
Menjelang sore hari Jasmine meminta Abraham untuk segera bersiap pulang ke kediamannya.
"Jadi kamu pengen kita pulang kerumah sekarang?"
"Iya yang, aku belum menyiapkan apa saja yang perlu aku bawa untuk bekerja besok, gak enak juga ijin gak kerja lagi"
"Lalu kapan kita akan pindah ke sini?"
"Aku kapan saja siap, tapi sebaiknya kamu ngomong baik-baik dulu sama Kartika, aku khawatir dia akan tersinggung dan marah"
"Bukannya memang kerjaan Kartika marah-marah tiap hari, selalu saja ada yang tidak benar dimatanya"
Jasmine hanya tersenyum lalu mengambil tasnya untuk segera kembali ke rumah, Abraham mengikutinya dari belakang sambil tersenyum saat melihat cara berjalan Jasmine yang aneh dan pelan.
"Masih sakit?" Tanya Abraham pelan sambil berbisik di telinga istrinya setelah berhasil menyusul langkah istrinya.
"Iya, dasar kau ini yang, gara-gara perbuatan mu, jadi gak nyaman gini jalanku" ucap Jasmine, lalu Abraham terkekeh kemudian merangkul istrinya dengan mesra dan berjalan beriringan.
Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai di rumah, dan mendapati Kartika dengan sorotan mata yang tajam.
"Aku ingin bicara denganmu Ab, sekarang!"
"Ikut aku ke ruang kerjaku, kau boleh ikut yang" ucap Abraham ke Jasmine.
"Apa!, Ini antara kita berdua, bukan dengan ******** ini!" Sahut kartika.
"Kartika!!" Bentak Abraham.
"Apa!, Kau ingin menyalahkan ku lagi, aku juga istrimu, ingat itu Abraham!"
"Sudah, kalian ini kenapa sih, gak malu saling berteriak disini?!, Kalian bicaralah baik-baik, aku akan ke kamarku dulu" sahut Jasmine.
"Yang?!" Ucap Abraham.
"Aku gak apa-apa yang, sungguh"
Abraham terdiam lalu segera melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya diikuti dengan Kartika di belakangnya, kini keduanya sudah duduk berhadapan.
"Katakan ada apa?"
"Aku ingin bekerja lagi di perusahaan ayahku, mulai besok"
"Apa?!, Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?, Bekerja di perusahaan Hanzel Company bukan untuk main-main, aku yang di tunjuk ayah sebagai pemimpin di sana, akan bertindak tegas dengan siapapun yang membuat kesalahan, kau siap dengan hal itu?"
"Tentu saja, tapi jangan lupa, aku tetap pewaris sah perusahaan Hanzel Company"
"Terserah, aku akan tetap melakukan aturan perusahaan"
"Baiklah, segera siapkan tempatku, aku yang akan menjadi asisten pribadi mu"
"Tidak bisa!"
"Tentu saja bisa, ayah sudah memberikan ijin, kalau tidak percaya kau bisa menanyakannya sendiri"
"Ayah?"
"Iya, kenapa, Salam darinya, mungkin beberapa bulan lagi dia akan pulang ke indo, pengobatannya berhasil membuat kondisi ayah membaik"
__ADS_1
"Iya, aku sudah mendengar kabar itu" ucap Abraham kemudian duduk terdiam.
"Sebaiknya kau persiapkan dirimu menjelaskan adanya Jasmine di rumah ini sebagai istri kedua mu"
"Jangan macam-macam, kau sudah menyetujui pernikahan keduaku di surat pernyataan itu, dan ayah akan mengerti hal itu" ucap Abraham.
"Oh ya, bagaimana kalau ayah tau, kau melakukan itu dengan mengancam ku?"
"Di saat itu terjadi, aku pastikan ayah juga tau, Apa saja yang sudah kau lakukan hingga hampir menghancurkan Hanzel Company"
"Kau_!"
"Apa?!, jangan berani macam-macam Kartika, atau kau sendiri yang akan menerima akibatnya"
"Kau benar-benar tidak tau diri Abraham!"
"Cukup!, Pergi dari ruangan ini kalau tidak ada yang mau kau bicarakan lagi!" Bentak Abraham.
Kartika langsung berdiri dengan menahan amarahnya, kemudian
melangkah pergi keluar dari ruang kerja Abraham, sementara Abraham duduk terdiam sambil memijit pelipisnya untuk mengurangi ketegangan pikirannya.
*
Sementara itu disebuah perusahaan Hanzel Company, seorang wanita yang baru saja keluar dari tempat kerjaannya segera ke tempat penitipan barang untuk mengambil kopernya, sesaat dirinya tampak bingung melangkahkan kakinya harus pergi kemana.
"Ya Alloh, aku harus kemana malam ini, uangku juga tinggal tiga ratus ribu" ucap Rena dalam hati, hingga kemudian dirinya teringat dengan kalung satu-satunya kenangan dari ibunya yang di berikan untuk di pakainya.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Rena memutuskan untuk menjual kalung itu, kini dirinya melangkahkan kaki menuju pusat jual beli toko perhiasan, belum juga Rena masuk ke dalam toko, tanpa sengaja bertemu dengan pamannya yang tak lain adalah Adi Jaya Vinan, hingga terjadilah keributan memperebutkan kalung warisan.
"Maaf paman, ini milikku, tidak akan pernah aku berikan pada siapapun"
"Tidak pernah kau berikan tapi malah kau jual, dasar sialan, berikan kalung itu, harga kalung itu mahal, itu pemberian nenekmu, disana ada permata nya juga, berikan padaku!!' ucap Adi sambil berusaha merebut dari tangan Rena, hingga kemudian sebuah tamparan mengenai pipi Rena dan langsung memerah.
"Jangan paman, tolong lepaskan!" Teriak Rena yang sudah terjatuh, namun tetap mempertahankan kalung itu di genggamannya.
"Lepaskan, anak sialan!!" Teriak Adi hendak memukul kembali Rena dan
DAK
Seorang wanita melesat dan langsung menendang Adi, hingga terpental jatuh ke belakang.
"Bangsat, siapa kamu ha!, Jangan ikut campur urusanku!" Teriak Adi sambil kembali berdiri.
"Kamu yang bangsat, beraninya memukul perempuan yang tidak berdaya, dasar banci!" Ucap wanita itu sambil menolong Rena untuk kembali berdiri, sedangkan Adi bergegas pergi memanggil pengawalnya.
"Terimakasih Nona" ucap Rena.
"Sama-sama, aku Dea, siapa namamu?"
"Kenalkan aku Rena"
"Lain kali hati-hati lah" ucap Dea
Namun tak lama kemudian datanglah lima orang tinggi besar dan juga seorang lelaki setengah baya yang sudah di tendang oleh Dea tadi.
"Hajar wanita itu, dan seret Keponakan sialan itu ke hadapanku!"
__ADS_1
"Oh sh*it!!, Mana mungkin aku menang musuh mereka, yang benar saja", batin Dea, kini para pengawal itu bergantian menyerang Dea hingga membuatnya keteteran, detik berikutnya jurus andalan kaki seribu langsung di keluarkan oleh Dea.
"Rena, gawat, ayo larii!!" Teriak Dea dan langsung menarik tangan Rena hingga mereka berdua melarikan diri bersama, Setelah dirasa aman akhirnya Dea menuju ke mobilnya dan mengajak Rena sementara untuk tinggal bersamanya di Apartemen.
"Untuk sementara kau tinggal dulu bersamaku, sampai nanti kau sudah punya uang untuk mendapatkan tempat tinggal.
"Iya terimakasih Dea, kamu baik banget"
Rena langsung diajak masuk ke salah satu kamar kosong untuk di tempatnya selama ada disana, setelah selesai membersihkan diri, Rena langsung keluar berniat membantu Dea menyiapkan makan malam, namun dirinya di kejutkan degan adanya foto besar dalam bingkai dimana ada foto Dea di peluk oleh seorang laki-laki yang dia kenal.
"Maaf Dea, laki-laki itu kekasih kamu?"
"Bukan hanya kekasih, dia lebih dari segalanya untukku, kenapa, kau mengenalnya?"
"Oh, iya, kebetulan sekali, aku baru tadi bekerja bersamanya"
"O yaa?!, jadi kamu asistennya sekretaris?, Wah kebetulan sekali rupanya" ucap Dea sambil tersenyum menyimpan sesuatu.
Akhirnya mereka berdua berbincang hangat sambil sesekali menceritakan kehidupan mereka masing-masing, Rena bercerita tentang bagaimana ibunya meninggal sampai dia akhirnya bekerja di Hanzel Company, sedangkan Dea menceritakan tentang profesinya yang sudah lulus menjadi dokter dan kini akan bekerja di sebuah rumah sakit besar di Jakarta.
Semakin hari, mereka berdua semakin akrab, Rena yang penyabar dan cekatan selalu bisa membantu memasak dan merapikan Apartemen Dea, Dea pun yang masih baru saja bekerja di sebuah rumah sakit dan tidak punya banyak waktu merasa sangat tertolong.
*
Satu Minggu berlalu dan kini Agung Dwi Vinan semakin terpuruk, menjelang siang hari semua para pegawai mengadakan unjuk rasa karena beberapa bulan banyak belum menerima gaji dengan berbagai alasan, hingga akhirnya perusahaan Vinan Company di nyatakan krisis, apalagi para penanam saham sudah keluar dengan menarik uang mereka kembali.
"Semua aset sudah kita jual Agung, tapi tetap tidak bisa menutupi kerugian perusahaan, belum lagi semua kasus-kasus hukum mu, apa yang akan ayah lakukan lagi?!"
"Aku juga tidak tau ayah, ini semua karena Abraham kepa*rat itu, sial !!"
"Kau juga kenapa begitu bodoh, kenapa harus berurusan dengan Abraham Hanzel Brian, kau tau kekuasaannya lumayan besar, mana mungkin kita bisa mengalahkannya!"
"Sepertinya aku perlu ke tempat tuan Smith dulu untuk meminta bantuan ayah"
"Lakukan segera, ayah tidak mau tau, kamu harus mengembalikan kejayaan Vinan Company, apapun caranya!"
Agung segera keluar dan kemudian memesan tiket pesawat untuk terbang ke Jepang menemui tuan Smith yang saat ini sedang ada di sana, rupanya rencana Agung sesuai yang di inginkan dan mendapat bantuan penuh dari Smith Rodergo untuk mendapatkan wanita pujaannya.
*
Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 81-86
Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.8
Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1