
Pria paruh baya itu tidak sadarkan diri, akibat terlalu banyak meminum alkohol berjenis Wine. Sudah menghabiskan beberapa teguk Wine, dan membuatnya pusing dan mabuk. Pria itu berjalan dengan sempoyongan sambil memegang kepalanya, sesekali tubuhnya kehilangan keseimbangan dan membuat pria paruh baya itu terjatuh.
Hardi sangat putus asa, di kala usaha yang dia buat gulung tikar, membuatnya frustasi dan menghabiskan waktu ke bar. Kehidupan Hardi sangat memprihatinkan, berjalan tak tentu arah dengan pakaian yang berantakan.
Tanpa sengaja, Hardi menabrak seseorang. "Hei, berjalanlah dengan hati-hati, " celetuk Hardi yang menunjuk orang yang dia tabrak.
"Bukan aku yang harus berhati-hati, tapi anda pak tua, " sahut pria itu. Hardi menyipitkan matanya dan melihat wajah orang yang baru saja dia tabrak, dan seketika dia membulatkan mata saat melihat pria itu.
"Sepertinya aku mengenal mu, tapi kapan ya? entahlah aku lupa. Bagaimana jika kita berkenalan, " ajak Hardi.
"Tidak, membuang waktuku saja. " Pria itu melihat jam yang melingkar di tangannya sembari melangkah maju. Dengan cepat Hardi mencekal tangan itu, "kau boleh pergi, asalkan kita berkenalan dahulu. Nama ku Hardi, " racau Hardi yang menjulurkan tangannya.
Pria itu membesarkan pupil matanya, saat mendengar nama pria paruh baya yang baru saja menabrak nya, "nama ku Zean Anderson. " Zean menyambut uluran tangan itu dengan sangat antusias.
"Sepertinya aku mengenal nama itu, aku melupakannya, " celetuk Hardi dengan tangan menopang dagu, dan berusaha mengingatnya.
"Apa paman melupakan ku? aku Zean, teman masa kecil Tata. "
"Iya, aku baru mengingatnya, bagaimana kabar mu?" ucap Hardi yang memeluk Zean serta melirik penampilan Zean yang berkelas. Zean juga membalas pelukan itu dan tersenyum tipis hingga Hardi tidak menyadarinya.
"Kabar ku baik, bagaimana keadaan Tata? "
"Aku sudah tidak tau lagi kabarnya, karena aku tidak pernah mengunjunginya. " Hardi sangat senang bertemu dengan Zean, dia ingin menumpang hidup.
"Penampilan paman sangat berantakan sekali. Aku akan mengantarmu pulang, di mana alamatnya? "
"Usaha yang aku rintis gulung tikar, dan membuatku jadi bangkrut. Sekarang aku tak tau mau tidur dimana! " ucap Hardi yang sedih.
"Paman ikut saja dengan ku, mansion ku terbuka untuk paman dan juga Tata."
"A.... apa aku boleh tinggal di sana? " sahut Hardi dengan mata yang berbinar. Sementara Zean menganggukan kepala.
"Terserah paman, mau menginap sepuasnya juga tidak masalah, " seloroh Zean.
__ADS_1
"Aku sangat bosan dengan kehidupan ku! sebagai gantinya aku akan membuat Dita menjadi milikmu, apakah kamu masih mencintai putriku itu? "
"Aku masih sama seperti dulu, masuklah ke dalam mobil. Aku akan membawa paman menuju kediaman ku yang sangat megah itu, jika paman mengatakan keberadaan Tata ku," ucap Zean yang menatap menusuk ke arah Hardi.
Ada sedikit ketakutan di wajah Hardi setelah melihat raut wajah menyeramkan dari pria tampan di sampingnya.
"Dita memiliki butik yang sangat terkenal di kota ini, kalau tidak salah namanya L boutique. "
"Bagus, berikan semua info Tata kepadaku. " Hardi mengangguk dengan cepat, mereka diam tanpa ada obrolan sesudahnya, mereka hanyut dalam pikir masing-masing. Hardi sangat senang dan beruntung bertemu dengan Zean, dia hanya ingin menumpang hidup dengan Zean, yang di imingi dengan informasi Dita sang putri kandungnya.
****
Sesuai perkataan Nathan, hari ini twins L pergi ke taman kanak-kanak. Ini pertamanya kalinya bagi mereka untuk bergaul dan berinteraksi dengan anak seusianya. Sebagai orang tua, Nathan dan Dita mengantar kedua putranya ke taman kanak-kanak. Twins L sangat tidak bersemangat, tali dengan kesabaran Dita yang membujuk mereka dan akhirnya mereka menyetujuinya.
"Jangan nakal dan murah senyum, belajar yang rajin ya sayang, " ucap Dita yang mengelus pucuk kepala kedua anaknya serta mengecup pipi sang kembar.
"Ibu, jangan menciumku di tempat umum, " rengek Al yang menghapus jejak bekas ciuman dari sang ibu, Nathan terkekeh mendengar penuturan Al.
"Jika kamu tak ingin di cium, maka aku saja yang mendapatkan ciuman pipi sebanyak 2 kali dari ibu. Aku tidak peduli dengan semua orang, " sambung El yang melirik Al hanya sepersekian detik.
"Pergilah, nanti ibu akan menjemput kalian, " ucap Dita yang tersenyum.
"Aku pamit dulu, dah Ayah.... dah Ibu. " El segera berlari dan mengejar saudara kembarnya yang lebih dulu pergi.
Nathan merangkul pinggang ramping milik istrinya dan mengecup pipi Dita dengan sangat intim, mereka menjadi pusat perhatian, akibat Nathan.
"Sayang, jangan menciumku di sini. Lihatlah, mereka sedang menatap kita. "
"Biarkan saja, aku hanya ingin mereka tau, jika wanita cantik di sebelahku adalah ibu dari kedua putraku. Bagimana jika kita mempunyai bayi? " ucapan Nathan berhasil membuat Dita membulatkan matanya.
"Apa kamu bergurau, sayang? bukankah kita sudah memiliki mereka. "
"Aku sangat menginginkan bayi perempuan yang cantik seperti mu, sayang, " Nathan menoel dagu istri dengan menggemaskan.
__ADS_1
"Apa kamu yakin, sayang. Jika aku hamil, kamu harus bersabar menghadapi sifatku nanti. "
"Tidak masalah. Ayo kita ke Hotel, " ajak Nathan yang tersenyum menggoda sang istri.
"Bukankah hari ini kamu ada meeting dengan klien? "
"Aku akan menundanya beberapa jam saja. "
"Tapi kenapa? " ucap Dita dengan pongah.
"Untuk membuatkan adik bagi Al dan El, " bisik Nathan yang menggigit pelan telingan Dita. Rasa geli yang menjalar itu membuat Dita bersemu merah menahan malu, karena mereka di lihat oleh banyak orang.
Nathan membuka pintu mobil seraya membantu sang istri untuk masuk ke dalam mobil, dia menyusul ikut masuk ke dalam mobil dengan memasang wajah yang tersenyum. Mengendarai mobilnya dengan cepat, hingga Dita sedikit kesal dengan tingkah suaminya ini.
"Sayang, jangan mengendarai mobil ini dengan sangat kencang, " ujar Dita yang menatap wajah tampan Nathan.
"Aku sudah tidak sabar untuk memakan mu, sayang. " Nathan mengemudikan dengan serius dan juga fokus.
"Oh ya ampun, jika seperti ini aku bisa mati muda. Pelankan laju mobil ini, " pekik Dita.
"Sebentar lagi, hanya 500 meter lagi. "
Setelah sampai di hotel yang di tuju, Nathan yang telah memesan kamar hotel, menggendong istrinya ala bridal style seperti pengantin. Tatapan mereka bertemu, dan membuat Nathan tidak sabaran. Kamar yang mewah itu membuat suasana kian romantis, Nathan membaringkan tubuh sang istri dan mencium bibir ranum merah merekah.
Di saat permainan mereka sampai ke inti, Nathan di kejutkan dengan noda merah di **** ********** Dita. "Sayang, ada noda merah di area itu? apa kamu sakit? " ucap Nathan yang sangat khawatir.
"Tanggal berapa sekarang? "
"Ini awal bulan. " sahut Nathan. Dita terkejut dan berlari menuju kamar mandi, tak lama dia menghampiri Nathan.
"Apa yang terjadi? " ucap Nathan dengan polos.
"Aku sedang datang bulan, untuk seminggu ke depan jangan berhubungan dulu. Berpuasalah selama seminggu, sayang! "
__ADS_1
"APA? "
"