Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 102


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan dari pria itu, Nathan mengerutkan keningnya. Menatap Wijaya dengan tanda tanya yang besar, karena selama ini Ayahnya tidak pernah mempunyai musuh.


"Jangan berbohong, cepat lepaskan orang tua, anak, dan juga istri ku." Nathan mengepalkan kedua tangannya, rahang yang mengeras, serta tatapan tajam menatap pria itu.


"Tidak ada gunanya aku berbohong. Pak tua, cepat katakan semuanya tanpa ada yang terlewati," ucap pria itu yang mengeluarkan pistol dari saku dan menarik pelatuk. Menodongkan pistol dengan tatapan kebencian dan kemarahan kepada Wijaya.


"B-Baiklah, aku akan menceritakan segalanya. Nathan maafkan Papa, orang yang menodongkan senjata ini adalah kakak tirimu yang bernama Darren. Anak dari hasil hubungan gelap dengan sekretaris yang telah Papa buang dengan tidak manusiawi." Penjelasan yang keluar dari mulut Wijaya, sontak membuat Nathan terkejut dan tidak menyangka dengan Ayahnya yang bisa berbuat kejam. Begitupun Novi yang tidak tau mengenai masalah ini, dia kecewa dengan Wijaya yang telah mengkhianati nya.


Nathan melirik Dita yang di gantung dan baby Lea yang berada di gendongan Darren.


"Ck, sudah aku katakan untuk menjelaskan secara rinci. Kenapa hanya garis besarnya saja, pak tua," seloroh pria itu yang menendang tubuh Wijaya hingga tersungkur.


Nathan tidak bisa menahan dirinya, sementara twins L menatap Darren sebagai musuh yang harus di lenyapkan. Mereka saling melirik, seakan tau apa yang harus di lakukan. Zean dan twins L diam-diam menerobos mendekati baby Lea dan juga Dita, sementara Nathan melihat pergerakan di sekelilingnya.


"Jangan menyakiti keluarga ku, bukankah kamu sudah mengambil setengah dari harta Wijaya? lepaskan mereka," tegas Nathan yang berusaha tetap tenang.


Darren merasakan ada orang yang mendekati Dita, dan dengan cepat menembak orang itu yang tak lain adalah El.


"El," pekik semua orang yang khawatir dengan tembakan itu, untung saja El mengenakan baju anti peluru. Sedang kecerdikan dari Al dan El, mereka berhasil merebut baby Lea yang berada tangan Darren.


Nathan segera menyelamatkan Dita yang di gantung tidak sadarkan diri akibat luka saat mempertahankan baby Lea. Dengan cepat Darren menembak tali dan membuat tubuh Dita terjatuh, Nathan dengan Ligat melompat dan memeluk Dita. Hingga akhirnya Nathan lah yang terkena benda tajam nan runcing itu sembari memeluk Dita dengan sangat erat.


"AYAH."


"NATHAN."


Demi menyelamatkan nyawa sang istri, Nathan rela mengorbankan dirinya menjadi tameng agar tubuh Dita tidak terkena benda tajam. Bara dan Daniel melakukan aksinya melumpuhkan anak buah Darren, sementara Zean dan twins L menyerang Darren secara bersamaan. Darren sangat kuat, hingga Zean dan twins L kalah dan membuat mereka terkapar lemah.


Darren mengarahkan pistolnya ke arah Nathan, Wijaya yang melihat itu langsung mencegat. Suara tembakan yang sangat keras membuat semua orang mengalihkan perhatiannya ke asal suara. "Itu akibatnya jika kamu berniat menghalangi aku, pak tua. Selamat menjemput ajal, itu karma dari perbuatanmu di masa lalu," ucap Darren yang menyeringai sembari melihat Wijaya yang tertembak mengenai jantungnya.

__ADS_1


Walaupun Novi merasa kecewa dengan Wijaya yang mengkhianati nya, tetap saja rasa cinta itu tidak berkurang sedikitpun. Dia menghampiri Wijaya dan memeluk tubuh yang penuh darah. Darren tak merasa puas hingga dia menembak Novi dan mati di tempat.


Darren tertawa bahagia, karena telah membunuh Wijaya dan juga Novi. Nathan yang melihat orang tuanya di bunuh di hadapan matanya, membuat kekuatan entah muncul darimana. Dia bangkit dengan berteriak memanggil nama Darren, Nathan bagai kerasukan yang menyerang Darren secara bertubi-tubi tanpa membuat cela. Twins L, Zean, Bara, dan Daniel juga bangkit untuk menolong Nathan.


Darren sangat senang dengan kondisi yang tersudutkan, dia dengan mudah melumpuhkan lawannya. "Hahah.... kalian tidak akan bisa melawanku," ucap Darren dengan bangga.


"Wah, anakmu cukup hebat ya. Ini sangat seru jika aku membunuh si kembar tepat di hadapanmu," celetuk Darren dengan tersenyum mengejek ke arah Nathan. Dia menarik rambut Al dan menembaknya.


Al menutup matanya yang seakan takut dengan ajal yang akan dia alami. Kembali membuka mata dan merasakan tubuhnya yang tidak tertembak, "aku selamat?" batinnya.


Al membesarkan pupil matanya yang melihat sang Ibu yang memegang pistol dengan tatapan yang penuh kemarahan, semua orang juga menatap Dita dengan takjub.


Yah, Dita yang telah menembak Darren yang mengenai kepala, hingga Darren mati di tempat. Keberanian seorang ibu jika melihat anaknya dalam bahaya. Dengan jalan yang terseok-seok, Dita menghampiri ketiga anaknya dan memeluk mereka penuh haru.


Kekacauan itu membuat mereka kehilangan Wijaya dan juga Novi, semua orang sedih dan juga menangis.


****


Abian mengerjabkan mata dan melihat sekeliling ruangan yang dia tempati, sebuah rumah sakit. Pintu terbuka membuatnya menoleh, dia melihat seorang wanita yang seusia dengan Dita, "siapa kamu?"


"Tenanglah, sekarang kamu aman. Perkenalkan aku Caroline, dan siapa nama mu?" ujar Caroline yang berjalan mendekati Abian.


"Aku Abian, apa kamu yang telah menolongku?"


"Hem, itu benar. Bagaimana dengan keadaan mu sekarang? ceritakan kepadaku apa yang terjadi," tutur Caroline.


Abian menatap wanita cantik itu dari atas sampai bawah, membuat Caroline terkekeh.


"Tenang lah, aku tidak akan mengatakan kepada siapa pun. Jika itu serasa beban bagimu, maka ceritakanlah. Aku tidak akan memaksamu untuk itu," ucap nya.

__ADS_1


Abian yang sedikit ragu, mulai mempercayai wanita cantik di hadapannya. Menceritan perlakuan dari Farel yang terus menyiksa batin dan juga fisiknya, Caroline terkejut dengan cerita Abian yang sangat menyentuh hatinya. Hingga dia memutuskan untuk mengadopsi Abian, "bagaimana jika kamu ikut dengan ku, aku akan merawatmu dan membantu mu untuk balas dendam."


"Apa yang kamu inginkan dariku? aku rasa itu tidak akan gratis," cetus Abian yang menatap Caroline.


"Ternyata kamu sangat pintar, aku akan menjadikanmu sebagai anak dan juga pewarisku."


"Apa maksudnya itu?" sahut Abian yang menautkan kedua alisnya.


"Akan aku katakan yang sejujurnya, aku ini pembunuh bayaran. Dan aku ingin, kamu menggantikan aku nantinya."


"A-Apa? pembunuh bayaran?" celetuk Abian yang ketakutan, Caroline tersenyum saat melihat raut wajah Abian.


"Kamu ini sangat lucu, aku menyukaimu. Ikutlah bersama ku, aku akan membalaskan dendammu. Dan sebagai bayarannya, kamu akan menjadi pewarisku nanti, bagaimana?" tawar Carolin.


Abian berfikir keras dan menyetujui tawaran itu, "baiklah."


"Bagus! tapi sebelum itu, aku akan mengubah seluruh identitasmu."


"Terserah padamu saja," pasrah Abian.


"Mulai sekarang namamu bukan lagi Abian tetapi ARON."


"Hem, nama itu tidak buruk," sahut Abian yang menyukai nama barunya.


"Bersiap-siaplah, kita akan pergi ke paris dan menetap di sana. Aku akan mengurus segala kebutuhanmu, mulai sekarang panggil aku dengan Mommy."


"Baik Mommy."


"Anak pintar," ucap Caroline yang mengelus pucuk kepala Abian.

__ADS_1


__ADS_2