
Meriahnya pesta tersebut bagi sebagian orang menimbulkan rasa bangga, kagum akan keberhasilan seorang anak desa yang tak neko neko dan mau bekerja keras serta penuh talenta menjadi berhasil.
"Waah..hebat ya.. Bara anaknya pak Darmais.."
"Iya...anak yang dulu sering membantuku mengajar TPQ di masjid tak ku sangka..kini menjadi orang sukses."
"Anak yang tak pernah neko neko dan bertingkah," sahut yang lainnya lagi ikut berkomentar menanggapi perkataan orang yang di samping nya.
Kesuksesan Bara bisa di jadikan panutan oleh generasi penerus nya, jika kita mau bekerja keras pasti akan menuai hasil yang sepadan meskipun itu juga di pengaruhi oleh faktor keberuntungan lainnya.
Namun dari sekian banyak orang tetap saja ada yang terluka hatinya, seperti Jasmine dan Vivi misalnya.
Meskipun di luar nampak tersenyum namun di lubuk hatinya yang terdalam tak bisa memungkiri rasa sakit dan kecewa itu.
"Aku yang dari dulu bersamamu, tumbuh bersamamu dan selalu menunggumu, ingin mendengar kamu mengungkapkan cintamu kepadaku, bahkan kita hampir di jodohkan tapi ternyata kamu bukan untuk ku,"
Jasmine menatap ke arah Bara yang masih bercanda mesra dengan Yolanda di kursi pelaminan yang ada di depan panggung mini.
Sejak jaman sekolah dulu Jasmine memang selalu mengharapkan Bara lebih dari sekedar teman, namun tak secuil pun Bara menanggapi harapannya tersebut.
"Ayuk..tambah lagi makanan nya Jasmine," kata Bu Romlah kepada Jasmine yang masih termangu menatap Bara dengan sedih meskipun sudah di coba untuk menutupinya.
"I.iya..Bu.. makasih, ini aja masih kok..," tolak Jasmine sambil menunjuk piringnya, mencoba tersenyum kearah Bu Romlah.
Bu Romlah yang tahu sebenarnya tentang hati Jasmine tersenyum, mengusap lengan gadis tersebut, seakan menenangkan dan menghibur Jasmine.
Tak kalah kecewa adalah Vivi, sejak berangkat tadi selalu di goda oleh teman teman lainnya.
"Beneran kamu mau menghadiri pesta pernikahan Bara..?," goda teman teman nya kala itu saat mereka membahas undangan dari Bara.
"Iya..lah..masak di undang enggak datang," sahut Vibi sambil tertawa-tawa menutupi debaran di dada nya.
Dan benar saat ini rasa penyesalan atas sikap nya dahulu itu kian terasa.
"Maafkan aku Bara, karena kebodohanku kala itu.. aku terbawa omongan orang dan menyakiti hati mu."
Vivi menatap Bara yang terlihat makin tampan dari tempat duduknya, apalagi dengan harta yang melimpah ruah yang di milikinya, kini makin membuat aura seorang Bara makin terpancar.
Vivi hanya termangu dan menghela nafasnya seakan mencoba melepaskan rasa kecewa terhadap dirinya sendiri.
**
"Mari silahkan lagi pak camat, pak lurah," kata Pak Darmais menawarkan hidangan kepada jajaran pemerintahan yang akrab dengannya.
__ADS_1
"Iya..pak Darmais," sahut pak Camat yang memang cukup mengenal pak Darmais karena sering ke kecamatan untuk mengurus urusan warga desa Bumi Makmur.
"Pak lurah silahkan pak..," kata pak Darmais mempersilahkan kepada atasan di kantor nya.
"Waah.. makasih pak Darmais, ini tadi udah banyak ambilnya."
Pak Lurah tertawa sambil menunjuk ke arah piringnya.
"Ini malah saya sudah nambah dua kali," sahut pak Parjan teman kantor pak Darmais yang duduk di samping pak lurah sambil tersenyum.
"Ya..nggak pa pa pak..makanan ini memang di sediakan untuk di nikmati," balas pak Darmais dengan sopan kepada bapak bapak perangkat desa sekecamatan tersebut.
"Wah..aku enggak nyangka loh pak, jika pak Darmais pemilik obyek wisata di sini."
Kata Bapak A teman dari kelurahan tetangga sebelah yang di undang.
"Iya..saya juga sudah beberapa minggu mendengar berita itu, tapi tak menyangka jika pemiliknya pak Darmais," sahut bapak B dari perangkat desa tetangga lain lagi.
"Ah..bapak bapak ini bisa saja, ini semua milik anak saya kok pak."
Kata pak Darmais sambil tersenyum ke arah bapak bapak tersebut.
"Ya..sama saja pak... itu namanya, bukankah milik anak juga milik kita," sahut Pak Lurah sambil meminum segelas es kelapa muda yang ada di hidangan tersebut.
**
Bara menerima ucapan selamat dari para pejabat dan juga relasi sebelum mereka berpamitan pulang.
Acara tersebut sudah menjadi berita utama di beberapa tajuk berita.
Dalam sesaat desa Bumi Makmur menjadi sangat terkenal karena adanya liputan dari beberapa televisi yang menyiarkan peristiwa tersebut.
"Selamat pak Bara atas pernikahan dan juga semua bisnis bisnisnya," kata beberapa relasi yang sempat hadir disana.
"Terima kasih pak, Bu..," balas Bara dan Yolanda membalas semua yang menyalami untuk berpamitan tersebut.
Begitu pun dengan Opa Santosa dan papa mama Hendrawan, serta bapak ibu Darmais semua di salami oleh tamu tamu penting tersebut.
"Terimakasih..bersedia meluangkan waktunya.," kata Opa Santosa ramah membuat para tamu tersebut makin terpesona dengan keramahan pemilik Santosa Group tersebut.
**
Setelah para pejabat meninggalkan tempat tersebut Bara menghampiri teman teman nya, sedangkan Yolanda masih duduk duduk bersama Bu Romlah dan mama Nursanti beristirahat karena sejak tadi berdiri saja.
__ADS_1
"Nak Yola mau ibu ambilkan makanan apa..?," tanya Bu Romlah yang melihat sejak tadi menantunya itu tak makan apapun menawarkan.
"Minuman es kelapa aja ya Bu..," kata Yolanda yang memang ribet dengan gaunnya tersebut.
"Sebentar nak Yola nunggu di sini, ibu ambilkan," kata Bu Romlah yang sangat sayang kepada menantunya tersebut, beranjak menuju ke area makanan dan mengambilkan apa yang menantu nya inginkan.
Sementara Bara berjalan menuju teman temannya, menghampiri mereka.
"Ayo teman teman nambah lagi," kata Bara menawarkan kepada teman temannya.
Dimas yang duduk paling depan malah sudah memamerkan piringnya yang masih penuh karena barusan nambah.
Revan hanya tersenyum melihat kerakusan Dimas yang mengandalkan aji mumpung.
Vivi terlihat tersenyum tak bosan menatap ke arah Bara, apalagi saat Bara mendekati rombongan nya.
"Loh Vivi kok sendiri..?," sapa Bara ke arah Vivi yang masih menatapnya.
"Emang mau sama siapa..?, cowok aku aja udah nikah," sahut Vivi yang kini terlihat lebih berani.
"Emang siapa cowok mu..?.," tanya Tarjo yang juga ikut nimbrung dan duduk di sana.
Vivi hanya memberi isyarat dengan tatapan mata ke arah Bara.
Dimas langsung tertawa terbahak melihat ulah Vivi," mau jadi pelakor..?," goda Dimas masih tergelak.
Vivi hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi guyonan Dimas.
"Enggak lah..aku cukup tau diri..di banding nona Santosa di sana..," kata Vivi akhirnya.
"Udah..udah..lebih baik minum es kelapa tuh segeer," sahut Revan menengahi teman teman nya.
"Iya..benar tuh Revan..," sahut Bara dengan kalem.
**
Semenjak mulai hari itu, kemeriahan pesta Bara selalu menjadi buah bibir di desa Bumi Makmur.
Semua menyanjung keluarga pak Darmais, kehebatan tentang Bara menjadikan suri tauladan untuk anak anak muda di sana.
_____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan like, vote, rate dan hadiahnya..
__ADS_1
Baca juga karya lainku dengan mengklik profil ku**....