Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 141 ~ S2


__ADS_3

Lucifer selalu melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah 1 jam dia menunggu Lea yang tak kunjung tiba. Begitupun dengan Abian yang tidak kembali, "ck, apa mereka janjian untuk meninggalkan aku. Abi sialan, aku akan membuat perhitungan dengannya," gumam Lucifer yang pergi dari tempat itu.


Di saat ingin keluar dari Mall, dia tak sengaja melihat Zean dan Caroline bersama. Lucifer mengikutinya secara diam-diam, "apa yang di lakukan Daddy di sini? bahkan dia bersama tante Caroline. Hem, sangat mencurigakan," lirih Lucifer yang terus mengikuti.


"Jangan cemberut begitu, tersenyumlah!" ucap Caroline yang memperagakan cara tersenyum.


"Diamlah, kenapa kamu membawaku ke sini?"


"Kamu benar-benar Ayah yang sangat buruk, apa kamu tidak mengingat jika hari ini Lucifer berulang tahun," cetus Caroline membuat Zean menghentikan langkahnya. Selama ini Zean tidak pernah merayakan hari ulang tahun putranya, karena di hari itu juga dia kehilangan istri tercinta untuk selamanya.


"Kenapa kamu diam? aku tau kamu tidak pernah merayakannya karena di tanggal yang sama Istri mu meninggal dunia, apa salahnya untuk melakukan hal ini. Itu sangat berguna untuk kesehatan Lucifer," jelas Caroline yang menatap Zean.


"Aku tidak ingin merayakannya, itu sama saja aku merayakan kematian istriku," jawab Zean dengan raut wajah dingin.


"Kematian orang yang di cintai jangan selalu di ratapi, jalani hidupmu dengan baik bersama dengan putramu. Apakah kamu tidak ingin jika Lucifer itu sembuh?"


Zean mengepalkan tangannya, mencengkram lengan Caroline dan menyudutkannya. "Tutup mulutmu itu, hari ini kamu terlalu banyak bicara. Aku sudah mengatakan kepadamu, jangan mengganggu privasiku. Ini urusanku dan bukan urusanmu," ujar Zean yang menghempaskan lengan Caroline dengan kasar dan melangkah pergi.


"Dasar pria aneh, aku hanya membantunya untuk terbebas dari masa lalu. Pantas saja Lucifer tidak sembuh dari kepribadian gandanya, sepertinya aku harus berbuat sesuatu," gumam Caroline yang memegang pergelangan tangannya yang memerah.


Lucifer yang mendengar pembicaraan orang dewasa itu menjadi sedih. Bukan hanya Zean saja yang merasakan kesedihan kehilangan Raya, tetapi Lucifer lebih sakit lagi yang bahkan tidak bertemu sekali pun.


Lucifer melangkahkan kaki nya untuk meninggalkan tempat itu dengan wajah yang di tekuk dan menggelap sudut matanya yang berair, Caroline terkejut melihat keberadaan Lucifer. Dia mengejar Lucifer dan menghentikannya, "jangan bersedih, aku ada di sini bukan? anggaplah ucapan Daddy mu sebagai angin lalu saja."


"Daddy tidak pernah menyayangi ku, dia lebih mencintai istrinya dan terus meratapinya."


Caroline mendekati Lucifer dan mendekapnya, memeluk dengan kasih sayang. "Lupakan itu, selamat ulang tahun untukmu," ucap Caroline tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih! kenapa kamu baik padaku? katakan alasannya," tutur Lucifer yang menatap Caroline dengan dalam.


"Kamu tau sendiri bagaimana nasibku yang sangat malang, suami yang mengkhianati ku dan anak yang belum lahir dalam perutku juga meninggal di hari yang sama. Sepertinya kita sedikit memiliki persamaan takdir, kamu sudah seperti putraku sendiri. Jika anak ku masih hidup, mungkin dia seusia mu sekarang. Sudahlah, jangan pikirkan Zean yang dingin itu. Bagaimana jika kita memainkan permainan di wahana ini, sepertinya sangat seru!" ajak Caroline yang bersemangat.


"Aku bukan anak kecil," tolaknya.


"Permainan itu untuk melupakan masalah dan bisa di mainkan oleh semua kalangan, jangan banyak berpikir," ucap Caroline membuat Lucifer tersenyum dan mengikuti langkah kaki wanita yang seusia dengan Ibunya.


****


Bara menatap El yang sedari tadi cengengesan, "apa kamu tidak akan berbicara? sudah 5 menit aku melihatmu dengan wajah yang seperti itu," cetus Bara.


"Hehe....sebenarnya aku sangat malu untuk menceritakan masalahku. Tapi aku juga sangat membutuhkan pertolongan dari Papa."


"Pertolongan ku? katakan saja apa yang bisa aku bantu," sahut Bara yang menautkan kedua alisnya.


"Papa sangat berpengalaman dengan wanita, berikan aku trik agar gadis itu menerimaku sebagai kekasihnya, tolonglah aku Guru," ucap El yang bersimpuh di kaki Bara.


"Ayolah Pa, yang lalu biarlah berlalu. Ini sangat genting dan juga darurat," bujuk El.


"Ck, berguru denganku sangatlah mahal. Tidak semua orang yang bisa mendapatkan ilmu dariku," ucap Bara dengan sombong.


"Sial, jika saja aku tidak membutuhkan cara dari Papa, aku tidak mau bersimpuh di kakinya yang bau ini. Oh ya tuhan....semoga bulu hidungku tidak rontok dengan bau yang sangat menyengat ini," gumam El di dalam hati.


"Apa imbalan untukku?"


"Ada apa dengan Papa? apakah ada orang tua yang meminta imbalan dari anaknya sendiri?" ucap El yang sedikit berteriak karena kesal.

__ADS_1


Bara menjitak kepala El dengan keras, "apa begitu kamu berbicara dengan orang yang lebih tua? untung saja aku tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, apa kamu menginginkan Papa yang sangat tampan ini mati?" ketus Bara.


"Hehe....ayolah Pa! lakukan ini kepada putramu yang sangat tampan seratus persen ini. Apa Papa tega melihat ku terus menyendiri?" bujuk El dengan sangat manis.


"Jika ada keperluan kamu mendatangi Papa sambil memohon begitu, kata-kata mu sangat manis. Bangunlah, aku akan mengajarimu semua trik untuk membuat wanita bertekuk lutut kepadamu."


"Benarkan? katakan rahasianya Pa," ujar El dengan sangat antusias berdiri mengenai dagu Bara yang terbentur dengan kepala El.


"Dasar anak nakal, jika ingin berdiri lihatlah sekelilingmu, daguku sangat sakit karena ulah mu," ketus Bara.


"Maaf, aku tidak sengaja. Ayo katakan," desak El.


"Sini mendekatlah, Papa akan membisikkan nya kepada mu. Karena ini sangatlah rahasia, bahkan Naina mengejarku dengan cara itu," jawab Bara yang berbisik di telinga El.


"Apa itu akan berhasil?" ujar El.


"Heh, apa kamu meragukan keahlian dari senior ini?" ucap Bara yang menepuk dadanya dengan bangga.


"Hehe....tidak, terima kasih telah membantuku," ucap El dengan cengengesan.


"Jika sudah berkonsultasi maka pergilah dari sini," usir Bara yang tersenyum dan dengan cepat merubah raut wajahnya kesal.


"Baiklah, aku sarankan Papa selalu tersenyum dan tidak galak."


"Memangnya ada apa? terserah aku ingin tersenyum atau tidak," sahut Bara.


"Bisa saja malaikat pencabut nyawa menjemput Papa, " teriak El yang lari dengan jurus seribu langkah meninggalkan Bara yang mengumpat El yang sangat kesal.

__ADS_1


"Dasar anak kecebong, benar-benar membuat aku kesal. Jika terus begini, bisa saja aku terkena stroke," gumam Bara yang mengelus dadanya.


Sesuai arahan dari Bara, El melakukan rencana pertama. Dia telah menyadap ponsel Anna dan melakukan pengalihan panggilan telfon, untuk berjaga-jaga jika Jojo sadar dan menghubungi Anna. Penampilan nya sempurna membuat El penuh percaya diri, menghampiri sang pujaan hati dan bertemu dengan Ayah mertuanya.


__ADS_2