AKULAH WANITAMU

AKULAH WANITAMU
Tragedi


__ADS_3

Keesokan hari semuanya sudah bersiap untuk sarapan pagi, Jasmine membantu mbok Darmi menyiapkan sarapan dan kini saatnya semua menikmatinya.


Rafael tersenyum senang saat melihat semua masakan rumah yang ada di depan matanya, sungguh pemandangan yang membuatnya berselera untuk segera menghabiskannya. Maklumlah karena Rafael jarang sekali makan makanan seperti ini dan lebih sering beli di luaran sana karena tidak ahli memasak.


"Wah, boleh ni, aku sering minta sarapan kemari" ucap Rafael.


"Boleh" ucap Jasmine


"Gak boleh!" Sahut Abraham sengit.


"Kenapa sih yang, ngasih makan Rafael juga gak akan buat kita rugi" ucap Jasmine kesal.


"Gak bisa, enak saja, kalau kamu mau, biar mbok Darmi tiap pagi ngantar makanannya ke Apartemen kamu, jadi gak perlu ikut sarapan di sini" jawab Abraham.


"Ya mana seru sarapan sendirian, disini kan lebih nikmat, ada pemandangan indah di pagi hari" ucap Rafael sambil menatap Jasmine sambil tersenyum.


"Jaga pandanganmu El, kau benar-benar ingin aku hajar ya?!" Ucap Abraham menatap tajam ke arah Rafael.


Sementara Jasmine hanya tertawa melihat perseteruan kedua sahabat di depan matanya.


"Sudah, kalian jangan kayak anak kecil gitu deh, sarapan dulu lalu segera pergi ke perusahaan Vinan Company untuk mengambil semua berkas penting kalian sebelum keluar dari perusahaan itu, ingat, nanti pamitnya baik-baik, gak perlu pakek emosi" omel Jasmine ke mereka berdua.


Tak lama kemudian, Rafael membawa mobilnya bersama dengan Abraham menuju ke perusahaan Hanzel company, tiba di sana keduanya segera masuk ke ruang direktur utama yang di sana sudah ada Dimas dan juga Kartika.


"Bagus, akhirnya kau datang juga, masih besar juga nyali mu, kenapa, apa kau sudah menyesal telah bercerai dengan anakku dan tidak memiliki apapun lagi?" Ucap Dimas Hanzel.


"Maaf ayah, aku hanya ingin pamit baik-baik dengan semua pegawai disini, dan juga mengambil beberapa barang pribadi, permisi"


"Ambil semuanya!!, Dan segera pergi dari hadapanku, dasar manusia tidak tau diri! Dan ingat, aku ingin kau tinggalkan mansion mewah yang kau tinggali sekarang, karena itu uang dariku yang kau gunakan untuk membelinya!" Teriak Dimas penuh dengan emosi.


"Maaf ayah, aku akan mengganti mansion itu dengan uang yang sepadan, jadi tunggu saja pembayaran yang akan kita lakukan segera"


"Apa, sombong sekali kau ha!!, Memangnya kau dapat uang dari mana, merampok?, Dasar manusia hina, kelakuanmu tidak tau malu, dasar manusia jalanan!!"


"Cukup ayah!, Simpan sumpah serapah mu sebelum semuanya akan kembali padamu sendiri!" Teriak Abraham memperingatkan, dan Rafael segera menepuk bahu Abraham untuk menenangkannya.


"Maaf tuan Dimas, saya juga pamit untuk mengundurkan diri dan keluar dari perusahaan ini juga" sahut Rafael yang sebenarnya sudah menahan amarahnya sejak tadi.


"Kau_!!, Pergi!, Aku tidak butuh kalian di perusahaan ini, masih banyak orang-orang hebat yang ada di bawah perintahku!" Teriak Dimas.


Keduanya segera pergi keruangan mereka masing-masing untuk membereskan barang pribadinya, Abraham masuk ke ruangannya yang kini sudah di tempati oleh Kartika dan rupanya Kartika sudah mengikutinya dari belakang.


"Ab, aku bisa membantumu mengembalikan semuanya, asal kamu kembali padaku, kita akan bersama lagi di rumah kita dulu, pikirkan itu"


"Maaf aku tidak tertarik sama sekali dengan tawaranmu, aku lebih baik kelaparan dari pada harus kau gunakan untuk alat pemuas nafsumu!"


"Bajingan kau Abraham, ingat, kau akan menyesal sudah memutuskan hal ini, kau kira mudah hidup serba kekurangan ha!"


"Tutup mulutmu Kartika, jangan ajari aku soal kekurangan, kau lupa dulu aku hidup seperti apa sebelum ayahmu mengambilku sebagai alat untuk memperkaya keluargamu!" Bentak Abraham.


Kartika tidak bisa berkata apapun lagi, dan Abraham meneruskan kembali membereskan barang-barang nya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Rafael yang di dampingi oleh Rena kekasihnya, awalnya Rena sangat terkejut karena Rafael belum sempat menceritakan apapun ke dirinya, hingga kemudian sambil membereskan Baranya Rafael menceritakan semuanya.


"Terus aku gimana El, aku juga tidak ingin bekerja di bawah perintah Kartika yang tidak tau aturan itu"


"Tenanglah, untuk sementara bekerjalah disini dulu, nanti kalau aku sudah dapat pekerjaan lagi, aku bantu kamu keluar dari sini, okey?"


"Baiklah, kamu hati-hati nanti ya El, aku akan sering ke Apartemen mu untuk melihat keadaanmu" ucap Rena.


"Gak takut kamu, sering ke Apartemenku?, Yakin?" Tanya Rafael penuh maksud.


"Nggak, memangnya kenapa, gak ada hantunya kan Apartemen kamu?"


Rafael terkekeh dengan pemikiran ajaib kekasihnya yang konyol dan tidak nyambung sama sekali dengan maksud hatinya.


"Emang kamu lebih takut hantu ketimbang aku?" Ucap Rafael dan sukses membuat pikiran Reba makin semrawut.


"Ngapain aku harus takut sama kamu ketimbang hantu?" Tanya Rena makin kepo.


"Karena hantu tidak bisa membuatmu hamil, tapi aku bisa" sahut Rafael.


"Ha, apa sih El, dasar, ngeres tu pikirannya" ucap Rena lalu segera menjaga jarak dengan Rafael, melihat hal itu Rafael makin terkekeh dan kemudian menarik Rena hingga berada dalam dekapannya.


"Takutnya gak perlu sekarang, Aku gak mungkin menghamili mu disini, terlalu rame" bisik Rafael lalu mencuri ciuman di pipi kekasihnya.


Sontak Rena terkejut dan segera meloloskan diri dari dekapan Rafael kemudian menjauh kembali, Rafael hanya tertawa sambil melanjutkan memilah barang yang akan di bawanya.


Kini Abraham dan Rafael segera keluar dari perusahaan setelah berpamitan dengan para staf yang sudah lama bekerja sama dengannya, hari itu di perusahaan Hanzel Company langsung terjadi kehebohan, para staf yang setia bekerjasama dengan baik selama bertahun-tahun sampai menangis, bahkan ada yang berencana resain dan mencari pekerjaan di tempat lain.


*


Siang hari di perusahaan Nugraha Company di hebohkan dengan surat pemutusan kontrak kerjasama dari perusahaan Hanzel Company yang berganti kepemimpinan atas nama Dimas Hanzel.


Jasmine berusaha menenangkan ayahnya dan menceritakan segalanya, Bukannya sedih seperti yang di khawatirkan oleh Jasmine, justru Rahmad tertawa Bahagia.


"Kenapa ayah malah senang melihat Abraham menderita?" Ucap Jasmine.


"Tentu saja ayah bahagia, dengan begini ayah akan segera pensiun dari urusan duniawi, seperti yang di wariskan oleh kakek mu, bahwa perusahaan ini adalah milikmu Jasmine, dengan keadaan Abraham yang sudah tidak memimpin Hanzel Company, itu berarti sudah saatnya aku melimpahkan tanggung jawab perusahaan ke Abraham suamimu"


"Jadi maksudnya ayah akan melanjutkan cita-cita ayah untuk mengurusi pondok pesantren warisan eyang sepuh?"


"Tentu saja, ayah sudah tua Jasmine, ayah ingin mencari bekal yang cukup untuk aku bawa nanti menuju kehidupan yang kekal dan abadi"


"Ayah tega meninggalkan Jasmine di sini sendiri?"


"Ayah akan selalu ada untuk membantumu sayang, tapi sekarang sudah ada orang yang bisa menjagamu dengan baik, Abraham suamimu, dia laki-laki yang tangguh dan bertanggung jawab, kekuatan tenaga dalamnya sudah ayah latih sepenuhnya, dan itu lebih dari cukup untuk menjaga mu dan anak keturunanmu kelak"


Jasmine tidak mampu membendung air matanya lagi, dan Rahmad segera memeluk putri kesayangannya dengan erat, tak lama kemudian Rahmad segera bersiap untuk tanda tangan pemutusan kontrak kerja di perusahaan Hanzel Company, dia sendiri juga sangat penasaran ingin tau seperti apa orang yang sudah berani menghina dan membuang menantunya begitu saja.


*


Rahmad sudah berada di perusahaan Hanzel Company, dengan beberapa asisten dan juga pengawalnya, sengaja Jasmine tidak diijinkan ikut oleh Rahmad dan di tugaskan untuk memimpin rapat perusahaan serta mengurus surat-surat pengalihan perusahaan atas nama Abraham dan dirinya.

__ADS_1


Rupanya Dimas Hanzel sudah menunggu kedatangan Rahmad, dua orang pemimpin perusahaan setengah baya yang kini akhirnya saling berhadapan, tidak dengan Rahmad yang duduk dengan tenang dan begitu menguasai emosinya, Dimas malah semakin kelihatan wajah garang dan gusarnya.


"Selamat datang tuan Rahmad, akhirnya kita bertemu disini, aku penasaran dengan orang tua wanita yang sudah membesarkan anak gadisnya yang suka merebut suami orang"


"Terimakasih atas sambutannya tuan Dimas, saya juga penasaran se bobrok apa orang tua yang sudah membesarkan Abraham untuk menutupi aib dan sifat ja*lang anak perempuannya" jawab Rahmad dengan santai.


"Jangan kurang ajar tuan Rahmad, ingat posisimu sekarang ini, kau hanya tamu di tempatku!!" Sahut Dimas dengan emosi.


"Sepertinya anda yang lebih pantas di sebut kurang ajar, bukan saya, tidak usah mengulur waktu lagi, mana berkas yang harus saya teken, aku sudah tidak betah berada di satu ruangan dengan orang bodoh dan berpikiran picik"


"Apa maksudmu, kau menghinaku!, Dasar sialan!!" Ucap Dimas yang kini sudah meremas Krah leher Rahmad dengan lancang.


Rahmad masih diam tidak bergeming dan hanya menatap kan pandangannya dengan tajam menembus manik mata Dimas yang berada tepat di depannya.


"Tuan, kendalikan dirimu, ruangan ini penuh Cctv, jangan sampai anda melakukan kekerasan" ucap anak buah Dimas yang ada di sampingnya.


Sementara pengawal Rahmad yang bersiap maju di cegah oleh Rahmad dengan memberikan kode tangannya.


Dengan kasar Dimas melepas cengkeramannya dan kemudian melempar berkas di depan Rahmad, masih dengan gerakan tenangnya, Rahmad sudah menandatangani berkasnya satu persatu hingga selesai, dirinya menarik nafas lega karena sudah resmi memutuskan kontrak kerjasama.


"Aku peringatkan kau Rahmad, kekuasaan perusahaan mu masih di bawahku, jangan harap kau bisa dengan mudah melejitkan Nugraha Company, aku akan menghancurkan perusahaan mu" ucap Dimas penuh penekanan.


"Kata-kata mu membuatku ingin tertawa Tuan Dimas, apa kau lupa siapa yang membesarkan perusahaan mu?, Dan orang itu nantinya yang akan menjadi lawan mu, karena sebentar lagi Nugraha Company akan di pimpin langsung oleh Abraham menantuku bersama dengan istrinya" ucap Rahmad dan sontak membuat Dimas terkejut.


"Bang*sat!, Kau memanfaatkan Abraham untuk melawanku!, Baji"ngan!" Teriak Dimas


"Aku tidak memanfaatkan siapapun, kau saja yang bodoh telah mengusir dan membuang orang yang kuat dan bertalenta tinggi seperti Abraham, aku hanya memberikan apa yang pantas Abraham dapatkan"


"Baji*ngan, aku beri pelajaran kau Rahmad!" Teriak Dimas lalu mengeluarkan senjata api dan menarik pelatuknya begitu saja tepat di dada Rahmad.


Suara tembakan terdengar nyaring, semua orang terkejut, bahkan Rahmad sendiri tidak menyangka kalau Dimas bisa segila itu, hingga suara jeritan pun terdengar.


*


Penasaran dengan kelanjutannya?, Sudah tayang di YouTube Channel: Sinho Novel, cuplikan episode 100-105


Ketik: Cerita Novel Romantis by Sinho Bag.11


Yuk mampir, jangan lupa: Subscribe, Like, Komen


BERSAMBUNG


Author akan UPDATE SETIAP HARI Jangan lupa Dukung Author dengan memberi:


LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN


HADIAH HADIAH HADIAH


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE

__ADS_1


__ADS_2