AKULAH WANITAMU

AKULAH WANITAMU
Menjadi Miliknya Kembali


__ADS_3

Ditempat yang sangat tersembunyi tepatnya di sebuah pulau pribadi, seorang laki-laki sedang menyaksikan bagaimana kabar perusahaannya satu persatu mengalami goncangan hingga akhirnya di lakukan pelelangan oleh Negara.


"Sial, semua pelanggaran hukum di perusahan ku bisa dideteksi, ini pasti ulah Abraham dan anak buahnya, brengsek, aku tidak akan tinggal diam dan akan menuntut balas atas semua yang kau lakukan Abraham Hanzel Brian" ucap lirih Smith dan terdengar oleh tangan kanannya.


"Sebaiknya anda jangan terlalu melihat semua berita di media dulu tuan, kendalikan emosi anda, Agar kita bisa menyusun rencana yang tepat untuk mengambil semuanya kembali" ucap sang asisten.


Smith Rodergo tersenyum penuh dengan maksud tersembunyi, dirinya berusaha mengontrol emosi nya untuk berpikir jernih tentang langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya, dan tentu saja semua bertujuan untuk menghancurkan Abraham dan mengambil kembali perusahaannya.


**


Rafael sudah menyiapkan semua berkas penting yang diperlukan untuk membeli perusahaan Hanzel Company yang sempat menjadi milik Smith Rodergo beberapa waktu yang lalu


"Apa kau sudah menyiapkan semuanya El?"


"Tentu saja Eb, semoga hari ini urusan kita berjalan lancar dan sesuai keinginan mu, Hanzel Company akan segera menjadi milikmu, milik Nugraha Company" ucap Rafael.


"Amin, semoga saja, sesuai yang kuharap kan" jawab abraham.


Tak lama kemudian, Jasmine masuk kedalam ruangan, memberikan semua file yang di perlukan untuk di bawa oleh Abraham.


"Sudah aku siapkan semuanya yang, apa kalian akan berangkat sekarang?" Tanya Jasmine sambil menatap suaminya aneh.


"Tentu saja, memang ada hal yang penting lagi Jas?" Sahut Rafael penasaran melihat tingkah aneh ibu hamil yang satu ini.


"Em, enggak juga sih, ya sudah kalian berangkatlah, hati-hati ya" ucap Jasmine yang kemudian berjalan ke ruangan kerjanya dengan wajah yang lesu.


"Masak gitu saja gak ngerti, sabar ya sayang" ucap Jasmine berbicara dengan sang junior, "Mommy juga merindukan Daddy, pengen di peluk, tapi _, ya sudahlah!" Ucapnya dalam hati.


Sementara Abraham masih terdiam sambil memasukkan berkas-berkas penting ke dalam tas yang di bawanya, dan detik berikutnya dia mulai menyadari ada apa dengan wajah sedih istri cantiknya.


Abraham segera pergi begitu saja meninggalkan Rafael yang membantunya.


"Eh Eb!, Tunggu, mau kemana?!" Teriak Rafael merasa aneh.


"Aku ketempat Jasmin dulu, meminta berkas, ada beberapa yang kurang!" Teriak Abraham.


"Kurang?, Perasaan semua sudah lengkap, dasar, ngomong aja kalau pengen Jasmine" ucap lirih Rafael di tengah kekesalannya, pasalnya dirinya saat ini juga sangat merindukan istri tercintanya.


Jasmine sangat terkejut dan hampir saja melakukan pukulan ke seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang saat dirinya berdiri di dekat jendela ruangan kerjanya sambil menikmati pemandangan ibu kota.


"Sstt, ini aku yang" ucap Abraham sambil menciumi kepala Istrinya.


"Astagfirullah..aku kira siapa yang, kok belum berangkat?"


"Pengen ngerjai istri yang lagi pengen di peluk" jawab Abraham sambil tersenyum.


"Dasar kau yang, kok tau?"


"Tentu saja, aku sangat tau wajahmu sedang meminta apa yang, sepertinya aku juga pengen melihat wajah wanita cantik ini mende*sah, sudah lama Hem?" Ucap Abraham menggoda Jasmine sambil menggera*yangi tubuhnya.


"Yang!, Jangan aneh-aneh, ini di kantor, cepet pergi sana, kasian Rafael menunggu!" Ucap Jasmine cemas.


Abraham terkekeh melihat kecemasan di wajah sang istri yang di godanya, dirinya segera membalikkan tubuh Jasmine dan dengan lembut mencium, melu*mat dan memasukkan lidahnya menjelajah milik sang istri tercinta.


Abraham segera keluar sebelum dirinya benar-benar tidak tahan dengan tubuh istrinya, sementara Rafael yang sudah tersenyum senang melihat kedatangan sahabatnya yang ternyata tidak terlalu lama, langsung berubah wajahnya menjadi aneh saat dilihatnya noda lisptik menempel di bibir Abraham.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat!" Ucap Abraham.


Rafael menahan tawanya melihat sosok laki-laki yang terkenal dingin dan berkuasa itu dipenuhi dengan noda lisptik di bibirnya, kemudian dirinya segera menyodorkan tissue ke sahabatnya.


"Aku mengajakmu berangkat, kenapa kau malah menyodorkan tisu padaku?"


"Lihat dulu wajahmu di cermin, bibir belepotan lisptik gitu mau dipamerkan di acara lelang?, bisa geger dunia persilatan, dasar, sana bersihkan!" Ucap Rafael, Abraham terkejut segera berlari masuk ke toilet untuk membersihkan wajahnya.


Sementara beberapa pegawai yang tidak sengaja melihatnya, menahan tawanya sambil berlalu pergi, beberapa saat kemudian Abraham dan Rafael sudah meluncur ketempat tujuan, setiba di acara lelang perusahaan, keduanya segera masuk dan duduk dengan tenang menunggu acara yang baru saja dimulai.


Satu persatu penawaran diberikan, beberapa pengusaha mulai memberikan harga untuk membeli Hanzel Company, Rafael terkejut ternyata perusahaan itu lumayan tinggi juga harga yang sudah masuk untuk menawarnya, dan akhirnya Abraham memberikan penawaran tertinggi, bisa di pastikan dialah yang akhirnya menjadi pemilik perusahaan Hanzel Company.


Beberapa pengusaha yang lain sudah bisa menduganya dan memberikan ucapan selamat, Abraham tersenyum puas dan lega akhirnya apa yang diinginkan bisa di raihnya.


"Alhamdulillah, akhirnya perusahaan yang kita jalankan dulu, kini menjadi milik kita kembali El"


"Aku tidak menduga kita akan memiliki nya lagi Eb, rasanya sangat puas dan senang sekali, kau hebat Eb, lihat dirimu sekarang, pengusaha muda yang merajai dunia bisnis dengan beberapa perusahaan besar yang ada di tanah air"


"Hei, itu juga berkat dirimu yang selalu membantuku, dan aku punya rencana untukmu nantinya, jangan hanya membantu mengurusi perusahaan ku saja, kau juga harus punya perusahaan sendiri dan kita akan bekerja sama nantinya"


"Ck, aku suka bekerja denganmu, ngapain harus ngurus perusahaan sendiri"


"Ada anak-anak mu nanti, pikirkan itu, setidaknya untuk masa depan mereka yang dapat kau wariskan kelak, dasar kau!" Ucap Abraham.


Sementara Rafael hanya tersenyum dan mengikuti langkah Abraham seperti yang biasa dia lakukan, terlintas juga dipikirannya apa yang dikatakan oleh Abraham tentang anak-anaknya kelak, dia tersenyum menatap punggung Abraham.


"Kau memang sahabat sejati Abraham, dibalik wajah dingin mu selalu memikirkan orang-orang yang berada di sekitarmu, tidak salah banyak orang yang dengan rela membatu dan berkorban untukmu" batin Rafael.


"Jangan melamun dan memandangku seperti itu, bernaf*su sekali kau melihatku, masuk!!" Ucapan keras Abraham yang sukses membuat beberapa orang yang kebetulan lewat terkejut, sementara Rafael tertawa dan kemudian segera masuk ke mobil.


Cup


Jasmine terkejut saat ciuman Abraham mendarat di pipinya.


"Yang, kau mengejutkanku, sudah datang?"


"Hem, baru saja, sudah sore, kita harus segera pulang, nanti malam kita harus datang di acara pertunangan Farel, kalau telat bisa di omeli tujuh hari tujuh malam kita nanti yang"


Jasmine terkekeh mendengar perkataan suaminya tentang sahabatnya Farel, lalu dirinya segera bersiap dan menanyakan tentang hasil dari acara lelang, Abraham tersenyum dan memberi tahu bahwa sekarang Hanzel Company sudah menjadi miliknya.


Wanita cantik itu langsung memeluk suaminya dengan erat, memberikan ucapan selamat dan mereka berciuman beberapa saat.


"Sebaiknya kita segera pulang yang, sepertinya aku sudah tidak tahan" ucap Abraham yang membuat Jasmine tersentak saat merasakan sesuatu milik suaminya mulai menegang.


Jasmine tertawa kecil sambil menggelengkan kepala lalu segera menyambar tasnya keluar dari ruangan.


"Yang tunggu!!" Teriak Abraham


"Aku tunggu di bawah, kendalikan dulu dirimu yang!" Jawab Jasmine dengan senyuman konyolnya.


Abraham masih terdiam sejenak dan mengatur nafasnya untuk mengendalikan pusakanya agar tidak semakin sesak di bawah sana.


Sesaat kemudian keduanya sudah berada di dalam mobil menuju Mansion, detik berikutnya tiba-tiba Jasmine teringat dengan perusahaan Hanzel Company dan kedua orang yang pernah berbagi hidup dengan sang suami, Jasmine segera memberikan perintah ke sopir untuk melanjutkan perjalanan ke pemakaman terlebih dahulu.


"Kita mau ke tempat pemakaman yang?" Tanya Abraham.

__ADS_1


"Iya, aku belum melihat makam Kartika, dan sebaiknya kita menghormati dan mendoakan mereka disana yang, bagaimanapun, mereka orang-orang yang pernah menjadi keluarga dan sangat berjasa kepada kita.


Abraham mengangguk dan menarik istrinya masuk ke dalam pelukannya, hati Abraham terasa di penuhi dengan kebahagiaan, dia sangat bersyukur di berikan kesempatan untuk mendapat pendamping hidup seseorang wanita cantik bukan hanya paras, tapi juga hatinya.


Tiba di sebuah pemakaman keduanya segera turun, setiba di tempat pemakaman kedua orang yang pernah menjadi keluarga Abraham, kini keduanya segera mengirimkan doa tebaik untuk kedua orang yang sangat disayanginya, setetes air mata tidak terasa keluar dari pelupuk matanya, hingga sang istri mengusap lembut punggungnya untuk memberikan kekuatan.


Setelah menyudahi doa panjangnya, mereka segera kembali ke mobil dan menuju Mansionnya.


Hari masih sore saat keduanya sudah tiba di tempat tujuan, Jasmine segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, disusul dengan Abraham yang sudah tidak kuat akan udara panas saat berada di luar sana.


"Yang, sabar dulu aku belum selesai" teriak Jasmine saat mendapati sang suami kini sudah di belakangnya ikut mengguyur tubuhnya di bawah shower dan tentu saja mereka tidak memakai apapun di tubuhnya.


Abraham terkejut saat meraba perut sang istri yang dia rasakan sudah sedikit membuncit,


"Yang, perut kamu_?" Ucap Abraham dengan senyuman bahagia langsung nampak di bibirnya.


"Yang, tangan kamu ih, jangan geraya*ngan gitu, geli yang!" Teriak Jasmine.


"Sebentar saja yang, aku suka mengusap perut kamu, pasti si junior lagi bahagia juga di dalam sana, iya kan nak?" Ucap Abraham.


Bukan Abraham namanya kalau tidak langsung tegangan tinggi saat menyentuh istrinya, dan Jasmine membelalakkan mata saat suaminya tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dan membawanya ke atas kasur.


"Yang, dingin" ucap Jasmine.


"Sebentar lagi hangat yang" sahut Abraham yang kini sudah menjelajahi kedua bukit kembar yang membuatnya semakin suka karena lebih berisi dari sebelumnya.


Tubuh Jasmine menegang saat beberapa area sensit*ifnya kini sudah terja*mah oleh sang suami, desa*han keluar begitu saja saat perlakuan lembut dari suaminya di terima dengan pasrah oleh tubuhnya.


Abraham menciumi perut Jasmine dengan lembut dan mengucapkan kata agar sang junior tetap tenang di dalam sana, setelah itu sang pusaka dipersiapkan untuk mengarungi tempat singgahnya.


Perlahan Abraham memasukkan miliknya ke dalam in*tim istrinya.


"Yang!, ohh.." teriakan kecil Jasmine terdengar.


Abraham segera menghentikan geraknya, "kenapa, Sakit yang?" Tanya Abraham cemas lalu menciumi wajah istrinya.


"Sedikit yang, pelan" sahut Jasmine.


"Okey, maaf, aku akan lebih pelan lagi" jawab Abraham yang kini memasukkan miliknya kembali perlahan, Jasmine kini terlihat lebih rileks dan menikmati penyatuan yang dilakukan.


Keduanya saling mende*sah mere*guk nikmatnya penyatuan di sore hari, Abraham menambah tempo gerakannya saat merasa Jasmine sudah bisa menerima pusakanya yang aktif keluar masuk memberikan sejuta rasa.


"Yang, aku hampir_"ucap Jasmine di tengah desa*hannya.


"Ahh!!"


Teriakan keduanya hampir bersamaan saat puncak kenikmatan melebur menjadi satu di tengah suara nafas yang saling berkejaran.


Abraham segera membelai lembut rambut istrinya, memberikan ciuman di bibirnya untuk menenangkan kembali irama jantung sang istri yang ditakutkan akan mengganggu sang junior di dalam perutnya.


"Atur nafasnya yang, jangan sampai membuat anak kita terkejut" ucap Abraham dengan lembut sambil menggosok perlahan dada Jasmine, senyuman dari Abraham mengembang saat melihat sang istri mulai bernafas tenang kembali, keduanya beristirahat sejenak sebelum akhirnya mengulangi mandi sorenya.


*


Riders yah sudah baca, jangan lupa juga mengatur nafasnya ya..dan segera kirim

__ADS_1


HADIAH, VOTE, LIKE dan KOMENnya.


__ADS_2