
Jasmine sengaja masuk dengan cepat di kursi belakang, dan tentu saja Abraham makin murka di buatnya.
"Jasmine!!" Teriak Abraham.
"Apa lagi?"
"Pindah ke depan, kau pikir aku sopir mu!" Bentak Abraham.
"Gak ada, aku di belakang saja, cepat deh ah, ini sudah siang, kita nanti telat ni" jawab Jasmine tanpa dosa.
Bukannya menjalankan mobilnya, Abraham malah keluar dari kursi sopir dan kemudian langsung masuk ke kursi belakang, tepat berada di samping Jasmine yang sudah melototkan matanya karena heran tidak menduga Abraham akan melakukan hal itu.
"Apa yang kau lakukan Eb?"
"Pindah kedepan atau aku akan ikut duduk disini sampai nanti kamu mau berubah pikiran" ucap Abraham.
"Kau ini, dasar!, Ribet banget jadi orang, tinggal nyetir aja, pakek syarat aneh-aneh" Jasmine ngedumel sambil melangkahkan kakinya melompat ke depan dari dalam mobil.
"Hei!, Apa yang kau lakukan, Jasmine!"
"Pindah ke depan, dari sini aja cepet, males kalau harus keluar mobil dulu, ribet, kelamaan!"
Sementara Abraham hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Jasmine yang sangat ke kekanak-kanakan.
"Kau ini wanita, yang kalem dikit jadi orang, jangan begajulan gitu" sahut Abraham.
"Sudah tau begajulan, masih juga mau di kawinin, gak ada orang lain apa?!" Ucap Jasmine.
" Gak ada" sahut Abraham.
Jasmine menatap Abraham sejenak dengan perasaan yang jengkel saat sudah berada di sampingnya, sementara Abraham cuek dan segera mengemudikan mobilnya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Abraham.
"Nggak, sorry tadi kurang fokus, capek"
"Kurang tidur?"
"Sepertinya begitu"
"Begadang?"
"Iya semalam sama temen-temen"
"Nginep di rumah temen kamu?"
"Iya, apa sih, tanya mulu?!" Ucap Jasmine jengkel.
"Heh, ditanya baik-baik malah nyolot, kamu itu sudah persiapan mau nikah, bukannya jaga kesehatan malah keluyuran saja, kalau kamu sakit gimana?"
"Berobat"
"Ya tau, bukan itu maksudku, aku gak pengen acara pernikahan kita sampai gagal, mau sakit kek, sehat kek, acara nikah tetep jalan, jangan berpikir alasan apapun, gak mempan!"
"Idih, maksa banget, sudah punya istri satu, masih saja kurang!"
Ciit..
DUK
"Auw, anjir..kepalaku, apa yang kamu lakukan!" Teriak Jasmine kesakitan kepalanya terbentur karena Rem mendadak
"Jangan pernah ngomong soal istri pertama atau istri kedua lagi, kau mengerti!" Ucap Abraham yang tengah murka dan menarik tubuh jasmani hingga kedua muka mereka hampir beradu.
Jasmine masih terbelalak kaget, nafasnya tertahan dan alunan ritme jantungnya semakin berdetak kencang, Sementara Abraham tersentak saat emosinya sudah menarik Jasmine begitu lekat dengan wajahnya, insting lelakinya segera bereaksi melihat bibir yang begitu menarik hasratnya, dan
DUG
"Aw, Sh*it!, kenapa kau mendorongku!" Teriak Abraham terkejut saat tiba-tiba saja Jasmine mendorong dengan keras hingga kepalanya terbentur bagian mobil.
"Dilarang berdekatan, belum muhrim" ucap sewot Jasmine sambil membenarkan duduknya.
__ADS_1
"Dasar kau ini_!" Ucap Abraham sambil menahan sakit dan segera mengemudikan mobilnya lagi.
Perjalanan tampak hening, hanya terdengar alunan musik klasik yang mengiringi perjalanan mereka, hingga sampai di tempat Jasmine bekerja.
"Sudah sampai, kelu_" ucap Abraham tertahan saat melihat wanita cantik di sampingnya sudah tertidur dengan pulas
"Cantik sekali, bahkan saat tertidur" batin Abraham masih menatap Jasmine.
Segera Abraham berusaha membangunkan Jasmine, satu, dua hingga tiga kali, Jasmine tidak menampakkan reaksi akan segera bangun dari tidur nyenyak nya.
"Ya ampun, jas, Jasmine, hei bangun!" Ucap Abraham, namun tetap saja, Jasmin masih asik dalam alam tidurnya.
Hingga akhirnya Abraham memutuskan membawa Jasmine untuk ikut ke perusahaannya, dan kemudian mobil Abraham melesat ke perusahaan Hanzel Company.
Sampai ditempat, Abraham segera menggendong Jasmine yang hanya bergerak sebentar saat ada dalam dekapannya, kemudian Abraham naik ke atas gedung dengan menggunakan liff pribadi perusahaan.
"Anjir, Abraham apa yang kau lakukan?!" Kata Rafael terkejut saat mendapati Abraham datang dengan membawa Jasmine dalam gendongannya.
"Sstt, diam, buka pintu ruangan ku, cepet!" Ucap Abraham lirih.
Dan pintu segera di buka oleh Rafael, kemudian Abraham segera masuk, dan meletakkan Jasmine di Sofa panjang yang berada di ruangan kerjanya, perlahan Abraham membaringkan Jasmine disana.
"Apa yang kau lakukan, kau membuatnya tertidur Eb?" Tanya Rafael
"Nggak ada, mana mungkin aku melakukan itu ,sepertinya dia lelah, tadi menabrak mobil belakangku saat dia menyetir" jawab Abraham.
"Ya Tuhan, kalian baik-baik saja kan?"
"Iya, sepertinya dia sangat kecapekan, lihat saja kebo banget itu tidurnya, kau keluarlah El, kosongkan acara rapat ku sampai siang nanti, aku akan menjaganya sambil bekerja disini"
"Eh gak bisa, aku ikutan kerja disini sambil nunggu Jasmine"
"Berani kau_?!"
BUG
Lemparan Abraham tepat mengenai kepala Rafael hingga meringis kesakitan
"Jangan berani masuk, kalau aku tidak menyuruh mu, pergi!" Ucap Abraham
BRAK
Pintu langsung di tutup oleh Abraham sebelum mendengar omelan Rafael lagi.
Abraham segera duduk, menghubungi ayah Jasmine dan melanjutkan pekerjaannya, sementara Jasmine masih tertidur nyenyak disana.
Hampir dua jam kemudian, Jasmine tampak mulai menggerakkan tubuhnya, sementara Abraham yang melihatnya menggeliat, segera bejalan mendekatinya.
Perlahan Jasmine membuka matanya.
"Astagfirullah!" Jasmine langsung terjingkat dan segera duduk sambil menajamkan pandangannya.
"Kenapa?" tanya Abraham.
"Abraham?, Ini_?, dimana?" Ucap Jasmine Langsung melihat sekeliling.
"Di dalam ruang kerjaku, kenapa?"
"Kok bisa disini?"
"Kamu tidurnya nyenyak banget, gak bisa di bangunkan, jadi aku bawa kau kesini"
"Apa!, Maksudnya_, yang bawa aku kesini kamu?" Tanya Jasmine mulai panik.
"Memangnya siapa, mau kamu di gendong satpam?" Jawab Abraham.
"Jadi, tadi, Aku kamu gendong?"
"Nggak, aku seret"
"Ish, kau ini, aku tanya beneran!"
__ADS_1
"Ya mau diapakan kalau gak di gendong, pertanyaan mu itu aneh banget, baru bangun sudah bikin mumet"
"Aku mau pulang, terimakasih, permisi!" Ucap Jasmine dan melangkah pergi begitu saja.
Sementara Abraham menanggapinya dengan tersenyum penuh misteri, hingga kemudian.
"Eb, buka pintunya!" Teriak Jasmine.
"Buka saja sendiri, aku belum berniat membukanya" ucap Abraham berjalan santai duduk kembali ke kursinya.
"Abraham!, Keterlaluan kamu ya, buka pintunya, mana kunci atau remote nya, cepet!"
Abraham hanya terdiam cuek dan melanjutkan pekerjaannya tanpa menanggapi Jasmine, hingga akhirnya Jasmine menyerah dan duduk kembali ke sofa.
"Apa sih mau kamu, aku juga harus kerja Eb, ngapain juga harus kamu kurung disini!"
"Gak perlu kerja, aku sudah minta ijin ke Ayahmu"
"Apa!, Ayah tau aku sama kamu disini?"
"Iya, memang nya kenapa, sebentar lagi kita juga nikah"
"Gak perlu diingatkan terus, tau kalau aku habis ini kamu nikahi"
"Baguslah, sekarang ceritakan apa yang terjadi, kenapa kamu bisa tidur di rumah orang, terus sekarang tampang kamu kurang tidur gitu, untung saja tadi aku yang kamu tabrak"
"Tanya apa interogasi, banyak banget"
"Dua-duanya, jawab!" Ucap Abraham
"Iya, kan kamu sendiri juga tau masalahnya, aku cuma berusaha mencari cara gimana mau cerita ke Risma, soal yang kemaren"
"Dah Nemu?"
"Belum, masih bingung" ucap Jasmine dan menunjukkan wajah murungnya
Abraham menghela nafas, saat melihat Jasmine tampak tertekan dengan masalahnya, perlahan dia mendekati Jasmine kemudian duduk di di sampingnya
"Sebaiknya segera di beritahu, kasian juga Risma temanmu itu, apalagi Dinda yang juga sahabat kamu sudah mengandung, itu artinya masalah ini tidak bisa di buat santai lagi, harus segera di selesaikan" ucap Abraham memberikan solusi.
"Aku tau, pengennya juga gitu, rapi susah aku memulainya dari mana Eb"
"Kenapa kamu yang susah, biar mereka berdua yang bersalah mengungkapkan semuanya di depan Risma, kamu ikut campur sebagai sahabat saja"
"Tapi Eb, mereka semua sahabatku, aku tidak ingin mereka terluka"
"Tidak akan bisa, mereka sendiri yang sebelumnya sudah bermain Api, kalau akhirinya terbakar itu juga resikonya"
"Iya juga sih, tapi_?"
"Jangan kebanyakan mikir, kalau kamu menyayangi mereka, kamu juga harus tegas, biar mereka tidak terus terjerumus dalam perbuatan Dosa"
Jasmine terkesiap dengan sikap dan perkataan Abraham yang sangat tegas dan bijaksana, walaupun terkesan kasar tapi apa yang dikatakannya memang benar. Jasmine terkesima dengan Abraham hingga dirinya masih terdiam
"Aku memang tampan, gak perlu juga kamu lihatnya sampai seperti itu Jasmine" ucap Abraham dan membuat Jasmine terkejut lalu segera memutuskan tatapannya.
*
Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 51-55
Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.4
Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE