Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 122 ~ S2


__ADS_3

Al sangat frustasi dengan kejadian di markas, masalah memonopoli senjata buatannya dengan mudah di ambil alih oleh orang lain. Bahkan dia tidak menemukan siapa pelaku dan juga akar dari masalah yang tak berujung. Karena kesal, Al mengenggam gelas yang berisi air mineral dengan sangat erat. Kemarahannya memuncak saat gelas yang di genggamannya pecah, dan meninggalkan bekas luka dengan darah yang yerus menetes.


Cantika yang ingin mengantarkan sebuah laporan terkejut, dia melempar laporan dari tangannya di sembarang arah, berlari mendekati atasannya.


"Apa yang terjadi dengan mu, Tuan!" ucap Cantika yang melihat kondisi tangan Al. Dengan cepat Al menghempaskan tangan Cantika dengan kasar, "jangan berbuat baik kepadaku, keluarlah dari sini," kata Al yang meninggikan suaranya.


"Tidak, sebelum aku mengobati mu," tolak Cantika yang kekeuh.


"Jangan merusak mood ku, cepat pergi dari sini."


Cantika tidak menghiraukan bentakan dari Al, dengan kasar dia memegang pergelangan tangan Al dan mulai mengobati nya dengan hati-hati. Al menatap wajah Cantika yang sangat cantik, dan juga perhatian kepadanya.


"Kenapa Tuan menatapku begitu?" ucap Cantika yang tau jika Al memandanginya sedari tadi.


"Kenapa kamu masih mau mengobati luka ku, bukankah aku sudah mengusirmu?" tanya Al yang menatap Cantika dengan dalam.


"Jika orang lain di posisi Tuan, aku juga akan menolongnya, selesai! " sahut Cantika yang telah selesai memalut luka dari tangan Al.


"Terima kasih," tutur Al.


"Sama-sama Tuan, " jawab Cantika yang tersenyum dan memberikan sebuah laporan kepada Al.


"Ini laporan nya Tuan, saya pamit dulu."


"Hem." Al menatap kepergian sang asisten cantiknya hingga menghilang di balik pintu. Dia memegang dadanya, "apa aku memiliki riwayat penyakit jantung? kenapa jantung ini bergerak dengan cepat? aku akan memeriksanya nanti," batin Al.


****


Di sore hari, Lea memutuskan untuk keluar dari mansion secara diam-diam. Karena dia tidak ingin jika sampai bertemu para pria di mansion yang menurutnya sangat aneh dan menyebalkan. Lea berjalan mengendap-endap untuk menghindari para pelayan dan juga CCtv yang telah dia sabotase sedemikian rupa.


Setelah berhasil menyelinap keluar, Lea menganggumi dirinya sendiri yang ahli dalam kabur. Menghirup udara dengan sangat dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, dia melakukannya sebanyak 3 kali.

__ADS_1


Tak lupa dengan membawa kamera kecilnya untuk memotret para pria tampan.


Tujuan utama Lea adalah sebuah Mall yang biasanya terdapat banyak target para pria tampan, kaki nya melangkah masuk ke dalam Mall dengan senyum menawannya, tak khayal banyak pria yang mengagumi Lea sebagai gadis cantik dan menggemaskan. Tidak membutuhkan waktu lama, seseorang mendekatinya.


"Hai, kamu di sini?" ucap pria itu yang tak lain adalah Boy.


"Hem, tidak ada larangan untuk berkunjung di sini," ujar Lea yang tidak menyukai Boy berada di dekatnya.


"Apa aku boleh menemanimu?" tawar Boy.


Lea yang tidak ingin di ganggu pun mencari cara agar Boy tidak mengikutinya. Hingga Lea melihat seorang pria yang memakai jaket berwarna hitam sembari menutup kepalanya. Dengan cepat Lea menggandeng mesra tangan pria itu dan membuat Boy terbakar api cemburu.


"Aku bersama kekasihku, pergilah dari sini dan jangan mengangguku," ucap Lea membuat hati Boy terluka, dia pergi dengan perasaan patah hati.


"Semoga kamu bahagia dengannya, aku tunggu jomblo mu," decit Boy yang melambaikan tangannya.


Sementara pria yang tidak tau apa-apa menghempaskan tangan Lea dengan keras, dia membuka penutup kepala nya sembari menatap Lea.


"Abian?" ucap Lea yang terpana dengan tatapan Abian yang menurutnya sangat seksi. Abian yang mengerti dengan cepat mengusap wajah Lea menggunakan tangannya, "berhenti menatapku begitu."


"Baiklah."


"Kamu berhutang kepadaku," ucap Abian.


"Apa maksudmu?" sahut Lea yang menautkan kedua alisnya.


"Aku sudah membantumu untuk mengusir kekasihmu itu."


"Ck, dia bukan kekasihku. Cepat katakan apa yang bisa membuat aku tidak berhutang budi padamu," ketus Lea.


"Luangkan waktumu hari ini untuk ikut bersama ku, bagaimana?" ucap Abian yang mendekatkan wajah nya ke arah wajah Lea yang berjarak beberapa senti saja.

__ADS_1


"Lain kali saja, masih banyak agenda yang ingin aku selesaikan," tolak Lea yang pergi dari tempat itu, dengan cepat Abian mencekal nya.


"Ya sudah, aku akan memanggil kekasih mu tadi," ujar Abian yang berjalan dengan santai, Lea yang kehabisan akal pun mencekal tangan Abian dengan hati yang terpaksa.


"Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi jangan memanggil pria bodoh itu," pasrah Lea. Abian menyunggingkan senyuman tipis tanpa terlihat oleh Lea.


Abian memegang tangan Lea dengan sangat erat, "aku akan menemanimu, tapi lepaskan tanganku," ketus Lea.


"Tidak, aku sangat yakin jika kamu berniat untuk kabur," sahut Abian dengan santai.


"Hah, aku sangat sial! di mansion bertemu dengan Lucifer dan di sini aku terjebak dengan pria aneh ini," batin Lea yang cemberut.


Abian membawa Lea ke sebuah air terjun yang sangat indah, Lea sangat khawatir dan juga waspada dengan Abian. "Kenapa kamu membawaku ke air terjun? apa kamu berniat membunuhku?"


"Jangan banyak bertanya, ikuti saja kemana aku membawamu pergi," ucap Abian yang menarik tangan Lea yang hanya menghela nafas dengan kasar. Abian menarik Lea untuk menerobos air terjun yang deras, Lea seakan mematung karena takut dengan derasnya air terjun.


"Kenapa kamu diam, ayo ikut aku," pekik Abian yang tidak bisa mendengarkan suaranya karena desiran air terjun.


"Tidak, jika kamu ingin bunuh diri lakukan saja. Tapi, jangan menyeretku untuk mati. Album koleksi para pria tampan ku masih banyak yang kosong,"balas Lea dengan berteriak.


Abian memutarkan bola matanya menatap Lea dengan jengah, dengan cepat dia menggendong tubuh Lea layaknya sekarung beras. Lea terus meronta memukul punggung Abian dengan sangat keras, tapi tak membuat Abian melepaskannya.


Dengan cepat Abian menerobos masuk ke dalam air terjun dan menuruni Lea, pemandangan yang sangat indah membuat Lea terpukau. "Bagaimana? sangat indah bukan?" tutur Abian yang melirik Lea.


"Wow, tempat ini luar biasa. Semacam terowongan yang tidak berujung," ucap Lea yang melihat sekelilingnya.


"Kamu salah, terowongan indah ini akan membawamu ke sebuah sungai yang sangat jernih."


"Tapi kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Lea yang mengerutkan kening.


"Entahlah, aku hanya ingin berbagi denganmu. Jika aku dalam masalah dan juga sedih, aku akan kesini. Aku tak sengaja menemukan tempat ini, saat aku menjalankan tugas," jawab Abian yang menatap Lea dengan tersenyum di wajahnya membuat Lea terpesona.

__ADS_1


Tak lama mereka sampai di sungai yang sangat jernih dan Abian menceritakan kisah hidup nya tanpa ada yang terlewati, Lea berusaha menghibur Abian yang sangat malang itu. Sejujurnya Lea tidak mendengarkan begitu jelas perkataan dari Abian, karena sedari tadi dia hanya menatap wajah berparas tampan itu.


__ADS_2