
Para anggota keluarga Wijaya berniat untuk memberikan surprise kepada pasangan suami istri yang sebentar lagi akan menyandang status orang tua, Dita memeluk lengan suaminya dengan manja dan menyenderkan kepala di bahu Nathan.
"Aku tidak menyangka, jika putri kita tumbuh dengan sangat cepat dan sekarang dia akan mempunyai anak," tuturnya sembari menatap wajah Nathan dengan tersenyum.
"Kamu benar, kita akan mempunyai cucu lagi. Hah, aku sangat tidak sabar menunggu di mana aku tengah bermain dengan cucu-cucuku," sahut Nathan yang menyusap pucuk kepala Dita dengan halus. Penerbangan yang memakan waktu yang lumayan lama membuat mereka menikmati suasana yang sudah lama tidak mereka nikmati.
Untung saja halaman di samping rumah Abian sangatlah luas dan bisa mendaratkan helikopter nya. Suara kegaduhan di luar rumah membuat Abian dan Lea sangat penasaran, mereka membuka pintu, terkejut? tentu saja mereka sangat terkejut dengan kedatangan anggota keluarga Wijaya ke Amerika.
"Surprise," ucap semua orang dengan serempak.
"Kalian di sini? kenapa tidak menghubungi kami terlebih dahulu?" kata Abian yang menatap wajah anggota keluarganya satu persatu.
"Dasar bodoh, jika kami memberitahukan kalian itu tidak akan menjadi surprise," cetus El yang memeluk Lea membuat Abian cemburu, di ikuti oleh semua orang hingga Abian sedikit jengkel dengan Keadaannya yang di selimuti cemburu.
"Baiklah, bisakah kalian untuk tidak memeluk istriku," cetus Abian yang menatap kedua kakak iparnya.
"Dia adalah adik kami, kenapa kamu yang cemburu?" sewot Al.
"Apa kami akan mendengarkan pertikaian kalian sambil berdiri di sini?" ujar Naina, membuat Lea cengengesan.
"Ayo masuklah, hampir saja aku melupakannya."
Semua orang berjalan menuju sofa empuk yang ada di ruang tamu, sofa dengan posisi melingkar memperlihatkan semua orang dengan lebih leluasa. Itulah yang terjadi sekarang, di mana Abian dan Lea menjadi sorotan dari semua mata yang memandang mereka.
"Bagaimana dengan keadaan calon anakmu?"
"Apa mereka kembar atau hanya tunggal saja?"
"Berapa usia kandungannya?"
Abian sangat kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi, dia menelan saliva dengan susah payah untuk menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Cepat jawab pertanyaan-pertanyaan itu," ucap Nathan dengan tegas semakin membuatnya terpojokkan.
"Begini, aku tidak menduga jika kalian semua datang untuk menghampiri kami. Dan mengenai kehamilan Lea itu ternyata tidak benar, Dokter telah memeriksanya dan mengatakan jika Lea hanya asam lambung," terang Abian yang tersenyum kaku.
"APA?"
"Jadi kamu membohongi kami?" cetus Al dengan mata yang melotot.
"Maaf....sungguh aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja aku terlalu terburu-buru untuk mengatakannya," seloroh Abian.
"Jelaskan secara detailnya," cetus Bara.
"Aku melihat tanda-tanda Lea yang mual hampir sama dengan Al dan aku berpikir jika dia memang hamil, dokter memeriksanya dan mengatakan jika Lea terkena asam lambung, hehe....semoga kesalahpahaman ini bisa terselesaikan."
"Kamu telah membuat kami semua berharap, kenapa kamu sangat ceroboh sekali?" ucab El yang meninggikan suaranya.
"Itu karena aku terlalu bahagia dan melupakan pemeriksaan dokter, jangan salahkan aku yang tidak tau akan hal itu." Abian memasang wajah polos dan juga menggemaskan, menatap semua orang dengan puppy eyes miliknya.
Dita, Nathan, Bara, dan Naina mendengus kesal dengan hal itu. "Padahal aku sudah bersemangat tadi," ucap Dita dengan raut wajah yang sedih.
"Kamu memujiku atau sedang mengejekku?" ujar Abian dengan wajah polosnya.
"Berhentilah berpura-pura bodoh," cetus El yang menjitak pucuk kepala Abian dengan keras.
"Auhhh....kenapa kamu sangat kasar sekali? aku hanya bercanda saja, jangan terlalu serius," jawab Abian yang mengelus pucuk kepalanya dan memanfaatkan keadaannya untuk bisa bermanja mesra.
Bunyi bel pintu membuat semua orang berhenti bersuara beberapa detik saja, mereka menoleh ke arah pintu.
"Kalian lanjutkan saja, biarkan aku yang membuka pintunya." Vivian berdiri dan melangkahkan kakinya ke pintu utama, di saat dia meng-handle pintu dan terlihatlah ketiga orang yang sangat asing.
"Maaf, kalian mencari siapa?" tanya Vivian yang menatap para tamu dari ujung rambut hingga di ujung kaki.
__ADS_1
"Perkenalkan, ini Kakakku bernama James dan di sebelah kanannya adalah Berliana, istri dari kakak ku. Dan yang terakhir aku bernama Vero, seorang pria tampan dengan 100 pemikat," ujar Vero yang memperkenalkan keluarganya sembari tersenyum.
"Kami sedang ada acara keluarga, jika ada keperluan datanglah besok pagi," ujar Vivian yang menutup pintu kerena sangat malas saat Vero mengedipkan mata dengan senyuman untuk menggoda para wanita.
Vero menahan pintu itu dengan sepatunya dan mendorong sedikit pintu yang terbuka hingga mereka bertiga bisa masuk dengan sangat mudah.
"Dasar sialan, apa kamu menantangku?" kata Vivian yang menunjuk wajah Vero dengan makian yang keluar dari mulutnya.
"Gadis yang sangat unik, di saat semua wanita mendekatiku, dia malah menantangku. Dasar gadis aneh," batin Vero.
Abian yang menatap ketiga tamunya yang kembali berkunjung dan membuatnya kesal, "hidupku sangat sial, trio undur-undur itu selalu saja mengacau dan merusak moment," gumam Abian yang memijit pelipisnya.
"Halo semuanya, tidak aku sangka begitu banyak orang di sini. Perkenalkan, ini adalah kakak ku James dan istri nya yang cantik bernama Berliana, dan aku yang paling tampan ini bernama Vero." Dia memperkenalkan diri tanpa malu-malu membuat seseorang berdecak kesal.
"Ck, dia bahkan tidak tau malu," gumam Abian.
"Apa aku boleh mengenal kalian?" tambah Vero.
"Kami keluarga besar Wijaya, orang paling kaya se-Asia," tutur El yang menyombongkan diri membuat semua orang tertawa.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan kalian, aku sering mendengar nama itu."
"Apa kalian akan berdiri saja? ayo duduklah," ajak Dita yang tersenyum kepada tamunya.
Semua orang berkumpul membuat suasana semakin hangat, semua orang menyukai keberadaan James, Berliana, dan Vero, tapi tidak bagi Abian dan juga Vivian.
Vivian yang tidak tertarik dengan obrolan orang dewasa dan meninggalkan ruangan itu, dia ingin berkeliling untuk mencairkan suasana hatinya yang sedikit jengkel dengan keberadaan Vero yang sedari tadi mengikutinya.
Vivian menoleh dan menatap Vero yang berjalan di belakangnya, "jangan mengikutiku, aku akan memperingatimu sekali lagi. Dan jika kamu nekat? jangan salahkan aku yang akan memukulmu," ancam Vivian yang membuat Vero terasa di gelitik.
"Huuu....aku sangat takut," ucap Vero yang berpura-pura takut, hingga kesabaran Vivian habis dan melayangkan pukulan tepat mengenai perut pria tampan dan brewokkan.
__ADS_1
"Badan mu sangat kecil tapi pukulanmu boleh juga ya."
"Jangan remehkan seseorang dari sampulnya saja," sahut Vivian yang semakin membuat Vero tertarik dengan kepribadian Vivian yang menarik.