AKULAH WANITAMU

AKULAH WANITAMU
Ijin Suami


__ADS_3

Setelah kepergian Abraham, Jasmin berencana untuk kembali ke kontrakan menemui Risma.


"Ayah aku akan pergi ke kontrakan, mungkin aku akan menginap malam ini dan sana menemani Risma, Dinda sedang sakit dan kini sedang dirawat di rumah sakit"


"Ijin Abraham dulu, kamu telpon saja dia, kalau Abraham menyetujuinya, ayah juga memberikan ijin"


Akhirnya dengan terpaksa Jasmine segera menelpon Abraham.


"Assalamualaikum, halo Eb"


"Waalkum salam, ada apa Jas, aku baru saja sampai rumah"


"Aku mau minta ijin pergi ke kontrakan, menemani Risma, takut terjadi sesuatu dengannya"


"Memangnya kamu sendiri keadaanya sudah enakan, gak usah macem-macem, istirahat dirumah!"


"Tapi aku khawatir sama Risma Eb, pokoknya aku mau ke sana!"


"Jasmine, kau itu benar-benar ya, kondisimu sendiri belum pulih, nyetir sendirian itu bahaya, nggak ingat kamu sudah nabrak aku kemaren?!"


"Tapi Eb, please, gimana dengan Risma, aku gak bisa ninggalin dia saat seperti ini Eb"


Abraham tampak terdiam beberapa saat dan kemudian akhirnya dia menyerah juga dengan keinginan Jasmine.


"Ya sudah, aku akan menyuruh supir menjemputmu, biar diantar ke kontrakan Risma" ucap Abraham.


"Okey, makasih suamiku, muach" sahut Jasmine yang terdengar sangat riang, hingga membuat Abraham tersenyum sendiri saat berbicara di telpon.


"Aku ikut, nanti aku susul ke sana"


"Ya ampun Eb, ngapain juga kamu kesana, gak penting tau nggak?!"


"Nggak buat kamu, tapi penting buatku, sudah aku tutup dulu, kamu hati-hati berangkatnya"


"Iya, makasih"


Jasmin masih komat kamit seperti baca mantra melampiaskan kekesalannya akan keputusan Abraham, kemudian segera bersiap menunggu kedatangan sopir Abraham yang akan menjemputnya.


"Nunggu Abraham?" Tanya sang Ayah.


"Iya yah, itu orang bawaannya ribet mulu, aku kan bisa berangkat sendiri, malah suruh nunggu sopirnya, hadeh"


"Itu namanya suami kamu bertanggung jawab, gak ingin terjadi sesuatu dengan mu Jasmine, itu mobilnya datang, ya sudah pergilah"


Jasmine segera beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar bersama dengan sang Ayah, setelah memeluk dan memberi salam, Jasmine segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke kontrakan sahabatnya.


*


Sementara itu Rafael sudah meluncurkan aksinya seperti yang di perintahkan oleh Abraham, dengan mengirimkan Email tentang pernikahan rahasianya ke alamat email ketua dari permainan taruhan para pengusaha besar penguasa bisnis di Asia.


Tak lama kemudian balasan sudah bisa di terima, di sana juga menyatakan tanda kunci untuk menutup permainan yang sudah di nyatakan menang oleh Abraham Hanzel Brian, Akhirnya Rafael bisa tenang dan bernafas lega.


"Oh ya ampun, syukurlah semua berjalan sesuai rencana, aku sangat khawatir sekali" batin Rafael.


Lalu suara ketukan pintu Apartemen di dengar oleh Rafael, dirinya segera bergegas untuk melihatnya, ternyata di sana ada Farel Sahabatnya. Kini keduanya sudah berbincang di ruang kerja Rafael.


"Bagaimana, kau sudah mengirim email nya?" Tanya Farel


"Sudah, semua beres, berjalan sesuai rencana, aku sudah bisa tenang sekarang"


"Syukurlah, aku ikut lega mendengarnya El, bisa-bisanya si Agung itu melemparkan Jasmine ke dalam permainan laknat itu, kurang ajar!"


"Aku juga geram dengan pemilik perusahaan Vinan Company itu, tunggu saja pembalasanku, suatu saat aku akan menghajarnya sendiri dengan tanganku" ucap Rafael.


"Hem, dia tidak sadar sedang bermain api dengan Abraham, apa dia juga masih berselingkuh dengan Kartika?" Jawab Farel.


"Sepertinya masih, Abraham sudah membayar seseorang untuk mengikuti semua gerak-gerik Kartika, aku benar-benar heran dengan wanita satu ini, pantas dari awal Abraham tidak pernah mau menyentuhnya"

__ADS_1


"Lalu Agung Dwi Vinan?" Tanya Farel.


"Dia bagian ku, akan aku buat dia benar-benar menyesal sudah berurusan dengan Abraham"


"Kalian memang sangat cocok, pantas Abraham tidak ingin kau jauh darinya, dan kalian lebih mirip sepasang kekasih"


"Anjir, mana ada!"


"Hahaha" keduanya tertawa, lalu kemudian melanjutkan perbincangan.


*


Abraham terkejut saat akan melangkahkan kaki pergi menyusul Jasmine, rupanya dia melihat Kartika baru saja sampai rumah dengan menaiki sebuah taksi dan berjalan pelan terlihat lemah, sopir taksi ikut membantunya berjalan.


"Ada apa Tika, apa kau sakit?"


"Menurutmu, kalau aku sehat ngapain minta bantuan taksi untuk pulang ke sini" sahut ketus Kartika.


"Memangnya kau dari mana, bukannya tadi siang Farel sudah mengantarmu pulang?"


"Iya, aku main dana teman-teman, mengurangi penat karena masalah yang kau timbulkan, memang kenapa, gak boleh?, Bukannya kamu sudah di sibukkan dengan istri baru kamu itu, dasar wanita sok alim tapi doyan sama suami orang"


"Jaga mulut mu Kartika, aku sudah memperingatkan mu untuk tidak keterlaluan ke Jasmine, aku yang memaksanya untuk ku nikahi, bukan dia, jadi jangan berani menghinanya"


"Lalu apa alasanmu sampai mau menikahinya, katakan Ab!"


"Itu bukan urusanmu, pergilah beristirahat, kau tampak pucat dan lelah, aku akan memanggil kan mbok Darmi untuk membantumu"


"Gak perlu, dasar babu kurang ajar, jangan bilang mbok Darmi gak sengaja ada disana, sebelumnya kalian sudah merencanakan hal ini bukan?"


"Aku yang menyuruh mbok Darmi, bukan kesalahannya berada di sana, sekali lagi jangan biasakan meluapkan emosimu ke orang lain, suatu saat itu akan kembali padamu Kartika"


"Aku gak perduli, aku ingin sekali menghajar mbok Darmi, mana babu itu, aku akan memberikan pelajaran dan akan memecatnya!"


BRUG


"Tuan, sepertinya nyonya Kartika benar-benar masih lemah, saya takut kalau ada apa-apa tuan"


"Biar aku telpon dokter Farel dulu Mbok" ucap Abraham dan langsung menghubungi farel Sahabatnya yang kebetulan masih ada di rumah Rafael, dan tak lama kemudian Farel pun datang untuk memeriksa keadaan Kartika.


"Sepertinya Kartika sedang dalam perawatan, aku melihat lengannya ada bekas jarum infus, mungkin dia kecapekan saja Ab, tenanglah, sebentar lagi dia akan tersadar" ucap Farel.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu"


Keduanya segera keluar dari kamar Kartika dan masuk keruang kerja Abraham.


"Dimana Jasmine?" Tanya Farel.


"Astagfirullah, aku sampek lupa Rel, aku bilang akan menyusulnya di rumah temannya"


"Kau ini, dimana alamatnya, biar aku yang menyusulnya, kau jangan meninggalkan Kartika dulu sebelum dia sadar, nanti kalau ada apa-apa mbok Darmi bingung"


Abraham berpikir sejenak dan kemudian segera memberi tahu alamatnya.


"Eh, ingat Rel, Jasmine istriku, jangan macem-macem!"


"Ish, kau ini, memangnya aku pernah macem-macemin perempuan, dasar!"


Farel segera pergi dari rumah Abraham dan menuju ke tempat Jasmine.


*


Jasmine sudah berada di kamar Risma, keduanya kini sudah saling berpelukan, Risma juga sudah bisa tenang menghadapi masalahnya.


"Jadi apa loe akan menerima mas Agam kembali?" Tanya Jasmine.


"Hem, mas Agam sudah menjelaskan semuanya, bahkan Dinda juga mengakuinya, rasanya tidak adil kalau mas Agam yang harus menderita disini Jas"

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Dinda, dia sedang mengandung anak mas Agam, Ris"


"Kami akan membesarkan anak itu bersama dan akan pergi jauh dari Dinda, kata mas Agam, Dinda juga sudah menyetujuinya"


"Ya sudah kalau begitu, gue selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian semua, kalian sahabatku, gue tidak ingin terjadi hal buruk lagi"


"Iya, gue sudah gak apa-apa Jas, dan mulai besok akan membantu loe di perusahaan, bagaimana?"


"Benarkah?, Makasih Risma" ucap Jasmine dan langsung memeluk Risma, keduanya kini merasakan kebahagiaan kembali.


"Malam ini loe tidur sini ya Jas?"


"Boleh, kalau loe mau kita tidur bertiga, bagaimana?"


"Bertiga?, Sama siapa?"


"Abraham, mau loe?!"


"Anjir loe, gila banget gue harus mantengin loe lagi enak-enakan ma suami loe, dasar sableng!"


"Eh, siapa yang enak-enakan, gue lagi Sabel ma tu orang, ijin nginep disini gak boleh, nanti mau nyusul katanya, posesif banget"


"Hahaha, rasain loe, sekarang ada pengendalinya kan, jadi tenang hidup gue, gak loe recokin mulu akhirnya"


"Siapa bilang, nanti kalau gue keselnya gak ketulungan, minggat nya tetep kemari lah"


"Njir, somplak banget deh loe, gak boleh minggat-minggatan kalau sudah jadi istri, harus Sholeha!"


"Nggak mau, gue tetep Jasmine, mana ada ganti Sholeha"


"Tau deh ah, ngomong sama loe, bikin emosi gue naik lagi, dasar semprul!"


"Tapi loe sayang kan, hehe" ucap Jasmine manja.


"Idih, cantik banget sih loe Mina, kalau gue laki udah gue kawinin loe dari dulu"


"Anjir, jijik gue, minggir!" Sahut Jasmine langsung meloncat turun dari tempat tidur Risma yang sudah jerawat ngajak lihat Jasmine melesat keluar dengan segera.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara bel kontrakan Risma berbunyi, Risma segera berjalan menyusul Jasmine untuk membuka pintu.


Risma dan Jasmine terkejut saat melihat bukan Abraham yang ada di depan pintu malam-malam, melainkan Farel yang sudah tersenyum dan menyapa mereka.


"Hai, selamat malam Jasmine"


"Malam juga, kok kamu ada disini Rel, ada apa?"tanya Jasmine.


"Aku menggantikan Abraham menyusul mu, yok aku antar_"


"Gak usah!" Teriak seseorang dari arah belakang.


*


Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 56-61


Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.5


Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen


BERSAMBUNG


Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:


LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN


HADIAH HADIAH HADIAH

__ADS_1


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2