Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 131 istri Duta besar


__ADS_3

Mama Nursanti pagi pagi sudah bersiap karena hari itu akan ada kegiatan bersama dengan para ibu pejabat kota mendampingi ibu duta beserta rombongan nya mengunjungi destinasi wisata yang ada di kota tersebut.


"Memangnya jam berapa sih..?, kok jam segini sudah mulai bersiap," Papa Hendrawan yang sedang makan pagi bertanya kepada mama Nursanti yang sudah terlihat berpakaian rapi.


"Jam sepuluhan sih pah.."


"Lah terus ngapain jam segini udah dandan..?."


"Sebelum ke kantor dinas pariwisata mama mau mampir dulu ke Museum takut nya mereka belum siap," sahut mama Nursanti yang kini terlihat cemas, takut ada yang kurang di Arts Museum nantinya.


Papa Hedrawan malah terkekeh melihat kecemasan mama Nursanti.


"Papa yakin kok mah... pengelola nya pasti kredibel."


Mama Nursanti yang semula khawatir sedikit lega mendengar perkataan suaminya, sehingga rencana survei Arts Museum dibatalkan nya.


**


Art museum siang itu nampak lain dari biasanya, kini lebih terlihat makin indah dan lengkap.


Memang benar benar patut di acungi jempol para pengelolanya, barang barang kerajinan dari seni kriya di tata sedemikian rupa hingga nampak menarik dan indah.


Hasil kreasi taman Tarjo hari kemarin juga di cat ulang bagi yang telah pudar sehingga makin membuat tampilan Arts Museum kian menawan.


Om Jhon yang biasanya tak pernah ikut campur urusan tamu, kali ini sudah rapi tampilannya untuk mendampingi pak Bambang dan pak Poernomo.


"Jo.!."


"Ya..tuan..," sahut Tarjo waktu melintas di dekat kamar majikannya tersebut.


"Bagaimana penampilan ku..?."


Tanya Om Jhon sedikit kurang percaya diri, karena dia suka seenaknya jika berpakaian.


Tarjo menatap majikannya tersebut lalu tersenyum mengangguk, "Wah..ganteng tuan..," sahut Tarjo kembali sambil mengangkat jempol nya.


Om Jhon tertawa..


"Enggak ada uang receh..Jo."


Tarjo kembali cengar cengir menanggapi perkataan Om Jhon.


"Halaman depan sudah beres kan..?."


"Sudah tuan, tadi sudah di sapu sama si Asep sama kang Supri."


Asep dan Supri adalah anak buah pak Karmin, tugasnya juga serabutan dari bersih bersih hingga memasang pigura dan juga yang lainnya.


"Ya..sudah kalau begitu," Om Jhon berkata sambil tersenyum dan mengencangkan dasi di lehernya.


"Eeh..Jo..Jo..sebentar."


"Iya tuan."


"Hari ini kamu ada agenda mengantar lukisan apa tidak..?."


"Khusus hari ini belum ada rencana tuan, soalnya mau ikut beres beres di galeri."


"Oh...ya sudah.. bagus kalau begitu."


**


jam10.30.


Tampak rombongan yang di tunggu tunggu tiba di Arts Museum.


Kunjungan istri duta besar bersama rombongan dari negaranya tersebut di dampingi oleh perkumpulan istri pejabat setempat dan istri pengusaha yang di ketuai oleh mama Nursanti.


Mobil dari dinas pariwisata yang sudah bekerja sama dengan perkumpulan pengusaha dan istri pejabat itu sudah memasuki halaman parkir Arts Museum.

__ADS_1


Banyaknya jumlah mobil membuat pak Karmin, Tarjo dan Yang lainnya sedikit sibuk.


Istri duta dan rombongan yang bisa di anggap turis mancanegara, dengan di dampingi persatuan ibu ibu pejabat dan istri pengusaha memasuki gedung galeri.


Mereka di pandu langsung oleh Om Jhon, pak Bambang dan pak Poernomo.


"Wow..Amazing..."


Pujian luar biasa datang dari para istri duta besar tersebut.


Mama Nursanti juga tak kalah takjub dengan penataan galeri tersebut.


"Waah..benar benar luar biasa galeri ini, tak ku sangka seindah ini, tak kalah dari galeri wisata di luar negeri yang sering aku kunjungi."


Apalagi saat memasuki ruang seni lukis yang menjadi inti dari Arts Museum membuat para istri duta besar yang di negaranya sangat menyukai kesenian terutama lukisan makin terpesona.


"Di negara kami hasil karya seindah ini di ciptakan oleh seniman yang sangat senior, dan berpengalaman," kata istri sang duta kepada istri pemimpin kota dan ketua perkumpulan istri pengusaha yaitu mama Nursanti.


Mama Nursanti menganggukan kepalanya, karena memang seperti itu kebanyakan.


"Suami saya pasti akan sangat senang jika bisa berkunjung ke sini apalagi jika kami bisa bertemu dengan pencipta lukisan lukisan ini." katanya lagi membuat istri pejabat sedikit kebingungan.


"Bagaimana jeng..?, apakah mungkin kita bertemu dengan pelukisnya..?," istri pejabat itu sedikit bingung namun juga penuh harap, karena jika bisa mewujudkan keinginan tersebut maka akan makin meningkatkan hubungan bilateral kota itu dengan salah satu kota di negara sang duta, dan itu berarti akan menarik wisatawan mancanegara makin banyak ke kota mereka dan artinya akan banyak pemasukan dari pajak para turis nantinya.


Istri pejabat itu menoleh ke arah mama Nursanti.


"Akan saya tanyakan dulu ya Miss, jeng..," kata mama Nursanti kepada istri duta dan juga istri pejabat itu.


Lalu mama Nursanti menghampiri Om Jhon yang merasa pernah melihat mama Nursanti.


"maaf pak .."


"Iya nyonya..panggil saja saya Jhon...," kata Om Jhon ramah sambil tersenyum sedikit menunduk menghormati tamunya.


"Oh..jadi ini toh.. Om Jhon itu..," kata mama Nursanti dengan sopan pula.


Mama Nursanti memandang Om Jhon dan tersenyum sopan.


"Saya menantu papa Santosa..Om..., mamanya yola dan Bara..," kata mama Nursanti memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Om Jhon yang masih kaget dengan pertemuan tersebut.


"O..oh," Om Jhon tergagap karena kaget.


"Ada apa nyonya .?." Om Jhon tak meneruskan perkataannya karena di potong mama Nursanti.


"Santi Om .."


"Ada apa nyonya Santi..?."


"Apakah semua lukisan karya Bara..? menantu ku..," kata mama Nursanti sambil menekankan kata "menantu".


Om Jhon tersenyum mengangguk, meskipun sebenarnya ingin tertawa karena jika mengingat riwayat mertua dan menantu itu saat dahulu.


"Oh ..jadi ini semua karya Bara.."


Kembali Om Jhon mengangguk.


"Ada apa nyonya..?."


"Hanya memastikan saja karena mungkin duta besar dan istrinya ingin bertemu pelukis semua lukisan ini..," sahut mama Nursanti sambil tersenyum sopan kepada Om Jhon.


Setelah berbincang dengan Om Jhon mama Nursanti kembali ke rombongan nya.


Rombongan pengunjung tersebut terus berkeliling dengan menikmati keindahan dan keunikan Arts Museum, hingga tiba di bagian lukisan "for sale" dan macam seni kriya kategori "for sale" para turis tersebut banyak memborong barang seni tersebut.


Kunjungan itu terbilang cukup sukses untuk Arts Museum, dan menaikkan namanya menjadi tujuan utama wisata seni di kota tersebut.


**


Rombongan istri Duta dan istri pejabat serta pengusaha sudah kembali ke Hotel di mana mereka akan di jamu makan siang.

__ADS_1


"Bagaimana nyonya dengan keinginan saya tadi..?," tanya istri sang Duta kepada istri pejabat dan mama Nursanti.


"Oh..bisa Miss.," kata mama Nursanti sepontan membuat istri pejabat sedikit membelalakkan matanya kaget.


"Beneran bisa Jeng..?."


Mama Nursanti mengangguk yakin.


"Cuma maaf...kita harus membuat janji dulu, karena pelukisnya seorang direktur perusahaan," kata mama Nursanti membanggakan menantu nya.


"What..??!!."


"Seorang direktur masih sempat membuat karya seni seindah itu..?."


Mama Nursanti menganggukan kepalanya.


"Memang siapa ..seniman itu jeng ..? direktur dimana ..?."


"Seniman itu menantu saya dan saat ini menjadi direktur utama di Sant Otomotif," kata mama Nursanti dengan sangat bangga.


"Haah..Sant Otomotif..??!!," baik istri pejabat maupuan istri sang Duta sangat kaget, karena Sant Otomotif memang sudah terkenal hingga ke mancanegara sebagai pemasok tunggal aneka suku cadang di negeri ini.


"Waah luar biasa ," sahut istri sang Duta makin tertarik.


"Kapan kita bisa ketemuan..? kami akan sangat menghargai sekali jika bisa bercakap dengan pencipta lukisan itu."


"Nanti akan saya kabari segera Miss," janji mama Nursanti sambil menuju ke arah meja makan di mana akan di sajikan secara standing party.


**


Bara sudah selesai dengan penanda tanganan beberapa berkas, dan juga pertemuan dengan rekanan lokal.


Masih membuka kotak bekal yang tadi pagi sudah di siapkan istri tercinta.


Mengambil minuman air mineral dingin di mini kulkas yang ada di ruangannya, ketika telponnya berbunyi.


Drrt.. drrt...


Bara menghentikan minumnya dan melihat layar ponselnya.


"Eh..mama Nursanti..?."


Diangkat nya ponsel tersebut dan di geser nya tombol hijau.


"Assalamualaikum..ma..?."


"Waalaikumssalam..Bara.."


"Ada apa ya ma..?." Bara sedikit kaget dan penasaran ada apa mama Nursanti menelpon dirinya.


Mama Nursanti kemudian bercerita, dan Bara mendengar dengan seksama.


"Bisa kan Bara..? nanti kamu ajak istrimu dan mama ajak papa, anggap saja ini makan malam biasa," bujuk mama Nursanti.


"Jangan malam ini ya mah, tadi sudah janjian sama Opa mau pergi."


"Bagaimana jika besok malam sekalian kita nanti nginap sampai akhir pekan di rumah utama," kata Bara membuat mama Nursanti senang dengan kedatangan anak dan menantunya tersebut.


"Baiklah kalau begitu, mama akan membicarakannya dengan istri Duta dulu, nanti mama kabari lagi ya."


"Iya ma.."


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam..," jawab Bara sebelum menutup telponnya.


____________


Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...

__ADS_1


__ADS_2