
Jasmine merasa tidak enak di tatap terus menerus oleh suaminya, hingga kemudian dia memberikan peringatan
"Jangan menatapku terus, aku tau aku cantik, nanti kamu terpesona malah gak bisa tidur" ucap Jasmine
"Ya tinggal niduri kamu kalau aku gak bisa tidur"
"Apaan sih, gak jelas banget ngomongnya" ucap Jasmine
"Ya kan benar, suami niduri istrinya gak salah kan?" Sahut Abraham
"Udah gak usah dibahas, bikin aku merinding nih"
"Masak?, Coba lihat" ucap Abraham ingin menyentuh Jasmine, namun langsung di tampel tangannya dengan cepat oleh Jasmine. Abraham hanya tersenyum melihat tingkah konyol Jasmine.
Jasmine teringat kembali dengan Risma sahabatnya, dan berniat untuk segera bangun dan menyusulnya ke Kontrakan karena khawatir akan keadaannya.
"Mau kemana?" Tanya Abraham.
"Ke kontrakan nyusul Risma, aku khawatir dengan keadaannya"
"Jangan dulu, keadaan kamu masih lemah, sebaiknya istirahat saja dulu"
"Gak bisa, aku harus tau keadaan Risma, dia butuh aku saat ini"
"Kau juga butuh sehat dulu sebelum membantu Sahabat kamu Jasmine"
"Please Eb, aku harus lihat keadaan Risma" ucap Jasmine memohon dengan wajah cantiknya yang membuat Abraham terpana sesaat dan segera menyadarkan dirinya.
"Baiklah, aku antar, habiskan dulu minuman mu"
Tak berapa lama kemudian, keduanya segera keluar dari hotel dan menuju ke kontrakan Risma, dengan langkah cepat Jasmine segera keluar dari mobil Abraham.
"Perhatikan langkahmu, pelan-pelan, kamu masih lemah Jasmine" ucap Abraham sambil menyambar tangan Jasmine dan menggenggamnya erat.
"Iya ngerti, lepas tanganku Eb, gak usah gandengan gini, kayak anak kecil aja aku ni"
"Gak ada, jalan pelan di sampingku" sahut Abraham masih menggenggam tangan Jasmine.
Hingga kemudian mereka berdua sudah berjalan bareng dan kini berada di pintu rumah kontrakan Risma, tangan Abraham segera menarik Jasmine untuk menahan langkahnya.
"Ada apa sih?" Tanya Jasmine.
"Dengarkan dulu, sepertinya di dalam ada yang sedang bicara" ucap Abraham.
Jasmine segera berhenti dan ternyata benar, sayup terdengar Dinda sedang menangis dan terdengar juga suara Agam yang memanggil nama Risma.
Jasmine benar-benar sudah tidak tahan lagi dan ingin melihat bagaimana keadaan Risma.
"Aku mau masuk dulu Eb, lepaskan tanganku" ucap Jasmine.
"Tidak akan, aku ikut"
"Eb, kau ini kekanakan sekali, bisa lepas sekarang nggak, atau aku akan menendang mu!" Ancam Jasmine.
__ADS_1
"Silahkan saja kalau kamu gak takut dosa menendang suami"
"Kau ini_, ish, menyebalkan!" Ucap Jasmine yang akhirnya dengan kasar menarik tangan Abraham untuk ikut masuk ke dalam, Jasmine terdiam melihat Risma terduduk sambil menangis, sedangkan Agam bersimpuh di kakinya, begitu juga dengan Dinda yang menangis tak hentinya sambil duduk agak jauh dari mereka.
Sungguh pemandangan yang membuat Jasmine sangat terluka, ketiganya sama-sama Sahabatnya, ketiganya sudah bertahun-tahun menemaninya, dan ketiganya sudah membagi suka dan duga dalam setiap momen perjalanan hidupnya.
"Sekarang apa yang mas Agam inginkan?" Tanya Risma.
"Aku tetap menginginkan mu Ris, aku mencintaimu, semua ini terjadi tanpa aku sadari dan karena Dinda yang menjebak ku, kau sendiri dengar dari Dinda sendiri kan?"
"Lalu tentang anakmu yang ada dalam rahim Dinda, apa yang akan kau lakukan mas?!"
"Aku akan merawatnya sampai dia lahir dan akan kuambil, kamu mau kan merawatnya Ris, bersamaku?"
"Apa kau sudah gila mas, lalu bagaimana perasaan Dinda, bagaimanapun dia ibunya, bagaimana mungkin kau berpikir akan memisahkan mereka!" Teriak Risma
"Lalu apa yang harus aku lakukan Ris, aku gak mungkin meninggalkanmu untuk Dinda, aku mencintai mu Ris, aku sangat mencintaimu!"
"Cukup!"
"Aku ingin kau keluar dari sini mas, pergi dari hadapanku"
BRAK
Suara keras daun pintu yang dibanting Risma saat menutup pintu kamarnya, Agam pun masih bersimpuh di lantai dan menangis dengan kepergian Risma.
Dan tiba-tiba saja Dinda terjatuh tak sadarkan diri, Jasmine sontak berlari menghampiri Dinda begitu juga dengan Agam dan Abraham.
"Din, bangun, Din!" Teriak Jasmine panik.
"Dia perdarahan, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit Segera!" Teriak Abraham.
"APA!" Teriak Jasmine dan Agam bersamaan.
Agam langsung menyambar tubuh Dinda dan kemudian membawanya masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan mobilnya ke Rumah sakit terdekat.
Sementara Jasmine segera masuk kembali ke dalam mobil bersama Abraham dan mengikuti mobil Agam menuju ke Rumah Sakit.
Kurang lebih setengah jam, Agam, Jasmine dan Abraham menunggu hasil pemeriksaan Dinda, akhirnya dokter segera keluar dan memberikan kabar kalau kehamilan masih bisa di selamatkan, namun Dinda harus beristirahat total dulu sampai satu minggu kedepan. Dan untuk saat ini Dinda harus dirawat dahulu di rumah sakit selama 3 hari.
"Sebaiknya kalian pulanglah, biar aku yang menjaga Dinda disini" ucap Agam.
"Kenapa semua ini harus terjadi Mas, kenapa?" Tanya Jasmine sambil meneteskan air mata lagi.
Abraham mendekat dan memeluk Jasmine sesaat sambil berusaha menenangkannya.
"Tenanglah, ingat tubuhmu masih lemah jasmine" ucap Abraham masih memeluk Jasmine dan Jasmine membiarkan hal itu karena merasa nyaman.
"Aku tidak tau jas, semua terjadi begitu cepat, aku bahkan tidak percaya dengan apa yang sudah aku lakukan.
"Menyesalinya sekarang tidak ada gunanya, sebaiknya kalian segera selesaikan masalahnya" sahut Abraham.
"Aku tidak ingin berpisah dengan Risma, karena aku mencintainya, kamu tau pasti soal itu kan jas?"
__ADS_1
"Tapi masalahnya Dinda mas, dia hamil anak kamu dan dia juga sahabatku, sahabat Risma, apa mas pikir Risma akan tega membuat Dinda menderita dengan menanggung semua beban dipundaknya sendirian?" Ucap Jasmine.
"Sudahlah, Jasmine, kita sebaiknya pulang dulu, hari mulai gelap, aku akan mengantarmu pulang beristirahat" ucap Abraham yang kemudian membawa Jasmine pergi.
Hampir saja Abraham sampai di mobilnya, rupanya ada seorang laki-laki yang mereka kenal datang dari arah berlawanan, hingga kemudian Jasmine ikut terkejut dan bermaksud menjauh dari Abraham.
"Mau kemana, sini saja!" Ucap Abraham lalu menarik tangan Jasmine dan menggenggamnya dengan erat.
"Ada Agung, Eb, kita nanti ketahuan kalau_"
"Diam, ikuti saja aku, tenanglah, jangan panik," ucap Abraham dan kemudian Jasmine terpaksa menuruti apa yang dikatakan Abraham.
"Wow, pemandangan yang unik rupanya, kalian mesra sekali, saling bergandengan tangan, rupanya tuan Abraham sudah mendapatkan umpannya ya?" Ucap Agung
"Umpan, apa maksudmu?" Tanya Jasmine terkejut.
"Oh, jadi tuan Abraham belum menceritakan yang sesungguhnya?"
"Tutup mulutmu dan pergilah sebelum aku menghajar mu disini" sahut Abraham.
"Tenang tuan Abraham, taruhannya sudah anda menangkan, dan sepertinya wanita anda ini belum tau apapun?" Ucap Agung Dwi Vinan.
"Aku peringatkan, pergi atau aku akan menghajar mu Agung Dwi Vinan" ucap Abraham dengan penuh penekanan.
"Baiklah tuan Abraham, selamat menikmati, aku yakin wanita yang kau menangkan ini masih pera*wan, bukan begitu nona Jasmine?" Sahut Agung.
Jasmine tidak menjawab dan hanya menatap mata Agung dengan tajam, hingga kemudian Agung berlalu pergi sambil tertawa.
Jasmine melangkah duluan masuk mobil, sedangkan Abraham menyusulnya dengan raut cemas di wajahnya.
"Ingin pulang kemana, hem?, Tanya Abraham lembut.
"Tentu saja ke rumah ayah, mau pulang ke rumahmu belum cukup tenaga untuk menghadapi wanita rubah itu" jawab Jasmine.
"Baik" ucap Abraham dan tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya ke Jasmine.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak jasmine yang langsung panik saat wajahnya sangat dekat sekali dengan Abraham.
*
Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 56-61
Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.5
Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE