
Abraham terkejut mendengar suara ketukan pintu kamarnya lalu segera merapikan celananya kembali, sedangkan Jasmine dengan muka merahnya menahan tawa, segera membenarkan bajunya lalu melangkah dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa mbok?" Tanya Jasmine.
"Tadi ada telpon non, katanya dari suruhan tuan Smith, mengingatkan ditunggu untuk acara makan malamnya" ucap Mbok Darmi yang terkejut sambil senyum-senyum melihat ada beberapa tanda kemerahan di bagian leher Jasmine yang kebetulan masih belum memakai hijabnya.
"Iya Mbok, makasih ya, eh mbok, minta tolong resleting baju ku ya mbok?!" Ucap Jasmine dan langsung membelakangi mbok Darmi.
"Sudah non, Cantik!" Ucap Mbok Darmi.
"Tentu saja, siapa dulu Suaminya" sahut Abraham dingin sambil berlalu begitu saja, rupanya rasa dongkolnya ke mbok Darmi yang menggagalkan has*ratnya membuat Abraham tidak enak hati.
"Non, kenapa Tuan Abraham?"
"Sudah jangan di pikirkan mbok, aku lanjut bersiap dulu ya" ucap Jasmine.
Mbok Darmi segera keluar dan kemudian disusul dengan Jasmine yang sudah bersiap untuk berangkat. Jasmine sesekali tersenyum geli melihat kediaman Abraham di dalam mobil.
"Rupanya ada yang lagi gak enak hati nih, benar begitu yang?" Ucap Jasmine sambil tersenyum menggoda di depan Abraham.
"Jangan memancingku yang, sebelum aku suruh pak sopir turun sekarang juga!" Sahut Abraham mengancam dan sukses membuat Jasmine langsung terdiam.
Tak berapa lama kemudian mereka akhirnya sudah datang di tempat yang dituju, kini keduanya sudah memasuki ruangan yang di pesan khusus oleh Smith untuk makan malam di tempat istimewa.
Smith tersenyum menatap Jasmine sejenak lalu segera mengalihkan pandangannya sebelum sang suami mengetahuinya, datanglah seorang perempuan cantik yang rupanya menjadi pasangan tuan Smith malam ini.
Sosok wanita yang Cantik tentu saja, masih muda, seksi dan dengan berpakaian yang sangat terbuka, Abraham sempat terkejut menatap wanita yang dengan bangga memamerkan tubuhnya.
Hingga kemudian, Abraham mengganti duduknya di tempat Jasmine, kini posisi sudah terbalik, Abraham berada diantara Jasmine dan Smith, Begitu juga Jasmine yang sudah berada diantara Abraham dan Wanita se*ksi itu.
Smith mengumpat dalam hati, atas ke posesifan Abraham terhadap istrinya, makan malam berlangsung diselingi kemesraan dan keusilan Abraham saat makan malam bersama.
"Sayur nya yang, biar aku suap kan, ha_" ucap Abraham sudah bersiap menyuapi istrinya, Jasmine pun segera membuka mulutnya dan Kemudian tersenyum sambil melanjutkan mengunyah makanannya.
Sementara itu si Wanita pendamping Smith hanya memandangi saja.
"Sialan, pamer sekali rupanya, mereka kira aku tidak bisa Lebih dari mereka apa? Paling aku goda juga sudah beres semuanya" Batin si wanita itu dan langsung bersikap manja ke Smith.
Tidak hanya itu, Kaki wanita itu mencoba meraih kaki Abraham yang ada di depannya. Sontak Abraham terkejut lalu memandangi wanita itu dengan tatapan tajam, bukannya takut, wanita itu tersenyum seolah menantang Abraham dengan sengaja.
"Sialan wanita ini, benar-benar berani kurang ajar!" Batin Abraham lalu dengan tersenyum miring menginjak kaki wanita itu dengan keras.
"Awh!!" Wanita itu langsung menjerit kesakitan dan membuat Smith dan Jasmine terkejut.
"Apa kau baik-baik saja Nona?" Tanya Jasmine terheran.
"Tentu saja"
"Sialan laki-laki ini, kurang ajar, beraninya menginjak kakiku, kekasihku Smith akan membuat perhitungan dengannya, lihat saja" batin wanita itu.
Sementara Jasmine menoleh sekilas ke arah Abraham yang tersenyum miring.
"Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi yang?" Bisik lirih Jasmine sebelum melanjutkan makan malamnya.
"Dia berani bermain dengan kakinya di kakiku"
__ADS_1
"Owh_ berani sekali wanita ini" ucap Jasmine lirih
"Perlu kita beri pelajaran yang?" Sahut Abraham pelan.
"Boleh" jawab Jasmine.
"Ikuti apa yang akan aku lakukan yang" ucap Abraham.
"Tentu saja" jawab Jasmine tersenyum tipis, masih penasaran dengan rencana suaminya. dan mereka semua melanjutkan makan malamnya kembali.
**
Rena sudah duduk duduk di balkon kamarnya sambil memandang jauh di gelapnya pemandangan malam di luar Apartemen, Kebetulan juga Dea sedang dinas malam hari ini dan Rena semakin merasa kesepian.
"Apa yang sebenarnya Rafael inginkan dari hubungan ini, apa dia hanya ingin bermain-main saja tanpa ada niat serius untuk hidup bersama denganku?, Oh ya Tuhan, kepalaku pusing sekali" batin Rena kemudian masuk kembali ke kamarnya.
Telepon berdering dan tanpa ada niat sama sekali Rena mengangkatnya, hingga suara telepon berhenti dengan sendirinya, di rebahkan tubuhnya di atas kasur hingga teringat dengan kedua orang tuanya, detik berikutnya air mata Rena pun tumpah.
"Ayah, ibu, aku sangat merindukan kalian" ucap lirih Rena dalam tangisnya, rasa sesak di dadanya karena masalah dengan kekasihnya membuat tangisnya tidak terbendung.
Beberapa menit kemudian Rena sedikit lega menumpahkan semua, dan akhirnya bisa menghentikan tangisannya, di saat itulah suara bel pintu Apartemen berbunyi, Rena segera bangun mencuci wajahnya yang terlihat sembab, kemudian segera membuka pintu.
"Rafael?, Kenapa kamu ada disini?" Ucap Rena sangat terkejut melihat kekasihnya sudah ada di depan pintu, sambil membawa makanan.
"Memang gak boleh, aku melihat keadaan kekasihku?" Jawab Rafael nylonong gitu saja masuk ke Apartemen.
"Eh, tunggu El, ini sudah malam, lalu Mommy mana?, Kamu tinggal sendirian?"
"Mommy sudah biasa sendiri, sudah kembali ke Rumah barunya juga, Mommy kan mau bekerja di sini lebih lama"
"Bagus dong, kita bisa ngomong lebih bebas disini, Mommy bakal marah kalau aku balik tanpa membuatmu tersenyum lagi, tenanglah"
Ucap Rafael lalu menarik tangan Rena yang kini sudah duduk dalam pelukan kekasihnya.
"Lepas El, jangan kek gini"
"Kenapa hem, kamu habis nangis Ren, masih marah?" Tanya Rafael sambil memeluk Kekasihnya.
Rena tidak menjawab dan hanya terdiam, kemudian Rafael memulai perbincangan kembali,
"Maaf kan aku Ren, aku sangat mencintaimu, sungguh, tapi untuk ke jenjang pernikahan, tolong beri aku waktu ya"
"Kenapa, ada apa sebenarnya denganmu El?"
"Perpisahan Mommy dan Dady ku yang sangat tragis membuatku masih trauma sampai sekarang Ren" ucap Rafael yang sudah menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya.
Rena terkejut dan terdiam, siap menerima semua penjelasan dari Rafael, kemudian Rafael segera menceritakan betapa dirinya sangat ketakutan kalau nantinya akan mengalami perpisahan seperti kedua orang tuanya, hingga melihat Mommy nya sempat mendapat perawatan kejiwaan selama 5 tahun, dan selama itu juga Rafael selalu ketakutan kalau harus menjalin ikatan yang pada akhirnya akan terpisahkan.
Rena terkejut dan merasa bersalah dengan sikapnya, rupanya Rafael masih merasakan trauma yang cukup besar dengan kisah hidupnya di masa lalu.
"Maafkan aku El, maaf ya" ucap Rena yang kini sudah berbalik dan memberanikan diri duduk berpangku menghadap kekasihnya dan memeluknya erat.
"Iya Ren, tidak apa-apa, aku ngerti kenapa kamu marah, beri aku waktu dulu ya, kita pasti akan menikah, aku janji"
"Iya El, aku akan menunggu hingga kamu siap, tidak akan lagi memaksamu" ucap Rena semakin mengeratkan pelukannya dan mencium bibir kekasihnya pelan dan lembut.
__ADS_1
"Apa kau menjebak ku untuk segera menikahi mu Ren?" Tanya Rafael membuat Rena terkejut.
"Maksudnya?"
"Aku bisa khilaf dan menghamili mu malam ini juga kalau posisimu seperti ini terus Ren, ingat, kekasihmu ini laki-laki normal"
Dan Rena segera beranjak dari pangkuan kekasihnya, kini Rena duduk di samping Rafael sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
Sementara Rafael juga melakukan hal yang sama sambil memegang erat tangan kekasihnya. Keduanya terdiam sesaat sambil memejamkan matanya.
"Ren?"
"Hem?"
"Bisakah aku segera pulang?"
"Kenapa?"
"Ini sudah malam, aku takut hanya berduaan denganmu, dan aku mulai menginginkanmu, membayangkan seandainya kita bisa sedikit mencoba_?"
"Sudah yok..aku antar kamu keluar, Sekarang!!" ucap Rena yang langsung berdiri dan menyeret kekasihnya untuk segera pergi dari Apartemen.
"Eh, iya Ren, jangan terburu-buru gini"
"Sudah, cepet keluar, hati-hati di jalan sayang.."
BRAK
Pintu segera di tutup oleh Rena sebelum Rafael sempat menjawab.
"Buka Ren, aku cuma pengen memelukmu, masih kangen!!" Teriak Rafael, kemudian pintu Apartemen segera terbuka kembali, Rafael tersenyum lebar bersiap memeluk Kekasihnya. Namun..
BRUK
Rena sudah melempar jaket Rafael yang ketinggalan hingga menutupi mukanya.
"Gak ada pelukan, otak kamu lagi ngeres, aku takut!!" Ucap Rena.
BRAK
Rena segera menutup pintu kembali di depan Rafael yang masih melongo takjub melihat sikap ajaib kekasihnya.
"Sh*it!, Peluk saja gak bisa, Dasar!" Sahut Rafael kesal lalu segera pergi dengan pikiran yang masih panas. Sementara Rena yang tadi merinding, kini sudah bisa tenang kembali melanjutkan istirahatnya.
*
Tenang ya Readers...Rafael dan Rena belum saatnya membuat kalian panas dingin..hehe
Yuk lanjut.. Komen dahsyatnya dong..
Jangan lupa..Like biar makin oke..
Hadiah jangan lupa kirim..biar Author makin berbunga-bunga
Yang masih punya Vote..luncurkan segera buat Author biar makin semangat..
__ADS_1
Terimakasih semuanya dan menangkan hadiahnya.