Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 146 Tiba di Desa


__ADS_3

"SELAMAT DATANG di OBYEK WISATA ALAM PERMATA HATI KU"


Demikian poster poster tersebut bertebaran di setiap jalan menuju ke kampung halaman Bara.


Padahal jarak poster tersebut dengan kampung masih tiga puluhan kilo jauhnya.


"Mas makin ke kampung makin banyak posternya..," kata Yolanda yang masih rebahan di bahu suaminya, mereka yang semobil dengan di supiri pak Bandi nampak menikmati perjalanan menuju desa.


"Nunggu berapa lama tadi di bandara pak...," tanya Bara memecah keheningan dengan pak Bandi.


"Lumayan lama .. he..he.., tapi tak apa tuan muda malah asyik tadi ngobrol ngobrol sambil makan bekal dari rumah utama," kata pak Bandi sambil tersenyum dengan pandangan fokus ke depan karena saat ini dia berada di posisi paling depan sendiri, sedangkan Tarjo paling belakang takutnya ada yang terpisah dan tercecer.


"Mendengar cerita si Tarjo yang lucu jadi terhibur," kata pak Bandi lagi masih fokus mengawasi jalanan sambil menyetir.


"Memang anak itu suka melucu..," sahut Bara dari belakang dan memeluk pinggang istrinya yang kini malah rebahan di pangkuannya karena perjalanan masih lumayan jauh.


Enam mobil itu berjalan iring iringan karena kini sudah makin memasuki kecamatan dimana desa Bara berada.


**


"Andi..itu tempat sampah yang di depan di rapikan nanti kalau mobil besan pak Darmais datang bisa langsung masuk ke area parkir sana," kata pak Sarman kepada Andi pemuda kampung yang juga di rekrut untuk operasional obyek wisata Permata hatiku.


"Ya pak..," sahut Andi lalu berlari ke halaman depan di mana di sana ada tempat sampah sedikit besar dan di khawatir kan menggangu lalu lintas disana.


Pak Sarman lalu mengelilingi area area lokasi di sana memastikan semua nya sudah beres.


"Ayo..sampah sampah di sana di bereskan karena itu menggangu pandangan..," perintah pak Sarman kepada para pekerja obyek wisata tersebut.


Pekerja yang baru beberapa orang itupun dengan segera memberesi apa apa yang kurang.


Pak Sarman kembali ke depan menunggu pak Darmais yang katanya sudah mulai dekat.


"Pak Sarman..!," panggil pak Kohar bapaknya Tatik kepada pak Sarman sambil mendekatinya.


"Eh..pak Kohar..ada apa pak..?."


Pak Kohar langsung tersenyum setelah dekat, mereka memang tetanggaan.


"Benar hari ini pak Darmais pulang..?."


"Iya pak..sore tadi sudah sampai di Bandara," sahut pak Sarman tersenyum ke arah pak Kohar.


"Ada apa ya pak..?."

__ADS_1


"Enggak pak..saya juga menunggu Tatik dan Tarjo kan juga ikut pulang katanya," sahut pak Kohar.


"Oh..iya ya...katanya mereka bekerja di tempat mas Bara," kata Pak Sarman yang tersadar lalu tersenyum.


Keduanya lalu tersenyum dan duduk di halaman depan dimana sekarang di sana juga ada tempat duduk karena itu menopang kenyamanan pengunjung obyek wisata alam Permata Hatiku.


**


Hari mendekati petang ketika iring iringan mobil memasuki kampung Bara.


Banyak nya mobil yang lewat dengan beriringan menarik perhatian para warga yang lainnya, apalagi saat itu mendekati Maghrib sehingga banyak warga yang sudah keluar dari rumah nya karena bersiap menuju masjid.


"Eeh..mobil siapa tuh..?," tanya si A.


"Nggak tau.. pejabat kali mau survei..," sahut si B menganggapi pertanyaan si A.


"Nggak mungkinlah..pejabat petang petang begini survei..," sahut si C menimpali dua orang lainnya.


Iring iringan mobil akhirnya berhenti di rumah pak Darmais, dan barulah para warga "ngeh" dengan siapa yang ada di dalam mobil mobil tersebut.


"Ooh..keluarga pak Darmais..," kata orang yang tak terlalu tau.


"Besan pak Darmais..," kata orang orang yang sudah di beritahukan oleh keluarga pak Kohar lewat anaknya.


Pak Sarman yang melihat iring iringan itu langsung mengarahkan mobil mobil tersebut ke parkiran yang ada di dalam area obyek wisata, bahkan langsung ke depan mansion karena ada akses ke sana.


**


Semua sudah turun dari mobil dan berjalan menuju ke Mansion.


"Iya..sangat segar sekali..," sahut Papa Hendrawan sambil merentangkan kedua tangannya.


Semua barang barang mulai di turunkan oleh para pengawal dan sopir, serta dua koki yang memang di bawa.


Papa Hedrawan mengangguk anggukan kepala melihat situasi di sana, semua nampak indah dan berkelas, nampak puas dengan pembangunan di tempat tersebut.


Meskipun mansion itu tak sebesar milik Opa Santosa namun cukup besar untuk ukuran di kampung tersebut, itu juga membuat semua nampak senang.


Semua memasuki mansion tersebut setelah di buka oleh pak Sarman.


"Ini kamar kami di mana...?," tanya mama Nursanti sambil tolah toleh.


"Mama keliling saja nanti milih yang mana..," kata Yolanda kepada mama nya, sedangkan dirinya memilih kamar di lantai dua dengan balkon di depan yang luas.

__ADS_1


Pak Darmais lalu menerangkan semua kamar, sesuai dengan rancangan awal Bara.


"Kamar bapak dan Ibu di sana, kamar Nak Yola benar di atas dan untuk Opa bisa menempati kamar yang di samping kanan maupun kiri terserah Opa sama pak Jhonson mau yang mana," kata pak Darmais menerangkan.


Semua mengangguk lalu menuju ke kamar yang di maksud.


"Pak ikan dan udang sudah ada di dapur Mansion," kata pak Sarman kepada pak Darmais.


"Terima kasih pak Sarman," sahut Bara sebelum ikut naik dan menyusul istrinya, sedangkan pak Darmais mengangguk dan tersenyum ke arah pak Sarman.


Pak Darmais pun kembali ke rumahnya sendiri yang ada di bawah, bersama istri dan kedua anaknya sambil membawa barang bawaan masing masing.


**


Setelah sholat Maghrib, pak Darmais dan Bu Romlah serta kedua anaknya kembali ke Mansion.


Bu Romlah membawa aneka sayuran segar yang akan di masak di mansion, tak lupa mangga muda yang sudah di petik sore tadi oleh anak buah pak Sarman.


Bu Romlah langsung menuju ke dapur mansion sambil membawa sekeranjang sayuran tersebut untuk di serahkan ke koki keluarga tuan Hendrawan, sedangkan pak Darmais langsung bergabung dengan besan nya beserta keluarga nya yang tengah duduk duduk di serambi samping mansion yang berbatasan dengan taman WISATA ALAM.


"Pak ini ada aneka sayuran segar, mungkin bisa di olah menjadi sayur apa terserah bapak bapak," kata Bu Romlah menghampiri koki yang sedang mengolah ikan dan udang tersebut.


"Oh iya Bu terima kasih..," sahut salah satu koki itu menyambut keranjang sayuran tersebut.


Semua nampak menikmati suasana malam hari tersebut di samping mansion sambil bercakap dan bersedau gurau.


"Loh..Bapak sudah ke sini lagi..?," kata Bara yang barusan sholat Maghrib di kamarnya bersama istrinya.


"Iya .., baru saja bersama ibu dan adikmu..."


"Mana adek adeknya pak..?." tanya Yolanda dengan pandangan memutar mencari keberadaan nya.


"Masih di dapur tadi membawa sayuran segar untuk koki juga mangga muda untuk nak Yola jika masih pingin.," kata pak Darmais kepada menantunya tersebut.


Yolanda bersorak kecil mendengar buah mangga di sebutkan.


"Makan mangganya nanti habis makan malam saja jangan sekarang," sahut mama Nursanti memotong percakapan itu.


"Iya..mah..," sahut Yolanda sambil tersenyum senang.


____________


***Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan like , vote, hadiah dan koment nya..

__ADS_1


Baca juga karya lainku dengan mengklik profil ku.....


Terima kasih***....


__ADS_2