
POV Hendrawan
Seharian tadi aku dari kampung nya si Bara, ketemu sama kedua orang tuanya.
Untung saja aku tak sampai lepas kendali di awal ketemu, dengan beberapa tindakanku maupun sikapku yang konyol.
Jadi tak menanggung malu karena ternyata mereka orang yang baik meskipun sangat sederhana.
Bapaknya yang seusia dengan ku sangat sopan terhadapku.
Dan kayaknya mereka sekeluarga sangat menyayangi Yolanda anakku...dengan tulus.
Bahkan aku sempat lihat foto pernikahan Bara dan Yolanda di ruang tengah dengan bingkai yang sangat cantik.
Kami berbincang cukup lama hingga akhirnya aku tahu sesuatu yang membuat pandangan ku terhadap Bara berubah sepenuhnya.
Ternyata anak itu benar benar istimewa berbeda dengan anak yang lainnya.
Aku jadi tahu kenapa dahulu anak itu meminta uang muka saat mau menikah... ternyata untuk membiayai operasi bapaknya, dan itu semua sudah di kuatkan dengan pengakuan Bandi supirku yang dahulu mengantarnya ke rumah sakit...waktu aku tanya saat balik pulang tadi.
Aku yang juga melihat terobosan rancangan bisnisnya.... tak mampu menyembunyikan kekagumanku dengan proyek yang saat ini di rintisnya.
"Luar biasa..anak ini," hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Aku jadi menyesal dengan sikapku kemarin..kemarin...., apalagi aku sampai menamparnya sekeras itu..lalu mengusirnya dari hunian apartemen.
Benar ..benar..menyesal aku.
Tapi dimana sekarang mereka....berada..? aku sangat sedih.
Aku pulang dari desa dengan perasaan yang campur aduk... antara bingung karena mereka tak di sana, namun juga senang mengetahui Bara bukan seorang bajingan... semacam anak sahabat ku.
Sampai di rumah aku masih memikirkan semua hal tersebut.
*
Di mansion utama Opa Santosa nampak sangat gembira.
Rumahnya makin terlihat hidup dengan hadirnya dua orang yaitu cucu dan cucu menantu nya.
Sambil ikut duduk duduk di taman samping mansion, Opa nampak membaca majalah bisnis kesukaanya.
"Mas..sini..,"seru Yolanda kepada Bara.
Yolanda nampak duduk di ayunan kesukaanya.. jika pas sedang ke tempat Opa.
"Kenapa sayang..?," kata Bara mendekati istrinya yang masih duduk di dalam ayunan.
"Duduk sini..," sahut Yolanda menunjuk ke tempat duduk di sampingnya.
Ayunan tersebut berbentuk seperti telur besar dengan lubang yang besar juga.
"Emang kuat kita duduki berdua..?," sahut Bara yang nampak ragu ragu.
"Kuatlah....inikan memang buat semua usia," sahut Yolanda dari dalam ayunan.
Bara melihat sekilas struktur dari ayunan tersebut yang memang sangat kokoh, kemudian ikut masuk ke dalam lubang telur tersebut lalu menutup pintunya.
Yolanda yang nampak kesenangan mulai mengayunkan mainan ayunan tersebut.
Rasanya kembali seperti anak kecil saja yang asyik bermain di ayunan.
Keduanya nampak tertawa tawa senang sambil berpelukan.
Opa Santosa sangat senang melihat semua itu.
"Hmm..dulu aku buat ayunan itu untuk cucuku...eh..siapa mengira nanti cucu buyut ku juga bisa main main di situ..," batin Opa sambil menikmati suasana sore bersama cucu cucunya.
"Kapan kita mau periksa kandungannya..?," tanya Opa sambil masih membaca majalah bisnis nya. karena jarak ayunan dan Opa duduk masih satu lokasi.
"Nanti habis maghrib aja Opa..," sahut Yolanda sambil bermain dengan ayunan nya.
"Jangan malam malam ..nanti malah banyak antrianya," sahut Bara memperingatkan Yolanda.
"Masalah itu tenang aja...Opa sudah menelpon dokternya, kan itu teman Opa....namanya dokter Rustam ," sahut Opa Santosa.
__ADS_1
"Kalau begitu kita berkemas sekarang saja..," usul Bara yang sudah tak sabar ingin segera mengetahui hasil pemeriksaan nya.
Opa tersenyum melihat ketidak sabaran Bara tersebut.
**
Om Jhon yang berada di galeri sedikit lesu.
Pasalnya ...Bara teman mengobrol nya tak lagi di sana.
Hanya di temani oleh beberapa orang termasuk pak Karmin, tapi mereka tak seru seperti Bara bagi om Jhon.
"Tuan... Jhonson ini mau di singkirkan di mana..?," tanya pak Karmin tentang alat alat lukis Bara.
"Biarkan di sana saja.," sahut Om Jhon sambil berdiri meninggalkan tempat duduknya.
"Nanti kalau pas anaknya kesini kan bisa berkarya di sana, toh kamar itu tak ada yang menempati nya," kata Om Jhon lagi.
Om Jhon kemudian berjalan menuju ruang galeri yang masih banyak pengunjung meskipun sudah sore.
Antusiasme masyarakat tenyata sangat luar biasa, dari yang hanya sekedar melihat lihat atau memang ada yang benar benar butuh ingin membeli lukisan kategori "for sale".
"Bagaimana grafik pergerakan pengunjung maupun transaksi..di galeri..?," tanya Om Jhon kepada manager operasional yang bernama Poernomo.
"Sangat bagus tuan Jhonson... padahal kita baru melakukan promosi sekedarnya..coba jika kita mau bekerja sama dengan instansi lainnya pasti makin banyak pengunjung dan penikmat lukisan yang akan kemari," sahut Poernomo.
"Terus untuk lukisan baru belum kita promosikan secara terbuka," kata Poernomo lagi.
"Yang mana?."
"Yang berjudul HARI BARU HARAPAN BARU..,"sahut Poernomo kembali.
"Lakukan saja nanti promosi nya setelah event kita bersama dinas pariwisata dari pemerintah selesai," terang om Jhon.
**
Bara bersama Yolanda dan Opa Santosa sudah berangkat ke praktekan dr Rustam SpOG.
Salah satu dokter kandungan yang ada di kota Opa Santosa tinggal.
Bara yang menjadi supir nya kali ini, sedang Yolanda duduk di sebelahnya sedang Opa duduk di belakang.
Ada satu mobil lagi di belakang yaitu pengawal pribadi Opa yang selalu mengawal kemanapun berada, ada empat orang termasuk sopir di sana.
"Belokan depan nanti ambil yang kiri..," kata Opa memberikan petunjuknya.
"Iya Opa..," sahut Bara sambil mengangguk.
Kemudian Opa Santosa bercerita sambil memberikan petunjuk kepada Bara
"Dahulu Oma mu kontrol kandungan ya....disini..waktu mengandung Hendrawan papamu, terus Nursanti mamamu waktu mengandung kamu ya...pertama kontrol di sini sebelum pindah ke rumah utama..."
"Sekarang kamu kontrol kandungan di sini...," kata Opa Santosa yang nampak senang sekali.
"Berarti Opa sudah lama kenal dengan dokter ini..?," sahut Bara.
"Ya..lama sekali..dan juga sudah lama tak bertemu.."
"Jadi tadi sempat kaget saat Opa telpon mau kontrol kandungan.. hehehe..," Opa Santosa terkekeh geli.
Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang.
"Pelan pelan di depan..itu..rumah dokter Rustam SpOG..," kata opa Santosa memberikan petunjuk nya.
Rumah yang lumayan megah dengan halaman yang luas.
Bara membelokkan mobilnya masuk ke halaman rumah tersebut.
"Kok sudah ramai Opa....pasiennya," kata Yolanda.
"Tenang saja Opa akan menelpon nya lagi..,"sahut Opa Santosa.
Mobil sudah berhenti dan parkir sesuai arahan petugas parkir nya.
"Assalamu'alaikum.."
__ADS_1
"Waalaikumssalam.."
"Aku sudah di parkiran depan..," sahut Opa.
"Ya..nanti ada yang jemput untuk masuk..," balas dr Rustam SpOG.
Tak berapa lama ada perempuan dengan baju seragam.. klinik tersebut yang juga rawat inap untuk kebidanan dan kandungan menghampiri.
"Bapak Santosa ya..?," sapa petugas tersebut.
"Ya..," jawab Opa dengan tersenyum.
"Mari ikuti saya pak..," ajak petugas tersebut.
Ketiga nya mengikuti langkah kaki petugas tersebut, sedangkan para pengawal menunggu di tempat parkir.
"Assalamu'alaikum..," sapa Opa Santosa saat melihat dokter Rustam SpOG datang menyambutnya.
"Waalaikumssalam...waah..lama sekali tidak berkunjung ke mari," sahut dokter Rustam SpOG.
"He.he.he.."
"Siapa ini yang mau periksa..?."
"Cucuku..," kata Opa Santosa.
"Oh..putra mas Hendrawan..," sahut dr Rustam SpOG.
"Iya dokter..," Yolanda menjawab sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Jangan panggil dokter.., panggil opa Rustam saja."
"Ini suaminya..?," tanya dokter Rustam SpOG.
"Iya dokter..," jawab Bara sambil tersenyum.
"Jangan dokter ..opa Rustam ya.."
"I..iya..opa Rustam..," sahut Yolanda dan Bara bersamaan.
"Ayo ke ruang praktek sana..," ajak dokter Rustam SpOG sambil melangkah menuju sebuah ruangan yang ada alat alat medisnya.
Yolanda sudah berbaring di tempat tidur periksa, kemudian dokter Rustam mulai memeriksa dengan alat USG.
Lama dokter Rustam SpOG memeriksa dengan alat USG putar sana putar sini sambil berkerut dahinya.
"Ada apa Rus..?," tanya Opa Santosa yang melihat sang dokter lama dalam memeriksa.
"Semoga tak salah diagnosa ku..," kata dokter Rustam SpOG.
"Maksud nya..?," tanya Opa Santosa.
"Kamu bakal mendapat cucu buyut dua sekaligus..," kata dokter spesialis tersebut.
"lihatlah titik titik ini... mereka adalah calon bayi," terang dokter Rustam.
"Haah... Alhamdulillah..ya Allah semoga benar kembar..," seru opa kegirangan.
Tak kalah girangnya Bara juga berseru, "Alhamdulillah..."
Tanpa sadar langsung Bara langsung menciumi Yolanda di hadapan dua kakek di depannya.
"Terima kasih..sayang..," kata Bara sambil menciumi istrinya.
"Mas...malu...," seru Yolanda merah padam mukanya.
Sedangkan kedua Opa di depannya malah terkekeh melihat Bara jadi salah tingkah.
_____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku....
* Sang Pengacau (silat Nusantara)
__ADS_1
* Jagoanku ternyata CEO (roman**)