Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 79 Kegundahan hati Tuan Hendrawan


__ADS_3

Bara menghampiri istrinya yang masih berada di ruang tunggu depan gedung kantor dosen.


"Ayuk...kita pulang...," sahut Bara kepada Yolanda yang masih memainkan ponselnya.


Yolanda mengangguk tersenyum ke arah suaminya.


Bara mengulurkan tangannya menyambut tangan Yolanda yang juga terulur.


Keduanya berjalan meninggalkan gedung para dosen sambil bergandengan tangan.


Sepanjang perjalanan mereka menjadi pusat perhatian dan pemandangan.


"Uhh..pasangan yang serasi..."


"Gandengan terus kayak nggak ada tempat lain aja.."


"Sok mesra..."


"Pamer kemesraan.."


"Bikin iri para jomblo saja, dan bla..bla...bla...., banyak lagi bisik bisik yang sekilas tertangkap di telinga keduanya.


Keduanya meninggalkan tempat tersebut tanpa menghiraukan semua perkataan yang mereka dengar dan tangkap oleh Indra pendengaran mereka.


Keduanya sampai di tempat parkir di mana mobil Bara berada.


"Kan hari masih pagi..kita mau kemana sayang..?," tanya Bara kepada Yolanda yang masih terdiam di sampingnya.


"Aku ikut mas Bara saja...mau kemana..terserah.," pelan Yolanda berkata sambil tersenyum.


"Bagaimana kalau kita melihat penggarapan proyek galery..?," kata Bara sambil memutar mobilnya keluar dari lingkungan kampusnya.


"Proyek Galery..?," tanya Yolanda sedikit kaget.


"Oh..iya sayang..maaf mas kelolosan enggak cerita ke kamu," sahut Bara.


Bara kemudian cerita kepada Yolanda.


"Beberapa hari yang lalu Om Jhon main main ke apartemen."


"Terus lihatin aku mbuat lukisan, lalu beliaunya tanya tanya tentang lukisan dan mengajak kerjasama membuka usaha galeri lukisan."


"Beliau yang menyiapkan tempat dan prasarana...aku yang mendisain penataannya nanti sama mengisi lukisannya," Jelas Bara kepada Yolanda.


Yolanda mengangguk sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Galeri nya rencana di daerah mana sih mas..?,"tanya Yolanda.


"Di wilayah xx di sana ada bekas bangunan milik Om Jhon, yang akan di pugar jadi galeri."


"Boleh..kita kesana mas..kalau begitu..," sahut Yolanda antusias.


Bara tersenyum kemudian mengarahkan kendaraannya menuju wilayah daerah tersebut.


Mobil melaju memasuki keramaian jalanan kota sebelum sampai di tempat yang di tuju Bara mengarahkan mobil ke sebuah tempat makan.


"Kita cari makan dulu ya sayang..," kata Bara, "tadi pagi kan kamu baru makan sedikit sekali," sahutnya lagi.


Yolanda mengangguk tersenyum.


"Iya ..mas..aku juga mulai lapar."


"Habisnya tadi masih terlalu pagi mas," sahut Yolanda sambil tersenyum.


"Kan mas Bara pikir kamu mau berangkat ke kantor..sayang..," kata Bara tersenyum menatap ke arah istrinya.


**


Di kantor pusat Santosa Group, tuan Hendrawan nampak gundah gulana.


Semenjak semalam anaknya tak pulang kerumah setelah nampak keluar dari kamar nya dengan memakai baju tidur rumahan dan jaket dengan tergesa gesa.


Pagi itu Tuan Hendrawan nampak berjalan dengan tergesa menuju ruang direktur keuangan kantor pusat tersebut.


"Selamat pagi..Pak Presdir ," sahut sekertaris di ruang keuangan.


"Hmm.."


"Apakah Bu Yolanda sudah datang..?," tanya tuan Hendrawan dengan bahasa resmi di kantor tersebut.


"Maaf pak Presdir hari ini nampaknya Bu direktur keuangan tidak datang ke kantor," kata sekertaris tersebut dengan sopan dan membungkuk kan badannya.


"Kemana lagi itu anak..?, bahkan kini sudah mulai tak tertib dalam bekerja," batin tuan Hendrawan dengan gusar.


"Apakah ada ijin resminya..?, atau siapa yang tahu pasti ijin nya Bu Yola..?."


"Pak Johan mungkin lebih tahu pak Presdir," sahut Sekertaris itu kembali.


Tuan Hendrawan mengangguk kemudian pergi dari sana menuju ruangan pak Johan asisten dari Yolanda.


Melihat kedatangan Presiden direktur ke ruangan pak Johan, sekretaris pak Johan langsung berdiri menyapa.

__ADS_1


"Selamat pagi pak Presdir.."


Tuan Hendrawan hanya menganggukkan kepalanya.


"Pak Johan ada..?."


"Ada pak didalam..," sahut sekertaris pak Johan sambil berdiri dan melangkah menuju pintu lalu mengetuknya.


Tok..tok.. tok..


"Masuk...," sebuah jawaban dari dalam terdengar.


Sekertaris itu membuka pintu.


Cekleek..


Kemudian sekertaris itu sedikit masuk


"Maaf pak ada Bapak Presdir..," kata sekertaris itu kepada pak Johan.


Mendengar hal itu segera pak Johan berdiri dari duduknya dan menyambut di pintu.


"Mari silahkan masuk pak Presiden direktur," sahut pak Johan dengan menunduk sopan.


"Hmm..aku hanya ingin bertanya keberadaan Bu Yolanda.," kata tuan Hendrawan tanpa duduk setelah sekertaris nya pak Johan keluar dan menutup pintu.


"Oh..iya ..pak, hari ini barusan Bu Yolanda ijin tak masuk kerja," sahut pak Johan sambil membungkuk.


"Apakah Bu Yola mengatakan alasannya kenapa..?."


"Tadi sih ...bilangnya ada keperluan mendadak pak.., saya tak berani bertanya lagi," sahut pak Johan kembali.


"Ya..sudah.. lanjut kan pekerjaan pak Johan kembali," kata tuan Hendrawan sambil keluar dari ruangan tersebut.


"Aduuh..aku salah ucap tidak ya..," batin pak Johan yang malah jadi galau sendiri.


Tuan Hendrawan berjalan kembali ke ruangannya dengan sedikit jengkel memikirkan tentang anaknya.


"Semua ini juga kesalahan ku...aku yang sudah main api, dan kini malah kesulitan untuk memadamkan nya."


Batin tuan Hendrawan berkecamuk sendiri.


____________


**Maaf ... chapter nya... pendek..

__ADS_1


Tapi tetap dukung ya.... makasih**


__ADS_2