
Kini Jasmine sudah kembali di dalam ruang kerjanya begitu juga dengan Rahmad yang baru masuk dan tersenyum melihat anaknya sudah kembali semangat untuk bekerja.
Jasmine merasa bosan dengan keheningan yang ada di ruangannya, hingga dia menemukan sebuah ide.
"Ayah, terima ini!" Teriak Jasmine dengan tenaga dalamnya membuat berkas yang sudah di koreksinya melayang ke arah ayahnya untuk di tanda tangani.
"Ini lagi Jasmine, bantu ayah mengoreksi nya!" Ucap Rahmad melakukan hal yang sama sambil tersenyum ke arah Jasmine.
Keduanya kini bekerja sambil melatih tenaga dalamnya masing-masing, sesekali mereka melakukan gerakan beka diri saling menyerang dan bertahan di saat berjalan berpapasan.
Hingga tanpa di sadari, Anton yang masuk tanpa mengetuk pintu melihat kedua orang di dalam sana sedang santai sambil mengendalikan kertas yang berterbangan, hingga membuat dirinya terkejut hampir pingsan.
"Jasmine, hentikan!" Ucap Rahmad dan mengangetkan Jasmine.
Keduanya langsung menghentikan tenaga dalamnya, sontak beberapa kertas berhamburan ke lantai dan Jasmine segera merapikannya kembali
"Ka kalian, apa yang kalian lakukan tadi, aku melihat kalian_"
"Sudahlah paman Anton, mari duduk, tadi itu kebetulan banyak kertas berterbangan kena angin, ya kan yah?" ucap Jasmine sambil memberi kode ke ayahnya.
"Iya, ada apa kau kemari Anton?"
"Aku hanya melaporkan keuangan di perusahaan cabang yang perlu tanda tangan mu" ucap Anton.
"Berikan ke Jasmine, mulai detik ini dia yang memegang laporan semua keuangan di perusahaan"
"Apa!, memangnya kamu sudah mau bekerja di perusahaan Jasmine?"
"Tentu saja paman, kita akan sering bertemu bukan?"
"Breng*sek, ini akan semakin menyulitkan ku untuk menguras harta kekayaan Rahmad" batin Anton.
Hanya dengan sekali pandang Jasmine langsung bisa menilai ada sesuatu kekhawatiran dari raut wajah Pamannya, dan itu bukan sesuatu yang baik-baik saja, hingga kemudian Jasmine tersenyum tipis.
"Kenapa paman?, Taruh saja file nya disana, aku akan melihatnya sesuai giliran, kalau ada yang tidak beres, aku akan memanggil paman"
"Kenapa harus paman yang kau panggil?"
"Karena paman yang mengantarkan nya, memangnya siapa lagi yang bisa saya suruh untuk bertanggung jawab?"
"Tapi kan paman hanya membantu menyerahkan laporan saja, yang menghitung keuangan bukan paman"
"Lalu kenapa yang meminta persetujuan keuangan paman sendiri, suruh saja yang bertanggung jawab yang meminta persetujuan, sekalian aku ingin bertanya-tanya kalau ada sesuatu yang tidak beres" ucap Jasmine santai.
Rahmad terkejut melihat sikap Jasmine yang sangat pandai membalikkan keadaan lawannya, hingga sang ayah pun tersenyum bangga.
Anton terdiam, lalu kemudian segera pergi dari ruangan itu, sebelum banyak pertanyakan dari sang keponakan yang membikin tambah pusing.
"Kau ini ternyata lebih kejam dari ayah Jasmine" ucap Rahmad.
"Bukan kejam yah, hanya harus tegas saja menghadapi paman Anton"
"Benar sekali, ayah akan bertemu kolega ayah yang katanya bersedia untuk membantu ayah Jasmine, mudah-mudahan ini salah satu jalan keluar masalah kita dengan tuan Abraham"
"Iya ayah, seandainya tiga hari kita belum bisa membayarnya, aku akan menemui tuan Rafael tangan kanan tuan Abraham yah, dia sangat baik, aku yakin bisa membantu"
"Hem, tapi tetap berhati-hatilah Jasmine"
__ADS_1
"Okey yah, siap, ayah juga ya"
Rahmad tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Jasmine untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.
*
Agung bertemu dengan Kartika ditempat biasanya, keduanya tertawa senang merayakan keberhasilannya, tapi disisi lain Agung masih kurang puas memberikan pelajaran ke Abraham karena ternyata perusahaannya masih tetap berjaya dengan meluncurkan rancangan yang baru dan sangat laris di pasaran.
"Aku sebenarnya kurang puas, tidak bisa memberikan pelajaran ke Abraham"
"Sabar sayang, kita nanti bisa mencoba taktik yang lain lagi, untuk sementara kita jangan bergerak dulu, waktunya melihat pertunjukan keluarga Nugraha dan Abraham yang semakin panas"
"Hem, bener juga"
"Rasanya aku puas mendengar Abraham akhirnya mengumpat dan menghina pembantu sialan itu"
"Hem, sayang sekali aku gagal menjadi suami Jasmine, padahal aku sangat menginginkan tubuh molek nya"
"Ish kau ini, apa aku masih kurang buatmu ha?!"
"Tentu saja tidak sayang"
Keduanya kembali menegak minuman keras sambil sesekali mengumbar ciuman panasnya tanpa rasa malu.
*
Satu hari telah berlalu tanpa menghasilkan apapun, pertemuan dengan Kolega yang ditemui oleh Rahmad semuanya mundur saat tau yang dihadapinya adalah Abraham pemilik perusahaan Hanzel Company.
"Bagaimana yah, masih belum ada hasil?" Tanya Jasmine.
"Belum Jasmine, ayah sudah menghubungi semua kolega ayah yang pernah bekerja sama dengan perusahaan kita, tapi tak ada satu pun yang berani membantu kita saat tau siapa yang kita hadapi"
"Hem, hati-hati Jasmine"
Jasmine hanya mengangguk kemudian beranjak pergi menghubungi Rafael, beberapa kali ditelpon akhirnya diangkat oleh Rafael.
Jasmine sangat bersyukur akhirnya bisa berbicara langsung dengan Rafael dan menceritakan segalanya, namun bukti yang di temukan oleh Abraham tidak bisa di abaikan begitu saja.
"Mungkin aku mempercayai mu Jasmine, tapi tidak dengan Abraham yang menemukan bukti salinan itu di tumpukan bajumu"
"Aku yakin itu perbuatan orang yang ingin menjebak ku tuan Rafael"
"Hei, panggil aku Rafael saja, apa kau lupa kita masih berteman?"
"Sorry, baiklah Rafael, aku berharap kau bisa membantu ku" ucap Jasmine
Saat Rafael akan menjawab, tiba-tiba saja Abraham sudah ada di depan Rafael dan ikut mendengarkan apa yang diperbincangkan, hingga dengan terpaksa Rafael menutupnya.
"Jasmine?" Tanya Abraham
"Iya, kasian dia Eb, kau tidak harus sekeras itu dengan perusahaan Nugraha Company, setidaknya dengan Jasmine"
"Apa dia meminta bantuan mu?"
"Iya, bukan hal yang sulit kan Eb, untuk menolongnya?"
"Tentu saja tidak, suruh dia menemui seseorang di alamat ini, kalau dia berhasil ke sana, aku akan memikirkan kembali untuk menolongnya" ucap Abraham sudah memikirkan sesuatu untuk memberi pelajaran ke Jasmine
__ADS_1
Rafael langsung berbinar dan segera menghubungi Jasmine kembali, sementara Abraham sudah tersenyum penuh misteri, hii!
*
Jasmine tersenyum bahagia saat mendapat kabar dari Rafael dan memberikan sebuah alamat seseorang yang bisa membantu Jasmine.
Dengan penuh semangat Jasmine menghubungi kedua sahabatnya untuk menemaninya besok menuju ke alamat yang di berikan oleh Rafael.
Keesokan paginya tanpa membuang waktu lagi, Jasmine bersama dengan Risma dan Dinda akhirnya pergi mencari keberadaan sang kolega yang masih misterius bagi mereka.
Alamat yang diberikan sungguh diluar ekspektasi, dengan susah payah mereka naik gunung, turun gunung dan melewati samudra, hingga akhirnya sampai juga di jalan setapak yang tidak bisa di lewati mobil ataupun sepeda.
"Anjir, Jasmine!" Teriak Risma.
"Apa sih Ris, gue disini juga, ngapain teriak kenceng, bikin budek kuping gue!"
"Ini kenapa kita nyasar kesini!, yang bener dong loe baca petunjuknya!" Teriak Risma.
"Udah bener ini gue Ris, nih lihat sendiri kalau loe ragu ma gue!"
"Anjir, udah deh Jas, loe nyerah aja deh sama tu raja singa, bodoh amat deh ah!" Ucap Dinda yang sudah kembang kempis kecapekan.
"Enak aja, gak mau gue, pantang bagi gue nyerah gitu aja!" Ucap Jasmine.
"Ya dari pada kita mati ditempat ini, lagian ya, loe ngapain cari bantuan ke tempat orang yang susah di carinya sih Jas, capek gue, sumpah!" Ucap Dinda.
"Udah deh, kalian jangan banyak ngeluh, ayok cepet, katanya demi sahabat kalian rela ngelakuin apa saja, cuma gini doang udah nyerah"
"Dasar semprul, loe bilang gini doang, lihat ini kaki gue udah lecet-lecet, belum lagi tubuh gue yang udah mandi keringat, sekarang masih loe suruh jalan kaki lagi ke ujung dunia sana, gila ya loe!" Ucap Risma.
Sementara Dinda hanya diam tidak bisa berkata-kata sambil mendelosor di bawah pohon yang gak rindang rindang banget.
"Din, hus, Din..masih sadar kan loe?!" Ucap Jasmine agak panik lihat Dinda seperti hidup enggan, mati tak mau.
"Apa!, Gue rasanya mau pingsan, jangan ganggu gue!" Teriak Dinda membuat kedua temannya terjingkat kaget.
"Asem!" Ucap Risma kaget
"Kaget gue!" Sahut Jasmine
"Ini kapan kelarnya perjalanan kita sih Jasmine, Mina, Mimin!, Kesel gue Ama loe!" Teriak Dinda frustasi dan membuat kedua temannya tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya mereka mau tidak mau meneruskan kembali perjalanannya berjalan kaki dengan tubuh dan pikiran yang luar biasa capek.
Yang sudah gak sabar dan penasaran dengan kelanjutannya..yuk lanjut ngintip di... YouTube, ketik : Cerita Novel Romantis by Sinho
Jangan lupa Subscribe, Like, dan Coment
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI
Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE