
Di angkatnya tubuh ramping istrinya dan di baringkan di ranjang yang empuk itu.
Kembali di tatap wajah kekasih hatinya lalu di kecupnya, dari dahi..lalu turun ke pipi dan kembali m*l*m*t bibir kenyal yang kini menjadi candu baginya.
Dihisapnya leher jenjang perempuan yang kini sudah mengisi hatinya, dan di tinggalkan jejak kepemilikan di sana.
"Auww..sayang... jangan di sana," rengek Yolanda dengan nafas memburu.
"Terus di mana..?," sambil terengah-engah.
Dengan malu malu di tujukan bagian dari tubuhnya yang biasa tertutup, diantara dua bukit kembarnya.
Tanpa banyak bertanya lagi digigitnya pelan bagian yang di tunjuk istrinya, hingga terdengar erangan kecil dari mulut indahnya.
Kemudian beralih di dua puncak piramida kembar yang kini sudah tak tertutup apapun.
Desahan pelan terdengar dari keduanya, hingga akhirnya keduanya berhenti menggerakkan tubuhnya seiring ledakan semburan produk cairan protein dari tubuh mereka.
**
Pagi dini hari Bara sudah terbangun, badannya terasa segar setelah semalam tidur nyenyak.
Di pandanginya bidadari yang masih terlelap di sebelah nya.
Bidadari yang semalam sudah membuat lututnya lemas namun membuatnya bisa terlelap..hingga kini terasa segar karena tidurnya yang berkualitas.
Diliriknya jam di dinding apartemen masih jam 03.35 dini hari, masih terlalu pagi membangunkan bidadari nya.
Bara tersenyum sendiri bila mengingat tentang perasaannya pada "monster cantik" nya.
Kini dirinya seakan mendapat harta yang paling berharga di hidupnya.
Selesai mandi Bara langsung ke dapur menyiapkan sarapan pagi untuk nya dan juga bekal nya di kantor.
Lauk dari kampung yang kemarin di bawakan ibu nya sudah terhidang di meja makan.
Sambil menunggu waktu subuh, Bara menata beberapa barang bawaan dari desa termasuk pisang pemberian si Tarjo.
Adzan subuh terdengar Bara berniat membangunkan istrinya untuk mandi dan melaksanakan kewajibannya.
"Lho..malah sudah mandi..?," kata Bara.
Yolanda tersenyum mengangguk.
"Aku terbangun karena mas Bara enggak ada," sahutnya pelan.
"Sholat dulu sayang..," perintah Bara pelan.
Yolanda kembali mengangguk.
"Mau minum apa..?."
"Susu aja mas."
Mereka berjalan beriringan menuju ke dapur, kemudian Yolanda berjalan ke arah ruangan dekat balkon yang di jadikan mushola di apartemen tersebut.
**
Di meja makan sudah terhidang dua cangkir minuman hangat serta dua piring yang masih tengkurap, karena belum di gunakan.
Nasi masih di tempat nya biar selalu hangat, serta lauk yang tak perlu di panaskan.
Selesai menjalankan kewajibannya Yolanda berjalan menuju meja makan.
"Ini masih pagi banget mas untuk sarapan," kata Yolanda.
"Kamu mau roti..?," nanti mas Bara buatkan.
"Enggak usah..mas."
"Mas Bara makan saja.., aku bisa buat sendiri kok," sahut Yolanda.
"Beneran bisa bakar roti..? apa nanti mas Bara buatkan..?," kata Bara sambil mulai menyendok kan makanan ke mulutnya.
"Aku oles aja sama selai," sahut Yolanda sambil tersenyum malu malu.
Yolanda memang belum bisa membuat roti di mesin pembakar, karena selama ini semua itu tak pernah di lakukannya...di rumahnya semua ada petugasnya.
"Mas Bara mau pakai lauk yang mana..?," tanya Yolanda yang malah menyiapkan bekal untuk Bara.
__ADS_1
"Enggak usah sayang nanti mas akan tata sendiri."
"Iih..Mas Bara..!, aku kan juga pingin menyiapkan bekal makanan untuk suamiku," sungut Yolanda masih terus memasukkan nasi di tempat bekal.
Bara tersenyum sambil menghabiskan makanannya.
"Pakai ini..ini..dan..ini," kata Bara.
"Sedikit sedikit aja sayang .. lauknya," kata Bara kembali.
Yolanda mengangguk pelan.
"Segini..?."
"He'em."
"Kamu enggak bawa bekal..?."
Yolanda menggeleng.
"Kan udah ada jatah coffe break dan makan siang di kantor."
"Oh..iya..istriku..pejabat perusahaan ," sahut Bara pelan tersenyum kecil.
Acara sarapan pagi sudah selesai.
Kemabli mereka bersiap untuk bekerja, dengan berganti pakaian.
"Maas..Bara..!!."
Bara yang mengganti pakaian di kamar belakang kaget mendengar teriakan istrinya.
"Ada apa sayaang..?," tanya Bara bergegas menghampiri.
"Besok lagi jangan gigit di sini..," tunjuk Yolanda di lehernya.
Bara juga kaget dengan hasil perbuatannya.
"M.. maaf sayang..mas Bara kalap semalam..," kata Bara pelan.
"Trus gimana nih..?." Yolanda mulai panik.
"Memang mas Bara punya..?."
"Ada ..sih, tapi enggak tahu sesuai ..apa enggak sama baju mu sayang," kata Bara lemes tapi tetep menuju ke kamar tempat menyimpan barang pribadi nya.
"Ini sayang..," kata Bara menyerahkan Syal tersebut.
"Pas ... sesuai kok mas,.. nanti aku pakai di kantor aja," sahut Yolanda.
Semua sudah siap dan mulai akan meninggalkan apartemen.
Bara berniat membuka pintu apartemen.
"Mas..."
"Apaa..?.."
"Sayang dulu.., aku nanti kan pulang ke rumah enggak kesini."
Bara meletakkan barang bawaan, kemudian mendekati istrinya dan memeluknya, mengecup kening dan mencium rambut kepala istrinya.
"Mas.. Bara akan berjuang mendapatkan restu tuan dan nyonya Hendrawan sayang."
Yolanda menyusup kan kepalanya di dada bidang suaminya, mereka berpelukan beberapa saat.
"Ayuuk kita berangkat," kata Bara setelah di rasa cukup mengisi energi kekuatan cinta mereka.
Mereka meninggalkan ruang apartemen menggunakan lift menuju lobi gedung tersebut.
"Bara..."
"Om.. Jhon.."
"Kok pagi amat.."
"Iya..Om..mau antar istri dulu ke kantor nya," sahut Bara sambil tersenyum sopan.
Om Jhon tersenyum melambaikan tangannya kemudian pergi ke arah lain.
__ADS_1
"See you.."
"Ya...Om.."
Bara mengantarkan Yolanda menuju kantornya kemudian baru berangkat ke kantornya sendiri.
**
Setelah memarkirkan mobilnya Bara bergegas menuju kantornya.
Kantor Bara berada di lantai tiga dari pusat gedung perkantoran tujuh lantai itu.
Karena mengantar Yolanda dahulu jadi Bara datang ke kantor agak telat dari biasanya, tapi tak telat ..jam kantor nya.
Bara yang tergesa kembali hampir menabrak seseorang.
"Aaa..,"
Suara gadis yang hampir tertabrak Bara terdengar memekik kecil.
Ciiiitt...
"Uuuuh... untung saja rem nya pakem...kalau enggak..udah nempel tuh badanku di badan gadis itu." batin Bara.
"Maaf ..," kata Bara pelan.
"Kamu lagi..??," sungut gadis itu yang tak lain adalah Clarissa anak Wijaya.
Mereka masih menunggu di depan lift.
"Ngapain sih selalu tergesa bila kerja..," kata gadis itu.
"Takut telat mbak..," sahut Bara.
"Aaa..suaranya ..cowok banget..," batin Clarissa.
"Aku Clarissa..," kata gadis itu pelan.
"Bara..," balas Bara dengan sopan.
Tiing..
Pintu lift terbuka keduanya memasuki ruangan sempit itu.
Bara yang menyadari itu langsung memilih berdiri di paling pojok.
Clarissa yang menyadari itu malah mendekat ke arah Bara, dan saat pintu mau di tutup tiba tiba datang pengguna lift yang lainnya menahan pintu lift dan memasuki lift sempit tersebut.
Semua nampak berdesakan, membuat Bara tak nyaman karena
kayaknya Clarissa sengaja menempelkan badannya di badan Bara yang tegap dan berotot.
"Uuuh...ya.. Allah..apaan sih gadis ini..," batin Bara.
"Wiih..kenceng banget... badannya..," batin Clarissa yang malah berpegangan pada badan Bara.
Tiing...
Pintu lantai tiga membuka.
"Maaf..maaf.. permisi..," kata Bara meminta jalan kepada pengguna lift yang lainnya.
Clarissa tanpa sadar masih menempel dan mengikuti Bara keluar.
"Lho..mbak kok malah ikut keluar..?," kata Bara.
"Uups..," Clarissa menutup mulutnya dengan wajah memerah, kemudian kembali masuk ke lift yang untung nya masih terbuka.
Bara hanya menggeleng gelengkan kepalanya, kemudian berjalan ke ruangannya.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya..
Baca juga karya lainku
* Sang Pengacau (silat)
* Jagoan ku ternyata CEO (roman**)
__ADS_1