AKULAH WANITAMU

AKULAH WANITAMU
Pengakuan


__ADS_3

Abraham hanya melihat Jasmine dengan santai, tidak ada takut-takut nya melihat kemurkaan Jasmine karena melihat jawaban yang diberikannya.


"Kau itu aneh, aku sudah menjawab semua permintaan mu, kenapa malah marah?" Ucap Abraham.


"Ya gimana gak emosi, kamu itu jawabnya gak perlu gini banget, cukup setuju atau tidak lalu alasannya apa!"


"Loh, itu kan sudah aku tulis sesuai petunjuk mu, coba kamu baca, biar aku juga dengar, di mana letak kesalahanku?" Jawab Abraham.


"Dasar breng*sek!" Teriak Jasmine


"Gak usah mengumpat, baca saja, biar urusan kita cepat kelar, atau kamu memang sengaja ngulur waktu biar aku kemalaman disini dan berlama-lama denganmu?" Ucap Abraham.


"Ih, dasar sinting!" Sahut Jasmine.


"Kamu malah lebih sinting, cepat baca!" Ucap Abraham.


"Baik aku bacakan, poin pertama, tidak tinggal satu rumah, jawabanmu tidak setuju karena _"


"Kenapa berhenti, lanjut!" Ucap Abraham.


"Karena tidak bisa sehari saja tidak melihatmu, sering kangen sama tingkah sableng mu" ucap Jasmine.


"Lalu dimana letak kesalahan jawabanku?" Tanya Abraham.


Jasmine terdiam dan malas untuk meladeni pertanyaan Abraham yang ujung-ujungnya tetap saja dia yang kalah.


"Aku baca yang kedua, Tidak ada kontak fisik, dan jawabanmu kenapa harus begini sih!" Teriak Jasmine makin kesal.


"Memang aku jawab apa, baca!"


"Nggak mau, jorok!" Ucap Jasmine.


"Kau ini, apa aku yang baca, sekalian aku bacanya teriak biar di dengar semua orang?"


"Dasar Singa!, Ya sudah aku bacakan, biar kamu puas!" Ucap Jasmine.


"Kamu jawab gak setuju, alasannya karena_, memang harus ya, aku baca tulisanmu yang ini?" Tanya Jasmine lagi.


"Harus, lanjut!"


"Dasar, alasanmu karena sudah tidak sabar ingin merasakan kehangatan tubuh istriku, memberikan malam yang indah dengan desa*han panjang penuh gai*rah dan_" Jasmine menghentikan ucapannya, rasanya hatinya sudah bergetar, gairahnya ikut sedikit bergejolak, hingga dia butuh waktu untuk mengatur nafasnya.


"Lanjut, kurang dikit lagi kenapa diam?" Tanya Abraham.


Jasmine benar-benar di buat hatinya tak karuan, pikirannya melayang kemana-mana dan membuatnya ingin membunuh Abraham saat ini juga, namun tetap saja dia harus melanjutkan membaca nya.


"Teriakan panjang penuh kenik*matan kita berdua" ucap Jasmine pada akhirnya dan.


GLEK


Jasmin perlahan menelan ludahnya berusaha mengontrol gejolak jiwanya.


Abraham melihat ekspresi wajah Jasmine yang mulai memerah dan itu membuatnya tertawa.

__ADS_1


"Hahaha, Kau itu menggemaskan saat seperti ini Jasmine, sepertinya calon istriku lumayan masih lugu, aku akan sabar mengajarimu nanti" ucap Abraham.


"Cih, aku gak mau di ajari yang begituan, dasar mesum!" Jawab Jasmine.


Abraham hanya tertawa lalu beranjak dari duduknya mendekati Jasmine perlahan, dan kini sudah mengungkung Jasmine di kursinya.


Sontak hal itu membuat Jasmine terkejut dan menegang


"Apa yang kau lakukan?!"


Abraham terdiam dan menikmati manik mata indah Jasmine yang beberapa saat ini mulai di rindukannya, keduanya berada sangat dekat, bahkan hembusan nafasnya saling terdengar satu sama lain.


Abraham tidak mampu mengendalikan tarikan pesona Jasmine hingga membuatnya mendekat kan bibirnya untuk menyentuh pipi Jasmine yang sangat lembut.


Tentu saja Jasmine tidak tinggal diam dan langsung menahan dada bidang milik sang mantan majikan, hingga tidak berhasil menyentuh dirinya.


Abraham terkejut dan tersadar, lalu segera mundur dan tangannya mengusap lembut kepala Jasmine yang tertutup dengan hijab.


"Maaf, aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, persiapkan saja dirimu satu minggu lagi, sudah malam, aku pulang dulu" ucap Abraham kemudian melangkah pergi meninggalkan Jasmine.


Jasmine masih terduduk di tempatnya, tangannya perlahan memegangi dadanya, tubuhnya terasa masih memanas, debaran jantungnya masih cukup keras, nafasnya masih terasa hampir berhenti.


"Ya Alloh, apa ini, apa yang terjadi denganku" batin Jasmine yang baru pertama kali mengalami hal ini.


Sementara itu Abraham masih melangkahkan mencari keberadaan Rahmad, detak jantung nya masih begitu cepat, hembusan nafas dan bau tubuh Jasmine masih lekat di rasakan nya, pikiran Abraham hampir gila andai saja Jasmine tidak menahannya.


"Sh*it!, hampir saja aku kebablasan!, Jasmine benar-benar membuatku tidak bisa mengontrol diri" umpat Abraham dalam hati.


"Maaf tuan Rahmad, saya rasa sudah waktunya saya pulang" ucap Abraham.


"Oh, iya tuan Abraham, apa semuanya sudah mencapai kesepakatan?" Tanya Rahmad.


"Semua sudah beres tuan, satu minggu lagi saya akan menikahi putri anda, semuanya saya yang mempersiapkan, anda dan putri anda hanya mempersiapkan diri saja"


"Baiklah, Alhamdulillah Jasmine tidak membuat masalah denganmu tuan Abraham"


"Dan mulai sekarang, sebaiknya anda memanggil saya Abraham saja"


"Baiklah, saya juga ingin mulai sekarang anda memanggil saya Ayah seperti yang biasa Jasmine ucapkan"


Abraham sedikit terkejut, ada kehangatan di hati Abraham saat Rahmad mengatakan hal itu dengan senyum dan ketulusan yang nampak dimatanya.


Rasa itu sangat berbeda sekali saat dirinya di suruh memanggil ayah sewaktu kecil oleh ayah angkatnya yaitu Dimas Hanzel, seorang pengusaha yang sangat berkuasa di masanya.


"Baiklah Ayah, aku pulang dulu" ucap Abraham.


"Iya Abraham, berhati-hati lah di jalan, utamakan keselamatan mu, ini sudah malam" ucap Rahmad.


"Baik, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Rahmad setelah bersalaman dengan Abraham dan sejenak memeluknya.


Di dalam perjalanan pulang Abraham tersenyum bahagia, pelukan hangat dari Rahmad memberikan reaksi yang sangat berbeda, kehangatan, perlindungan dan ketenangan bercampur aduk di rasakan oleh Abraham.

__ADS_1


Tak terasa Abraham meneteskan air mata, dirinya tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan memiliki sosok ayah seperti Rahmad, yang bahkan selama hidupnya tidak pernah dia dapatkan dari siapapun.


Hati Abraham bergetar saat mendengar sebuah pesan yang diucapkan Rahmad agar lebih mengutamakan keselamatannya, sungguh besarnya kasih sayang yang tidak bisa di bayangkan oleh Abraham sebelumnya.


"Mulai hari ini, aku bersumpah, akan melindungi kalian dengan nyawaku, tidak akan aku biarkan satu orangpun yang akan menyakiti kalian" ucap lirih Abraham.


*


Di tempat lain, Rahmad masuk kembali keruang kerjanya dan mendapati Jasmine masih terduduk di tempatnya dengan tatapan aneh, dan berusaha menarik nafasnya berulang kali.


Rahmad duduk di mejanya dan melihat layar komputer yang terhubung dengan Cctv diruangan nya, dan saat melihat apa yang terjadi dengan Jasmine dan Abraham, senyum Rahmad mengembang, dirinya mulai mengerti apa yang terjadi dengan anaknya.


"Jasmine, Jasmine!!" Ucap Rahmad sedikit keras dan membuat Jasmine terjingkat.


"Astagfirullah, Ayah, sejak kapan ayah disini?"


"Sejak ayah masuk dan melihatmu bengong memikirkan seseorang"


"Apa sih yah, siapa yang memikirkan Abraham" ucap Jasmine begitu saja.


"Oh, jadi sedang memikirkan Abraham ya?" Jawab Rahmad sambil terkekeh.


"Siapa yang memikirkan Abraham?" Sahut Jasmine kikuk.


"Kau sendiri yang menyebutkan nama Abraham, padahal ayah cuma bilang kamu sedang memikirkan seseorang"


"Apaan sih yah, sudah, aku pergi tidur dulu, ayah juga jangan terlalu malam tidurnya, jaga kesehatan" ucap Jasmine nyelonong.


"Jasmine!" Panggil Rahmad, dan langkah anaknya segera terhenti.


"Maaf yah, lupa, hehe" ucap Jasmine sambil nyengir dan berbalik jalan mendekati sang ayah lalu memeluk ayahnya dan mendapat kan kecupan kasih sayang dari Rahmad.


"Belum nikah saja sudah melupakan ayah" goda Rahmad.


"Jangan mulai yah, aku pergi ke kamar dulu" jawab Jasmine melangkahkan kakinya keluar menuju ke kamarnya untuk beristirahat.


Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 46-50


Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.3


Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen


BERSAMBUNG


Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:


LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN


HADIAH HADIAH HADIAH


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE

__ADS_1


__ADS_2