeluk Bara yang kini sudah di akuinya sebagai menantunya.


Hendrawan dan Nursanti menangis menyesali semua yang telah dilakukannya...meminta maaf kepada anak dan juga menantunya tersebut.


Sore itu menjadi ajang pertemuan yang mengharukan antara dua orang tua terhadap anak dan menantu nya yang selama ini terpisah hampir satu bulan lebih.


Opa Santosa akhirnya juga ikut luluh hatinya setelah melihat kesungguhan Hendrawan dan Nursanti serta sangat senang sekarang melihat anak dan menantunya sudah rukun dengan cucu dan cucu menantu nya.


**


Malam itu papa Hendrawan dan mama Nursanti menginap di Mansion.


Rumah yang semula sepi hanya ada para pekerja kini terlihat semarak.


Mereka masih berkumpul di halaman samping melihat beberapa hasil lukisan Bara yang belum benar benar kering sebelum di bawa ke galeri.


"Mama sangat senang sekali sayang..," kata Nursanti yang masih saja rindu dengan anaknya.


"Yola juga senang ma..," sahut Yolanda sambil bermanja dengan ibunya.


"Alangkah senangnya jika mama segera menimang cucu..," gumam Nursanti yang kini sudah menerima pernikahan anaknya dengan penuh harapan


"Yola memang sudah isi mah..," kata Yolanda sambil tersenyum memandang mama nya.


"Hah... beneran.. sayang..?." teriak Nursanti yang sangat terkejut.


"Iya mah..kembar..," sahut Yolanda.


"Apa..? Kembar..?."


Mama Nursanti langsung terlonjak kegirangan.


"Pah.. papah..calon cucu kita kembar..!," teriak mama Nursanti ke arah suaminya.


Papa Hendrawan yang masih mengamati lukisan Bara bersama Bara dan Opa menoleh dan terkejut.


"Kembaarr..??.," kata tuan Hendrawan sambil menatap Bara dan Opa.


Bara dan Opa mengangguk membuat papa Hendrawan terlonjak kegirangan seperti memenangkan jackpot.


"Yeiii...cucu ku kembar..," teriak papa Hendrawan kegirangan.


Mereka semua nampak bahagia sekali terutama Yolanda dan Bara yang kini sudah mendapat restu dari kedua orang tua Yolanda.


___________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku


* Sang Pengacau


* Aku Lebih Mencintaimu**

__ADS_1


__ADS_2