
Jasmine masih terdiam sejenak, sementara Abraham segera beranjak dari duduknya, lalu kembali ke meja kerjanya.
"Aku gak punya banyak waktu, tiga hari lagi kita menikah, aku harap masalah kamu ini segera di selesaikan" ucap Abraham.
"Aku masih belum berani memastikan, tapi aku usahakan, makasih sudah membantuku Eb, boleh aku meminta sesuatu?"
"Katakan aku akan membantu mu kalau memang bisa"
"Bisakah kita tidak melakukan pernikahan ini, aku ma_"
"Tidak bisa, pergilah, kunci pintunya sudah aku buka"
"Eb, tolonglah, setidaknya beri Aku waktu satu bulan lagi, bagaimana?"
Abraham menatap tajam ke arah Jasmine lalu berjalan mendekatinya, kini keduanya sudah berhadapan.
"Baik, aku akan memberimu waktu lagi"
"Alhamdulillah, satu bulan atau satu tahun?" Tanya Jasmine tersenyum bahagia karena merasa rencananya kali ini akan berhasil.
"Satu hari, besok kita menikah!"
"Apa!!"
"Sudah Pergi lah, persiapan kan dirimu besok, aku gak peduli kamu punya masalah apa tidak, keluar!!"
"Tapi Eb, eh kok jadi besok sih, kembali kayak awal aja ya, please"
"Gak bisa, aku akan memberitahu ayah, dan kau harus bersiap besok, nanti aku akan menghubungi kamu lagi"
"Abraham, kamu keterlaluan, aku gak mau!"
"Ya sudah, bayar semua hutang tuntutan itu besok, dan serahkan perusahaan mu juga, aku akan memecat semua pegawai nya!"
"Apa sih Eb, maksa sekali kamu ini, kita nikah 3 hari lagi sesuai rencana awal!" Teriak Jasmine yang sangat panik.
"Gak bisa, kamu yang sudah memulai dari tadi, ini keputusanku sekarang, biar kamu gak ada pikiran macem-macem lagi soal pernikahan kita, jadi keputusanku besok kita nikah, titik!"
Sementara Jasmine tengah memohon dan bernegosiasi lagi, datanglah Rafael yang sudah di panggil oleh Abraham,
"Ada apa Eb?" Tanya Rafael.
"Persiapkan pernikahanku besok jam 9, aku akan menghubungi tuan Rahmad"
"Apa!, Besok?"
"Iya, sekarang antar Jasmine sampai di perusahaanya, pergilah!"
"Eb, tolonglah, maafkan aku, please, 3 hari lagi ya?" Ucap Jasmine.
"Rafael!, bawa wanita ini pergi dari hadapan ku, sebelum aku menikahinya hari ini juga!" Bentak Abraham dan membuat Rafael segera menarik tangan Jasmine keluar.
"Jangan menyentuh nya El, atau ku bunuh kau!"
Rafael tersentak dan langsung melepaskan pegangan tangannya.
"Anjir ini Abraham, bikin jantungan saja!" Batin Rafael ikut kesal.
"Temanmu itu benar-benar sudah gila!" Teriak Jasmine dan segera berlalu.
"Kalian berdua yang gila!" Sahut Rafael yang sudah di buat repot dan akhirnya harus tetap berlari menyusul Jasmine.
Abraham benar-benar di buat marah dengan sikap Jasmine yang susah sekali untuk di kendalikan, sekalinya nurut langsung berbuat yang aneh-aneh, hal inilah yang membuat Abraham semakin cemas hingga terpaksa harus mempercepat pernikahannya.
Kekhawatiran Abraham melakukan itu semua bukan tanpa Alasan, dia tidak ingin salah satu pemilik perusahaan yang ikut taruhan akan memenangkan Jasmine untuk di jadikan barang mainannya.
Sementara itu, kini Jasmine sudah berada di dalam mobil bersama dengan Rafael, dirinya terdiam dan tidak mau mengeluarkan sepatah katapun.
"Sudah, kamu nurut saja sama Abraham, jangan membuat masalah lagi Min"
"Jasmine, panggil Jas, bukan Min, panggilan itu mengingatkanku sama teman gila mu itu!"
__ADS_1
"Ya, sorry Jas, udah jangan marah lagi, cantiknya ilang lo"
Jasmine masih terdiam beberapa saat hingga kemudian.
"AAAA!!" Teriak Jasmine sangat keras.
Ciiit
Rafael saking kagetnya langsung menginjak rem.
"Apa sih Jas, teriakan kamu kenceng banget, kupingku sakit tau, dasar!!"
"Biarin, aku jengkel sama teman kamu Abraham itu, dasar Singgaaaa!!"
"Stop Jas, diam, jangan teriak lagi dalam mobil, kupingku sakit!" Sahut Rafael yang sudah mengamankan telinganya.
"Biar kamu juga kapok!"
"Eh, mana ada urusannya sama diriku, seenaknya saja kamu melampiaskannya padaku" ucap Rafael.
"Kenapa harus nikah besok El, kenapa?"
"Eh, denger ya, harusnya kamu tu bersyukur, wanita lain saja ingin cepet nikah, lah kamu malah bingung suruh nikah"
"Ya kan aku masih ingin berkarir El, gak mau ribet kawin!"
"Enak kawin itu, kamu gak perlu ribet, tinggal tunggu kenik*matan dari Abraham saja"
PLAK
"Sh*it!, Sakit Jas!"
"Rasain, Dasar otak mesum!"
"Bener-bener kamu itu ya, pantesan Abraham pengen cepet nikahin kamu, bengal banget kamu itu Jas"
"Bodo!"
Beberapa menit kemudian Jasmine segera turun saat sampai di perusahaan nya, tanpa berkata apapun dirinya pergi meninggalkan Rafael yang menggelengkan kepala melihat sikap Jasmine yang masih kesal.
"Benar-benar ini perempuan, Cantik dan pesonanya gak ketulungan, tapi kalau marah, hiii, mengerikan, kayaknya memang cuma Abraham yang bisa mengendalikannya" batin Rafael.
*
Jasmine sudah berjalan masuk ke ruangan kerjanya, ayahnya hanya tersenyum setelah menjawab salam dari Jasmine.
"Ulah apalagi kali ini yang kau buat Jasmine?"
"Jangan biang soal Abraham yah?"
"Tentu saja, memangnya mau siapa lagi"
"Sudahlah yah, makin lama orang itu makin gila"
"Jasmine..?!"
"Iya maaf yah.."
"Belajar bersabar menghadapai calon suamimu nanti, Abraham pemilik perusahaan besar, masalah yang dia hadapi juga semakin berat, kamu sebagai istrinya harus bisa membantunya"
"Memang harus yah?"
"Setidaknya jangan menambah masalahnya, jaga sikapmu, mengerti?"
"Iya, kenapa Jasmine merasa seperti anak tiri dan Abraham anak kandung ayah ya?"
"Kau ini, sudah sana kerja, besok kita persiapan acara penting kamu"
"Apa?, Jadi ayah setuju?"
"Iya, mau apa lagi, ayah tidak mungkin bisa menolaknya kalau kau ingin menyelamatkan perusahaan dan banyak orang"
__ADS_1
"Dasar Singa, suka sekali menindas dengan ancaman itu, menjengkelkan"
"Jadi kau mau berubah pikiran?" Tanya Rahmad.
"Seandainya aku bisa yah, tapi tidak mungkin juga aku mengorbankan perusahaan dan banyak orang"
"Siapa besok yang akan menemani kita?" Tanya Rahmad
"Aku ingin kita ditambah Risma dan Dinda saja yah"
"Agam juga akan ayah ajak"
Sejenak Jasmine terdiam dan tidak mungkin juga saat ini menceritakan masalah yang sedang di hadapi para sahabatnya
"Kenapa Jasmine, apa kau keberatan ayah mengajak Agam?"
"Nggak yah, ajak saja mas Agam, lagi pula dia sudah seperti kakakku sendiri"
"Hem, atas dasar itulah ayah mengajaknya"
"Okey, makasih yah"
Rahmad tersenyum menatap Jasmine sebentar dan kembali lagi melanjutkan pekerjaannya, begitu juga dengan Jasmine.
*
Sementara itu Rafael sudah kembali ke ruangan Abraham setelah mengantar Jasmine
"Apa yang kamu lakukan Eb, apa kau sudah gila, mau nikahi Jasmine besok!"
"Memangnya kenapa?"
"Kau itu sudah bikin Jasmine stres, lama-lama gila beneran lo anak orang kamu kerjain kayak gitu"
"Yang ngerjain siapa, aku serius, cepet urus semuanya, besok kita harus siap pagi, mengerti?!"
"Iya, tapi kasih tau dulu, memangnya ada apa sampai kamu memutuskan hal itu?" Tanya Rafael.
Abraham menjelaskan kalau melakukan itu bukan tanpa alasan, mengingat sikap Jasmine yang kadang jadi pemberontak, takutnya dia malah pergi melarikan diri menghindari pernikahan dan terjerumus dalam permainan taruhan sang bos perusahaan besar di asia.
"Apa kau mengerti sekarang?"
"Oh, jadi begitu?"
"Iya, bahkan beberapa pemilik perusahaan itu sudah mulai ada yang bergerak mendekati Nugraha Company untuk mendapatkan Jasmin"
"Oh, Sh*it!, Jadi mereka sudah mulai ada yang bergerak rupanya" ucap Rafael.
"Begitulah, menurut informasi yang aku dapat, ada tiga perusahaan yang sudah melancarkan aksinya"
"Lalu, apa tuan Rahmad menyambut kerjasama yang diajukan oleh perusahaan-perusahaan itu?"
"Tidak, sepertinya tuan Rahmad orang yang tidak mudah percaya begitu saja, semenjak kejadian penipuan yang di lakukan Agung Dwi Vinan"
"Syukurlah, aku ikut lega mendengarnya" Rafael akhirnya mengerti apa alasan Abraham melakukan hal itu.
Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 51-55
Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.4
Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE