Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 88 Kehebohan Reuni


__ADS_3

Tamu undangan reuni makin banyak yang berdatangan, semua sudah duduk di tempat duduk yang disediakan, termasuk Tarjo dan Tatik.. istrinya.


Bara masih saja menunggu Yolanda yang baru mengambil tas nya yang tertinggal di rumah.


"Ayook kita duduk di sana saja..," ajak Vivi sambil mencoba menggandeng lengan Bara.


"Sebentar ya..," tolak Bara yang masih duduk di dekat pintu masuk, dimana di sana banyak motor di parkir kan oleh petugas parkir dan hanya beberapa mobil termasuk mobil Vivi.


"Udaah..kamu kesana aja..kan kamu panitia entar di cari yang lain lho..," kata Bara sedikit mengusir Vivi yang masih saja duduk di sebelahnya.


"Enggak pa pa aku nemani kamu aja..," sahut Vivi ngeyel.


"Hadeeuhhh...," batin Bara.


"Vi..sini...dong, kok malah di situ...!," teriak Dimas sambil melambai kepada Vivi.


Dengan malas Vivi berjalan ke arah panitia lainnya, yang berada beberapa langkah dari tempat Bara duduk menunggu Yolanda.


"Apaan sih.. cerewet amat..!," sungut Vivi yang jengkel karena kebersamaanya dengan Bara terganggu.


"Lho..katanya enggak mau dekat dekat sama Bara ," goda Dimas yang melihat Vivi jadi jengkel karena panggilannya.


"Siapa bilaang...??."


"Kan..kamu..yang bilang.. kemaren.."


"Lagian pacarmu....si Edo..entar marah lho..kalau lihat kamu dekat dekat sama cowok lain," kata Dimas sedikit keras hingga Bara bisa mendengar nya.


"Apaan sih kamu..Dim.., bawa bawa nama Edo segala, itu kan sudah berlalu."


Edo dulu adalah gebetan Vivi saat SMP karena Edo adalah anak lurah di kampung nya.


Tak lama kemudian..orang yang di omongkan datang.


Edo nampak datang dengan mobilnya yang hanya biasa biasa saja..dengan pakaian perlente sedikit di paksa kan.


Dia turun dari mobilnya dengan gestur yang sombong karena merasa naik mobil, karena hampir semua naik motor dan hanya berapa mobil saja yang nampak di sana.


Edo memandang Bara dengan sedikit senyuman miring.


Sejak SMP Edo selalu merasa bersaing dengan Bara, Bahkan saat itu yang memanas manasi Vivi untuk menolak Bara....ya si Edo ini.


"Apa enggak malu kalau jadian sama anak orang miskin..," kata Edo kala itu.


Hingga akhirnya Vivi kala itu..benar benar malu meski hanya sekedar berdekatan... lalu menghina Bara sebagai "pungguk merindukan bulan" di depan teman teman lainnya... meskipun sekarang Vivi menyesalinya.


Bara dan Edo saling bertatapan, meski mereka bersaing dahulu namun tak sampai menjurus ke perkelahian.


"Bara..ya..??," kata Edo masih tersenyum miring.


"Edo..," sapa Bara santai.


"Mana motormu..?, apa tadi naik angkot..?," kata Edo sambil tersenyum sedikit lebar.


Bara hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Edo teman seangkatannya yang sombong tersebut.


Keduanya tetap bersalaman meskipun bersaing, lalu Edo melangkah mendekati panitia sebelum ke kursi kursi yang menghadap ke arah pintu masuk gebang sekolah.


"Vivi..," sapa Edo..sambil tersenyum genit.


Vivi hanya tersenyum masam.


"Kenapa si Bara masih duduk di sana..?, masih malu malu sama kamu..? apa..enggak bayar iuran ya..," kata Edo sedikit sarkas.


"Enggak tuh..kami tadi sudah baikan..kok.," kata Vivi yang masih saja gusar hatinya....tak mau lagi terpancing...perkataan Edo seperti dulu, dan kini malah terkesan membela Bara.


"He.he..he... kau sudah tergoda rupanya kini," ejek Edo kepada bekas gebetannya tersebut.


"Bukan urusanmu..," sahut Vivi.


"Sudah..sudah...silahkan duduk Edo..," kata Revan sebagai ketua panitia menengahi percakapan yang mulai memanas tersebut.


Bara yang juga mendengar obrolan itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


Tak berapa lama nampak lah mobil mewah nan gagah memasuki halaman sekolah tersebut.


Posisi tempat duduk para tamu undangan reuni yang menghadap ke arah pintu masuk, membuat orang orang mau tak mau menatap ke arah datangnya para tamu undangan lainnya...dari awal kehadiran hingga sampai duduk di kursi.


Semua menatap ke arah mobil yang Yolanda kendarai dengan pandangan penasaran dan penuh tanda tanya...kecuali Tarjo dan Tatik..tentu saja.

__ADS_1


Yolanda turun dari mobilnya dengan sejuta pesona nya...tolah toleh mencari seseorang.


"Heeh..siapa tuh...cakep beneer...?,'' kata Revan.


"Apa teman kita..?,'' kata nya lagi.


"Kayaknya .. enggak deh..,'" sahut Vivi dengan yakin karena dahulu gadis tercantik seangkatan nya hanya dirinya, sedangkan gadis yang baru datang itu.. sangat... sangat... cantik.


"Sayaang....!!," teriakan Bara mengagetkan semuanya.


Yolanda menoleh ke arah dimana suaminya dan tersenyum.. membuat dirinya makin menawan.


"Haaah..???," Semua tercengang melihat pemandangan tersebut.


Bara menghampiri istrinya... menggandengnya dan berjalan menuju ke kursi tamu yang sebelumnya melewati tempat duduk para panitia.


"Teman..teman.. kenalkan...istri aku ..," kata Bara memperkenalkan Yolanda.


Yolanda mengangguk tersenyum ke arah semuanya.


"Mari...s.silahkan..," hanya Revan yang masih bisa berkata sedikit tergagap, sedangkan yang lain hanya speechless... termasuk Edo apalagi Vivi.


"Teman teman kami duduk dulu..," kata Bara kemudian menggandeng tangan istrinya melenggang dari tempat tersebut.


**


Di rumah utama, tuan Hendrawan masih duduk di kursinya dengan masih gusar.


"Apakah sudah ada berita dari Yolanda..?," tanya tuan Hendrawan kepada nyonya Nursanti.


"Dia hanya membalas baik baik saja saat mama pancing bertanya keadaanya," kata nyonya Nursanti pelan.


"Dimana anak itu..berada..?," geram tuan Hendrawan berkata.


"Benar benar kelewatan...tahu begini aku kejar mereka.. waktu itu.."


"Lho..dimana papa..lihat mereka..?."


"Di parkiran kantor pas papa mau pulang.."


"Saat itu papa lihat anak itu menaiki mobil baru dan membawakan tas Yolanda memasuki mobilnya lalu pergi dan meninggalkan mobil Yolanda di parkiran," kata tuan Hendrawan dengan jengkel.


"Papa..sih..lihat seperti itu malah..di biarkan..," sungut nyonya Nursanti menyalahkan suami nya.


"Ternyata mereka tak di sana..," gerutu tuan Hendrawan makin kesal.


"Apakah mama sudah coba telpon Yolanda..?."


"Bekali kali..bahkan.., namun hanya di alihkan.., mama kirim pesan hanya di balas 'aku baik baik saja ma' begitu balasannya," jawab Nyonya Hendrawan kepada suaminya.


Tuan dan nyonya Hendrawan hanya menghela nafasnya menyadari hal itu.


"Malam nanti papa mau tunggu mereka di apartemen...," kata tuan Hendrawan mengepalkan tangannya.


**


Di galery..Om Jhon masih sibuk mengarah kan para pekerja.


Mereka tetap bekerja meskipun saat itu hari minggu...biar cepat kelar kata Om Jhon.


"Yaa..itu di pasang disitu, tapi yang itu..jangan di sana... karena lukisan itu besar cari..yang dindingnya lebar."


"Lah..disana itu.., dinding yang sempit untuk lukisan yang ukurannya kecil dan dinding yang lebar di pasangkan lukisan yang ukurannya besar..," kata Om Jhon mengarahkan.


"Baik tuan..," sahut para pekerjanya.


Semua lukisan sudah tertata dengan rapi dan teratur.


"Coba lampunya di nyalakan..aku mau lihat bagaimana tampilan ruang ini," sahut Om Jhon.


Klik.....


BYaaar....


"Wonderful....amaziing...banget..," gumam Om Jhon.


Dengan tambahan lampu lampu yang menyorot di tiap tiap lukisan membuat lukisan tersebut makin...waaaah...luar biasa..hanya itu kata yang mampu mewakilinya.


"Bara harus melihat ini..," kata Om Jhon mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


**


Acara reunian..masih berlangsung.


Namun bagi Vivi sudah tak ada yang menarik lagi baginya.


Apalagi saat mengetahui Bara sudah punya gandengan, entah kenapa hatinya..menjadi... perih.


Pandangan matanya tak pernah lepas dari tempat Bara duduk bersama wanitanya.


Beberapa kali pandangan keduanya bertemu..membuat jantung Vivi berdebar kencang, namun hatinya makin perih bagai di iris iris, saat melihat wanita cantik yang ada di samping Bara tak pernah lepas menggandeng nya.


Kembali rasa sesal memenuhi rongga dadanya.


"Maaf kan aku Bara... sebenarnya sejak dulu aku ..jujur menyukaimu.. namun keegoisan dan kesombongan ku membutakan ku..bahkan aku sudah menyakiti hati mu," sesal Vivi..tanpa terasa matanya berkaca-kaca.


Bara yang sudah merasa jenuh akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut meskipun acara masih berlangsung.


"Sayaang kita pulang ya..mas Bara sudah bosan," ajak Bara kepada Yolanda.


Yolanda tersenyum dan mengangguk, sebenarnya dia juga malas sejak tadi..cuma hatinya yang sedikit terbakar cemburu karena ada gadis masa lalu suaminya..di tahan tahannya rasa malas tersebut.


"Ayuuk mas..," sahut Yolanda sambil berdiri.. masih dengan posesif menggandeng lengan suami tampannya, seakan takut di rebut dan di mangsa para betina yang nampak lapar.. termasuk Vivi.


Bara beranjak dari kursinya setelah berbasa-basi dengan sebelahnya yang bahkan Bara lupa siapa mereka.


"Teman teman...aku pamit dulu maaf..aku tak bisa mengikuti acara sampai selesai..," pamit Bara.


"Lho... Bara mau.. kemana..?," tanya Joko salah satu panitia bagian bendahara yang paling tau keluar masuknya dana.


"Terus sambutan dari penyumbang dana terbesar bagaimana..?," kata Joko.


"Maksudnya..?," tanya Bara kebingungan.


"Ini memang acara dadakan ide aku, karena kamu penyumbang dana terbesar di acara ini... harapanku kamu mau memberikan sepatah dua patah kata..," kata Joko.


"Sudah..batalin aja..aku malah malu nanti," sahut Bara yang tetap berlalu setelah kembali pamit dari sana.


Keduanya memasuki mobil yang terlihat sangat kontras dengan mobil lainnya...saking gagah dan bagusnya, kemudian meninggalkan tempat tersebut.


Semua masih ternganga apalagi mendengar perkataan Joko barusan.


"Emang Bara kasih berapa sih..?, kan kita iuran cuma seratus ribu per orang," sahut Revan.


"Sepuluh juta..," sahut Joko.


"Haaah..?!?!? se..pu..luh Ju...ta...??," semua menganga terlebih Vivi dan Edo yang masih berbaur dengan panitia.


**


Bara melajukan mobilnya menuju ke arah pasar dan mall di kota kecil itu.


"Kita beli kado buat pengantin sunatnya ya..," kata Bara.


"He'em mas.." sahut Yolanda dengan hati riang, karena kekhawatirannya selama ini tak terbukti.... Bara suaminya tak ada hubungan apapun dengan gadis lain..termasuk ViVi.


Drrt.. drrt..


"Eeh..telpon mas Bara bunyi, kita menepi sebentar ya," kata Bara menepikan mobilnya.


"Siapa mas..?."


"Oh ..Om Jhon," sahut Bara.


"Halo Om..," sapa Bara.


"Bara...lihat ini...!," kata Om Jhon yang nampak antusias memutarkan ponselnya agar Bara bisa melihat isi galeri.


"Waah... luar biasa...Om..," sahut Bara yang juga nampak kaget dan terpesona.


"Ya..udah..Om Jhon hanya ingin memperlihatkan isi galeri..," kata Om Jhon.


"Jangan lupa pisang nya..," Om Jhon lagi sebelum mematikan panggilan ponselnya.


"Uups.. Iya Om," sahut Bara sambil memukul jidatnya.


"Hampir aja lupa," sahut Bara.


Yolanda tersenyum melihat tingkah suaminya.

__ADS_1


____________


Selamat membaca..dukung terus..ya...jangan lupa tinggalkan jejaknya....


__ADS_2