
Rapat di galeri hari itu sudah selesai, selain membahas program kerja dan laporan keuangan, juga kini ada agenda baru yaitu akan memasukan seni kriya di Arts Museum.
"Baiklah..berarti kita sudah sepakat jika kita akan menambah koleksi di museum kita dari seni kriya," kata Bara sebelum rapat di bubarkan.
Semua mengangguk mendengar uraian Bara dan akhirnya rapat tersebut benar benar di bubarkan.
Pak Bambang dan pak Poernomo yang merupakan bagian dari manajemen Arts Museum, sudah kembali ke ruang depan, untuk melanjutkan kembali pekerjaan nya karena pengunjung makin ramai.
Tinggal Om Jhon dan Bara yang masih duduk di ruang rapat tersebut.
"Om Bara pamit dulu .., enggak bisa lama lama karena mau periksa kehamilan Yolanda sore nanti..," kata Bara berpamitan kepada om Jhon sambil keduanya berdiri dari duduknya.
Sambil berjalan mereka masih tetap mengobrol.
"Nanti teman teman komunitas mau Bara hubungi dulu om untuk kesediannya memasok seni kriya."
Om Jhon hanya mengangguk sambil melangkah mensejajarkan dengan langkah Bara.
"Karena kini Bara sudah kerja di kantor jadi mungkin tak setiap saat bisa ke sini, tapi tiap sabtu pasti Bara usahakan ke galeri."
"Ya..Om tahu kamu kini sibuk.."
"Jadi agenda besok Sabtu selain membahas kegiatan kita di tiap minggunya juga membahas seni kriya."
"Nanti sample nya akan Bara suruh antar hari itu juga, jadi kita semua nanti bisa memilih mana yang bisa kita pajang atau tidak."
"Ya..," sahut Om Jhon.
"Oh..ya..sekarang kan Om banyak berada di sini..sudah tak lagi ke apartemen," kata Om Jhon sambil tersenyum.
"Jadi kalau kamu ada waktu mau mampir habis ngantor, pasti kita bisa ketemu."
"Oh gitu ya Om..," sahut Bara yang kini sedikit terkejut.
"Apalagi kini ada Tatik jadi Om malah tak susah keluar untuk nyari makan."
"Eeh.."
"Tatik jadi juru masak di mes sini, bagi yang berminat..," terang om Jhon lagi.
"Jadi Tatik juga Om gaji sebagai di karyawan sini."
Bara menoleh ke arah om Jhon karena kaget.
"Syukurlah...terima kasih Om... sudah menolong teman teman ku..," kata Bara terkejut tapi cukup senang.
Keduanya berjalan hingga seakan om Jhon mengantar Bara sampai di tempat parkir mobilnya.
"Waah..mobil baru nih..?."
"Enggak Om punya papa Hendrawan..," sahut Bara tersenyum kecil.
Om Jhon tersenyum lagi mengingat dulu mereka (mertua dan menantu) pernah ribut.
"Hati hati..," pesan Om Jhon ketika Bara sudah membuka pintu mobilnya.
"Lho...Bosbro..dah mau pulang to..?," teriak Tarjo tiba -tiba.
Bara menghentikan gerakannya.
"Iya..Jo mau periksakan istri ke dokter kandungan.."
"Ya udah hati hati..''
"Ok...jangan lupa belajar nyetir mobil nya biar cepet bisa...tuh mobil box nya sudah siap seloroh Bara," sambil menunjuk Mobil box galeri yang ada di car port di samping mobil dan motor Om Jhon.
"Iya...Om juga sudah wanti wanti biar cepat mahir, bahkan kalau malam om suruh berlatih di halaman sini setelah pengunjung malam sepi," sahut Om Jhon yang masih berdiri di teras bangunan tersebut.
__ADS_1
"Ya udah ..Om Jhon,..Tarjo... Bara pamit," kata Bara lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan Arts Museum.
**
Samapi di rumah Bara sudah di tunggu istrinya.
Assalamualaikum.."
"Waalaikumssalam..," sahut Yolanda sudah berada di ruang tamu.
"Lho..kok sudah ada di sini..?."
"Nunggu mas Bara..rasanya lama banget..," sahut Yolanda sambil mencebik.
Bara tersenyum lalu memeluk istrinya.
Keduanya berjalan beriringan sambil Yolanda bergelayutan manja di lengan suaminya.
"Assalamualaikum..pa..ma..," sapa Bara kepada kedua mertuanya.
"Waalaikumssalam..," balas papa Hendrawan dan mama Nursanti sambil tersenyum melihat Yolanda yang terlihat sangat manja kepada suaminya.
"Sudah beres urusan galeri..?."
"Sudah pah..cuma laporan kegiatan dan rencana program kedepan nya," sahut Bara sambil duduk di ruang keluarga itu.
"Kapan kapan papa juga pengen main main ke galeri.," kata papa Hedrawan sambil tersenyum.
"Mama malah kalau enggak salah rabu depan ke sana bersama ibu ibu pejabat yang mengurusi pariwisata kota," sahut mama Nursanti tersenyum bangga.
"Eh..Iya..mah..?.," seru Bara dan Yolanda bersamaan.
"Iya...kan mamah sudah bilang pagi tadi, bahwa mama menjadi pengurus perkumpulan ibu ibu pejabat kota."
"Tugasnya adalah menjamu ibu ibu pejabat kota lain yang berkunjung ke kota kita untuk keliling kota memperkenalkan keunggulan kota ini salah satunya adalah museum Bara..," terang mama Nursanti.
"Jadi rabu besok mama mau ke Arts Museum soalnya ada istri perwakilan duta dari luar negeri yang ingin melihat lihat keunggulan kota kita," sahut mama Nursanti kembali.
Makan siang sudah tiba dan siap di meja makan, percakapan mereka terhenti saat pelayanan datang memberitahukan hal tersebut.
**
Habis sholat ashar semua bersiap untuk memeriksakan kehamilan Yolanda.
"Kita mau periksa di mana sih mah..?," tanya papa Hendrawan sambil mengancingkan bajunya.
"Teman mama," sahut mama Nursanti sambil mengoleskan lipstik di bibir nya.
"Dokter Miranda..?."
"Ish..papa..bukan lah, dokter Miranda kan bukan dokter kandungan beliau dokter anak."
"Terus siapa..?," kata papa Hendrawan lagi sambil menyisir rambut nya yang sudah ada satu dua uban.
"Dokter Lily..teman kuliah Mama, dulu satu kampus beda jurusan," sahut mama Nursanti.
"Oh..istri dokter Dian .."
"He'em.."
Mama Nursanti sudah rapi dan siap.
"Ayuk Pah..mama tak sabar lihat baby twins."
"Papa juga mah.."
Keduanya keluar dari kamarnya dan ternyata anaknya malah masih berdandan jadi mereka malah menunggu.
__ADS_1
**
Bara sudah menyetir mobilnya dengan papa Hendrawan di samping nya dan mama serta Yolanda duduk di belakang.
Satu mobil lagi para pengawal yang selalu mengikuti kemanapun tuan Hendrawan pergi.
"Tempat nya mana sih pah..?."
"Papa juga belum tahu..mama yang sahabatan yang tahu," sahut papa Hedrawan kepada Bara.
"Lurus aja..nanti pertigaan hotel Asia belok kanan dari sana sudah dekat..," kata mama Nursanti menerangkan dari kursi belakang.
Bara kembali fokus menyetir, begitu sampai pertigaan hotel Asia Bara memutar setir ke kanan.
"Nah..itu gang depan belok kanan..," kata mama Nursanti lagi.
Mobil sudah tiba di rumah yang juga tempat praktek tersebut.
"Kita masuk saja mama sudah menghubungi nya tadi, biar pengawal parkir di luar," kata mama Nursanti.
Papa menghubungi pengawal sesuai yang di katakan mama Nursanti untuk menunggu di luar lokasi.
Begitu mobil tiba di halaman depan rumah sudah ada pembantu dokter itu yang menyambutnya.
Rupanya pintu masuk pasien dan rumah tinggal beda, dan mama Nursanti diarahkan masuk lewat pintu rumah tinggal.
"Silahkan nyonya Nursanti..," kata pelayan itu yang rupanya sudah kenal dengan nyonya Nursanti tersebut.
"Lily masih dirumah apa sudah ke ruang praktek...?."
"Bu dokter Lily masih menunggu nyonya Nursanti di rumah," kata pelayan itu tersenyum ramah.
"Baiklah terima kasih ya..," sahut mama Nursanti.
**
Opa Santosa yang di tinggal cucu cucu nya menginap ke rumah utama sedikit kesepian.
"Mereka kok enggak pulang pulang sih..malah mau menginap lagi..," gerutu Opa Santosa sedikit cemberut.
"Joe...," teriak Opa Santosa kepada asisten juga pengawal nya tersebut.
"Iya..tuan.."
"Siapkan mobil kita ke rumah utama, aku kangen Bara dan Yolanda..!," sungut Opa Santosa.
Asisten Joe hanya mengangguk dan tersenyum melihat tingkah Opa Santosa yang kini merajuk seperti anak kecil kehilangan barang kesayangan nya.
"Mereka mau merebut cucu cucuku..," gumamnya sambil cemberut.
Asisten Joe hanya mengangguk dan kembali tersenyum.
"Mobil sudah siap tuan.."
"Ayuuk berangkat .."
"Mari silahkan tuan.." kata asisten Joe sambil mempersilahkan Opa Santosa berjalan ke depan.
"Aku mau menginap di rumah utama..tolong jaga rumah ini..," kata Opa kepada kepala rumah tangga di mansion itu.
"Baik tuan...tuan tak perlu mencemaskan mansioan," kata kepala urusan rumah tangga tersebut sambil membungkuk hormat.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku
__ADS_1
* Sang Pengacau
* Jagoan ku ternyata CEO**