AKULAH WANITAMU

AKULAH WANITAMU
Kepulangan Suami


__ADS_3

Satu Minggu berlalu dan Farel kini sudah bisa tersenyum, Dea yang melihat suaminya seperti itu menjadi bingung sendiri.


"Kamu kenapa yang?" Tanya Dea heran.


"Gak ada, sudah satu minggu kan yang?" Ucap Farel sambil mengerlingkan matanya.


"Satu Minggu dari apa?, kamu itu kenapa?, matanya kelilipan?" Sahut Dea gemas.


"Ish, sini, kau itu gak ngerti sekali!" Teriak Farel yang sudah menarik istrinya ke dalam pangkuannya.


"Apa sih yang?"


"Sudah selesai kan datang bulannya, aku juga pengen cepet ada junior di sini" ucap farel sambil mengusap lembut perut Dea.


"Oh itu, hehe, sudah yang 2 hari yang lalu sih"


"Apa, yang!!" Teriak Farel seketika.


"Apa sih yang, ya maaf, aku juga lupa mau ngasih tau kamu"


"Suka banget ya bikin suami kamu menderita, dasar"


"Habis aku takut juga yang, katanya sakit, perih, badan remuk semua, jalan susah, dan_mmpph" ucap Dea yang langsung di di stop dengan ciuman panas dari suaminya.


Dea sangat terkejut sesaat, namun detik berikutnya dirinya sudah terbuai oleh permainan Suaminya, hingga tanpa terasa keduanya sudah sama-sama polos diatas tempat tidur.


Dea sempat terkejut saat sang pusaka telah siap untuk melakukan penyatuan, perlahan Farel berusaha untuk memasukkan miliknya.


"Yang, stop, sakit yang!" Ucap Dea saat merasakan miliknya terasa terbelah saat sang pusaka berusaha menembus miliknya.


Farel akhirnya berhasil memasukkan sang pusaka di dalam sana, masih terdiam, dirinya berusaha menenangkan istrinya yang merasakan sakit, Farel menyeka buliran bening dari sudut mata Dea.


"Maaf yang, aku akan menghentikannya kalau kau tidak kuat lagi" ucap Farel dengan membelai wajah istrinya yang berada di bawah kungkungan nya.


Dea menggeleng dan berusaha lebih rileks untuk bisa membiasakan milik sang suami yang sudah bersarang di dalam miliknya, penyatuan pun di lakukan dengan sempurna, hingga sesaat kemudian terdengar teriakan mencapai puncak kenikmatan dari keduanya.


Farel tersenyum saat melihat Dea sudah bisa menikmati segalanya bersama, di kecup nya kening dan bibir sang istri sebelum dirinya berpindah tempat di sampingnya untuk beristirahat sejenak, karena Dea harus bekerja ekstra kembali di saat beberapa kali Farel membuatnya melayang melakukan penyatuan.


Pagi hari yang sangat cerah, kebetulan sekali Jasmine dan Rena ingin pergi ke Mall dan melewati kawasan rumah mewah milik Sahabatnya.


"Kita jadi ngajak Dea, Jas?" Tanya Rena.


"Jadi lah, kemaren sore aku telpon dia memang ingin ikut kita jalan, katanya mumpung ini hari terakhir cutinya"


Keduanya kini sudah berada di depan Dea yang berjalan dengan aneh menghampiri Keduanya.


"Kamu kenapa, sakit?, Jalan lemot kayak gitu?" Tanya Rena heran.


"Ish, berisik, sini kalian, aku mau tanya, tapi rahasia ya, pelan saja, jangan heboh dan jangan ketawa, janji?" Ucap Dea dengan serius.


"Iya, cepetan, ada apa?" Sahut Jasmine semakin penasaran.

__ADS_1


"Memang sakitnya sampek seperti ini saat kalian pertama kali berhubungan, aku hampir gak bisa jalan, rasanya perih"


Sontak Jasmine dan Rena saling pandang, sebelum keduanya kini tertawa ngakak melihat wajah menderita sahabatnya.


Plak plak


"Diam!, Kalian ini malah ketawa, aku serius!"


Jasmine dan Rena menghentikan tawanya saat Farel melintas dan kemudian bergabung, dengan terpaksa, akhirnya Dea menggagalkan rencananya ikut jalan bersama sahabatnya karena kondisinya yang tidak memungkinkan.


**


Hari berganti begitu saja, tidak terasa kini sudah tiga bulan Abraham dan Rafael lebih banyak bekerja di negara Jepang mengurusi perusahaan barunya yang sudah semakin maju dan berkembang pesat.


Rafael merasa sangat puas dengan kerja kerasnya beberapa bulan selama ada di sana, hubungan antara mereka dan kedua wanita dari pemilik perusahaan Elmas Company juga semakin erat, namun demikian Abraham dan Farel berusaha untuk tetap menjaga jarak.


Seperti hari ini, mereka berempat menikmati makan siangnya bersama, sesekali perbincangan bisnis menemani.


"Jadi istri kalian berdua sedang mengandung?" Tanya Derya.


"Hem, Alhamdulillah, mangkanya aku ingin secepatnya untuk pulang, aku sangat merindukan mereka" ucap Rafael.


"Pantas, aku melihat kalian kadang tidak begitu nyaman berada di negara ini, berapa usia kandungannya, apa sudah hampir melahirkan?" Tanya Elife.


"Sudah 6 bulan, kalau aku tidak salah hitung" sahut Abraham.


"Dan kurang lebih sudah 3 bulan sekarang istriku mengandung" sahut Rafael.


Sesaat Abraham merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman, hingga dirinya segera menoleh ke belakang, namun tidak di dapati apapun di sana.


"Ada apa Abraham?" Tanya Elife


"Hem, tidak ada, aku merasa ada yang sedang mengawasi kita" ucap Abraham.


Elife segera memanggil pengawalnya dan membisikkan sesuatu, Derya Dan Rafael masih terdiam memperhatikan gerak gerik kedua orang di depannya.


Beberapa menit kemudian sang pengawal segera kembali lagi dan memberikan laporan, Abraham terkejut saat Elife menunjukan beberapa foto ke dirinya dan juga Rafael.


"Apa kalian mengenalnya?" Ucap Elife.


Abraham dan Rafael melihat dengan teliti foto seseorang yang sama sekali tidak di kenalnya, hingga keduanya hampir bersaman menggelengkan kepala.


"Kami juga tidak pernah mengenalnya, para pengawal dan pasukan khusus ku mendapatnya informasi kalau laki-laki ini yang dari tadi mengikuti kita, lebih tepatnya mengawasi kalian" ucap Elife.


"Apa dia bukan salah satu pemilik pesaing bisnis kita atau mereka kak?" Tanya Derya.


"Bisa di pastikan tidak, tapi entahlah, yang penting saat ini orang itu tidak berbahaya bagi kita dan juga kalian berdua" ucap Elife


Abraham dan Rafael terperangah tak percaya dengan kecepatan informasi yang di dapat oleh pemilik perusahan besar Elmas Company, rupanya mereka sudah sangat terbiasa mengalami hal ini hingga secara khusus menyiapkan sejumlah orang-orang terlatih untuk mencari semua informasi dari orang-orang yang berada dekat dengannya.


"Kalian benar-benar hebat" ucap Abraham.

__ADS_1


"Apanya, kami biasa saja, hanya karena kita lebih cepat mendapatkan informasi, bukan berarti kami lebih hebat dari kalian" ucap Derya.


"Orang selalu memandang kehebatan kita di dunia bisnis, sampai mereka lupa kami pun manusia yang penuh dengan kekurangan" ucap Elife.


"Mana mungkin?" Sahut Rafael.


"Tidak bisakah kalian melihat, kami bahkan belum punya pasangan hidup saat kalian hampir saja mempunyai seorang anak, bukankah itu terlalu miris, apalagi usia kami juga sudah tidak muda lagi" ucap Elife dan membuat Abraham dan Rafael langsung terdiam.


Kemudian Derya melanjutkan lagi cerita dari pernyataan Elife, bahwa banyak pria yang takut saat melihat kesuksesan yang di raih oleh mereka, hingga tidak ada yang berani meminangnya, sempat beberapa kali mereka di minta oleh seorang laki-laki, yang ternyata di akhir cerita, mereka hanya ingin memanfaatkan kekayaan Elife dan Derya.


"Di zaman seperti sekarang ini, kami sangat salut dengan kalian berdua, walaupun banyak berhubungan dengan wanita di dunia bisnis, tapi sangat menjaga kesetiaan kalian, itulah salah satu alasan kami merasa nyaman bekerjasama dengan kalian" ucap Elife.


"Hem, jadi itu alasannya, sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan kenapa kalian begitu saja membantu kami walaupun baru bertemu" sahut Abraham.


"Kami melakukan hal penting bukan tanpa alasan yang jelas, awalnya aku juga terkejut dengan keputusan Kak Elife, saat menyerah begitu saja di acara lelang, rupanya dia sudah tau duluan tentang kalian" ucap Derya


"Kami benar-benar beruntung bertemu dengan kalian, pemilik perusahaan besar dengan pemikiran cerdas dan memegang teguh ajaran Islam, aku yakin seseorang yang mendampingi kalian kelak pasti laki-laki hebat dan terpilih" jawab Rafael


"Amin... Terimakasih doanya El, dan aku berharap kita bisa saling membantu menjalankan perusahaan, aku yakin, orang-orang yang baik, akan di pertemukan dengan orang yang baik juga" sahut Elife.


"Amin.." ucap mereka serempak.


Tak lama mereka akhirnya berpisah dan kembali ke tempat kerja masing-masing. Kondisi perusahaan yang ada di Jepang kini sudah dibilang sangat stabil, saatnya Abraham menyerahkan semua tanggung jawab ke seseorang yang sudah dipilih menjadi direktur untuk perusahaan Nugraha Company 2 yang ada di Jepang.


Dengan segala pertimbangan yang sudah dilakukan akhirnya mereka berdua sudah siap untuk mengawasi dan mengendalikan perusahaan dari Indonesia.


Keesokan harinya akhirnya mereka berpisah, Elife dan Derya melambaikan tangan mengantar kepergian Abraham dan Rafael, sebelumnya keduanya memberitahukan bahwa beberapa bulan lagi akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah saudaranya yang ada di Indonesia, Abraham dan Rafael menyambut senang dan mempersilahkan kedua wanita itu untuk mampir ketempat mereka.


**


Jasmine bahagia Akhirnya bisa menyambut kepulangan Abraham setelah 3 bulan di negeri orang, begitu juga dengan Rena, kini keduanya sudah berada di bandara dan tersenyum senang saat melihat pasangan mereka kini sudah ada di hadapannya.


Abraham sangat terkejut melihat perubahan yang terjadi dengan Jasmine, nampak sang istri semakin segar dengan perutnya yang sudah membesar, di peluknya sang istri setelah ciumannya berlabuh di kening dan bibir Jasmine, segera Abraham berjongkok lalu mencium perut istrinya.


"Sudah besar rupanya kau nak, Daddy sangat merindukanmu" ucap Abraham sambil mengelus perlahan, dan sontak dirinya sangat terkejut saat merasakan sang junior menendang dengan keras sentuhannya.


"Yang, dia_?!"


Jasmine tertawa melihat wajah terkejut suaminya saat mendapat tendangan anaknya untuk yang pertama kali, Jasmine lalu menjelaskan kalau memang sudah semestinya di usia kehamilan sekarang ini, bayi akan semakin aktif melakukan gerakan.


Abraham tersenyum bahagia dan menggoda sang junior hingga menendangnya beberapa kali.


"Yang, sudah, nanti saja di Mansion, malu di lihat orang, lihat tu, Rena sama Rafael udah ngilang duluan, kemana mereka, dasar!" Ucap Jasmine sibuk celingukan.


**


Waktunya memberikan VOTE di hari Senin ya..


dan sebentar lagi akan ada hadiah pemenang pemberi dukungan terbanyak di akhir Episode.


Jangan lupa HADIAH, LIKE dan KOMEN Selalu di tunggu..

__ADS_1


__ADS_2