Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
EPs 103 Berkunjung ke Galeri


__ADS_3

Hari itu Bara berencana mencari perlengkapan untuk melukisnya.


"Opa siang ini saya mau mencari perlengkapan melukis, tapi di kota sini tidak ada..bolehkah jika saya membelinya di kota X sekalian mampir ke galery ada beberapa barang yang belum sempat kebawa," ijin Bara kepada Opa yang masih nampak menikmati secangkir teh dan madu pagi itu.


"Boleh... apakah istri mu ikut..?."


Bara menoleh ke arah Yolanda yang masih mendekat.


"Aku ikut ..ya...Opa..," sahut Yolanda yang melintas.


Opa menganggukkan kepalanya.


"Tapi kalian harus hati hati..ingat pesan Opa Rustam kemarin."


"Iya Opa."


"Yeeii...," Yolanda nampak sangat senang, entah kenapa sekarang pinginnya selalu ikut suaminya tak mau berpisah sejengkal pun.


"Eeh..enggak boleh loncat loncat sayaang...," begitupun dengan Bara makin over protective.


Opa lalu menuju kamarnya mengambil sesuatu.


"Opa punya hadiah dari Eropa yang belum sempat Opa berikan kemarin."


Opa lalu duduk di kursi ruang keluarga tersebut sambil membawa sesuatu.


Bara dan Yolanda juga ikut duduk di sebelah Opa.


"Ini...bukalah...," perintah Opa Santosa sambil tersenyum kepada keduanya yang nampak penasaran.


Yolanda membuka kotak perhiasan tersebut, nampak lah dua pasang jam tangan merk terkenal.


"Waah..bagus sekali Opa," sahut Bara begitu melihat jam tangan tersebut.


"Cobalah...."


Bara dan Yolanda mencoba memakai jam tangan mewah warna hitam tersebut.


"Bagus..banget.." puji Yolanda sambil menempelkan tangannya ke tangan suaminya sambil meniling niling.


"Yang ini untuk siapa Opa..?," tanya Yolanda sambil memegang Jam tangan yang berwarna keemasan.


"Untuk kalianlah...memang untuk siapa lagi..?," sahut Opa Santosa tersenyum.


Bara dan Yolanda nampak senang dan mencoba yang warna keemasan.


"Mewah..sekali mas..."


"Iya.."


Keduanya masih mengagumi kedua jam tangan mewah tersebut sambil tersenyum gembira.


"Sudah kalian simpan sana..kata nya mau ke kota X nanti keburu makin siang..," perintah Opa Santosa sambil menyerahkan sebuah kunci mobil.


"Lho..," Bara Kaget karena itu kunci mobilnya.


"Kok..bisa ada pada Opa..?."


"Lah..kan mobil ini mobilmu..yang beli Opa..ya kemarin Opa ambil dari rumah utama..karena Opa yakin bakal nemukan kalian," kata Opa Santosa menyerahkan kunci tersebut kepada Bara.


"Terimakasih Opa.," sahut Bara sebelum beranjak untuk bersiap siap.


"Hmm.."


**


Keduanya sudah berganti pakaian yang lebih rapi.


Pakaian kasual yang terkesan santai namun cukup membuat keduanya makin tampan dan cantik.


"Opa kami berangkat dulu..," pamit Bara sambil mencium tangan Opa Santosa.


Yolanda pun mengikuti apa yang Bara lakukan.


"Hati.. hati..Bara ingat pesan Opa ...jaga istri mu..jangan biarkan siapapun menyakitinya..," pesan Opa Santosa sebelum keduanya meninggalkan mansion utama tersebut.


Bara mengangguk..sekarang tak ada lagi keraguan di hatinya untuk menjaga istri dan buah hatinya.


Bara sudah melajukan mobilnya menelusuri jalan raya yang lumayan padat, jarak tempuh dari kota tempat tinggal Opa menuju kota X sekitar satu hingga dua jam perjalanan.


Jika saat lancar sekali bisa satu jam langsung sampai, namun bila macet bisa dua jam bahkan lebih.


Mobil masih melaju dengan tenang, karena saat itu sudah agak siangan para pekerja penglajo sudah berangkat....jalanan terbilang cukup sepi.


Mobil sudah memasuki wilayah kota X.


"Cepet banget mas padahal kita jalannya santai.."


"Iya...kan para pekerja sudah pada berangkat," sahut Bara sambil nampak serius memperhatikan jalanan yang sudah mulai lebih ramai karena memasuki kawasan kota.


Mereka mengobrol ringan sambil mobil terus melaju membelah padatnya jalanan kota besar tersebut.

__ADS_1


"Mas..mas...minggir dulu....," kata Yolanda tiba -tiba.


"Ada apaan sayang..?."


Bara kaget karena tiba-tiba istrinya memerintahkan nya menghentikan kendaraan.


"Bukankah itu si Tarjo...?," kata Yolanda sambil menunjuk seseorang yang masih berjalan seenaknya di pinggir jalan.


"Oh..iya sayang..."


"Ngapain anak itu..jalan kayak gak ada semangat gitu..?."


"Ya..udah samperin sana...kan itu sahabat mas Bara..siapa tahu aja lagi kesusahan..," kata Yolanda kepada suami nya.


Bara tersenyum memandang istrinya.


"Kamu memang bidadari sayaang..," kata Bara sambil mengecup bibir Yolanda dengan tiba -tiba.


Cup..


Bara keluar dari mobilnya.


"Jo...Tarjo..!," panggil Bara dengan lantang tak menghiraukan orang di sekitar nya.


Tarjo kaget..di kota besar ini jarang yang kenal dengannya tapi kini ada yang berteriak memanggil namanya.


Di lihatnya orang itu, nampak gagah dan berdiri di dekat mobilnya yang mewah sambil tersenyum melambai ke arahnya.


BYaaar...


"Eh..Bara..!!," teriak Tarjo sambil tersenyum senang.


Tarjo berlari menghampiri Bara keduanya bersalaman.


"Mau kemana..?," tanya Bara.


Tarjo tersenyum kecut.


"Mau cari kerja..habisnya proyek ku sudah selesai dua hari yang lalu..tapi belum dapet..," jawab Tarjo dengan polos dan jujur.


"Kalau gitu..ikut aku aja..yuk..?."


"Ngaak pa pa..ikut kamu...enggak ganggu kalian..?," sahut Tarjo sambil meniling niling mobil dimana Yolanda duduk.


Bara terkekeh.


"Justru tadi istri ku yang lihat kamu duluan dan menyuruhku minggir memanggilmu..," sahut Bara sambil tersenyum.


"Langsung..naik..," perintah Bara.


Tarjo pun langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang.


"Non Yola..," sapa Tarjo sopan saat membuka mobil.


"Kang .. Tarjo..masuk kang," sahut Yolanda.


Mobil kembali bergerak membelah jalanan.


"Dari mana mau kemana kang..?."


"Hehehe..dari kontrakan bersama... mau nyari kerjaan non..soalnya proyek kemarin udah kelar dua hari yang lalu," kata Tarjo dengan jujur.


"Emang kerja apa yang di cari..?."


"Biasa Non ..cuma kuli..apa aja yang penting halal," sahut Tarjo sambil tersenyum tanpa malu malu.


"Bagus..itu kang..."


"Terus udah dapet..?."


"Belum non...ada..sih, tapi mulai bulan depan..kelamaan mau makan apa nanti aku.."


"Bagaimana kalau kerja denganku..?," kata Bara menyela.


"Yo..aku seneng banget lah.."


"Apapun akan aku kerjakan yang penting bisa ngirimi Tatik uang halal," sahut Tarjo dengan serius.


"Bersih bersih rumah bisa, renovasi kecil kecilan juga bisa, tukang kebun pun aku bisa...cuma kalau nyupir aku enggak bisa ...," kata Tarjo tersenyum kecut.


Bara dan Yolanda tersenyum mendengar jawaban jujur si Tarjo.


Mobil masih melaju.


"Sudah makan belum Jo..?."


"Pagi sih makan nasi uduk..siang ini belum..," kambali Tarjo menjawab dengan jujur.


"Kita nyari makan dulu ya sayang..."


"Iya..mas.."

__ADS_1


Mobil kemudian berbelok di sebuah restoran yang pernah di singgahi Bara dan Yolanda dahulu.


"Enggak alergi masakan laut kan Jo..," tanya Bara karena Tarjo hanya melongo melihat kemewahan restoran itu.


"Hehehe...alergi pas bayarnya.. kalau pas makannya sih enggak..," jawab Tarjo sedikit bergurau.


Semua tergelak mendengar candaan Tarjo yang memang jujur dan apa adanya.


"Ayo..kita makan di sini.."


Ketiganya turun dan menuju sebuah meja yang agak besar.


"Nih..buku menunya... pilih yang kamu suka..," kata Bara kepada sahabat nya tersebut, sedangkan Bara sendiri dan Yolanda melihat buku menu lainnya.


"Aku oseng cumi pedas dan udang asam manis mas.."


"Kamu apa Jo..?," tanya Bara yang melihat Tarjo hanya membolak-balik halaman menu tersebut.


"Mahal.. mahal...semua ..," bisik Tarjo dengan pelan dan ragu memilih menu.


Bara tersenyum mendengar jawaban sahabatnya tersebut.


"Aku ikut..aja deh...semua aku doyan," sahut Tarjo akhirnya.


Bara kemudian memesan tiga oseng cumi pedas, tiga udang asam manis dan satu kakap bakar yang besar.


Makanan sudah datang dan Tarjo membelalakkan matanya melihat banyaknya pesanan.


"Beneran ini untuk kita..kok banyak banget..," bisik Tarjo lagi.


"Pokoknya tugasmu nanti habisin semua ..," kata Bara sambil tersenyum.


"Siap..," kata Tarjo kegirangan.


Semua makan dengan lahap, dan sesuai janjinya memang Tarjo menghabiskan semua makanan di sana, bahkan sisa oseng cumi pedas Bara dan Yolanda juga di sikat...eman...pamali membuang rejeki begitu kata Tarjo.


Bara dan Yolanda senang dengan sikap Tarjo yang jujur apa adanya.


**


Om Jhon masih termangu duduk di belakang galery dimana biasanya dirinya mengobrol bersama Bara.


Memandang bekas kamar Bara dan ruang kerja Bara.


Ada rasa kehilangan semenjak Bara tak di sana.


Baginya Bara bukan orang lain, seakan sudah seperti cucunya saja.


"Pagi Om Jhon..," sebuah suara menghentikan lamunannya.


Masih belum percaya Om Jhon, mengira suara itu hanya halusinasinya saja.


"Pagi Om..," sapa Yolanda, sontak membuat Om Jhon terlonjak kaget.


"Eeh..kirain Om Jhon berhalusinasi..," sahut Om Jhon terkekeh senang.


"Ternyata beneran.."


Semuanya tertawa bersama dengan senang.


"Hehehe.., Om kangen kalian.."


"Makanya kita kemari Om, kami juga kangen Om Jhon.."


Bara lalu membuka kamar yang dulu di tempati nya, sudah tiga hari tak di huninya namun masih bersih karena tertutup rapat.


Mengambil piring lalu menaruh Pisang penyet kesukaan Om Jhon.


"Mau minum apa Om..," tanya Bara sambil meletakkan Piring Pisa di meja depan Om Jhon.


"Seperti biasa..," sahut Om Jhon.


Melihat Bara mau membuat minuman Tarjo langsung bergerak cepat.


"Biar aku yang buat..," kata Tarjo mengikuti Bara.


"Ok..dua kopi dengan sedikit gula dan satu susu Ini...," kata Bara sudah menyeduh susu ibu hamil untuk istrinya.


"Untuk kamu terserah mau buat apa, untuk... susunya tinggal kasih air panas sudah aku kasih air dispenser biar tak rusak karena terlalu panas..," kata Bara memberi petunjuk Tarjo.


"Asiaap..," sahut Tarjo sebelum Bara balik ke depan menemui Om Jhon yang masih berbincang dengan Yolanda.


___________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lain ku...


* Sang Pengacau (silat)


* Jagoanku ternyata CEO (roman**)

__ADS_1


__ADS_2