
Jam tiga pagi Abraham dan Jasmine terbangun, Jasmine melangkah duluan ke kamar mandi untuk mensucikan dirinya, ditengah kegiatannya, Abraham menyusul masuk ke dalam dan mengagetkannya.
"Yang!, Kau ini, kenapa masuk, aku masih belum selesai" ucap Jasmine.
"Barengan yang, lebih enak mandinya, sini"
"Yang!!"
Jasmine berteriak saat Abraham sudah menarik tubuhnya yang polos ke dalam dekapannya dan mereka kini sudah basah di bawah guyuran air dari shower.
Jasmine terkejut saat kemudian merasakan ada yang tegang dan menempel di bagian tubuhnya.
"Yang kamu_" ucap Jasmine terkejut.
"Diam mangkanya jangan bergerak, kamu membangkitkan sesuatu yang dibawah sana" ucap Abraham masih memeluk istrinya di bawah siraman air shower.
Jasmine terpaksa diam menuruti apa kata suaminya dari pada harus terjadi lagi hal yang mengenakkan dan bisa membuat tubuhnya semakin remuk redam.
Aktifitas dikamar mandi akhirnya selesai dengan aman, lanjut dengan melakukan ibadah bersama, keduanya segera bersiap untuk melakukan aktifitas kerja setelah sebelumnya mengisi perutnya dengan sarapan yang sudah di sediakan oleh mbok Darmi.
Abraham mengeluarkan mobil Jasmine lalu keduanya segera meluncur ke Perusahaan Nugraha Company, sengaja keduanya berangkat lebih pagi karena hari ini akan diadakan acara penting peresmian Abraham sebagai direktur baru di perusahaan itu.
"Yang, aku merasa gugup" ucap Abraham.
"Tenanglah yang, semua sudah di atur dengan baik oleh ayah, tidak akan tejadi apapun, kita akan melewati semuanya bersama, okey"
"Hem, apa ayah setelah ini akan langsung pergi ke pondok pesantren?" Tanya Abraham.
"Tentu saja, itu memang cita-cita ayah dari dulu, entahlah, ayah selalu menyukai tempat itu, karena kenangan terindah waktu pertama kali ayah bertemu dengan bunda ada disana yang, mungkin itulah yang membuat Ayah selalu ingin tinggal disana"
Abraham terdiam sejenak mengetahui satu kisah lagi dari almarhum ibu kandung istrinya.
"Ayah juga akan memindahkan beberapa pengawal pribadinya untuk menjaga mansion kita yang, soalnya ayah tidak ingin memberhentikan mereka walaupun ayah tidak memakainya lagi, kasian, mereka juga butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga nya, bagaimana menurutmu?"
"Tentu saja aku setuju, mereka juga orang-orang yang sudah dilatih oleh ayah, lagi pula semua pengawal ku yang dulu sudah ditarik untuk ikut bersama Kartika dan ayahnya" jawab Abraham.
Jasmine tersenyum mendengar suaminya juga sependapat dengannya, tak lama kemudian keduanya segera turun setelah sampai di tempat yang dituju, kali ini beberapa staf sudah di tugaskan untuk mengantar mereka menuju ke tempat acara, yaitu diruangan rapat besar yang ada di gedung perusahaan Nugraha Company.
Rupanya Rafael dan juga Rena sudah ada disana. Bersama dengan semua undangan tamu-tamu penting para kolega yang bekerja sama dengan Nugraha Company, nama Abraham yang tak asing lagi di dunia bisnis, membuat semua pemilik perusahaan yang melakukan kontrak kerja dengan Nugraha Company semakin bersemangat akan kesuksesan yang akan diraihnya.
Acara sudah dimulai, sambutan dan penjelasan panjang dari Rahmad Hasan Nugraha sudah dilakukan, alasan kenapa semua dilimpahkan ke Abraham dan Anaknya juga sudah diutarakan dengan gamblang.
Tiba saatnya Abraham memberikan sambutan sebagai pemimpin baru di Nugraha Company, dan tentu saja disambut meriah oleh semua tamu undangan dan orang-orang yang hadir disana, sosok Abraham memang sangat memikat minat para pembisnis lain untuk bekerja sama dengannya, karena sudah tidak diragukan lagi bagaimana kekuatan kepemimpinan dalam menjalankan suatu perusahaan.
Ditutup dengan sambutan dari Rafael Prayuda sebagai pemimpin dari perusahaan cabang baru dari Nugraha Company yang dulunya adalah Vinan Company.
Kini semua acara sudah berjalan dengan lancar dan aman, tepat jam 10.00 acara selesai dan semua kembali ke tempat mereka masing-masing. Begitu juga dengan abraham dan Jasmine, Rahmad berjalan di dampingi oleh kedua orang kesayangannya dan masuk ke ruangan yang sudah di rubah menjadi milik Abraham.
"Ayah, kenapa secepat ini, aku berharap ayah bisa menemaniku dulu beberapa hari" ucap Abraham.
"Maaf Abraham, ayah sudah tidak sabar lagi untuk pergi ke pondok pesantren peninggalan eyang Kakung Jasmine, aku merasa sangat nyaman disana, jauh dari ke pelikan hidup yang sudah seharusnya aku tinggalkan, aku harap kamu mengerti"
"Baiklah ayah, aku akan mengantar ayah ke bandara bersama Jasmine"
Rahmad tersenyum lalu kemudian bersiap berangkat ke bandara di antar kan oleh anak dan menantunya. Setelah perpisahan yang mengharukan di bandara, Abraham dan Jasmine segera kembali ke perusahaan.
Masih beberapa kilo dari bandara, Abraham di kejutkan dengan mobil yang tiba-tiba saja menghadangnya dari arah depan dan beberapa orang di dalamnya menembaki mobilnya dengan senjata, Abraham yang terkejut segera reflek mengeluarkan kekuatanya untuk melindungi Jasmine dan dirinya dari serbuan peluru.
__ADS_1
Secepatnya Abraham memundurkan mobilnya dan mengambil jarak lumayan jauh dari mobil yang menghadangnya.
"Yang, kau tidak apa-apa?" Tanya Abraham cemas sambil memeriksa tubuhnya istrinya.
"Aku baik yang, tapi kau berdarah, yang!!" Teriak Jasmine cemas dan panik seketika.
"Hanya lengan yang tergores pecahan kaca mobil yang, bukan luka serius, tenanglah, kita kalah jumlah, pengawal kita tidak cukup untuk menghadapi mereka, sebaiknya kita mencari tempat aman dulu, Abraham memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mobilnya bergerak cepat.
Namun beberapa mobil musuh sudah mengejarnya dan memberondongnya dengan tembakan berkali-kali.
"Ini tidak bisa di biarkan yang, mereka sudah keterlaluan, siapa sebenarnya mereka ini?!" Ucap Jasmine sudah ikutan emosi lalu menekan tombol untuk membuka kap atas mobilnya.
"Apa yang kau lakukan yang?!" Ucap Abraham terkejut melihat aksi istrinya.
"Aku akan melumpuhkan satu mobil mereka yang ada di depan"
Abraham terkejut dan khawatir Jasmine akan mengeluarkan tenaga dalam yang berlebihan dan membahayakan tubuhnya.
"Jangan yang, biar aku yang mengatasinya, ingat pesan ayah, kekuatan segel mu sudah di lepas, kekuatan tenaga dalamnya lebih besar dari kemampuan tubuhmu, itu berbahaya!" Teriak Abraham memperingatkan.
"Aku tau, aku hanya akan menggunakan sedikit kekuatanku" ucap Jasmin ngeyel.
"Yang?!!" Teriak Abraham
"Jangan berisik!" Sahut Jasmine yang sudah berkosentrasi mengeluarkan tenaga dalamnya lalu perlahan mengangkat kedua tangannya dan
BOOM
terdengar ledakan suara mobil dari musuh yang mengejar saat sebelumnya berhasil dihempaskan oleh Jasmine, Abraham dan beberapa anak buahnya terkejut dengan apa yang bisa dilakukan oleh Jasmine.
"Cukup yang, Duduk dan kemudikan mobilnya, ada tanah lapang di depan, berhentilah di sana, giliran ku yang akan menghadapi mereka" ucap Abraham.
"Tuan, mereka terlalu banyak, sebaiknya tuan dan nyonya segera pergi, biar kami yang akan menghambat mereka"
"Tidak perlu, kalian bisa mati ditangan mereka kalau aku tidak ikut campur tangan menghadapinya, sebaiknya sebagian dari kalian mundur dan lindungi istriku" ucap Abraham.
Dari keenam orang pengawal pribadinya, tiga orang sudah mendekat dan berjaga di samping mobil Jasmine.
Kedatangan musuh akhirnya tiba, ada kurang lebih 15 orang yang masih tersisa dari mereka kini berhenti dan turun untuk menyerang Abraham.
"Katakan apa mau kalian!" Ucap lantang Abraham.
"Ikutlah dengan kami, jangan ada perlawanan, dan kalian tidak akan di sakiti"
"Sialan!, Siapa yang menyuruh kalian ha!!" Teriak Abraham.
"Kau akan tau setelah ikut kami dan menghadap tuan kami, cepat menyerah lah, jangan banyak bicara!!"
Kemudian mereka segera menyerang Abraham, tidak tinggal diam, anak buah Abraham segera menghadang dan berlompatan kesana kemari untuk menghadapi musuh-musuhnya, tidak terlalu sulit bagi Abraham untuk menghadapi mereka, gerakannya yang cepat dan sedikit tenaga dalam yang di keluarkan, berhasil mendesak musuhnya mundur.
Kini mereka sudah banyak yang tumbang, salah satu yang kini tertangkap tangan Abraham di paksa bicara untuk mengatakan siapa dalang di balik semua ini, namun tiba-tiba orang itu memasukkan sesuatu ke mulutnya sendiri dan tak lama akhirnya kejang dan mati.
Sementara yang lainya segera melarikan diri,
"Jangan di kejar, biarkan mereka!" Teriak Abraham saat anak buahnya akan mengejar musuhnya.
Abraham sudah kembali dalam mobil bersama Jasmine. Dan langsung mendapat protes dari istrinya.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengejarnya yang, kita tidak akan tau siapa yang sudah merencanakan semua ini" ucap Jasmine.
"Percuma yang, mereka akan membunuh dirinya sendiri sebelum kita berhasil mengorek keterangan dari mulutnya, apa kau ingin kita membuat mereka semua mati?!"
"Apa!, Jadi mereka_?"
"Iya, salah satu pasukan terlatih yang berani mati untuk menjalankan misinya, aku yakin mereka bukan dari negeri kita, biasanya pasukan Mafia dari Jepang yang biasa melakukan hal ini, tapi Entahlah, semua masih belum jelas"
"Apa?!, Lalu apa urusan mereka dengan kita yang, kita tidak pernah berurusan dengan orang-orang seperti itu kan??"
"Untuk itu, kita perlu lebih hati-hati yang, mulai sekarang kemanapun kamu pergi selalu gunakan beberapa pengawal, kalau bisa jangan pergi sendirian tanpa ku"
Jasmine mengangguk dan terkejut melihat darah di lengan Abraham semakin banyak keluar dan mengotori Hem putih yang di kenakan nya.
"Astagfirullah yang, kita kerumah sakit sekarang" ucap Jasmine dan segera mengemudikan mobilnya menuju ke Rumah Sakit.
Farel sangat terkejut saat Jasmine masuk sambil menggandeng Abraham yang lengannya bersimbah darah, begitu juga Dea yang saat itu juga bertugas di sana.
"Apa yang terjadi Ab, kau berkelahi dengan siapa kali ini?!" Ucap Farel Cemas.
"Ada beberapa pasukan terlatih yang menyerang kami sehabis pulang dari mengantar ayah ke bandara"
"Oh my God, kali ini siapa lagi yang ingin menyakitimu Ab, gila, luka robeknya lumayan panjang dan dalam" sahut farel mulai panik.
"Apa berbahaya Rel, kamu bisa menanganinya kan, aku gak ingin Abraham sampai infeksi dan kenapa-napa, bisa kan kamu mengatasinya Rel?" Ucap Jasmine yang saking paniknya memegang tangan Farel dengan Erat.
"Bukan luka ini yang berbahaya, tapi pegangan tanganmu ke Farel itu yang bisa membuat ku mati" sahut Abraham jengkel lalu menyambar tangan Jasmine dan menggenggamnya erat sambil menatap tajam Farel.
Dea yang tau akan kejadian itu sudah tidak ikutan panik dan malah terkekeh diikuti dengan tenaga kesehatan lain yang tak sengaja juga melihatnya.
Farel dan Dea segera melakukan tindakan Heating (menjahit) luka robek di lengan Abraham, sementara Jasmine masih merengut karena tangannya masih di genggam erat oleh Abraham dan tidak di perbolehkan jauh darinya, hingga terpaksa Jasmine harus menutup matanya di pelukan suaminya saat proses penanganan luka di lakukan.
Beberapa keluarga pasien lain yang melintas di buat senyum-senyum geli melihat kedua pasangan itu, apalagi tenaga kesehatan yang berlalu lalang di ruang IGD ikut senyum-senyum gak jelas melihat kemesraan Abraham dan Jasmine.
Tidak dengan Farel yang merasa jengah dengan sikap posesif sahabatnya, hingga sengaja menjahit lukanya dengan sedikit kasar.
"Sh*it!, sakit Rel, pelan sedikit gak bisa apa?!" Ucap Abraham jengkel.
"Gak bisa, posisi kamu ini gak seperti biasanya orang mau di rawat luka, masih juga ngekepin istri di saat seperti ini, menyebalkan!" Sahut Farel dan di sambut dengan suara cekikikan dari Dea dan perawat yang membantunya.
*
Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 100-105
Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.11
Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE