
Abraham benar-benar di buat murka oleh kelakuan Jasmine, hingga terlintas pikiran gilanya untuk memberikan penawaran
"Baik, aku akan mengabulkan permintaan kalian dengan satu sarat"
"Katakan tuan Abraham" ucap Rahmad
"Anakmu harus bersedia menjadi istri sah ku yang ke dua, maka perusahaan ini akan aku kembalikan sepenuhnya, jawab sekarang atau tawaranku batal!"
"APA!" Ucap semua orang yang ada di sana hampir bersamaan
"Eb, apa yang kau lakukan, kau sudah gila?!" Ucap Rafael sangat terkejut
"Aku cukup waras, silahkan tentukan pilihan anda tuan Rahmad, anakmu sudah mengumpat ku tidak berperasaan, sekarang aku ingin melihat, apa dia juga punya perasaan dan membuang egonya demi nasip banyak orang?" Ucap Abraham tersenyum sinis
"Kau benar-benar keterlaluan Abraham!" Teriak Jasmine
"Tidak usah berteriak, simpan tenaga mu untuk memutuskan hal ini, dengan sombong kau bertanya padaku apa aku bukan manusia, sekarang saatnya kau sendiri membuktikan, apa kau juga manusia?!"
"Keterlaluan, Baik, aku setujui tawaranmu!" Teriak Jasmin memberikan jawaban
"APA!" Ucap Rafael terkejut
"Jasmin!" Ucap sang Ayah kaget
"Apa kau gila!" Agam terkejut
"Tanda tangani tawaran tuan Abraham, ayah, aku memilih menyelamatkan mereka, tidak peduli aku harus mati sekalipun" ucap Jasmine
"Kenapa kau lakukan ini Jasmine?" Rahmad menggenggam tangan anaknya
"Aku tidak bisa hidup dengan tenang diatas penderitaan banyak orang yah, itu bukan sifat ku, ayah tau itu kan?" Mata Jasmine berkaca-kaca dan segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu
BRAK
Keadaan di dalam hening sejenak, perkataan Jasmine membuat semua orang di sana terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Abraham tidak pernah menyangka Jasmine akan memberikan keputusan secepat itu, bahkan dia mengorbankan dirinya demi orang-orang yang belum tentu tidak mengkhianatinya suatu saat nanti.
Rafael terduduk lemas di kursinya kembali, syarat gila yang diajukan Abrahan dan di terima oleh Jasmine membuatnya benar-benar tidak tau harus bagaimana.
Begitu juga Agam, yang sudah menduga akan keputusan seorang Jasmine yang sudah lama di kenalnya.
"Jasmine bukan wanita pengecut seperti yang Anda pikirkan tuan Abraham, dia bahkan lebih kuat dari yang anda bayangkan, saya harap anda bisa menjaganya dengan baik dengan keputusan ini" ucap Agam.
"Dan kau jangan terlalu dekat dengan calon istri orang" ucap Abraham.
"Tenang tuan, dia seperti adik kandungku sendiri, saya akan menenangkannya dulu, permisi" jawab Agam dan pergi meninggalkan ruangan menyusul Jasmine.
Pak Rahmad masih duduk sejenak untuk menenangkan diri, dia tau persis perangai anaknya yang tidak mungkin menarik kata-katanya begitu saja.
"Baik, saya akan menadatangani surat perjanjian ini, tapi saya harap anda bersedia berbicara baik-baik dengan Jasmine sebelum acara pernikahan di langsungkan" ucap Rahmad
"Tentu saja, aku ingin anda menyampaikan pesanku untuk putri anda, saya akan datang di kediaman anda besok malam untuk menentukan dan membicarakan acara akad nikahnya"
"Baik tuan Abraham"
Setelah Rahmad menandatangani surat perjanjian yang sudah di sediakan oleh kuasa hukum perusahaan Hanzel Company, Abraham segera pamit dan keluar bersama yang lain kembali ke perusahaannya.
__ADS_1
Didalam perjalanan, Rafael masih terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, terus terang dalam hatinya masih sangat marah dengan Arogansi Abraham yang menurut nya sudah keterlaluan.
"Ada yang ingin kau bicarakan El?" Tanya Abraham.
"Gak ada, aku tidak ingin bicara apapun saat ini denganmu Eb" jawab Rafael.
"Baik, kita turun di Restoran Kamayang dulu, aku menginginkan makan siang di Restoran itu, sudah lama aku tidak kesana" ucap Abraham.
"Terserah" sahut Rafael malas.
Akhirnya sampai juga ditempat yang diinginkan oleh Abraham, kedua orang itu segera keluar dan mencari tempat privat dengan pemandangan yang menyejukkan.
Abraham duduk dengan santai sambil menunggu pesanan makan siangnya, Rafael duduk berada di dekatnya dengan mulut yang masih bungkam, sesekali Abraham melihat ke arah Rafael yang tampak cuek
"Kau marah padaku El?"
"Kau bisa berpikir sendiri soal itu kan?" Jawab Rafael.
"Aku bertanya, kenapa kau malah menjawab dengan pertanyaan?"
"Aku tidak tau jalan pikiranmu Eb, kau masih bermasalah dengan pernikahan pertama mu, kenapa kau malah menyeret Jasmine masuk ke dalam sana?"
"Itu urusanku" sahut Abraham
"Tapi ini juga jadi urusanku kalau Jasmine ikut ada di dalamnya"
"Kenapa?"
"Karena aku menyayanginya Eb, harus berapa kali aku bilang, aku menyukainya dan bahkan mungkin aku sudah mencintai nya!"
"Milikmu untuk kau sakiti, milikmu untuk membuatnya menderita, itu maksudmu?" Tanya Rafael tidak terima
"Jangan berani mencampuri perasaanku dengan Jasmine Rafael, aku peringatkan sekali lagi"
"Kenapa harus Jasmine Eb, kau sangat keterlaluan"
Keduanya terdiam untuk beberapa lama, sampai kemudian semua makan siang yang di pesan sudah datang, sebelum menikmati makan siangnya, Abraham menayangkan sesuatu ke Rafael
"Berapa besar kau menyukai Jasmine?"
"Itu bukan urusanmu" jawab Rafael
"Baik, setelah dia resmi menjadi istriku, jangan coba-coba kau mendekati Jasmine"
"Aku tidak cukup bodoh untuk melakukan itu, tapi sekali kau melepaskan nya, aku akan sekuat tenaga untuk mengambilnya menjadi milikku" jawab Rafael
Abraham terdiam, lalu keduanya segera menikmati makan siangnya
*
Di tempat yang lain, Jasmine menghentikan mobilnya yang di kemudikan dengan sangat cepat hampir satu jam, Agam mengumpat beberapa kali saat kehilangan Jasmine, namun akhirnya berhasil menyusul Jasmine kembali
Jasmine sudah berada di tepi pantai, dirinya berteriak sekuatnya.
"Abraham Hanzel Brian, Brengsek!"
Kemudian Jasmine menangis sejadi-jadinya, dirinya benar-benar tidak pernah menyangka akan mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang laki-laki yang sudah mempunyai istri.
__ADS_1
Agam hanya terdiam di belakangnya, tanpa berani berbuat apapun, hatinya ikut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Jasmine, hingga beberapa lama Jasmine masih menangis menumpahkan segala sesak yang ada di dadanya hingga kemudian duduk terdiam.
Agam tersentak saat tangan seseorang menyentuhnya, rupanya Risma sudah ada di belakangnya
"Ris, kau sudah datang?"
"Iya mas, dimana Jasmine?" Tanya Risma pelan dan Agam menoleh ke arah Jasmine sedang duduk sendirian setelah kelelahan menangis.
"Sudah lama dia berada disana?" Tanya Risma.
"Iya, hampir satu jam aku menungguinya disini, aku belum berani mendekatinya Ris, dia sangat terluka saat ini"
"Aku tau mas, biar aku yang mendekatinya dulu, nanti mas Agam bisa menyusul kalau dia sudah tenang"
"Iya, kesana lah, aku akan tunggu di sini dulu"
Risma segera menghampiri Jasmine lalu memeluknya dengan erat, berusaha menenangkan Jasmine saat tangisannya pecah kembali, hingga akhirnya mereka berdua sudah bisa bicara dari hati ke hati
"Sepertinya ini memang sudah takdir gue ya Ris" ucap Jasmine
"Sepertinya begitu, apa loe menyesal sudah mengambil keputusan itu Jas"
"Menyesal tidak ada gunanya untuk saat ini Ris, sebaiknya gue mempersiapkan diri mulai sekarang"
"Gue tau, loe pasti akan mengucapkan mantra ini, itu yang selalu gue suka dari loe Jasmine Agatha Nugraha, tidak pernah kalah dengan keadaan"
"Itu juga berkat kalian semua, selalu ada buat gue, dan sebentar lagi kalian harus siap punya sahabat yang sudah jadi istri ke 2, bagaimana menurut loe, loe gak malu?"
"Hahaha, malu?, Gue bahkan tidak pernah memikirkan hal itu, yang ada kita bangga dengan keputusan loe, apalagi semua loe lakuin demi menyelamatkan banyak orang"
"Makasih Ris, suruh laki loe kesini, kasian dia sendirian noh, entar masuk angin" ucap Jasmine
"Tenang, ntar gue kerokin"
"Pakek bibir loe pasti kan?!" Ucap Jasmine
"Anjir, dasar mulut loe Jas, sembarangan ngomongnya"
"Hahaha" keduanya tertawa lepas dan kemudian mengajak Agam ikut bergabung ngobrol sambil sesekali tertawa
Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 36-40
Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho
Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1