Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 154 ~ S2


__ADS_3

Sepulangnya Al dari kantor, dia berjalan menaiki tangga sembari melonggarkan dasi yang terasa menyesakkan. Dia berjalan menuju Kamarnya untuk membersihkan diri, lebih tepatnya kamar Shena yang sudah di rombak ulang mengikuti keputusan bersama, desain modren klasik dengan warna putih dan sedikit pink.


Al keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang terlilit di pinggangnya, dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Dia melihat Shena yang tengah menonton sang idola dari negeri ginseng yang tengah melakukan adekan kiss, membuat Shena tersenyum malu sambil menutup wajah menggunakan kedua tangannya dan sesekali mengintip dari sela-sela jarinya.


"Wah, mereka sangat romantis sekali. Andai aku yang menjadi pemeran wanitanya dan merasakan ciuman dari idolaku yang sangat tampan itu," gumam Shena yang sesekali mengemil sebagai pelengkap suasana.


"Apa hebatnya ciuman seperti itu, si prianya sangat kaku dan sangat payah," celetuk Al membuat Shena melengkungkan bibirnya ke bawah seraya menoleh ke arah asal suara.


"Diamlah, jangan menghina priaku. Karena dia akan tetap menjadi idola di hatiku," jawab Shena dengan bangga.


Al berjalan mendekati Shena dan menutup laptop dengan kasar, "hei kera, apa yang kamu lakukan? sudah aku bilang untuk tidak mengganggu ku," protes Shena yang bertolak pinggang mendongakkan kepalanya, karena tubuhnya hanya sebatas dada sang suami.


"Itu laptop milikku, semua yang ada di sini adalah milikku. Berani sekali kamu memikirkan pria cantik di hadapan ku, " ucap Al yang menatap Shena dengan wajah dinginnya.


"Yasudah! ambil saja semuanya, aku tidak memerlukan itu dan terserah padaku mau menyukai siapa, minggir!" pekik Shena yang berlari menuju pintu untuk keluar dari kamar itu. Tapi lebih dulu Al sampai di pintu dan menguncinya, membuang kunci sebarang arah.


"Aih, kenapa kunci kamarnya di buang? bagaimana caranya kita akan keluar," gerutu Shena dengan wajah yang cemberut.


"Sekarang kamu tidak bisa kabur lagi, aku akan meminta hak ku sebagai seorang suami," ucap Al yang mendekati Shena yang terus mundur hingga terhalang tembok, membuat jarak nya semakin dekat dengan Al.


Al tersenyum tipis, Shena menelan saliva dengan susah payah menatap Al yang sangat seksi, dada bidang dengan perut sixpack. Shena sangat cemas dengan situasi yang sangat dekat itu, di tambah lagi kedua tangan Al menghalangi nya untuk kabur.


"Mom....Dad, tolong Shena agar terlepas dari si kera mesum ini," teriaknya, Al menutup matanya beberapa detik dan kembali menatap Shena dan menyentil keningnya.


"Teriakan mu tidak akan berguna, apa kamu melupakan jika Paman ups....maksudku Daddy Daniel dan Mommy Nurma telah pindah kemarin dan kamar ini sudah aku pasang peredam suara. Bagaimana istriku? bersiaplah, karena malam ini kamu milikku," ucap Al yang menggoda.

__ADS_1


"Sial, aku lupa jika Mom dan Dad telah pindah. Bagaimana ini? bagaimana cara ku untuk kabur, si kera ini sangat mesum, berpikirlah Shena.... berpikirlah," batin Shena yang berpikir keras.


"Tidak memiliki ide untuk kabur?" celetuk Al.


"Eh, apa kamu seorang peramal yang bisa membaca pikiranku?" tukas Shena yang menatap wajah suaminya. Lagi dan lagi Al kembali menyentil kening sang istri membuat sang empunya meringis kesakitan sembari mengusap keningnya.


"Kenapa kamu selalu menyentil keningku yang menjadi korbannya," gerutu Shena.


"Karena kamu sangat bodoh." Al mendekatkan wajahnya, hembusan nafas dapat di rasakan dari keduanya. Al yang ingin mencium bibir Shena terhenti saat Shena menginjak kaki Al dengan kasar dan segera berlari menjauh dari suaminya yang sedang berhasrat.


"Sial," batin Al yang mengumpat, dia mengejar Shena yang selalu lolos. Shena melempar bantal ke arah Al, hingga kamar itu bagai kapal pecah.


Aksi terhenti karena keduanya sangat kecapean, Al dan Shena tertidur di satu ranjang sambil memeluk satu sama lain tanpa di sadari oleh keduanya.


****


Zean mengenakan jas hitam yang menambah kesan elegan dan juga penyempurna penampilan yang tak kalah tampan. Abian dan Rayyan mengenakan jas berwarna senada dengan Zean yang juga terlihat tampan.


Bara, Daniel, dan Nathan menghampiri sahabatnya yang tengah berbahagia. "Aku akui jika hari ini kamu sangat tampan," ucap Daniel.


"Walaupun begitu, aku tetap lah yang paling tampan di sini," sela Nathan dengan penuh percaya diri.


"Apa itu mu masih berfungsi? aku sangat meragukan karena dalam masa kadaluarsa," ledek Bara yang melirik Zean dan memberikan hadiah berupa kotak kecil dengan pita merah.


"Apa kamu meragukan ku?"

__ADS_1


"Tentu saja dia meragukanmu, karena itu mu tidak di pakai selama belasan tahun," sambung Nathan.


"Jangan banyak bicara, bukalah kado dari Bara. Aku sangat penasaran apa yang dia berikan kepadamu," celetuk Daniel.


Zean membuka dengan dengan cepat, terlihat sebuah tisu untuk misi malam pengantinnya, "sialan, berani sekali kamu memberiku hadiah ini. Aku masih kuat dan tidak memerlukan bantuan dengan ini," ujar Zean yang melempar hadiah dari Bara.


"Dasar teman tidak berakhlak, aku sudah bersusah payah untuk membelikannya untukmu dan aku juga mengantri sangat lama, setidaknya hargailah."


"Hentikan drama mu ini, aku tau kamu pasti membalaskan ku."


"Tepat sekali, karena dulu kamu juga memberikan itu dan memasukkan ke dalam saku ku," ucap Bara.


Sementara Rayyan dan Abian saling berebut perhatian dari Lea yang tengah asik memakan hidangan.


"Lea, cake ini sangat lezat. Bagaimana jika aku suapi, bukalah mulut mu, " tawar Rayyan yang menyuapi Lea.


"Cobalah makan cake ini lebih lezat di bandingkan milik Rayyan, buka mulutmu!" ujar Abian yang juga menyuapi Lea.


Lea sangat senang di perlakukan bagai tuan putri oleh kedua pria itu, hingga perhatiannya teralihkan saat melihat pria tampan yang berkedip ke arahnya. Dengan cepat Lea memotret pria tampan itu membuat Abian dan Rayyan menatap tajam pria yang berani menggoda Lea.


"Siapa kamu? pergilah dari sini, dasar penganggu!" cerocos Rayyan.


"Memangnya kenapa? apa kalian takut bersaing dengan ku?" tantang pria itu.


Abian dan Rayyan berdiri dan mendekatinya serta meletakkan tangan mereka di bahu pria itu dengan santai. "Sepertinya kamu belum mengenal ku dan juga kakak ku ini dengan sangat baik, aku sarankan untuk mu agar menjauh dari Lea," tutur Rayyan.

__ADS_1


"Jadi nama nya Lea? sungguh nama yang sangat indah seperti orangnya. Itu urusanku dan aku tidak takut dengan kalian berdua." Sementara Lea hanya terdiam menyaksikan drama di depannya sembari menatap wajah pria tampan itu yang bernama Daffa.


__ADS_2