
Semakin besar kehamilan Jasmine, sudah tidak mungkin lagi kabar kehamilannya terus disembunyikan dari publik, apalagi kehamilan sembilan bulan membawa banyak sekali perubahan di tubuh Jasmine.
Kabar bahagia didengar oleh semua orang, dan tentu saja, kebanyakan dari mereka sangat bersuka cita dengan kehamilan yang ditunggu-tunggu oleh pasangan milyader muda yang sedang berjaya saat ini.
"Apa kau tidak ingin tinggal saja dirumah sayang?" Tanya Abraham sambil mengelus perut istrinya didepan cermin.
"Nggak yang..aku ingin ikut bekerja di perusahaan kita.. Alhamdulillah anak kita ini pintar, gak rewel, iya kan dek?" Kata Jasmine sambil ikut mengelus perut buncitnya yang semakin kelihatan besar.
Abraham memeluk erat istrinya dari belakang dan sesekali menghirup segar tubuhnya di ceruk leher Istrinya.
"Yang..bisa aku minta sesuatu sebelum kita berangkat?" Bisik Abraham lirih.
"Apa?, Yang..jangan bilang kau menginginkanku" ucap Jasmine dan langsung membalikkan badannya.
(Disarankan dibaca setelah berbuka puasa)
Abraham tersenyum, lalu dengan cepat mengecup bibir istrinya yang sudah seperti can*du baginya, ciuman yang awalnya hanya sejenak, kini berubah menjadi luma*tan demi luma*tan yang membuat kabut gairah Jasmine mulai nampak di matanya.
Pengaruh hormon kehamilan memang sangat hebat disaat yang tepat, hingga kemudian perlahan Abraham sudah berhasil menarik celana kerja Jasmine jatuh kebawah.
Begitu juga dengan apa yang sudah dilakukan Abraham yang kini sudah menampakkan sang pusaka yang haus akan belaian tempat terindahnya.
"Pelan yang.. please.." ucap Jasmine dengan tangan yang menggenggam erat pinggiran meja, berusaha menahan semua sensasi yang ada.
Abraham sangat tau gerakan yang tiba-tiba akan membuat istrinya merasakan sakit, tidak ingin hal itu terjadi, Abraham memberi kesempatan Jasmine untuk menikmati lebih lama lagi semua sentuhan tangan dan bibirnya.
Lalu kemudian dia merasakan basah di bagian bawah tempat pusakanya akan segera bersarang.
"Kamu siap yang..?" ucap lirih Abraham sambil bersiap melakukan nya.
Anggukan Jasmine cukup untuk membuatnya kini melakukan penyatuan. Jasmine menge*rang dan mende"sah saat milik nya kini sudah di penuhi pusaka sang suami, gerakan demi gerakan mengguncang tubuhnya perlahan.
Abraham menjaga rahim istrinya dengan memindahkan tangannya menyelusuri perut istrinya dan kini tangan kanan sudah menahan perut sang istri tercinta.
__ADS_1
Gerakan Abraham semakin cepat, membuat Jasmin berteriak dan mende*sah berulang kali, hingga akhirnya keduanya menyelesaikan penyatuan di pagi hari.
Alex mengetuk pintu memanggil sang Mommy untuk menemaninya sarapan pagi, Abraham tersenyum melihat anak laki-lakinya tampak begitu sangat dewasa dari usianya ketika mengambilkan nasi untuk sang Mommy.
"Biar mommy saja yang melayani kalian sayang.." ucap Jasmine sambil tersenyum kearah Alex.
"Jangan Mom, kasihan mommy kalau harus berdiri, nanti cewek cantik yang ada diperut mommy protes padaku karena buat Mommy capek" jawab Alex.
"Oh..jadi adik Alex yang ada dalam perut mommy ini..cantik ya?" Tanya Jasmine.
"Yes mom..dia sangat cantik, sangat..sangat cantik, sepertinya nanti aku akan lebih ekstra menjaganya, buka begitu Dad?" Ucap Alex yang kemudian duduk kembali bersiap untuk memulai sarapan paginya.
Abraham tersenyum kemudian memberikan kesempatan kepada Alex untuk memimpin doa sebelum makan.
Sebelum berangkat ke sekolah Alex tersenyum melihat perut Mommy nya, melihat apa yang dilakukan anaknya, Jasmine mengerutkan kening lalu bertanya untuk menjawab rasa penasarannya.
"Kenapa Alex tersenyum?" Tanya Jasmine.
"Oh...jadi Alex bisa komunikasi sama adek?" Tanya Jasmine makin penasaran.
"Bisa sih Mom, kalau dia pengen aja"
"Mulai kapan kalian bisa melakukan hal itu?" Tanya Abraham yang ikut masuk dalam perbincangan.
"Baru satu bulan yang lalu Dad, dia sering pengen aku temani, mangkanya Alex sering ikut mommy tidur kalau ada kesempatan, adek sering minta ditemani" ucap Alex masih terus mengusap lembut perut Mommy nya.
Abraham dan Jasmine saling pandang lalu tersenyum setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Anak laki-lakinya, hingga kemudian sang sopir yang siap mengantar Alex sudah ada di depannya.
"Ya sudah..Alex waktunya berangkat sekolah sayang" ucap Jasmine kemudian segera mengantar Alex masuk ke dalam mobil yang siap mengantarnya dengan dua pengawal yang sudah siap menemani.
Dalam perjalanan menuju perusahaan Nugraha Company, Abraham berbincang dengan sang istri tentang Alex dan juga bayi yang masih berada dalam kandungannya.
"Aku berharap kamu mulai beristirahat dirumah saja saat ini yang..perkiraan persalinannya hampir saja tiba, aku khawatir akan hal itu" ucap Abraham.
__ADS_1
"Iya yang..aku janji dua minggu lagi akan cuti , lagian aku baik-baik saja kok, seperti nya Anak kita ini sangat suka diajak bekerja" jawab Jasmine.
"Hem, tapi jangan terlalu capek, aku khawatir yang, apalagi Alex, dia akan protes padaku kalau sampai terjadi sesuatu denganmu dan adiknya" ucap Abraham.
Jasmine tersenyum membayangkan Alex yang sekarang begitu perhatian terhadap dirinya dan juga calon adiknya.
Sampai akhir nya keduanya tiba di perusahaan dan segera disambut oleh beberapa pegawai yang sudah membentuk tim untuk melakukan rapat penting dengan pemilik perusahaan ternama yang menguasai pasar Eropa.
Tidak seperti yang dibayangkan oleh Jasmine, ternyata pemilik perusahan itu begitu sombong dan angkuh.
"Jadi anda masih berpikir untuk bekerja sama dengan perusahaan ku tuan Abraham?" Tanya pemilik perusahan itu dengan senyum meremehkan.
"Tentu saja tuan, Nugraha Company selalu berhati-hati dalam memutuskan langkah yang akan di ambil, apalagi mengingat dampak kerja sama ini akan berlanjut sampai beberapa tahun kedepan, saya tidak mau mengambil resiko tuan Mickel Laronzo" ucap Abraham.
"Hahaha, aku tidak percaya dengan apa yang kau bicarakan tuan Abraham, jangan lupa sebesar apa kekuasaan perusahaan ku Laronzo Company di wilayah Eropa, apa anda tidak paham akan hal itu?" Ucap Mickel dengan sombongnya.
"Maaf tuan..Roda kehidupan itu terus berputar, tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi kedepannya, Apalagi kalau Tuhan sudah berkehendak akan Makhluknya tidak akan ada yang bisa mencegahnya walaupun itu rasanya tidak mungkin" sahut Janine dengan tersenyum manis.
"Terserah apa pendapat kalian, asal kalian tau..Tuhan saja bingung cara memiskinkan saya" sahut Mickel dengan angkuhnya.
"Benarkah..padahal saya tidak bingung untuk memiskinkan anda, karena anda sebenarnya sudah sangat miskin menurut pandangan saya" sahut Jasmine membuat Mickel terkejut dengan perkataannya .
"Apa maksud anda, kalian meremehkan saya?" Ucap Mickel dengan amarahnya.
"Tenanglah Tuan Mickel, istriku hanya mengatakan apa yang di lihat dalam diri anda, sangat di sayangkan karena saya harus memutuskan dengan tegas, Menolak kerja sama ini karena prinsip kita yang saling bertabrakan" ucap Abraham dengan mantap.
"Apa?!" Ucap Mickel sangat terkejut.
"Apa kau dalam keadaan sadar dengan keputusanmu ini Tuan Abraham?, Ingat jangan sampai kau menyesal!!" Ucap Mickel yang kemudian tanpa permisi beranjak pergi meninggalkan Rapat.
Bersambung.
Terus berikan KOMEN, LIKE, HADIAH DAN VOTE, untuk membangun semangat author terus berkarya.
__ADS_1