AKULAH WANITAMU

AKULAH WANITAMU
Pernyataan Rafael


__ADS_3

Jasmine kini sudah berada di balkon ruang tengah, dilihatnya pemandangan hamparan gemerlap malam yang sangat indah, tanpa sengaja Jasmine menoleh ke sisi kiri dari Mansion dan di sana terlihat rumah yang mewah walaupun tak semegah Mansionnya.


"Sepertinya aku pernah melihat rumah itu, dimana ya?" Ucap lirih Jasmine dan masih terdengar oleh Abraham yang perlahan sudah memeluknya dari belakang.


"Itu rumah dimana aku menyuruhmu untuk datang dan bertemu denganku, masih ingat yang?" Sahut Abraham.


"Kapan yang, aku masih belum ingat" ucap Jasmine.


"Kau datang dengan membawa petunjuk yang ku berikan, waktu itu aku sangat bersemangat mengerjai mu, aku memberimu petunjuk melewati bukit dan persawahan di belakang sana, dan kau datang bersama sahabat lamamu, Risma dan Dinda"


"Oh itu, jadi sebenarnya rumah itu gandeng sama mansion ini yang?" Tanya jasmine terkejut.


"Iya, dan rumah itu menjadi halaman belakang mansion ini, sengaja aku bangun untuk rumah singgah, dan tempat latihan" jawab Abraham.


"Dasar kau yang!!"


Bug Bug Bug


Jasmine langsung memukuli Abraham saat mengingat betapa menderitanya dia dan sahabatnya karena ulah Abraham waktu itu.


Abraham tertawa dan semakin mengeratkan pelukannya agar Jasmine susah bergerak, kemudian Abraham menelusup kan wajahnya di leher jenjang istrinya.


"Maaf yang, waktu itu aku sangat merindukanmu, tapi tidak berani berterus terang, jadi aku gunakan cara itu untuk bertemu langsung denganmu, walaupun pada akhirnya kita bertarung" ucap Abraham.


Abraham memberikan kejutan lagi dengan mengabarkan bahwa Dinda sudah resmi menikah dengan Agam di Paris, namun kehidupannya di sana memprihatinkan karena perusahaan orang tuanya bangkrut dan berencana untuk kembali ke Indonesia.


Risma menuliskan sebuah surat yang di simpan oleh Abraham dan kini diberikannya ke istrinya, Risma mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja, dan akan melanjutkan studinya ke luar negeri mengambil S2 nya.


Jasmine meneteskan air mata, mengingat kenangan masa lalu dengan para sahabatnya.


*


Sementara itu Rafael sudah berhasil mengejar Rena yang berlari keluar dan kini ada di taman halaman depan Mansion.


"Maaf Ren, jangan marah begitu, kita tidak ada maksud membuatmu jengkel, aku akan jujur dan meluruskan sesuatu yang sudah membuatmu salah paham"


"Katakan, dan jangan membuatku ingin membunuhmu" jawab Rena ketus.


"Antara aku dan Dea, kami memang punya ikatan kasih sayang dari lahir"


"Kalian dijodohkan dari bayi maksudnya?"sahut Rena.


"Bukan, dengarkan dulu, aku belum selesai ngomong" jawab Rafael, "dengan kata lain kami lahir dari rahim seorang wanita yang sama, dan itu artinya Dea adalah adik kandungku"


"Apa!!", Tidak mungkin, jangan bercanda pak, aku gak suka, jangan main-main lagi!" teriak Rena.


"Bercanda gitu kan seru, ngapain kamu marah, memang ada hubungannya dengan kamu, ini urusan ku dengan Dea dan kamu gak ikut didalamnya kan?"

__ADS_1


Jawaban Rafael semakin memancing kemurkaan Rena yang merasa sangat di permainkan.


"Iya memang saya gak ikut di dalamnya, saya juga sadar saya ini siapa, saya hanya merasa kalian rendahkan karena harus menjaga hati saya untuk Dea, saya merasa sakit saat harus menahan rasa sayang saya untuk Dea, saya menahan sekuat tenaga untuk tidak menyukaimu agar tidak mengkhianati Dea, lalu pantaskah aku hanya mendapatkan tertawa kalian dengan semua yang sudah aku lakukan!!" Teriak Rena dengan tangisnya dan tidak sengaja mengungkapkan isi hatinya karena emosi.


"Teruskan kalau dengan begini membuatmu lega" ucap Rafael.


"Aku hanya tidak ingin mengkhianati teman yang sudah menolongku, aku akan lakukan apapun untuk membuang perasaanku demi Dea, aku rela menyerahkan nyawaku untuknya, karena dia sudah menyelamatkan ku, dan aku tidak punya apa-apa untuk membalas semuanya, apakah hal ini hanya sebuah lelucon bagi kalian?" Ucap Rena sambil menangis.


Rafael langsung memeluk Rena karena sudah tidak tahan lagi melihatnya menangis, tiba-tiba saja Rafael menyadari kalau dirinya tidak rela wanita yang kini ada di depannya menderita, dia ikut merasa sakit dengan apa yang di rasakan nya, hingga akhirnya Rafael menyadari kalau ada cinta untuk Rena.


"Jangan memelukku seperti ini pak, aku tidak ingin menyakiti Dea" ucap lirih Rena dalam pelukan Rafael.


"Aku serius dan dengar baik-baik Rena Nandita, aku dan Dea adalah saudara kandung, Rafael Prayuda dan Revana Deandra Prayuda, nama belakang kami sama, apa kau sudah mengerti sekarang?"


Rena sangat terkejut dan kemudian Rena berusaha mengingat nama belakang sahabatnya dan juga laki-laki yang ada di depannya.


"Oh my God, kenapa aku baru menyadarinya" batin Rena yang merasa malu sendiri.


"Bagaimana sudah ingat kan, percaya sekarang??"


"Em, iya pak, maaf, habisnya kalian gak meluruskan masalah ini dari awal sih, kenapa coba, niat banget kan ngerjai aku" sahut Rena tetap tidak mau kalah.


"Oke oke, aku yang salah, dan Rena Nandita yang benar, sudah puas?, Ayo dong jangan marah lagi, gak seru"


"Iya pak, bisa nggak dilepaskan dulu pelukannya, saya sudah gak nangis pak, dan mohon kata-kata saya yang tadi jangan dimasukkan hati pak, saya hanya emosi sesaat saja hehe, bisa kan pak dilepas dulu?" Ucap Rena yang berencana akan berlari pulang dan menghajar Dea nanti waktu di Apartemen.


Rena sangat terkejut dalam diamnya, hatinya menghangat, jantungnya terasa mau lepas, dan dunia seakan berhenti berputar, dia berusaha menyadarkan diri apakah ini hanya sebuah mimpi, dan kalau memang iya, rasanya dia tidak ingin terbangun.


"Apa saya bermimpi ya pak?" Ucap Rena konyol dan membuat Rafael tersenyum lalu mencubit pipinya dengan keras.


"Aw, pak, apaan sih, sakit!!" Teriak Rena sambil mengusap pipinya.


"Dengar baik-baik, Rafael Prayuda mencintai Rena Nandita, apa kau menerimanya?" Ucap lirih Rafael yang masih memeluk Rena.


Sontak Rena hampir limbung saking terkejutnya, bisikan Rafael membuatnya seperti melayang ke udara, lalu Rena mengangguk pelan.


"Terimakasih Rena, jaga cintaku mulai sekarang ya, jangan panggil aku pak lagi kecuali sedang bekerja"


"Lalu aku panggil apa?" Tanya Rena bingung.


"Terserah, panggil 'yang' juga boleh"


"Ih, gak mau, panggil kak aja, biar sama kayak Dea, hehe"


"Hehh, memang aku kakakmu?, dasar!" Sahut Rafael kemudian melepas pelukannya, menautkan jari jemari mereka lalu masuk kembali ke dalam untuk bergabung dengan yang lain.


*

__ADS_1


Tiga hari kemudian, Abraham berencana untuk menuntaskan masalah perceraiannya dengan meminta tanda tangan persetujuan dari Kartika, sebenarnya Jasmine tidak setuju akan hal itu karena tidak tega dengan perasaan Kartika yang baru saja ditinggal pergi oleh Abraham dan belajar untuk hidup mandiri, namun kali ini keinginan Abraham tidak bisa di tawar lagi.


"Kamu gak perlu ikut yang, nanti yang ada kamu cuma bisa mendengar umpatan dari mulut pedas Kartika" kata Abraham sambil berjalan menuju mobilnya yang sudah siap.


"Gak bisa, aku takut kamu nya yang gak bisa mengontrol diri, kasian Kartika yang, dia sekarang sendirian, kamu nanti ngomongnya jangan kasar"


Cup


"Yang!!"


Teriak Jasmine yang tiba-tiba saja di cium bibirnya di depan para penjaganya.


"Mangkanya diam, jangan bawel, yok masuk, kita segera berangkat" ucap Abraham sambil merangkul pinggang istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Jasmine merasa ada yang aneh dengan adanya satu mobil yang berisi beberapa pengawal mengikutinya, kemudian Abraham tersenyum dan menjelaskan bahwa dirinya sengaja mengambil beberapa orang penjaga untuk mengawal Jasmine juga dirinya saat berada di luar rumah.


"Yang, aku gak suka kalau kemana-mana diikuti pengawal gini, gak bebas" protes Jasmine.


"Sudah, nanti bisa di atur, tapi sebisa mungkin kamu harus ada yang jaga kalau keluar rumah yang..musuh kita tidak sedikit, aku tidak tenang kalau kamu keluar tanpa pengawalan"


"Aku kan bisa jaga diri yang, gak perlu khawatir gitu, tiap hari nanti kita bisa latihan bareng, biar kamu tenang, gimana?"


"Kau ini, sudah, harus nurut sama suami" ucap Abraham dan di sambut dengan manyun oleh Jasmine.


"Jaga bibir kamu itu, mau aku lu*mat disini sekarang juga?!"


Jasmine terkejut dan langsung menutup bibir dengan kedua tangannya, Abrahan tertawa, begitu juga dengan sopir dan satu pengawal yang ikut tersenyum melihat kelakuan konyol kedua majikannya.


*


Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 91-99


Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.10


Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen


BERSAMBUNG


Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:


LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN


HADIAH HADIAH HADIAH


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE

__ADS_1


__ADS_2