
Jasmine masih terduduk diam di ruang kerjanya, Rahmad yang melihat gelagat aneh dengan anaknya segera bertanya.
"Kalau kau ingin menolak pernikahanmu dengan Abraham, belum terlambat Jasmine" ucap Rahmad.
"Bukan itu yang Jasmine pikirkan ayah, soal pernikahan ku, aku sudah memasrahkan semuanya sama Alloh, dan Jasmine sudah Bismilah, ini keputusan yang tepat buatku untuk menyelamatkan semuanya"
"Hem, terimakasih sayang, lalu ada apa lagi, apa kau tadi sudah bertarung dengan Abraham?"
"Tidak yah, aku masih belum memikirkan hal itu, Abraham belum cukup membuatku kesal sampai harus bertarung dengannya"
Rahmad tersenyum, dan membiarkan Jasmine terdiam, dia tau benar kalau anaknya tidak akan menceritakan masalahnya segampang itu dengan orang lain, sebelum dia benar-benar membutuhkan bantuan untuk menyelesaikannya.
"Yah, aku nanti malam ingin tidur di tempat Risma, boleh?"
"Tentu saja, asal jangan keluyuran terlalu malam, jaga kesehatan kamu, ingat, sekarang tenaga mu sangat dibutuhkan di perusahaan, Jasmine"
"Siap yah, aku pastikan akan menjaga kesehatanku, mungkin cuma dua malam saja aku akan tidur di sana"
"Hem, ayah tidak keberatan, sebaiknya kau juga memberitahu Abraham, biar tidak terjadi salah paham kalau ada sesuatu"
"Nggak usah yah, ngapain sih, yang ada itu orang makin kepo, dia itu paling gak suka ngelihat aku lagi seneng sama teman-teman Jasmine, terakhir yang dia lakuin saja malah bikin kita hampir mati" ucap Jasmine teringat bagaimana dia berjuang hampir pingsan kelelahan menuju ke rumah terpencil Abraham.
Rahmad hanya tertawa sejenak membayangkan bagaimana Abraham nanti akan menghadapi anaknya yang super sableng saat kumat tengilnya.
Sepulang dari bekerja Jasmine membereskan beberapa pakaian dan barang yang akan di bawa untuk menginap di tempat Risma dan juga Dinda, karena kedua sahabatnya itu satu kontrakan.
Jasmine menarik nafas panjang seolah berusaha untuk melonggarkan nafasnya yang terasa sesak saat mengingat masalah yang terjadi dengan para sahabatnya.
"Ya Alloh, aku harus bagaimana ini ya, kenapa juga harus ada masalah seperti ini, otak Dinda dan mas Agam itu kemana sih, dasar manusia gila, awas saja kalian!" Ucap Jasmine ngedumel sendiri di kamar.
Jasmine segera keluar dan menemui ayahnya, terlihat Rahmad sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton berita di televisi.
"Yah, Jasmine berangkat dulu, ayah jangan terlalu malam tidurnya, ingat umur, di jaga kesehatannya, minum vitamin sebelum tidur jangan lupa"
"Anak ayah seperti seorang dokter saja, kenapa dulu kamu gak kuliah kedokteran, hem?"
"Hehe, Jasmine terlalu ngeri lihat darah yah, nanti anak Jasmine saja yang akan kuliah di sana, biar bisa menjaga orang tua dan kakeknya" ucap Jasmine asal.
"Aminn.." sahut Rahmad.
Jasmine segera bersalaman dan mencium tangan ayahnya, lalu memeluk sebentar dan segera keluar meninggalkan rumahnya setelah mengucapkan salam.
Beberapa menit kemudian Jasmine sudah berada di depan kontrakan kedua sahabatnya, dirinya tidak langsung keluar dari mobil.
Rasa sesak dan sakit di hatinya semakin dirasakan begitu nyata saat membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan kedua sahabatnya, hingga kemudian Jasmine dikejutkan suara ketukan jendela mobil.
"Mau berapa lama loe ngebayangin fantasi liar sama calon suami loe di dalam sana?" Ucap Risma dengan senyuman lebarnya setelah Jasmine membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Anjir, Siapa juga yang ngebayangin dia, dasar mulut loe Ris, gue sentil lama-lama ni" sahut Jasmine.
"Hehe, gemes ya ma gue, kangen kan loe, gak betah lama-lama jauh ma gue" goda Risma.
"Ih, dasar, berasa jadi kekasih loe aja gue, anjir!"
"Hahaha, bisa-bisa, akan gue pertimbangkan hal itu" jawab Risma.
"Eh, gila, jijik gue, dasar!" Sahut Jasmine segera melangkah pergi dengan cepat meninggalkan langkah Risma yang sudah ngakak melihat ekspresi aneh sahabatnya.
"Jangan kelamaan ngakak di luar, di tabok setan itu mulut baru tau rasa loe, nanti malam gue mau ngomong sesuatu ma loe!" Teriak Jasmine.
"Siap!" Jawab Risma yang langsung menutup mulutnya mendengar perkataan mengerikan dari Jasmine.
"Dasar bocah sableng, seenaknya aja ngatain gue di tabok setan, gila, ih jadi merinding gue" batin Risma segera berlari masuk ke dalam rumah.
Keduanya kini sudah masuk ke dalam rumah dan Jasmine sempat tersentak melihat ada Agam dan Dinda sedang menikmati acara televisi dengan santai.
Entah kenapa Jasmine rasanya ingin meledakkan amarah nya saat melihat mereka berdua dengan santai berada diruangan itu tanpa terlihat tengah terjadi sesuatu di antara mereka.
"Bang*sat, dasar manusia munafik, seandainya aku tidak menjaga perasaan Risma, aku pasti sudah menghajar kalian saat ini juga!" Batin Jasmine dan dengan cepat masuk ke kamar Jasmine tanpa menyapa keduanya.
Agam dan Dinda sempat terkejut dengan apa yang di lakukan Jasmine, keduanya saling beradu pandang.
"Ada apa dengan Jasmine?" Tanya Agam ke Risma yang kini sudah duduk d sebelahnya
"Kayaknya ada yang aneh sama tu anak yang, gak biasanya dia ketemu aku main nylonong gitu" ucap Agam.
"Ya mungkin dia lagi capek aja kali, maklumlah dia sudah mulai ikut memikirkan perusahaan ayahnya" Jawab Risma.
"Lah aku kira kesini pengen refreshing ngumpul bareng ma kita" sahut Dinda.
"Masih ganti baju dia, bentar lagi juga nongol tu anak" jawab Risma.
Tak lama kemudian apa yang sedang di omongkan akhirnya terjadi, Jasmine sudah melebarkan senyum dan ikut bergabung menonton televisi disana sambil ngemil makanan ringan dan buah yang tadi di bawanya.
"Mas Agam, dah lama disini?" Tanya Jasmine yang sengaja mengambil tempat duduk diantara Agam dan Dinda.
"Belum, hanya beberapa menit saja sebelum kamu datang, tadi Dinda telpon ngasih tau kalau kamu ngumpul disini jadi aku ikutan juga, biar tambah rame"
"Oh, jadi Dinda yang telepon, inisiatif sekali loe ya Din?" Tanya Jasmine membuat Dinda langsung terdiam.
"Loe itu ngomong apa sih Jas, biasanya juga loe yang sering telponan sama mas Agam, ya kan mas?" Sahut Risma menetralkan suasana, saat melihat Dinda merasa gak enak hati.
"Ye, telpon gue mah beda, ada hubungan sama kerjaan, bukan telponan yang kurang kerjaan" sahut Jasmine.
"Sudah-sudah, kita ngumpul pengen happy, gak usah ngebahas yang gak seru gini" ucap Agam menengahi.
__ADS_1
"Okey, kalau begitu loe kapan mulai kerja di perusahaan gue Ris?" Tanya Jasmine.
"Emang kapan loe nikah?" Tanya Risma.
"Lah, apa hubungannya nikah ma loe mulai kerja?" Tanya Jasmine merasa aneh.
"Ya gak ada, gue pengen aja kerja sama pengantin baru, biar bawaannya seneng mulu" ucap Risma konyol.
"Hadeh, sialan loe, kerja ya kerja aja, gak ada hubungan ma pengantin baru, gak bener juga tetep gue semprot loe" ucap Jasmine.
"Idih, belum-belum dah ngancam, males gue kerja ma loe" sahut Risma.
"Eh, gak ada ya, janji adalah hutang, bakalan gue tagih seumur hidup loe!" Ucap Jasmine nyolot gak mau kalah.
"Dasar, tukang palak!" Teriak Risma.
"Bodo" jawab Jasmine.
"Rentenir!" Ucap Risma lagi.
"Biarin" sahut Jasmine.
"Sukurin, habis ini di pera*wanin sama tuan Abraham!" Teriak Risma lagi.
"Enak dong, mau apa loe!" Jawaban konyol Jasmin.
"Anjir, mesum juga otak loe jas!" Sahut Agam.
"Hahaha" semuanya langsung menertawakan Jasmine yang sudah nyengir gak jelas.
Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 46-50
Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.3
Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1